"Apakah Aunty mau selalu menemani kami?" ucap Devina.
Tubuh Rara langsung menegang saat mendengar ucapan Devina. Rara ragu ingin menjawab apa. Sampai Rara melamun dan kembali sadar saat Devina menanggilnya. Karena Rara tidak mengenal baik mereka dan tidak tahu mereka siapa, hanya sebatas tahu nama dan Grandmanya. Rara tidak ingin memberikan harapan palsu, jika sampai mereka harus berpisah nantinya karena satu dan lain hal.
"Apakah Aunty tidak mau?" tanya Devina dengan mata berkaca-kaca. Devina sudah sangat nyaman dengan Rara, karena menurutnya, Rara sangat baik padanya dan saudara kembarnya, jarang yang baik kepada mereka, terkadang yang baik kepada mereka hanya memanfaatkan mereka untuk dekat dan mendapatkan Daddy mereka.
Rara melihat kearah Devano dan mata Devano juga berkaca-kaca ingin nangis. Sungguh Rara tidak tega melihat si kembar sedih seperti ini. Rara ragu dengan keputusannya, tetapi demi si kembar senang Rara akan melakukan apapun, Rara berharap apa yang menurutnya mustahil akan menjadi kenyataan suatu saat nanti.
"Tentu Aunty mau sayangku, masa Aunty tidak mau menemani kesayangan Aunty yang tampan dan cantik ini." ucap Rara sambil merentangkan tangannya.
"Terima kasih Aunty, Aunty terbaik." Pekik Devano dan Devina girang bahkan keduanya sampai meloncat-loncat dan langsung berhambur kepelukkan Rara, mereka tertawa dan bercanda bersama.
"I love you, Aunty." Ucap si kembar, sambil mencium pipi Rara bersamaan, membuat senyum Rara berkembang dengan sempurnanya.
"I love you too, sayangnya Aunty." ucap Rara dan memeluk mereka lagi dan mencium kening mereka lembut.
"Sayang, Aunty boleh panggil kalian Vano dan Vina?" pinta Rara, karena merasa terlalu panjang jika harus memanggil Devano dan Devina.
"Tentu saja, Aunty. Yang lain juga memanggil kami seperti itu." ucap Devano cepat dengan senyum merekah yang masih terpatri diwajahnya, dan jangan lupakan mereka yang masih bergelayut manja dilengan Rara.
Setelah bermain cukup lama. Grandma si kembar menghampiri mereka, karena sudah waktunya bagi mereka untuk pulang bersama dengan sang Grandma.
"Vano, Vina kita pulang ayo." kata Erlita, sambil berjalan kearah mereka yang sedang duduk dibawah pohon dengan alas karpet yang tersedia disana.
"GRANDMA!!" ucap si kembar sembari berlari kearah Grandmanya, bahkan kedua tangan mereka mengembang kesamping membentuk seperti pesawat.
"Hai Ra, tidak usah canggung." ucap Grandma si kembar ramah sambil tersenyum manis, karena melihat Rara yang langsung berdiri saat menyadari kehadirannya, Rarapun langsung menghampiri si kembar dan Grandmanya.
"Iya, Nyonya." ucap Rara sambil tersenyum ramah.
"Tidak usah memanggil saya Nyonya. Panggil Aunty saja oke. Karena kamu Aunty cucu saya." ucapnya dengan senyuman lembut seorang ibu.
"Baa-baiklah, Aunty." ucap Rara gugup, karena selama ini ia tidak pernah begitu dekat dengan orang lain, kecuali keluarga Gwen.
"Tidak usah gugup sayang." ucap Grandma si kembar sekali lagi sambil terkekeh, ia juga mengusap lembut bahu Rara.
"Baiklah, cucu-cucuku sayang, kita pulang ya, Rara kami pamit pulang dulu ya. Ayo sayang, pamit sama Auntynya dulu, besok ketemu lagi ya." suruh Grandma dengan tangan yang sudah menggandeng si kembar.
"Kami pergi dulu ya, Aunty. We love you and see you, Aunty." ucap si kembar melambaikan tangannya, bahkan si kembar melepas sebentar pegangan Grandmanya untuk mencium pipi Rara.
"Iya Aunty hati-hati dijalan ya. Dadah sayangnya Aunty. Aunty love you boy and girl." ucap Rara, sambil menatap mereka yang menjauh dengan senyum mengembang, dan membalas lambaian tangan si kembar saat mereka membalikkan badan dan melambaikan tangannya kembali ke arah Rara.
Revan mungkin sebentar lagi kamu akan mendapatkan kebahagiaan kamu yang sudah lama hilang dari Rara nak, semoga kamu bisa dekat dengan Rara. Karena sepertinya dia gadis baik-baik – batin Erlita.
Sepertinya aku pernah melihat Aunty Erlita tapi dimana ya – batin Rara.
Setelah dari taman Rara kembali bekerja sampai pukul 9 malam, karena ada 2 operasi besar yang harus dilakukan oleh Rara dan Revan.
"Malam, Ra." ucap Revan dengan senyum menawannya.
"Malam, Sir Revan.”
"Kamu sudah selesai shift nya Ra?" tanya Revan, saat melihat Rara sudah tidak memakai jas kedokterannya.
"Sudah, Sir."
"Kalau gitu ayo, saya antarkan kamu pulang sekalian." Revan menggandeng tangan Rara.
"Tidak perlu, Sir. Saya tidak ingin merepotkan. Saya pulang sendiri saja." tolak Rara halus, karena takut akan menjadi gosip kalau ia pulang dengan direktur rumah sakit ini.
"Sudah tidak perlu sungkan, saya tidak pernah menerima penolakan lagi dan saya tidak meminta persetujuan kamu." ucap Revan keras kepala, karena takut ditolak lagi oleh Rara.
Revan dan Rara pulang bersama, dengan Rara yang terpaksa untuk ikut pulang bersama Revan, karena tidak ingin mencari masalah dengan menolak permintaan direktur rumah sakit tempatnya bekerja. Didalam hanya keheningan yang mengisi perjalanan mereka, karena kecanggungan yang dialami keduanya. Sampai akhirnya Revan tidak tahan dengan keheningan yang ada, Revan berdehem untuk memulai percakapan dengan Rara.
"Ehm, Ra?"
"Iya, Sir?" Rara menatap Revan dari samping yang sedang menyetir, dan mengakui akan ketampanan Revan yang diatas rata-rata, jika dilihat dari jarak ini, walaupun jarak keduanya tidak terlalu dekat.
"Jangan panggil Sir Ra, lebih baik kamu panggil nama. Kita juga tidak beda jauh umurnya, tidak perlu formal Ra."
"Taa-pii Sir, saya tidak enak, Sir." ucap Rara canggung, karena permintaan direkturnya itu sangat sulit untuk dilakukannya.
"Tidak apa-apa Ra, saya tidak menerima penolakan." Rara pun hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar, karena bingung ingin membantah apa lagi, Revan yang tahu jika Rara ingin membantah, langsung berbicara, “Tidak ada bantahan.” ucap Revan tegas, membuat Rara hanya bisa mendesah pasrah.
"Oke Si- eh Revan," ucap Rara akhirnya, karena tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaan Revan.
Mereka sudah sampai dirumah Rara, dengan perjalanan yang memakan waktu hampir setengah jam.
"Terima kasih ya Revan sudah mengantarkanku. Maaf ngerepotin." ucap Rara saat sudah keluar mobil dan Revan yang juga keluar mobil.
“Tidak masalah, ayo aku antar sampai depan pintu.” Revan menyuruh Rara untuk jalan lebih dahulu, dan ia mengikutinya dari belakang sampai mereka berhenti dipintu dengan 2 bagian berwarna coklat.
“Sekali lagi terima kasih ya, kamu pulang sudah malam.” usir Rara halus, karena takut terjadi apa-apa dengan Revan dijalan, dikarenakan hari sudah malam.
“Kamu masuk dulu, baru aku pergi.” Rara yang ingin Revan segera pulang langsung masuk kedalam dan mengintip dari kaca.
Rara melambaikan tangannya dari kaca, saat melihat Revan masih berdiri didepan pintu rumahnya dan menggumamkan kata hati-hati yang diangguki oleh Revan dengan senyum manisnya yang selalu ada diwajahnya.
"Oke good night, Ra." Revan tersenyum lembut dan membalas melambaikan tangannya lalu menuju mobilnya untuk segera pulang.
"Good night, Revan." gumam Rara sambil melihat mobil Revan yang menjauh, setelah mobil Revan menghilang dari pandangan, Rara langsung memutuskan untuk beristirahat.