"Maaf, Wanda potong ya, Mbak,"
Nada yang akan menjelaskan kembali pada Wanda seputar kebiasaan Agam itu, harus menghentikan ucapannya, dan menaikkan kedua alis sejurus.
"Gimana, Wan?"
Sesuai niatnya, Nada pergi ke cafe berlogo siren dekat gedung Samudra Group itu yang dulu biasa digunakan Agam dan Nada untuk makan siang, atau membicarakan masalah kantor.
Nada menemui Wanda, sekretaris baru Agam yang saat itu Nada sudah training sebelum Nada resmi resign. Seharusnya Agam di sini, namun katanya Agam ada urusan mendadak dengan salah satu dewan direksi.
Jadi, Nada tak bisa meluncurkan siasatnya untuk menggertak Agam agar tidak berhubungan dengannya lagi.
Wanda memainkan jarinya kikuk, dia memangkuk untuk membalas tatapan Nada. Mungkin, dia baru berani bercerita begini hanya pada gadis yang menurutnya sudah seperti jelmaan malaikat itu.
"Gini, Mbak, saya pengen resign,"
"Hah?" Nada melebarkan matanya, dan mengerjap-ngerjap tak percaya.
Sebenarnya, hal seperti ini memang seharusnya tak akan membuat Nada kaget. Namun, yang benar saja! Wanda bahkan masih 2 bulan bekerja dengan Agam.
Jika memang 2 bulan sudah bisa didefinisikan sebagai neraka, lantas Nada yang bekerja pada Agam nyaris 4 tahun itu didefinisikan sebagai apa?
Nada merendahkan kepalanya untuk mencari netra Wanda. "Yang bener, Wan? Gaji Samdura gede loh. Saya pikir kamu mungkin cuma butuh adaptasi lagi?"
"Gak, Mbak," jawabnya sambil menggeleng. "Saya mundur. Saya gak kuat,"
Nada menepuk dahinya, "Oh God ... bless my head,"
Baik, bukannya menjadi guru privat,
sekarang Nada malah menjadi teman curcol. Sebenarnya lagi, Nada sudah menduga ini pasti akan terjadi. Memang hanya orang-orang mental baja saja yang sanggup berhadapan dengan pria bermarga Wikranegara itu.
Agam sendiri bahkan saat itu pernah bercerita, sekretaris yang paling lama bekerja pada-nya hanya 2 orang.
Yang pertama Rio, dia resign karena ingin mendirikan perusahaan sendiri. Rio sudah bekerja pada Agam selama hampir 6 tahun. Dan kini, pria itu sudah berhasil menjadi founder sekaligus owner perusahaan start-up.
Yang kedua Nada. Dan tahu sendiri Nada resign perihal apa. Gadis itu hanya tidak ingin kesehatan mentalnya disedot oleh ambisi Agam. Jika dipikir-pikir, berarti mental Nada cukup hebat juga bisa bertahan selama itu untuk bersisian dengan Agam. Wow, impressive!
Namun, Nada hanya tak menyangka jika Wanda benar-benar akan sesingkat ini bekerja dengan Agam! Sumpah, ini literally 2 bulan! Nada rasa, Wanda adalah sekertaris dengan masa kerja paling pendek.
"Beneran, Wan? Sudah berpikir dengan matang buat keluar dari Samudra?"
Tanpa berbelit lagi pun, Wanda sontak mengangguk sebagai jawaban. Sepertinya memang benar, Wanda sudah berniat untuk resign dari sana.
"Kamu sudah ada pilihan perusahaan lain buat apply job setelah kamu keluar dari Samudra? Jangan sampai kamu stuck lama gara-gara nyari kerja lagi,"
Wanda mengangguk lagi, "Sudah, kok, Mbak. Makanya ini saya pengen cepet resign. Gaji UMR gak papa deh, yang penting gak makan hati,"
Nada ingin saja mengadu nasib, namun nyatanya tak boleh. Benar, Nada ingin mengatakan jika 3 bulan pertama memang sangat berat. Dulunya bahkan Agam tak sebaik sekarang yang sudah mulai murah senyum walau terpaksa.
Wanda benar-benar lebih mending karena beberapa karakter mengerikan Agam sudah sedikit berubah. Sebetulnya, mungkin Wanda memang hanya perlu adaptasi lagi, namun gadis itu sepertinya lebih penakut dari yang Nada kira.
Nada mengusap pelipisnya sambil menghembuskan napas panjang. "Hmm ... ok. I feel you,"
"Kata staff Samudra, resign nya agak susah, ya, Mbak? Mbak Nada sendiri yang udah resign, emang beneran sebegitu susahnya?"
"Gak sih, Wan. Ya mungkin bakal susah karena kamu baru sebentar banget 'kan kerja sama pak Agam? Pinter-pinter nya aja kamu nge-les," jawab Nada setelah dia puas menyesap minumnya.
"Tapi, ini kamu beneran mau resign?" tanya Nada kembali memastikan.
Masalahnya, jam kerja Wanda benar-benar masih hanya sepanjang penggaris plastik. Dibilang penyesuaian diri saja belum tuntas. Dulu, Nada bahkan adaptasi pada segala karakter dan kebiasaan Agam lebih dari 1 tahun!
Setelah itu, nyatanya Nada terbiasa meski memang tak jarang Nada bakal senewen. Nada juga manusia yang memiliki bumbu emosi, dan kesabaran terbatas. Menyikapi karakter Agam benar-benar harus butuh ekstra es di atas kepala.
Lagi pula, Agam juga ada-ada saja. Bukannya selalu introspeksi, dan memperbaiki diri, Agam malah selalu meminta sekretarisnya yang menyesuaikan diri dengan kebiasaan juga karakter menjengkelkqan bujang lapuk itu.
Demi apapun, Nada bahkan ingin saja memukul kepala Agam tatkala mengingat kerjanya yang sudah seperti bud*k korporat kala itu.
"Bener, Mbak,"
Nada manggut-manggut, "Ya udah, kamu omongin dulu sama pak Agam, kalau dia setuju, kamu buruan cari kandidat baru. Setelah itu baru kamu bawa ke HRD. Soalnya pak Agam agak gak srek kalau HRD yang masukin, gak tau tuh memang agak sinting. Sukanya bikin aturan sendiri."
***
Nada menghembuskan napas berang. Nyanyian merdunya malam ini harus terputus karena teriakan Natan dari luar. Cepat-cepat dia mengeringkan rambutnya yang basah itu dengan handuk, dan merangsek maju.
"Apa sih, Tan?" tanyanya seiringan dengan menjejakkan kaki ke luar dari kamar mandi.
Natan yang berada dekat dengan ambang pintu itu memberi kode dengan iris matanya. Tangan kanannya sudah mencekal gagang pintu dan membukanya lebar-lebar. Hal itu membuat kedua alis Nada saling bertaut penuh tanya.
Nada mencondongkan tubuhnya sekian derajat untuk mengintip, dan seketika tubuhnya kontan mogok hingga dia sedikit terhuyung. Matanya itu berkilat dengan pendar tak percaya. Pria yang sudah berada di ambang pintu itu benar-benar tamu yang tak diundang.
"Pak Agam?"
Pria yang menyisakan vest abu-abu tua pada tubuhnya itu menatap Nada dengan datar seperti biasa. Iris selegam malamnya memang selalu sukar dibaca. Tangan kirinya menggenggam jas yang sudah agak kusut, dan tangan sebelahnya ia masukan ke dalam saku celana pantalon yang ia kenakan.
Nada mengerjap-ngerjap ragu, "Bapak ke sini mau ngapain?"
Agam menghela lagi. "Kamu saya minta buat bikin Wanda bisa adaptasi, bukan brain wash dia buat resign,"
"Hah?" Sontak, Nada berkacak pinggang dengan netra menantang. Statusnya yang sudah tidak sebagai sekretaris Agam tentu membuatnya lebih berani untuk mengomel.
"Kok jadi saya sih, Pak? Itu memang pure dari Wanda sendiri. Coba deh bapak deep talk sama Wanda sebagai bos dan sekretaris. Kepahitan gini sama bapak, tapi saya juga gak bakal kayak gitu kali,"
"Wanda 'kan rekomendasi dari kamu, saya pikir dia bakal profesional. My whole schedule was hectic lately, Adisty. Dan dia tiba-tiba resign secepat itu?"
Seringkali Nada memang tak suka jika Agam memanggil nama depannya. Nada tak tahu apa yang membuat Agam suka memanggil Nada seperti itu sejak dulu. Tidak bisakah Agam memanggil 'Nada' begitu saja? Panggilan Nada bahkan lebih mudah pengucapannya ketimbang Adisty.
"Ya mana saya tau, Bapak Ivander yang agung. Memang alasan resign Wanda tuh apa ke pak Agam? Pasti salah satunya karena Wanda gak cocok sama pak Agam,"
"How can?" Kedua mata setajam elang milik Agam itu kemudian menelisik muka Nada, "Kenapa kamu tahu? Berarti memang kamu yang brain wash Wanda buat resign,"
Nada menepuk dahinya frustrasi. "Oh God, give me more faith!"
"Nad, mending diajak ke dalem dulu bos lo ini, takut ganggu tetangga unit sebelah. Ntar di dalem kalau lo berdua mau pagelaran wayang silahkan," bisik Natan pada Nada dengan mata was-was.
Nada mendorong bahu Natan untuk menjauh dari ambang pintu. "Gak gue biarin kaki berdosa pak Agam melebihi batas suci. Soalnya begitu dia masuk nih, nanti apartemen kita mendadak terkutuk,"
Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya agar Natan cepat kembali ke kamar. "Udah lo belajar lagi sana, nanti gue orderin caramel macchiato ukuran venti,"
Sejurus kemudian, kedua lengannya melipat di depan d*da. Dia kembali membalas manik Agam yang seakan minta banyak penjelasan. Demi palung mariana, bagaimana pun menjengkelkannya watak Agam, namun nyatanya Nada masih tetap mengagumi keelokan paras pria itu.
"Then, what do you want?"
"Bantuin Wanda cari sekretaris baru. Sekarang kamu punya koneksi orang-orang besar, pasti lebih mudah buat cari tenaga profesional. Kalau sudah ketemu, langsung bawa ke HRD,"
"Kok saya yang malah ribet?"
"Hanya bantu cari, kalau sudah ketemu, ya sudah, I'll never disturb you anymore. I'll really appreciate your effort as well. Thanks a lot,"
Nada berdecak. Lagi-lagi, kenapa dia yang harus pusing! Koneksi Agam bahkan lebih luas. Tak sekadar orang-orang besar konglomerat dan pengusaha-pengusaha kaya, Agam bahkan juga memiliki koneksi dengan banyak Pejabat Negara. Jadi, kenapa tak Agam sendiri saja yang mencari?
"Bapak tuh pernah gak sih instrospeksi diri gitu, kenapa kok banyak orang gak betah buat jadi sekretaris nya bapak?"
Agam terdiam sejenak sebelum memasang muka masa bodoh yang kini menjadi 2 kali lipat lebih menyebalkan di mata Nada.
"Never. Orang yang resign dari Samudra dalam waktu dekat berarti cuma cari salary, bukan nilai pengabdian,"
Nada memutar bola mata. Agam ini konyol! Ya mau bagaimana mengabdi? Lihat saja pria dihadapan Nada ini. Sudah ketus, bikin senewen, ambisius kronis, anti humor, workaholic, disiplin 24/7, tukang atur, anti kritik, mana selera musiknya jadul lagi.
Tunjukan pada Nada, di pelosok bagian mana seorang anak manusia di antero Indonesia yang akan dengan sepenuh hati mengabdi pada atasan semacam Agam?
"Bapak ini emang egois, ya. Mintanya dingertiin mulu. Sekali-kali pak Agam yang seharusnya adaptasi sama sekretaris baru. Bukan malah sekretaris baru yang kudu nyesuaiin diri sama pak Agam terus," pungkas Nada dengan kobaran amuk yang sudah menyala di atas kepalanya.
Agam bergeming. Maniknya itu semakin merasuk ke dalam jernihnya mata Nada yang menurutnya begitu memikat. Belum ada balasan dari Agam selama sepersekian detik hingga sapuan angin yang samar kembali terasa seperti meniup sampai ke atma.
"Kalau saya egois, tentu saya gak bakal biarin kamu resign waktu itu,"
Mata Nada mengerjap-ngerjap beberapa kali. Terlebih, pada nada bicara Agam yang melunak. Mendengar tuturan Agam dengan intonasi merendah seperti itu, membuat bulu roma Nada kian meremang jujur saja. Leher jenjang Nada serasa ditiup langsung oleh desiran suara berat Agam yang terdengar sangat maskulin itu. Ini tak baik, Nada harus selangkah mundur ke belakang.
"Terus kenapa bapak biarin saya resign?" sahut Nada dengan binar mata keraguan.
"Saya sudah nyaman sama kamu, tapi kamu tidak pernah nyaman ada di sisi saya. Jadi saya ijinkan kamu resign," Agam menjedanya sebentar untuk menarik napas. Muka lelahnya itu membuat hati Nada cukup mecelos.
"Kalau saya egois, saya pasti sudah tahan kamu bagaimana caranya."
Nada masih terdiam. Ia bergeming dan nyaris nge-frezee karena ucapan Agam sudah seperti buaya muara profesional. Nada tidak salah dengar ucapan Agam, bukan?
Pria itu tak biasanya melunak seperti ini. Muka dengan aksen tegasnya itu memang sudah mengindikasikan segala karakter yang ia miliki. Selain anti humor, Agam benar-benar tipe pria anti romantic. Ngardus semudah itu bukan keahlian Agam. Nada bersumpah.
"B-bapak serius nyaman sama saya?"
Wajah Nada yang kikuk itu membuat kedua alis Agam kontan menukik tajam. Kini kedua lengan Agam yang melipat di depan d*da, sambil membalas manik mata Nada yang berpendar harap.
"Apa yang kamu pikirin? Nyaman sebagai profesional of course. Jangan geer,"
Nada sontak menggertakkan giginya, dan api di atas kepalanya itu kembali berkobar. Dia mengulum bibirnya seiringan dengan rahangnya yang mengetat berang.
Agam dengan suara beratnya yang monoton, wajah datarnya yang menyebalkan, tatapan matanya yang menyekik mental, serta bicaranya yang menguras emosional──pokoknya semua hal yang memiliki label Agam di dalamnya adalah hal paling menjengkelkan di kehidupan Nada.
Demi apapun! Nada benar-benar benci Agam!