Lampu-lampu dengan pencahayaan terlampau terang itu menyilaukan kedua netra indah milik Kanina Salasar. Matanya menyipit untuk menilik orang-orang yang ada di sekitarnya lalu langkahnya segera beranjak mendekati seseorang yang sejak tadi ia cari.
Calon tunangannya ada di sana, sedang berdiri dengan tangan memeluk pinggang seorang wanita yang tampak menjulang dibalut gaun pesta berwarna emas pucat. Kanina menyunggingkan senyum sinis seiring dengan langkah kakinya yang berjalan semakin mendekat ke arah laki-laki berpostur sempurna di depannya.
“Sayang.”
Panggilan bernada lembut sekaligus menggoda itu mengalihkan perhatian hampir semua orang yang berdiri melingkari sebuah meja dengan tangan memegang gelas-gelas berleher ramping. Kanina sama sekali tidak peduli dengan tatapan penuh penilaian yang kini diarahkan kepadanya ketika target yang sejak tadi ia intai menoleh ke arahnya.
Senyum wanita dengan gaun panjang berwarna hitam berbelahan rendah serta bahu sedikit terbuka itu mengembang sempurna ketika laki-laki di hadapannya menoleh. Raut tidak suka di wajah calon tunangannya selalu berhasil membuat Kanin merasa dirinya menang. Sehingga ketika Kegan menatapnya penuh permusuhan, wanita itu hanya bergeming di tempatnya.
“Oh? Aku ganggu, ya?” Jemari lentik terbalut kuteks berwarna merah gelap milik Kanina bergerak menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.
Kegan mengetatkan rahang lalu melepaskan pelukannya pada pinggang Nadeline dan menatap tajam ke arah Kanina. Entah bagaimana, wanita yang tampak anggun dan sempurna dalam balutan gaun berwarna hitam kasual itu ada di pesta pernikahan sahabatnya malam ini. Kegan benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Kanina yang sungguh membuatnya kepalang kesal bukan main.
Sementara Kegan terlihat menahan amarahnya, Kanina menyampirkan senyum sopan ke arah teman-teman calon tunangannya yang kini menatap tidak suka ke arahnya. Kanina tahu bahwa sebagian besar dari mereka yang hadir pada acara malam itu menyimpan kebencian atau lebih tepatnya rasa tidak suka kepada dirinya. Wanita itu menyadari tatapan penuh penghakiman yang dilayangkan kepadanya, terutama dari seorang wanita yang kini berdiri di sebelah Kegan.
“Ikut saya,” cetus Kegan seraya menairk tangan Kaninan menjauh dari teman-temannya yang sedang berkumpul.
Laki-laki yang tampak tampan dalam balutan jas berwarna hitam tertata rapi itu membawa Kanina menjauh dari keramaian. Rahangnya tampak mengerangs, seolah menegaskan kemarahan yang kini bergumul di hatinya menjadi satu. Sementara di belakang laki-laki yang tampak sempurna dengan rambut hitam terangkat ke atas tersebut, Kanina hanya memasang wajah datar tanpa sedikit pun rasa bersalah karena telah mengacaukan acara calon tunangannya.
“Kamu kenapa di sini?” Kegan menghempaskan tangan Kanina sedikit kasar
Wanita muda yang kini memasang senyum sinis di wajah cantiknya itu perlahan mengarahkan tatapannya kepada wajah laki-laki di hadapannya. Suasana di sekitar mereka tampak temaram karena Kegan sengaja memilih tempat yang memang jauh dari lokasi utama. Laki-laki itu tidak ingin melampiaskan kemarahannya di hadapan semua orang yang hanya akan membuatnya dipandang buruk.
“Nggak ada larangan aku dateng ketemu sama calon suamiku, ‘kan?” Kanina memasang senyum tanpa dosa.
Kegan menggeram kecil lalu memajukan wajahnya sehingga kini jarak antara wajahnya dan Kanina hanya terpaut beberapa senti. Laki-laki itu kemudian berdesis tajam, “Saya nggak pernah mau kamu jadi calon istri saya.”
“Oh ya? Tante Vero nggak bisa tuh dibilangin begitu,” balas Kanina dengan senyum penuh kemenangan. “Kamu sepenuhnya punyaku, Kegan.”
Tatapan Kegan berubah sinis saat mendengar kalimat terakhir dari wanita di hadapannya. Laki-laki itu menaruh kedua tangan di sebelah pinggang, kemudian tatapannya berpendar untuk menghindari wajah Kanin yang terasa sangat menyebalkan di depannya. Sungguh, Kegan benar-benar tidak ingin melihat kehadiran wanita itu di mana pun ia berada.
“Pergi sebelum saya ngusir kamu pakai cara kasar,” ujar Kegan dengan garis bibir menipis, penuh dengan emosi.
Bukannya tersinggung dengan ucapan pedas Kegan kepadanya, wanita bergaun hitam elegan itu hanya memulas senyum tipis sebagai balasan. “Ini bukan party punyamu, Ke,” cetusnya kemudian.
“Ini acara temen saya, Kanin.” Laki-laki itu berdesis tajam tanpa bisa menyembunyikan kemarahannya. “Dan kamu nggak punya hak buat dateng ke sini.”
“Who said that?” Kanin memasang senyum sinis. “Kata siapa aku nggak boleh dateng ke acara keluarga pacarku?”
Seketika, Kegan terdiam. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangan serta mengetatkan rahangnya saat mendengar ucapan Kanin kepadanya. Kemarahan seketika menguasai dadanya, tetapi sebisa mungkin Kegan tidak menumpahkannya di sinis. Akan sangat berbahaya dan memalukan baginya jika sampai menarik perhatian orang dengan keributan yang ia perbuat.
“Terserah. Asal jangan ganggu saya,” balas Kegan seraya beranjak dari hadapan Kanin.
Laki-laki itu pergi dari hadapannya dan Kanin hanya bergeming di tempat. Wanita yang terlihat begitu luar biasa dengan rambut tergerai ke arah samping kiri itu lantas memutar tubuhnya. Kedua bola mata indah milik Kanin memperhatikan tubuh Kegan yang kini mulai menjauh dari pandangannya.
Menghela napas dalam lalu mengembuskannya perlahan, suara ketukan sepatu heels milik Kanin kemudian terdengar seiring langkahnya keluar dari tempat gelap yang dipilih Kegan untuk mengajaknya berbicara. Sorot lampu yang begitu menyilaukan seketika menyambut indra penglihatan Kanin selepas wanita itu menginjakkan kaki kembali di lantai utama acara berlangsung.
Pertunangan antara putra pengusaha properti terkenal bernama Wisnu Sangkara digelar begitu meriah. Putra sulung Wisunu yang bekerja di bidang fotografi melangsungkan pernikahan bersama seorang desainer muda yang merupakan salah satu kenalan Kanin. Lebih dari itu, alasan mengapa Kanina datang—atau lebih tepatnya diundang dalam acara ini adalah karena kekasihnya yang merupakan adik dari Brama Sangkara.
“Hey.”
Kanin menolehkan kepala lalu mengukir senyum indah ke arah Agam Sangkara yang kini berjalan mendekat ke arahnya. “Aku nyariin kamu,” ujarnya lembut.
Agam Radean Sangkara merengkuh tubuh kekasihnya mesra lalu melayangkan kecupan ringan di ujung alis wanita itu. Tangannya bertengger di pinggang ramping Kanin, serta senyumnya yang sama sekali tidak lepas dari wajah menawannya.
“Kayanya aku yang nyari kamu, deh,” balas Agam tertawa kecil. “Ke mana aja?”
“Oh?” Mendadak, Kanin linglung ditanya begitu.
Tidak mungkin dia secara gamblang mengatakan bahwa dirinya baru saja bertemu dengan laki-laki lain yang bukan Agam. Hubungan yang mereka jalin selama empat tahun terakhir akan kandas begitu saja jika Kanin mengatakannya secara tiba-tiba. Meskipun wanita itu tahu bahwa cepat atau lambat, hubungannya dengan Agam Sangkara akan segera berakhir.
“Tadi ke kamar mandi. Habis benerin make up,” ujar wanita itu cepat-cepat. “Aku habis ini pulang cepet. Nggak apa?” Kanin menatap mesra wajah Agam.
Kening Agam mengernyit kecil lalu melepaskan rengkuhannya pada pinggang Kanin sehingga wanita itu kini berdiri tepat di depannya. “There’s something wrong?”
“No,” jawab Kanin seraya tertawa kecil. “I have something to do.”
“Pulang naik apa? Should I drive you?” tanya Agam seraya merapikan sekilas rambut Kanina yang tampak berantakan.
Wanita dengan lipstik merah merona di bibirnya itu menggeleng pelan seraya mengedarkan pandangan ke sekitar tempatnya berdiri. Senyumnya seketika terbit saat melihat Kegan berjalan ke arahnya dengan tatapan datar sekaligus wajah tidak senang khas milik laki-laki itu. kegan menatapnya tajam, seolah hendak menelan Kanin hidup-hidup saat ini juga.
“I think … no.” Kanina mengalihkan wajahnya dan menatap Agam masih dengan senyuman. “Somebody will take me home,” lanjutnya kemudian.
“Tante Sarah nelepon saya.” Kegan datang dan langsung berbicara di depan Kanin dan Agam.
Raut kebingungan jelas terlihat di wajah Agam saat tiba-tiba seseorang berpakaian rapi dengan tuksedo hitam datang dan berbicara kepada kekasihnya. Agam pun melirik ke arah Kanin yang kini tampak tersenyum sinis kepada laki-laki di hadapan mereka. Masih belum ada suara yang keluar dari bibir Kanin, hanya berupa senyum tipis yang selalu terlihat memesona.
“Babe,” cetusnya kemudian mengalihkan wajah dan menatap sepenuhnya ke arah Agam. “Kenalin ini Kegan,” sambungnya.”
Agam masih bergeming di tempatnya dengan kening mengernyit saat Kanin tiba-tiba mengenalkan seseorang yang bahkan tidak diketahuinya. Tatapannya lantas beralih ke arah Kegan yang masih berdiri dengan wajah kaku di depannya. Laki-laki tinggi dengan tubuh kekar itu tampak tidak terpengaruh dengan keramain, pun dengan kalimat Kanin sebelumnya.
“Dia calon tunangan aku.”
Seketika, kedua bola mata Kegan terbelalak kaget mendengar pernyataan Kanin. Wanita waras mana yang akan secara terang-terangan mengungkapkan status pertunangannya di hadapan sang pacar? Kegan bersumpah bahwa ini adalah kali pertama ia menemukan wanita seaneh Kanin.
“What?” Agam bertanya kebingungan. “Are you kidding me?”
“No. I’m not kidding,” balas Kanin seraya melepaskan tangan Agam yang masih berada di pinggangnya. “Dia Kegan Bratadikara. Laki-laki yang keluargaku pilih buat jadi tunanganku,” sambungnya, menatap sepenuhnya ke arah Agam yang kini memasang wajah tidak percaya.
“It’s not funny, Babe. Kamu lagi becanda kan?” tanya Agam masih berusaha menyangkal ucapan Kanin.
Wanita itu serta merta menggeleng dengan senyum tipis di wajahnya. “Aku nggak bercanda.”
Berada di antara ketegangan yang terjadi sepasang kekasih di depannya membuat Kegan mati kutu. Laki-laki itu masih berdiam di tempatnya dengan kedua tangan terselip di saku celana, menunggu apa yang akan diucapkan oleh Kanin setelah ia membuat putra kedua dari keluarga Sangkara terkejut bukan main.
Bisa dikatakan, Kanin adalah satu-satunya wanita yang mencampakkan putra penerus kerajaan bisnis Sangkara Group dengan begitu percaya diri. Kanin seolah tidak memiliki rasa takut atau setidaknya ragu untuk melepaskan seseorang yang selama ini begitu dipuja oleh semua orang yang mengagung-agungkan kekayaan keluarga Sangkara.
“Let’s break up, Gam.” Kanin berujar final tanpa memedulikan tatapan kecewa yang ia dapat dari calon mantan kekasihnya.
“How could you’re doing this to me?” Nada putus asa jelas terdengar di dalam suara Agam.
Senyum Kanin kembali tersampir bahkan saat wanita itu mengarahkan tatapannya kepada Kegan yang masih terkejut melihat aksinya. “Because now, I have him.”
Setelanya, Kanin beranjak dari sebelah Agam dan berjalan mendekati Kegan. Wanita itu meraih tangan Kegan lalu berjalan anggun meninggalkan Agam beserta pesta yang masih berlangsung meriah di belakangnya.
--
“You are crazy!”
“Yes. I am.”
Kegan melayangkan tatapan tidak percaya ke arah Kanin yang begitu percaya diri menyahuti ucapannya. Kedua orang itu telah keluar dari hotel tempat diberlangsungkannya acara pertunangan dan kini berjalan menuju mobil Kegan. Dengan terpaksa, laki-laki itu harus menuruti perintah ibunya dan juga ibu wanita di sebelahnya untuk mengantar Kanin pulang.
“Saya bahkan nggak pernah setuju nikah sama kamu,” cetus Kegan memandang sinis ke arah Kanin.
“Oh ya? I don’t care, sih,” balas Kanin mengedikkan bahu tidak peduli. “Yang jelas … keluarga kita mau kita nikah, Ke.”
“In your dream.” Kegan mengembuskan napasnya dalam-dalam. “Lagian saya udah punya pacar dan nggak bakal putusin dia kayak apa yang kamu lakuin tadi.”
“Ya aku juga nggak ada nyuruh kamu mutusin Nade,” jawab Kanin sembari tersenyum tipis. “Kamu masih bebas berhubungan sama dia kok. Asal kita nikah. That’s all.”
Kegan menghentikan langkahnya seketika yang diikuti oleh Kanin di depannya. Wanita itu memutar tubuh, lalu menatap Kegan dengan sebelah alis terangkat sinis. Sementara itu, Kegan memasang wajah mengeras dengan kedua alis menukik tajam mempertujukkan emosinya yang seperti dipermainkan.
“Selain gila, kamu juga keras kepala,” cetus Kegan dengan suara tajam. “Berapa kali saya bilang kalau nggak mau ditunangin apalagi sampai nikah sama kamu?”
“Lebih dari sepuluh, I think?” balas Kanin santai.
Tidak ada ketakutan dalam suaranya. Bahkan saat Kegan berusaha memberikannya tatapan paling tajam atau intonasi suara mengancam, Kanin sama sekali tidak terlihat gentar. Wanita itu tetap membalas setiap ucapan Kegan tanpa sedikit pun merasa perlu menunjukkan kelemahannya di hadapan laki-laki itu.
“Apa yang sebenarnya yang kamu cari di saya? Agam was so perfect and he has everything in his life. Why you’re so obsessed with me?” Kegan menatap tidak percaya sekaligus putus asa ke arah Kanin. “And also, once again, I have a girlfriend.”
“I really don’t care about it. Aku bilang kamu bebas mau pacaran sama siapa aja.” Kanin perlahan menunjukkan perubahan ekspresi wajah. “Dan untuk Agam, kamu nggak punya hak buat bandingin dirimu sama dia.”
Kalimat terakhir dari Kanin diucapkan dengan nada datar yang terdengar mengancam. Wanita itu tidak lagi menunjukkan senyum tipis atau kedikkan bahu tidak peduli saat menyahuti ucapan Kegan kepadanya. Kali ini, yang terlihat adalah tatapan mengintimidasi yang datang dari dua mata indah berhiaskan eye liner tajam di sekeliling kelopaknya.
“Aku capek. Can we go home now?” tanya wanita itu seraya memutar tubuhnya dan berjalan mendahului Kegan.
Kegan menghela napas panjang tepat setelah Kanin berjalan menjauh darinya. Tangan laki-laki itu terkepal di sisi tubuh saat matanya menangkap pemandangan tubuh ramping Kanin yang berjalan meliuk di depannya.
Laki-laki itu masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kanin yang terlampau ajaib menurutnya. Bagaimana bisa Kanin rela memutuskan seorang teramat sempurna sesempurna Agam Sangkara yang taraf kesempurnaannya sudah di luar nalar? Demi menjalankan pertunangan bisnis yang menguntungkan keluarga mereka, Kanin benar-benar bertindak tidak masuk akal.
“Sial apa gue ketemu cewek kayak dia,” gumam Kegan yang mau tidak mau berjalan mengikuti langkah anggun Kanin menuju mobilnya.
--
Kanin melangkahkan kakinya menuju rung tamu saat mobil Kegan sudah benar-benar pergi dari gerbang rumahnya. Wanita itu melepas sepatu heels yang sejak tadi mencekik tumit kakinya secara sadis. Wajah kelelahan tidak membuat wanita itu kehilangan kecantikannya sama sekali.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Belum cukup larut bagi keluarganya untuk pergi tidur dan melupakan aktivitas mereka sejenak. Sehingga saat Kanin memasuki area rumahnya lebih dalam, suara-suara dari ruang keluarga terdengar mengganggu telinganya.
“Kegan nggak mampir, Nin?” Suara ibunya terdengar menyambut kedatangan Kanin.
Wanita itu mengarahkan tatapan ke arah mama dan juga papanya yang sedang duduk bersebelahan menonton siaran berita televisi. Di depan kedua orangtuanya, Galeo Pradidana—sang adik, turut menatap ke arahnya dengan senyum jahil.
“Nggak. Ngarepin apa sih kalian sama laki-laki batu kayak dia?” balas Kanin dengan suara sinis.
Sarah mendengkus kecil mendengar ucapan anaknya yang terlontar dengan suara kesal. Sementara itu, Robert Pradidana hanya tertawa kecil menanggapi kekesalan putrinya. Pria keturunan blasteran Jawa-Jerman itu lalu menaikkan tangannya memberikan tanda untuk Kanin bergabung dengan mereka.
“Laki-laki batu itu bakalan jadi suami kamu,” cetus Robert saat Kanin sudah duduk di sebelahnya.
Wanita yang masih menggunakan gaun hitam panjang yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sempurna itu merebahkan kepala di atas lengan Robert. Matanya mulai terpejam, tetapi seketika kembali terbuka saat Galeo melemparkan kacang ke arahnya.
“Udah mau kawin masih aja manja,” ledek Galeo dengan tatapan jahil seperti biasa.
Kanin mmeberikan tatapan tajam ke arah pemuda sembilan belas tahun itu. “Diem deh.”
“Kegan nggak ada ngomong apa sama kamu, Nin?” Sarah kembali bertanya dengan tatapan penasaran ke arah Kanin. “Nanyain keluarga kita atau apa gitu…”
“Ya menurut Mama, masa iya orang yang sama sekali nggak setuju dinikahin sama aku tiba-tiba nanya sok akrab gitu?” balas Kanin diakhiri dengan gerakan memutar bola mata malas.
Tawa Robert dan Galeo pecah mendengar penurutan Kanin. Sementara itu, Sarah memasang wajah masam atas tanggapan yang putrinya berikan.
“Jadi kamu masih belum terima sama pertunangan ini?” tanya Sarah dengan mata memincing tajam ke arah putri sulungnya.
Kanin memutar bola mata malas mendengar pertanyaan dari sang ibu.
“Kanin mah maunya yang spek dewa. Kalo Mas Kegan itu masih spek malaikat,” sambar Galeo yang terlihat sedang asik menikmati siaran televisi.
“Lo aja sini yang gue jadiin suami,” balas Kanin menatap jenaka ke arah adiknya.
Cowok itu mendelik tajam ke arah kakaknya dengan tatapan ngeri bercampur tidak percaya. “Ogah! Masa iya nikah sama tante-tante!” serunya kemudian.
Sontak saja ucapan Galeo membuat bola mata Kanin membulat sempurna saking kesalnya. Wanita itu kemudian menghampiri Galeo dan langsung menjambak rambut panjang adiknya itu dengan keras.
“Tapi Kak.” Ucapan Robert menghentikan kegiatan Kanin yang masih belum melepaskan Galeo dari cengkramannya. “Jalani aja dulu sama Kegan, ya? Biar sama-sama enak juga. Kita dapet saham keluarga Dikara, mereka dapet kamu.”
Sebenarnya, Kanin tidak merasa cukup pantas unuk ditukarkan dengan seoang pria penerus bisnis keluarga terkenal Dikara tersebut. Maksudnya, Kanin merasa kemurahan. Masa iya dirinya ditukarkan hanya untuk secuil saham yang Kanin yakini nggak akan berpengaruh kepada perusahaan ayahnya yang sedang berada di masa krisis.
“Tapi kenapa harus dia sih, Pa? Aku udah dapet yang lebih sempurna dari Kegan, loh. Agam Sangkara, Pa, Ma. Keluarga Sangkara juga nggak kalah sukses ketimbang keluarganya Kegan,” bantah Kanin.
Sarah menarik napas panjang mendengar penyangkalan putrinya sebelum berucap, “Selain karena bisnis, pertunangan kamu udah diatur sama Eyangmu dulu. Nggak Cuma karena saham atau bisnis, tapi karena sisilah keluarga, Kanina.”
Hubungan keluarganya dengan keluarga Dikara memang tidak hanya sebatas rekan bisnis. Ada sejarah keluarga antara kakek nenek mereka yang membuat Kanin mau tidak mau harus terikat dengan seorang laki-laki arogan bernama Kegan Bratadikara.
“Terserah kalian. Aku pasrah kalau udah ada nama Eyang,” putus Kanin pada akhirnya.
--
“Aku punya pacar, Ma.”
Suara Kegan Bratadikara terdengar penuh tekana di dalam ruang keluarga yang dipenuhi perabotan mewah itu. Di hadapannya, Anelis Respati, seorang wanita keturunan Belanda-Pribumi tengah duduk dengan anggun. Ibunya itu sama sekali tidak bereaksi atas penolakan yang diberikan putranya entah untuk kali ke berapa.
“Mama sudah nyuruh kamu biar selesai sama gadis itu,” jawab Anelis dengan tatapan mengarah kepada wajah lelah putranya. “Lagipula kamu sudah nggak bisa menghindar karena ini adalah perjanjian dua keluarga, Kegan.”
“Kenapa nggak Kak Leon aja yang dijodohin sama dia? Aku beneran nggak mau sama Kanin, Ma,” bujuk Kegan dengan tatapan memelas.
“Kakakmu milih hidup bebas dan nggak lagi hidup dalam pakem keluarga Dikara. Sekarang tinggal kamu penerus keluarga ini,” balas Anelis. Suaranya terdengar anggun mengalun dengan aksen yang terdengar cukup aneh di kebanyakan telinga orang lokal.
“Tapi ‘kan Kak Leon masih bagian keluarga ini. Dia juga dapet anak perusahaan Eyang. Kenapa harus aku?” Kegan mengusap wajahnya frustrasi.
“Mama bilang kalau kamu satu-satunya penerus keluarga ini,” tegas Anelis.
Kegan menghela napasnya dalam-dalam saat mendengar nada tegas milik ibunya. Kalau mamanya itu sudah berbicara tegas dan melupakan logatnya yang sedikit bule, berarti wanita itu nggak mau dibantah sama sekali. Sehingga kini Kegan hanya bisa pasrah seraya terus menarik napas dan mengembuskannya bergantian.
“Apa yang bakal aku dapet kalau nerima perjodohan nggak masuk akal ini?” tanya Kegan pada akhirnya.
Senyum Anelis terukir lalu menyudahi kegiatannya membaca buku kecantikan. Kini iris mata berwarna indah itu menatap putranya. “Posisi wakil direktur setelah eyangmu pensiun,” jawabnya kemudian.
“Itu aja?”
“Terus mau kamu apa?”
“Nggak ada, sih.” Kegan menggaruh tengkuknya. “Tapi aku bener-bener nggak mau nikah sama jenis cewek kayak Kanin,” sambungnya beberapa detik kemudian.
Tidak peduli imbalan yang ia dapatkan sangatlah besar, Kegan tetap pada pendiriannya yang sama sekali tidak menginginkan perjodohan ini terjadi. apalagi sampai ke jenjang pernikahan. Sumpah! Kegan benar-benar nggak minat.
“Lagian aku masih enjoy sama posisiku sekarang di kantor,” cetus Kegan saat ibunya hendak mengeluarkan bantahan.
“Kamu inget kalau nenekmu pernah ngasih pesan sebelum meninggal?” tanya Anelis tanpa menghiraukan perkataan Kegan sebelumnya. “Pesan itu buat kamu, Kegan Bratadikara. Nenekmu mau kamu nikah sama putri sulung dari keluarga Priya yaitu Kanina Priyaningrum.”
Kalimat terakhir mamanya berhasil membuat Kegan terdiam. Laki-laki itu tidak lagi berani mengeluarkan penyangkalannya atas apa yang diinginkan oleh seluruh anggota keluarganya jika sudah menyangkut mendiang neneknya. Hidup Kegan rasanya berhenti saat itu juga.
Memikirkan ia akan menikahi wanita paling mengerikan sejenis Kanina Salasar benar-benar membuat kepala Kegan rasanya ingin pecah saat itu juga.