KRING KRING KRING
"Huhh.. sudah pagi lagi saja, padahal rasanya aku baru tidur," ucap Rara, Rara mencium kening adiknya yang masih tertidur pulas.
Rara langsung bangun dan langsung masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap bekerja lagi seperti biasanya. Setelahnya ia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan mereka berdua sebelum beraktifitas seperti biasa.
"Pagi adikku yang tampan,” ucap Rara.
"Pagi Kak Revi," ucap Ryan, Ryan mencium pipi Rara dan langsung duduk dikursinya.
"Huhh.. kamu selalu aja manggil Kakak dengan sebutan seperti itu Yanno." ucap Rara, Rara mencubit pelan pipi Ryan sambil terkekeh.
"Kakak juga sama selalu memanggilku Yanno, padahal nama aku sudah keren sekali, malah kakak ganti kaya gitu." ucap Ryan sambil cemberut.
"Sudahlah tidak akan selesai kalau debat sama kamu Yan, sekarang kita sarapan nanti kamu telat sekolah." ucap Rara.
"Baiklah kak." ucap Ryan.
Lalu mereka berdua makan dalam diam, karena mereka jarang sekali berbicara jika sudah makan.
"Kak aku sudah selesai. Aku duluan ya kak. Dadah kakakku sayang yang tercinta." ucap Ryan, lalu Ryan mengecup pipi Rara.
"Bye adikku tersayang. Belajar yang serius ya dek jangan main mulu." Rara mencium kening sang adik dengan sayang.
"Siap kakak cantik. Dahhh." Ryan langsung berlari keluar rumah menuju motor miliknya dan langsung pergi menuju sekolah.
Setelah Ryan pergi, Rara juga pergi menuju rumah sakit tempat dia bekerja
Saat Rara sudah dirumah sakit, setiap berpapasan dengan orang, ia selalu memberikan senyum ramah yang ia punya.
Rara langsung jalan menuju ruang prakteknya dan langsung bersiap untuk praktek. Saat sedang mempersiapkan diri untuk memulai jadwalnya, Rara dipanggil oleh asistennya.
"Ra.. kamu hari ini kamu ada jadwal operasi anak kecil yang usus buntu waktu itu ya." ucap Lia, karena kedekatan mereka membuat Rara menyuruh asistennya untuk memanggilnya dengan nama saja, kecuali dihadapan orang banyak.
"Jam berapa Li?" tanya Rara sambil membuka jadwalnya hari ini, karena ia belum membacanya.
"Satu jam lagi Ra."
"Oke Li, terima kasih ya."
"Oke. Kalau gitu aku balik ke mejaku dulu ya, untuk mengerjakan yang lain." Rara hanya menganggukkan kepalanya. Setelahnya, Rara langsung siap-siap untuk melakukan operasi, pukul 8 pagi Rara langsung menuju ruang operasi dan dijalan dia bertemu dengan Revan.
"Pagi, Sir." ucap Rara ramah.
"Pagi, Ra." Revan tersenyum menatap Rara yang terlihat fresh dengan gaun kuningnya.
"Ada operasi Ra?"
"Iya, Sir. saya permisi, Sir." pamit Rara karena takut telat untuk menangani operasi.
"Oke goodluck."
Operasi dilakukan selama dua jam dan setelah operasi selesai, Rara langsung keluar ruangan untuk memberitahukan keluarga anak kecil tersebut bahwa operasi lancar dan Rara pun langsung kembali keruangan untuk bersiap melihat keadaan pasien yang lain.
Saat sedang memeriksa berkas pasien, ada yang membuka pintu ruangan dengan cepat.
"Dokter..Dokter.. Huhh.. Huhh.. Ada pasien kecelakaan tabrak lari dok, keadaannya kritis."
Rara yang mendengar pun langsung lari menuju UGD untuk melihat keadaan pasiennya. Saat sampai ruangan, Rara melihat sudah ada Revan diruangan tersebut.
"Gimana keadaannya, Sir?"
"Harus segera dioperasi karena keadaannya cukup parah. Saya akan bicara dengan keluarganya sebentar dan kamu siapkan ruang operasinya."
Setelah Revan pergi untuk bicara dengan keluarganya, Rara dan suster yang lain menyiapkan ruang operasi.
"Langsung bawa keruang operasi."
"Baik, Sir."
Semua langsung lari sambil mendorong brankar pasien tersebut. Operasi dilakukan selama 8 jam karena keadaan pasien yang parah, setelah memberitahukan keadaan pasien ke keluarganya. Revan dan Rara menuju ruangan masing-masing.
"Terima kasih Ra, kerja kamu sangat bagus tadi."
"Sama-sama Sir, dan terima kasih atas bantuannya. Kalau begitu saya pamit mau istirahat, Sir. Permisi."
Rara sedang istirahat di taman belakang rumah sakit saat ini. Rara sedang menutup mata dan menyenderkan kepalanya dibangku taman, dan saat sedang beristirahat ada dua anak kecil yang menghampirinya, dan menarik-narik baju yang dia gunakan.
"Aunty.. Aunty.." ucap anak perempuan tersebut.
Rara pun langsung membuka matanya dan melihat dua anak kecil yang sangat manis berdiri didepannya.
"Hallo sayang.. Kamu disini sama siapa, hm? Kenapa main berdua aja?" ucap Rara, mensejajarkan tubuhnya dengan mereka.
"Kami selalu main berdua disini Aunty, Grandma sedang ngobrol dengan temannya dikantin." ucap anak laki-laki itu.
"Dimana Mommy dan Daddy kalian?"
Wajah si kembar langsung muram "Daddy kerja Aunty, kalau Mommy kami kata Daddy sudah disurga Aunty." ucap si anak laki-laki.
"Maaf ya sayang, Aunty tidak tau." sesal Rara dan mengusap kepala si kembar.
"Aunty.. apakah Aunty mau menemani kami dan bermain dengan kami?" ucap anak perempuan tersebut dan mengeluarkan puppy eyesnya.
"Baiklah.. Aunty akan menemani kalian main. Kalau boleh Aunty tau, siapa nama kalian sayang?" ucap Rara.
"Nama aku Devano, Aunty, dan disebelahku, Devina saudari kembarku, Aunty. Nama Aunty siapa?" ucap Devan.
"Nama Aunty Reviera sayang. Kalian bisa panggil Aunty Rara." ucap Rara.
"Baiklah, Aunty. Ayo kita main!!" pekik Devina girang.
Rara bermain bersama Devano dan Devina, melakukan apapun yang bisa dilakukan dari kejar-kejaran, menyanyi bahkan sampai tiduran dirumput taman. Selama 2 jam mereka bermain tanpa ingat waktu. Saat Rara ingin kembali, Grandma si kembar datang.
"Hai cucu Grandma." ucap seorang wanita yang terlihat cantik dan masih muda disaat ia sudah memiliki cucu.
"Hallo, Grandma."
"Ini siapa sayang?" Grandma si kembar melihat kearah Rara.
"Saya Rara Nyonya, maaf saya bermain dengan mereka tanpa bilang kepada Nyonya." ucap Rara tidak enak, karena ia bermain tanpa meminta izin.
"Tidak apa-apa nak. Nama saya Erlita Grandmanya mereka. Kamu dokter disini?"
"Iya Nyonya saya dokter disini. Saya permisi dulu Nyonya, saya harus kembali kerja." pamit Rara untuk undur diri.
"Oke silahkan, semangat ya".
"Sayang, Aunty kerja dulu ya. Kapan-kapan kita main lagi. Bye."
"Bye Aunty sampai jumpa." Rara mengecup pipi si kembar dan si kembarpun mengecup pipi Rara.
"Jaga diri kalian ya boy, girl. Permisi Nyonya." Erlita hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"DADAHH AUNTY." teriak si kembar saat Rara sudah menjauh.
Sebulan ini Rara selalu main dengan si kembar setiap jam istirahatnya, dan selalu makan dengan si kembar di taman belakang rumah sakit. Saat ini Rara sedang menuju ke taman belakang rumah sakit untuk bertemu si kembar, dan hari ini Rara khusus membuatkan makanan untuk si kembar karena Rara sangat menyukai bahkan menyayangi si kembar karena selalu menemaninya.
"Haii sayangnya Aunty.. tebak apa yang Aunty bawa hayo." ucap Rara dengan misteriusnya.
"Bawa apa Aunty?" ucap si kembar bersamaan, sambil curi padang kearah tangan Rara yang ada dibelakang.
"Taraaa.. lihat Aunty buatkan makanan untuk kalian. Ayo kita makan." ucap Rara dengan menunjukkan beberapa kotak bekal yang terlihat berat.
"Wahh terima kasih Aunty. Kami sayang Aunty." ucap si kembar dengan mata berbinar bahagia.
"Suapin ya Aunty?" pinta Devina manja.
"Oke cantik, Aunty suapin."
Rara makan dengan si kembar yang di suapi oleh Rara karena si kembar ingin di suapi. Mereka makan dengan tenang dan sesekali tertawa karena tingkah Devina yang lucu sekali. Setelah selesai makan mereka pun duduk dibawah pohon dan bersandar dipohon, dengan Devano disamping kiri Rara dan Devina disamping kanan Rara.
"Aunty, apakah Aunty akan mengabulkan permintaan kami?" ucap Devina.
"Permintaan apa itu sayang? Aunty akan mengabulkannya jika Aunty bisa." ucap Rara.
"Apa Aunty mau .."