Kanin menatap bosan ke arah pegawainya yang saat ini sedang berkutat dengan rangkaian pakaian yang sudah selesai ia rancang. Beberapa di antara mereka tampak tengah fokus memasang satu per satu payet berwarna silver yang kini tampak megah berhamburan di atas kain berwarna putih dengan model menyerupai ekor ikan di bawahnya itu.
“Mbak, ini deadline kapan?” tanya salah satu pegawainya yang kini mengalihkan tatapan ke arah Kanin.
Wanita dengan flat shoes berwarna cokelat muda itu kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah gaun putih panjang yang kini hampir selesai dirampungkan. Jemari lentikanya bergerak perlahan menyusuri permukaan gaun dengan payet berwarna keemasan. Setelah beberapa saat, tatapannya mengarah kepada salah satu pegawainya yang masih mneunggu jawabannya itu.
“Besok siang harus udah siap,” jawab Kanin setelahnya.
Perempuan tinggi dengan name tag Naira itu menghela napas panjang mendengar jawaban yang diberikan Kanin. Untuk sebuah rancangan gaun dengan jahitan rumit serta ornamen yang terlihat megah di sepanjang sisinya itu, besok siang harus diselesaikan adalah mimpi buruk untuknya dan rekan-rekannya yang lain.
“Ini lembur lagi dong ya,” cetusnya yang seketika membuat beberapa pegawai di sana mengalihkan fokus dari kegiatan yang sedang mereka lakukan.
Kanin tertawa kecil melihat bagaimana reaksi terkejut serta tatapan lelah dari pegawainya yang memang sejak seminggu lalu full mengurusi satu gaun indah menjuntai ini. Wanita dengan dress santai bermodel leher berbentuk huruf V itu pun berjalan ke arah meja kerjanya lalu memeriksa beberapa data yang sekiranya ia butuhkan.
“Ya udah, nanti aku hubungi klien biar bisa mundurin deadline sehari,” ujarnya dengan tatapan mata berfokus kepada layar laptop di depannya.
“Emangnya nikahan bisa ditunda, Mbak?” balas seorang laki-laki dengan suara gemulai di sudut ruangan.
“Nggak nikahannya ya yang diundur. Lo mah ada-ada aja!” sambar Kanin dengan delikan jenaka ke arah salah satu pegawai yang sekaligus merangkap sebagai sahabatnya itu.
“Yee! Neik bilangnya deadline diundur kan eike jadi mikir doi nikahnya bisa diundur,” balas Biley dengan mata melotot ke arah Kanin.
Kontan saja kalimat dari laki-laki dengan sikap serta gerak-gerik layaknya wanita itu membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menyemburkan tawa mereka. Kanin hanya menggelengkan kepala heran melihat tingkah karyawan-karyawannya termasuk Biley yang memang selalu menjadi pencerah suasana di tengah kegentingan mereka mengerjakan proyek dengan batas waktu yang luar biasa mepet.
Kanin melirik jam yang melingkar begitu indah di pergelangan tangannya lalu dengan cepat menutup laptop dan berdiri. Wanita itu merapikan sedikit bagian bawah pakaian yang ia kenakan sebelum berjalan keluar dari area meja kerjanya.
“Makan siang dulu. Aku mau keluar kira-kira satu jam. Kalian selesaiin ini ya,” ujar Kanin yang saat ini bergerak dengan cekatan mengambil tas selempang kecil dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
“You mau ketemu Mas Agam, yay?” tanya Biley yang tampak masih fokus dengan susunan payet di bagian lengan gaun yang sedang laki-laki itu kerjakan.
“Mau ketemu malaikan pencabut nyawa,” balas Kanin seraya berlalu begitu saja.
Biley mendengkus kecil ketika Kanin berjalan keluar dari area butik mereka. Sekarang, di tempat itu hanya tersisa beberapa orang karyawan yang akhirnya menyudahi pekerajaan mereak selama beberapa saat untuk makan siang. Helaan napas keluar satu per satu dari para pegawai di bawah pimpinan Kanin itu.
Minggu yang melelahkan hingga rasanya mereka tidak bisa makan siang dengan tenang tanpa beban pikiran mengenai deadline fitting baju yang selalu kejar-kejaran.
--
Sudah hampir satu jam lamanya Kanin duduk di meja kafe yang disetujui oleh Kegan sebagai tempat mereka bertemu. Wanita dalam balutan blazer berwarna krem dengan sepatu heels tinggi yang tampak anggun itu beberapa kali melirik jam tangan yang ia pakai untuk memastikan sudah berapa lama ia duduk di tempat ini.
Kanin menarik napas panjang sebelum jemari lentiknya bergerak mengambil cangkir kopi kemudian menyesapnya perlahan dengan gerakan anggun. Dua mata tajamnya lantas berpendar ke sekeliling tempat yang menyajikan kehangatan layaknya kafe pada umumnya. Kanin bisa melihat para pelayan berlalu lalang, lalu para pelanggan yang datang dan pergi bergantian.
Selain karena tempatnya yang memang nyaman meskipun tidak semewah kafe yang biasa Kanin datangi ketika senggang, tempat ini membuat Kanin selalu nyaman karena aroma kopi yang sangat terasa. Kanin selalu menikmati setiap aroma yang masuk ke hidungnya lalu menjalar melewati saraf hingga berakhir menjadi sebuah rangsang di kepalanya.
“Telat dua puluh tiga menit empat puluh lima detik.” Kanin menegakkan tubuhnya saat melihat kedatangan Kegan.
“Saya setuju menikah sama kamu.”
Kanin menaikkan sebelah alisnya kemudian menatap Kegan dengan raut kebingungan. Laki-laki dalam balutan pakaian rapi berwarna hitam hampir di seluruh tubuhnya itu sekarang duduk di depannya. Tatapan Kegan lurus ke depan, mengarah kepada wajah Kanin yang masih menunjukkan ekspresi datar meskipun beberapa saat lalu ia sempat terlihat terkejut.
“Apa yang bikin kamu tiba-tiba setuju?” tanya Kanin, lalu meletakkan cangkir kopi yang tadi masih dipegangnya di atas meja.
“Keluarga saya, apa lagi?” balas Kegan sinis. “Kamu berhasil bikin kesan menantu idaman buat mereka.”
Senyum elegan tersampir di wajah Kanin ketika ia mendengar ucapan bernada sarkas itu keluar dari bibir Kegan. Laki-laki di hadapannya tampak kesal, tetapi hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Kanin barang sedikit pun. Wanita dengan eyeliner tajam di sudut matanya itu sama sekali tidak peduli dengan tatapan sinis atau ucapan sarkas yang dilemparkan oleh Kegan kepadanya.
“I didn’t doing anything. Your family are obssesed with me,” balas Kanin dengan senyum tipisnya. “So … we going to married soon?”
“Ya. We better do it as fas as possible,” balas Kegan tegas. “Saya nggak mau berurusan lebih lama sama kamu.”
Kalimat itu seketika membuat Kanin tertawa kecil dan Kegan tampak kebingungan dengan reaksi wanita di hadapannya. Kegan memperhatikan Kanin dengan saksama, dan menyadari betapa anggunnya penampilan wanita yang berprofesi sebagai desainer itu bahkan ketika tertawa sekali pun.
“Setuju sama pernikahan ini berarti terikat sama aku selamanya, Kegan Bratadikara. Kamu nggak mikirin hal itu?” Kanin menegakkan tubuhnya kembali.
Wanita itu menyilangkan salah satu kakinya di antara kaki yang lain lalu menatap Kegan dengan tatapan serius. Sikap yang diambil oleh Kanin saat ini semakin menunjukkan betapa berkelasnya ia. Aura yang dimilikinya seakan terpancar semakin kuat saat Kanin menampilkan raut serius ketika ia berbicara dengan Kegan.
“No. Kita berurusan Cuma sampai pesta pernikahan. Setelah itu, kamu bebas jalanin hidup kam, begitu juga dengan saya,” ujar Kegan, membantah pernyataan Kanin beberapa saat lalu. “Don’t try to ruin my life and I will never do it to your life too.”
“Isn’t fair. I’m married just to ruining someone’s life,” balas Kanin dengan seulas senyum sinis.
“Ya berarti nggak usah nikah sama saya,” sahut Kegan kemudian.
Kanin menggelengkan kepala cepat lalu menatap penuh peringatan ke arah Kegan. Seberapa keras pun laki-laki itu tidak menginginkan pernikahan yang telah direncanakan bahkan sejak mereka belum lahir ini, Kanin akan berusaha untuk mewujudkan salah satu mimpi neneknya. Tidak peduli bahwa ia sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Kegan, begitu juga sebaliknya, Kanin hanya ingin memenuhi tanggung jawabnya sebagai cucu sekaligus putri dari keluarga Priya yang terhormat.
“Kalau kamu pengecualian. I will still marrying you even I can ruin your life tho,” ujar Kanin dengan tubuh yang sedikit maju di hadapan Kegan.
Kegan menatap jengah ketika ia mendengar kalimat yang keluar tanpa bantahan dari Kanin itu. wanita di hadapannya memang benar-benar gila tetapi Kegan sama sekali belum bisa membiasakan diri dengan kegilaan yang selalu ditunjukkan Kanin ketika bertemu dengannya.
Setelah memutuskan hubungan begitu saja dengan Agam Sangkara di tengah pesta pernikahan kakak laki-laki itu, sekarang Kanin semakin membuat Kegan mempercayai bahwa ada yang salah dengan wanita berparas anggun itu. Kanin tidak kenal lelah untuk membuatnya terjerat ke dalam hubungan pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan.
“Tapi gimana sama Nade? I think she will be very mad,” cetus Kanin tiba-tiba.
“Tentu aja. Bahkan saya juga marah karena hal ini,” balas Kegan seraya memutar bola mata malas. “I never imagined my life will trapped with this kind or woman.”
“How’s kind of women? I wondering about your opinion about me.” Tanpa merasa tersindir sedikit pun, Kanin malah antusias membahas hal satu ini bersama Kegan. “Tell me, Mr. Kegan.”
“Crazy.” Kegan menampilkan raut wajah datar.
Bukannya merasa marah atau kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Kegan, Kanin malah tertawa kecil. Wanita itu menutup bibirnya sekilas ketika tawanya semakin keras. Melihat ekspresi Kegan di depannya saat ini benar-benar membuat Kanin ingin tertawa.
Kegan tampak kebingungan sekaligus kesal karena sikap yang ditunjukkan oleh Kanin dan hal itu membuat Kanin semakin ingin tertawa.
“And this crazy women will be your future wife,” cetus Kanin dengan sisa tawanya.
Kegan hanya menggeleng heran mendengar setiap ucapan yang terdengar begitu mengesalkan dari Kanin. Kemudian ketika ponselnya berbunyi, Kegan mengambilnya lalu menempelkannya ke telinga. Tangannya bergerak memberikan isyarat untuk Kanin agar tidak berbicara.
Mendapat isyarat dari Kegan yang memintanya untuk diam, Kanin hanya mengedikkan bahu sebelum kembali menyesap kopinya yang masih sisa setengah. Kanin memperhatikan laki-laki di depannya. Bagaimana ketika Kegan berbicara dengan seseorang di telepon, perubahan ekspresi Kegan dari satu kalimat ke kalimat lainnya, bahkan sampai ketika Kegan mengernyitkan dahi samar. Semuanya berada dalam pengamatan Kanin yang saat ini diam-diam tersenyum.
“Siapa?” tanya Kanin ketika Kegan menyudahi percakapannya.
Kegan menaikkan sebelah alis, lalu menatap Kanin datar. “Bukan urusan kamu.”
“Ya,” balas Kanin seadanya.
“Saya pergi. Kamu bisa pulang sendiri, kan?” Kegan berdiri dari posisinya lalu mengambil jas yang tadi ia lepas dan letakkan di sandaran kursi.
“Kalau enggak, gimana? Mau nganter aku?” balas Kanin setengah menggoda.
Kegan mengedikkan bahu. “Enggak.”
Setelah itu, laki-laki dengan perawakan tegap itu berjalan keluar dari kafe dan meninggalkan Kanin yang sekarang tersenyum menatapnya. Kanin mulai tertarik dengan hubungan ini. Dan hal itu tentu saja akan semakin membuat Kegan kesulitan setelahnya.
--
“Aku mau nikah.”
Semua orang yang ada di tempat itu seketika menghentikan kegiatan mereka ketika suara Kanin terdengar menginterupsi. Raut wajah terkejut sekaligus senang terlihat jelas di wajah para pegawai Kanin yang sekarang menatap antusias ke arahnya.
“Udah officialy jadi Nyonya Sangkara berarti, Mbak?” Naira tertawa kecil ke arah bosnya itu.
Biley yang masih terkejut dengan bibir setengah terbuka berjalan cepat menghampiri Kanin yang masih berdiri di depan pintu butik. Laki-laki itu memegang bahu Kanin, lalu membuat wanita di depannya dengan terpaksa menghadap ke arahnya.
“Dia alredy purpose you, Mbak? Ini you nggak ngeprank kita-kita kan?” tanya Biley dengan suara yang terdengar begitu antusias.
Kanin menggelengkan kepala heran dengan tawa kecil kemudian melepaskan pegangan Biley pada bahunya. Wanita itu menatap beberapa pegawainya sebelum ia berjalan menuju meja kerja lalu menaruh tas yang ia pakai dan duduk di atas kursi kerja.
“Bukan Agam. Aku nikah sama Kegan,” ujar Kanin santai.
Kalimat singkat itu tentu saja membuat mereka semua terkejut. Bahkan Saski yang sejak tadi tidak peduli dengan berita yang dibawa oleh atasannya itu dan tetap fokus memasang payet gaun, mengalihkan tatapannya dan menatap bingung ke arah Kanin.
“Who is Kegan?” tanya Naira seraya berjalan cepat menghampiri Kanin.
“You nggak selengki sama laki orang kan, neik? Kenapa eike ngeri ya lo bawa kabar ginian?” Biley ikut menghampiri Kanin dan berdiri di sebelah Naira.
“No! Aku nggak selingkuh. habis putus sama Agam baru aku mutusin buat nikah sama Kegan,” jelas Kanin.
“Mbak, kamu nikah sama orang kenapa gampang banget sih? Mbak Naira yang lebih tua daripada kamu aja susahnya nyari jodoh satu kayak ngalahin pejuang jaman kemerdekaan,” celetuk Saski dengan tatapan tidak percaya mengarah kepada Kanin.
Kanin hanya tertawa kecil mendengar ucapan Saski dan melihat raut terkejut dari rekan kerjanya. Tiga orang yang kebetulan bertugas di kantor utama untuk menyelesaikan pesanan gaun pernikahan itu benar-benar terkejut dengan kabar yang dibawa Kanin tetapi Kanin malah menunjukkan reaksi sebaliknya. Wanita itu terlihat begitu santai. Benar-benar santai.
“Takdir kali, ya. Takdirku ketemu sama Kegan.”
--