Agam yang sedang menggenggam ordner itu, harus berbalik tatkala bunyi decitan pintu cukup samar membangunkan inderanya kembali. Wanda dengan air muka cerah tengah menenteng sebuah map folder biru.
Agam tak memungkiri, Wanda sudah akan resmi resign sebentar lagi. Padahal cukup sulit untuk meminta resign pada Agam, namun Wanda nyatanya kelihatan tidak pesimis. D*adanya itu seperti punya kobaran api semangat untuk segera menjejakan kaki keluar dari lantai kebesaran Samudra.
Entah, kenapa Wanda malah bahagia dengan resign dari Samudra yang gajinya bahkan sebesar buana. Begini jika tidak memiliki kontrak, terkadang Agam yang agak susah sendiri tatkala sekretaris nya tiba-tiba akan keluar seperti ini.
"Saya sudah cc email laporan finance dari Tanjaya Property, Pak," Wanda berujar seraya memberikan flashdisk di atas meja Agam. "Rincian mark up sudah saya simpan di sini,"
Agam menaruh ordner pada tempatnya lagi, kemudian menghampiri mejanya yang kelihatan cukup penuh itu meski hanya ditambah sebuah flashdisk kecil. Ia menghela napas sebelum melepas jas nya dengan agak berang.
"Rapat RUPS tahunan masih belum diagendakan Komisaris?"
"Sudah, Pak, segera akan saya catat jadwalnya," jawab Wanda setelah dia memberikan map folder pada Agam. "Bapak harus meninjau perkembangan museum seni Samudra setelah ini,"
Agam hanya mengangguk, Samudra memang akan meresmikan sebuah museum seni bulan Agustus mendatang. Agam perlu meninjau juga sudah sejauh mana juga proyek itu berjalan. Museum seni itu nantinya akan memiliki banyak koleksi mahakarya dari para seniman senior Indonesia dari tahun 1980-an hingga kini.
Ia kemudian membolak-balik lembar laporan di dalam map folder di atas mejanya. Keningnya lalu berkerut tatkala teringat akan permintaannya pada Nada tempo hari. Pria itu menutup map foldernya, lalu bersiap untuk membuka layar iPadnya lagi.
"Adisty sudah cc email CV pelamar ke HRD dan kamu?"
Wanda mengerutkan kening tak mengerti, "A-Adisty ... siapa ya, Pak, maaf?"
"Adisty Nada,"
Wanda manggut-manggut, "Oh ... Mbak Nada, toh," gadis itu lalu mengerling sebentar, mencoba meraih ingatannya beberapa saat yang lalu. "Terakhir saya cek jam 8 pagi tadi, belum ada email dari mbak Nada, Pak,"
"Tell her to cc those email as soon as possible," sahut Agam.
Wanda kembali mengangguk, dia meraih ponsel pada saku celana kain panjangnya itu, kemudian segera mengirim pesan pada Nada sesuai dengan yang Agam minta.
Gila saja, Agam bahkan meminta Nada mencari kandidat sekretaris baru 5 hari yang lalu. Bagaimana bisa CV pelamar akan diminta secepat itu. Agam memang selalu diluar nalar!
Kini Wanda menjadi tak enak pada Nada. Sudah tak memiliki bagian pada Samdura, namun gadis itu bahkan masih harus senewen karena tuntutan Agam. Lagi pula, Agam ini juga aneh, kenapa dari sekian banyak rekan dan keberadaan seorang HRD, pria itu masih saja ingin mengusik Nada?
Tapi, ngomong-ngomong, Wanda baru tahu jika Agam memanggil Nada dengan nama depan. Mungkin sudah sejak dulu, pikirnya. Itu benar-benar tak biasa bagi Agam. Pasalnya, pria itu bahkan sangat jarang memanggil nama Wanda. Hanya sekadar menyapa "Wan" begitu saja seperti sangat susah bagi bibir tipis-nya itu untuk bergerak.
"Kenapa bapak gak pernah panggil saya Wanda atau nama depan saya Amelia gitu, Pak, kayak mbak Nada?"
Agam sedikit mengangkat wajahnya, kemudian sebelah alis tebalnya yang lugas itu naik. "Setelah mau resign baru kamu permasalahkan?"
Wanda menggaruk tengkuknya ragu, salah-salah dia bisa kena cecaran Agam lagi karena menanyakan hal sepele seperti ini. Terkadang mulut Wanda memang kurang bisa dikondisikan.
"Ya ... Saya cuma bertanya aja, Pak. Kenapa kok mbak Nada dipanggil lengkap gitu. Padahal, bapak ke dewan direksi saja jarang begitu. Kayak istimewa aja namanya mbak Nada buat bapak," sahutnya dengan dibarengi cengiran konyol.
"Memang,"
Mata Wanda berkedip lagi. "Eh? Bagaimana, Pak? Maksud bapak memang istimewa?"
***
"Holy Wings atau Fable?"
Agam menepikan mobilnya sejenak tatkala teleponnya dengan Logan sudah terhubung. Lagi pula Logan agak aneh akhir-akhir ini. Tidak biasanya si pria 37 tahun alergi menikah itu, akan membuat sebuah rencana yang diagendakan.
Dan menjatuhkan sebuah pilihan pada Agam? Sebenarnya pikiran Logan tengah dirasuki oleh Edgar atau bagaimana? Pria berandal tak kunjung tobat itu bahkan berkata akan membayar open table dengan sofa seorang diri.
"Terserah. Tapi aku lagi mau ke PIK," jawab Agam seraya kembali menjalankan mobilnya untuk mengarungi padatnya atmosfer Jakarta.
"Berarti Holy Wings? Padahal gue pengen ke Fable, tapi it ain't a problem. Bentar, lo ke PIK? Mau ke rumah abang lo atau gimana?"
"As you guessed,"
"I hope your business gonna ended up with a happy ending. Well, nanti biar gue ajak Edgar sama Jayden ke Holy Wings,"
Agam harap juga begitu.
Agam dan kakak sulungnya itu memang tak pernah memiliki sebuah kesamaan paham sejak dulu. Apalagi semenjak ayah mereka yang praktis akan menyerahkan hampir semua saham yang dia miliki pada Agam. Adnan yang notabene menempati status sebagai anak pertama tentu kontan naik pitam.
Namun, Agam sendiri sebenarnya tak suka ambil pusing. Jika memang Adnan minta kepemilikan saham untuk diberikan padanya, Agam akan berikan. Tapi, apakah sebaiknya tak berkaca dulu? Memangnya Adnan sanggup dan mampu mengelolanya sebaik Agam?
Semua hal tragis itu tak akan terjadi jika Adnan tidak kedapatan memakai narkotika. Menggesek 50 juta dari rekening Agam secara diam-diam juga merupakan sebuah kejahatan. Atau, melakukan kekerasan pada istrinya sendiri juga hal yang menjijikan.
Perusahaan sebesar Samudra Group tentu tak akan menerima seorang dewan direksi dengan banyak catatan kriminal seperti Adnan. Tak usah sejauh itu, Adnan bahkan tak akan pernah menjadi salah satu staf Samudra.
Itulah sebabnya, Agam selalu tenang menyikapi segala kegilaan Adnan saat berlagak jika ia akan bisa menjadi si dominan di keluarga Wikranegara. Agam jadi kasihan jika lama-lama kegilaan kakak sulungnya itu akan benar-benar membuat pikirannya juga jadi kurang waras.
"Kalau mau Fable ya let's do. Aku cuma bentar ke PIK, nanti sekitar jam 10 atau 11 langsung ke SCBD,"
"Great! Such a good idea. Kalau udah sampai Fable lo kabarin, open table plus sofa gue yang bayar,"
Logan tahu saja jika Agam memang sedang merasa begitu penat. Sepertinya segelas cocktail akan membuat pikirannya kembali segar. Sebenarnya tak usah juga open table, Agam lebih nyaman langsung pergi ke bar dan meneguk segelas wine.
Berbeda dari teman-teman gilanya itu yang suka memiliki niat hangover saat capek kerjaan, Agam hanya butuh casual drink untuk menenangkan pikirannya yang berasap. Lagi pula Agam memang sedang tidak bersama supir. Jika dia juga ikutan hangover dan nekat nyetir, yang ada besok langsung tersiar kabar pengangkatan Direktur baru di Samudra.
Memang begitu, malam di Jakarta seakan tak pernah habis. Rasanya mungkin Agam akan merindukan saat-saat dia mab*k bersama teman-temannya seperti ini. Apalagi Edgar akan menikah bulan depan.
Damn, Edgar bahkan 6 tahun lebih muda dari Agam, namun pemuda tanggung itu benar-benar sudah akan memulai gebrakan baru.
Ponsel Agam kembali berdering, sudut matanya kemudian sedikit melirik pada layar. Dia mengerutkan keningnya kala tersadar jika Nada yang menelponnya kali ini.
"Halo, Pak?"
"Ada apa, Adisty?"
"Pak ... Bapak lagi di mana, ya?"
"PIK, kenapa?" Kedua alis Agam sontak saling bertaut. Suara Nada itu kelihatan cemas namun agak konyol.
"Bu Silla ke rumah saya, Pak. Tapi gak mau pulang ini. Kalau gak dijemput pak Agam katanya gak mau,"
Agam menghela jemu, ibunya itu memang selalu begitu. Sudah sejak pensiun dari dunia modelling, bu Silla selalu ribut masalah mantu. Satu-satunya gadis yang bikin bu Silla kecantol adalah Nada tentu saja. Terlebih kala mengetahui jika wanita urban semacam Nada bahkan pandai memasak.
Hal konyol yang membuat Agam harus menahan senewen adalah saat ibunya itu yang mulai sering main ke apartemen Nada, seolah-olah Nada memang calon menantu keluarga Wikranegara. Dulu ketika Nada masih jadi sekretaris Agam, gadis itu selalu mengadu. Dia protes saat bu Silla berusaha mencuci otaknya untuk melihat pada sisi hedonis Agam yang digilai banyak wanita.
Agam berdecak kesal. "Ya sudah, saya putar balik."