Saat ini sedang jam istirahat, waktunya bagi Rara untuk makan dan istirahat, sekarang Rara sedang makan diruangannya dengan bekal yang ia bawa dari rumah, tadi pagi ia sudah bertemu dengan si kembar, dan si kembar mengatakan akan pulang sebelum jam makan siang, karena sang Grandma akan menghadiri suatu acara. Jadi Rara memutuskan untuk memakan bekalnya didalam ruangan.
TOK...TOK...TOK...
"Masuk." ucap Rara setelah menelan makanannya dan meminum air putih untuk melegakan tenggorokannya.
"Hai Ra," ucap Revan sambil memasuki ruangan Rara.
"Eh Revan, masuk Van. Maaf aku lagi makan, ada yang bisa aku bantu?" Saat Rara ingin berdiri tetapi langsung ditahan oleh Revan dengan menggunakan isyarat, membuat Rara kembali mendudukkan dirinya dengan nyaman.
"Tidak apa-apa Ra, makan aja, seharusnya aku yang minta maaf, karena ganggu jam makan kamu. Aku cuma ingin nanya, kamu hari ini praktek sampai jam berapa, Ra?" tanya Revan sambil duduk didepan Rara.
"Jam 5, Van. Ada apa ya?" Rara bingung dengan Revan yang tiba-tiba menanyakan jam pulangnya.
"Nanti malam, kamu mau Ra makan sama aku?" tanya Revan to the point dan cepat, padahal Revan merasa jika jantungnya akan copot saking kencangnya detak jantungnya itu.
"Eh? Gimana ya, aku tidak enak." Rara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung untuk menjawab apa. Disatu sisi, ia ingin sekali pergi bersama Revan, karena Rara merasa nyaman saat berada didekat Revan. Disisi lain, ia takut menjadi masalah nantinya jika ia berdekatan dengan Revan.
"Ayolah, Ra. Kamu mau ya makan sama aku." minta Revan memelas.
Rara mengulum senyum melihatnya, menurutnya ekspresi Revan sangat menggemaskan, "Hm, oke deh."
"Oke, kalau begitu nanti jam 7 malam, aku jemput kamu ya Ra, dirumah kamu." ucap Revan dengan suara tenangnya, walaupun ia sedang menahan senyum gembiranya, tetapi Revan mencoba menahannya didepan Rara.
"Oke, Van." Rara menganggukkan kepalanya paham.
"Ya sudah aku balik keruanganku dulu ya." Revan langsung buru-buru keluar dari ruangan Rara tanpa menunggu jawaban Rara, membuat Rara menggelengkan kepala melihatnya. Sedangkan Revan sudah senyum-senyum sendiri didepan ruangan Rara.
Ya ampun, mimpi apa gue diajak makan sama Revan. – batin Rara berteriak.
Yes! diterima ajakan makan gue. – batin Revan kesenengan.
Sesampainya dirumah, Rara langsung bersiap-siap. Rara memilih dress sederhana berwarna putih, dengan rambut digerai. Karena ia tidak mau Revan menganggapnya berlebihan dan ia juga belum tahu akan diajak Revan untuk pergi makan kemana.
Rara menelpon Ryan, untuk memberitahu kalau Rara akan pergi malam ini, karena Ryan belum ada dirumah dari saat Rara pulang kerja.
'Halo.'
"Dek, kakak pergi makan malam ya."
'Sama siapa kak?'
"Teman kakak."
'Ya sudah Kak, hati-hati ya, Kak.'
"kamu jangan pulang malam-malam ya, Dek."
'Oke, Kak. Love you.'
“Love you too.”
TING TONG.. TING TONG..
Rara yang mendengar suara bell langsung berlari kearah pintu dengan tas yang sudah ia bawa, karena ia yakin jika yang datang itu Revan. Saat Rara membuka pintu, Revan tertegun melihat penampilan Rara malam ini, karena Rara sungguh cantik walaupun hanya memakai dress sederhana. Kecantikan Rara tidak ada yang menandingi menurut Revan.
"Hai, Van."
"Eh? Sudah selesai, Ra? Ayo berangkat." Revan menggenggam tangan Rara setelah Rara mengunci pintu dan menarik lembut tangan Rara menuju mobil. Rara hanya bisa diam untuk menetralkan detak jantungnya yang cepat.
Revan membukakan pintu mobil untuk Rara dan setelahnya berlari kecil kepintu kemudi.
"Malam ini kamu cantik sekali, Ra." ucap Revan sambil sesekali melihat ke arah Rara, karena ia sedang menyetir. Jika tidak menyetir, ia ingin menatap wajah Rara terus menerus.
"Terima kasih, Van." Rara tersipu malu dengan wajah yang mulai memerah, Rara bersyukur sekarang sudah malam, jadi Revan tidak melihat wajahnya yang memerah.
Revan dan Rara sudah sampai direstoran yang cukup ternama di Spanyol. Mereka langsung duduk di tempat yang sudah dipesan oleh Revan sebelumnya.
"Kamu mau makan apa, Ra?" Revan membolak-balikkan menu yang ia pegang.
"Aku ikut kamu aja, Van." ucap Rara karena ia belum pernah makan ditempat seperti ini. "Ra," Revan menggenggam tangan Rara yang berada diatas meja.
"I-iya, Van?" ucap Rara gugup.
"Terima kasih ya kamu sudah mau makan sama aku." Revan mengecup punggung tangan Rara dengan lembut, membuat Rara tersipu dibuatnya.
"Iya Van, sama-sama."
"Ra, boleh kan kalau aku ingin kenal kamu lebih dekat?" Revan menatap Rara dalam dan lembut.
Pipi Rara merona mendengar pertanyaan Revan, "Maksudnya, Van?"
"Aku mau lebih dekat sama kamu, engga cuma sekedar dekat seperti ini."
"Boleh kok, Van." ucap Rara malu-malu, Rara merasakan ada kembang api didalam perutnya begitu pun dengan Revan.
"Terima kasih ya Ra, terima kasih." Revan mengecup jari-jari Rara.
Makanan merekapun datang dan mereka makan dengan tenang, sesekali berbincang ringan.
Saat Rara sedang makan, tiba-tiba Revan mengusap ujung bibir Rara karena ada saus-saus yang dimakan oleh Rara.
"Kamu makan kaya anak kecil." Revan terkekeh melihatnya. Rara terpaku mendapat perlakuan seperti itu dari Revan.
"Makannya pelan-pelan aja, Ra." Revan mengusap lembut rambut Rara.
"Iya, Van."
Setelah makan, Revan mengantar Rara kembali kerumahnya. Karena sudah malam, membuat Revan tidak mengajak Rara jalan-jalan terlebih dahulu.
"Terima kasih ya Van, untuk makan malamnya." ucap Rara saat mereka sudah berdiri didepan pintu rumah Rara, karena seperti biasa, Revan mengantarkan Rara sampai depan pintu rumahnya.
"Sama-sama Ra. Kalau gitu aku pulang dulu ya. Good night."
"Good night Van, hati-hati dijalan." Revan mengecup kening Rara lembut, membuat Rara terdiam karena perlakuan Revan.
Revan langsung menaiki mobil dan meninggalkan halaman rumah Rara, setelah melihat Rara langsung masuk kedalam rumah.
"Yan, kok kamu belum tidur." tanya Rara saat melihat Ryan yang masih menonton film.
"Nungguin kakak pulang, Kak." Ryan menghampiri Rara dan mencium pipinya.
"Ya sudah sekarang kamu tidur gih sudah malam. Tapi kamu sudah makan belum, Yan?"
"Sudah kok kak, kak aku tidur bareng kakak ya, kangen." Ryan merengek sambil mendekap erat sang kakak.
"Iya, iya, manja sekali adik kakak ini, hm. Kakak bersih-bersih dulu tapi ya." Rara mencubit pelan hidung Ryan.
"Oke, Kak."
Rara pun langsung masuk kekamar mandi yang ada di kamarnya, setelah selesai Rara melihat Ryan sudah ada diranjangnya. Rara pun berbaring disebelah Ryan.
"Sekarang tidur ya, Yan."
"Oke kak good night, Kak." Ryan mengecup pipi Rara dan memeluknya.
"Good night, my boy." Rara menenggelamkan wajahnya di d**a Ryan.
**
Pagi ini saat Rara sedang bersiap untuk pergi kerumah sakit, ponselnya berbunyi pesan masuk.
Revan: Aku sudah didepan rumah kamu ya Ra.
Rara yang melihat pesan Revan pun langsung turun.
"Dek kakak langsung berangkat ya, bye." Rara mencium pipi Ryan.
"Bye kak, hati-hati."
Rara langsung menghampiri Revan yang ada didepan gerbang rumahnya, dengan menyandarkan tubuhnya dibagian samping mobilnya.
"Kamu ngapain kesini, Van?" tanya Rara yang dibalas senyum lembut oleh Revan.
"Ya jemput kamu lah, Ra."
"Ayo masuk." Revan membukakan pintu untuk Rara dan langsung menuju pintu kemudi kemudian menjalankan mobilnya.
"Kamu kenapa engga ngomong dulu kalau mau jemput aku?"
"Kalau aku ngomong, pasti kamu nolak kan." ucap Revan tepat sasaran, membuat Rara tersenyum.
"Iya sih."
"Tuh kan makanya aku engga ngomong." Revan mengacak-acak rambut Rara gemas, Rara mengerucutkan bibirnya kesal.
"Jangan diacakin dong rambut akunya." Revan terkekeh melihat wajah kesal Rara.
"Hei, sudah jangan ngambek dong. Sudah sampai nih."
"Eh? Terima kasih ya, Van, sudah jemput aku. Aku duluan ya."
"Sebentar, Ra." Revan mencekal tangan Rara.
"Kenapa, Van?" tanya Rara, sambil menatap Revan menunggu.
"Ada yang kurang."
"Apa?" Tanya Rara bingung.
Revan mengecup kening dan pipi Rara, "Semangat prakteknya."
Rara langsung keluar mobil tanpa berbicara apapun, karena pipinya yang memerah, Revan hanya terkekeh karena sempat melihat pipi Rara yang memerah.