Kegan merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang kerjanya. Laki-laki itu perlahan menutup mata. Kemudian, rasa lelah langsung menyergapnya saat itu juga.
Setelah bertemu dengan Kanin beberapa jam lalu, Kegan langsung mengunjungi lokasi pryek yang sedang dikerjakan oleh timnya. Kegan mengambil posisi sebagai penanggung jawab proyek sehingga beberapa pekan sampai beberapa bulan mendatang ia akan disibukkan dengan proyek yang bergerak di bidang tekstil itu.
“Ya?” Kegan mulai berbicara ketika sambungan teleponnya terhubung dengan seseorang.
“I’m in the office,” ujarnya. “Okay. I’ll wait.”
Setelah itu, sambungan terputus dan Kegan kembali merebahkan tubuhnya seraya menutup mata. Laki-laki itu kemudian membuka matanya, lalu menegakkan tubuh sebelum ia mengambil sebotol air mineral dan meneguknya hingga tandas.
Suara pintu ruangannya yang terbuka segera membuat Kegan mengalihkan pandangan. Senyumnya pun perlahan mengembang saat ia melihat Nadeline berjalan masuk dan mendekat ke arahnya.
“Are you agree with that s**t kind of relationship?” Nadeline melempar tas selempangnya sembarangan.
Kegan menghela napas panjang sebelum ia berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Nadeline. Kegan tahu bahwa wanita di hadapannya saat ini sangat marah dengan keputusan yang ia ambil untuk menyetujui pernikahannya dengan Kanin.
“I could’t doing anything, babe,” ujar Kegan seraya menyentuh pelan bahu kekasihnya. “Lagipula nggak ada yang berubah meski aku nikah sama dia. You still be my girl whatever happened.”
Nadeline mengernyitkan dahi dengan tatapan tidak percaya mengarah kepada Kegan. “Are you crazy? You want to make me act like a slut who have a relationship with someone married?”
“No! that’s not!” bantah Kegan cepat. “Pernikahanku sama Kanin Cuma di atas kertas dan itu nggak ada artinya sama sekali buat aku.”
“But what about everybody else? Gimana pandangan orang sama aku kalau kamu nikah sama Kanin, sedangkan aku masih jadi kekasih kamu?” tanya Nadeline dengan sorot penuh tanya. “I bet you never think about it, iya, kan?”
“I thinking about it. Aku mikirin semua konsekuensinya tapi aku tetap nggak punya jalan selain setuju sama pernikahan ini,” ujar Kegan diakhiri dengan helaan napas panjang. Pegangannya pada bahu Nadeline juga terlepas dan laki-laki itu berjalan lalu duduk kembali di sofa.
“Everything sucks. I don’t know how to reject it. My mom and dad and also her family have something important that makes me can not doing anything,” jelas Kegan dengan helaan napas berat.
“What is that things?” tanya Nadeline lalu berjalan mendekat dan duduk di sebelah Kegan.
Kemarahan yang sejak awal ia datang ke ruangan kekasihnya perlahan luruh saat ia melihat bagaimana frustrasinya Kegan saat ini. Nadeline yakin bahwa laki-laki itu juga sangat tidak ingin menyetujui pertunangan bahkan pernikahan yang telah diatur ini. Namun, dilihat dari raut wajah pasrah serta frustrasinya, Nadeline bisa menyimpulkan bahwa Kegan tidak punya pilihan selain menyetujui.
“I don’t know. Mama bilang ada perjanjian masa lalu antara eyangku sama keluarganya Kanin. Kamu tahu kan gimana ketat dan kunonya keluargaku kalau udah menyangkut masalah Eyang?” Kegan menatap lurus ke arah wanita yang kini duduk di sebelahnya.
Nadeline menghela napas pasrah. “Terus kamu bakal selamanya nikah sama dia? You don’t think to fall in love with her, kan?”
Pertanyaan itu kontan saja membuat Kegan berjengit. Jangankan untuk jatuh cinta, merasa tertarik dengan keberadaan Kanin pun rasanya Kegan tidak akan pernah. Wanita itu, meskipun luar biasa cantik dengan segala bakat dan kesuksesan yang dimilikinya, tetap saja tidak berhasil membuat Kegan menaruh perhatian lebih selain rasa kesal yang mendominasi.
“Enggak, lah! Habis aku nikah dan semua perjanjian-perjanjian keluargaku selesai samau keluarganya dia, ya, sudah, kita juga selesai. I will never live forever with that woman.” Kegan menggelengkan kepala ngeri. “She is crazy!”
“And you are crazy too,” tanggap Nadeline seraya memutar bola mata malas. “So how about our relationship? Should we break up?
Kegan mengernyitkan dahi tidak suka ketika ia mendengar pertanyaan terakhir dari Nadeline. Seberapa sulit pun keadaan yang mereka alami, Kegan sungguh tidak pernah bepikir untuk mengakhiri hubungannya dengan wanita yang sudah bersamanya selama hampir lima tahun ini. Kegan ingin bersama dengan Nadeline selamanya tetapi laki-laki itu tidak memikirkan betapa berat keputusan dan keingiannya ini untuk Nadeline.
“Aku nggak mau putus dari kamu,” jawab Kegan kemudian. “How hard our relationship, I would never let this end.”
Mendengar jawaban yang sarat akan keras kepala itu keluar dari bibir Kegan, helaan napas panjang perlahan keluar dari bibir Nadeline. Mungkin Kegan tidak akan pernah mempermasalahkan bagaimana hubungan mereka setelah kedatangan Kanina Salasar. Laki-laki itu mungkin hanya menganggap Kanin sebagai sebuah kesepakatan keluarga semata. selama ada Nadeline di sisinya, maka Kegan tidak akan memedulikan apa pun termasuk keberadaan Kanin yang akan menjadi masalah besar jika dibiarkan.
Namun, tidak dengan Nadeline. Wanita itu masih memiliki pemikiran mengenai bagaimana tanggapan orang-orang mengenai hubungannya dengan Kegan jika dirinya masih berstatus sebagai kekasih laki-laki itu ketika Kegan bahkan sudah menikah dengan wanita lain. Penilaian buruk itu akan mempengaruhi citra dirinya, dan Nadeline yang tidak lain adalah sosok publik yang memiliki peran penting di masyarakat tentu tidak ingin citranya dirusak begitu saja.
“Ini nggak bakal bisa, Ke. Aku nggak bakal bisa stay sama kamu ketika kamu mutusin buat menikah sama Kanina,” ujar Nadeline dalam satu tarikan napas panjang. “What will people say about me? Putri Nusantara yang akan berkompetisi di Internasional menjalin hubungan dengan laki-laki beristir, begitu? No. I will never let my life being destroyed.”
Penjelasan yang diberikan oleh Nadeline terdengar sangat masuk akal bagi Kegan. Sebagai seorang Putri Nusantara yang memiliki andil begitu besar di masyarakat dan kehidupannya disorot bak bintang, skandal semacam ini tentu saja akan menghancurkan karir Nadeline dalam sekali kejapan mata. Kegan tentu saja tidak ingin hal itu terjadi, tetapi dirinya juga tidak ingin melepaskan Nadeline demi menyanggupi permintaan keluarganya yang bahkan sampai saat ini masih terasa begitu konyol.
“Let’s talk about this later. Aku harus ke lapangan buat ngecek proyek,” potong Kegan. “I will drive you home.”
--
Agam Sangkara berdiri di depan butik dengan tampilan elegan serta mewah itu selama beberapa saat. Napasnya terhela panjang ketika ia melirik sekilas ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Laki-laki itu sempat ragu untuk melangkah, hingga akhirnya ia tetap berjalan masuk ke dalam butik yang separuh bangunannya itu didominasi oleh kaca bening dan besar.
“Mas Agam!” seru seseorang yang kini berlari menghampiri Agam.
Laki-laki dengan penampilan rapi itu hanya tersenyum sopan saat salah seorang pegawai milik Kanin menyambut kedatangannya. Hampir semua orang di sana memang sudah mengetahui Agam sebagai kekasih Kanin, meskipun status itu sudah tidak lagi ia miliki saat ini.
“Where is Kanin?” tanya Agam seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar. “Dia ada di sini, kan?”
Naira mengulum bibirnya gugup ketika ia teringat dengan pernyataan Kanin beberapa saat lalu. Wanita itu kemudian menatap ke arah rekan kerjanya, lalu meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Agam saat ini. Mereka semua terbungkam, tidak ada satu pun orang yang mmau memberikan Agam jawaban. Hal tersebut kontan saja membuat Agam menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Did Kanin told you something?” tanya Agam yang sekarang menatap ke arah Naira.
Wanita muda itu mengangguk canggung. “Dia bilang …”
“Gam.”
Suara serak yang terkesan seksi itu memutus kalimat Naira seketika. Kanin berdiri di depan pintu ruang kerjanya dengan tatapan mengarah kepada Agam. Wanita itu tampak rapi dengan hiasan wajah yang lebih segar daripada sebelumnya.
“Don’t you think we need talk now?” tanya Agam dengan tatapan lurus ke arah Kanin.
“Sure. Let’s talk. Ke ruanganku aja,” jawab Kanin lalu melangkah masuk ke ruangannya dan meninggalkan Agam yang kini tercengang.
Setelah beberapa saat Kanin masuk ke ruangannya, Agam dengan cepat mengikuti langkah wanita itu. ketegangan yang terjadi di area butik beberapa saat lalu berangsur menghilang ketika Agam beranjak dari sana menuju ruangan Kanin.
“Eike ngeri banget lihat Mas Agam kayak tadi. Serem, neik! Udah kayak orang mau makan orang hidup-hidup!” Biley memekik dengan suara khasnya. “Eike yakin perang dunia bakal kejadian soon.”
“Bener sih. Seumur-umur aku kerja bareng Mbak Kanin terus kenal Mas Agam, baru sekarang aku ngelihat wajahnya semengerikan itu,” tanggap Naira seraya bergidik ngeri.
Sementara itu, di dalam ruangan yang ukurannya cukup menampung beberapa orang tersebut, ada Kanin dan Agam yang berdiri saling berhadapan. Agam menatap tepat di kedua bola mata Kanin dengan intens, sementara wanita itu masih terus berusaha menghindari tatapan laki-laki di hadapannya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena beberapa saat setelahnya Kanin segera mengangkat kepalanya lalu balas menatap berani ke arah Agam.
“What do you mean with all these s**t?” tanya Agam dengan suara yang masih terdengar tenang dan terkendali.
“Which one you mean?” balas Kanin, yang terdenga sama tenangnya.
“Semuanya. Semua hal yang kamu lakukan secara nggak masuk akal,” jawab Agam. Kali ini suaranya terdengar beriringan dengan rasa tidak sabar.
“I did everything with so reasonable,” ujar Kanin dalam sekali tarikan napas. “Semua yang aku lakuin itu masuk akal.”
“Termasuk putus sama aku dan menikah sama Kegan Bratadikara?” Suara laki-laki dewasa itu terdengar mengintimidasi.
Kanin berhasil dibuat bungkam saat dia mendengar pertanyaan Agam. Wanita itu tahu—bahkan lebih dari sekadar tahu bahwa segala tindakannya saat ini akan membuat salah satu pihak tersakiti. Dan dalam hubungan yang dia jalin bersama Agam Sangkara selama kurang lebih lima tahun lamanya, Agam adalah pihak yang paling tersakiti.
Namun, di sisi lain Kanin sama sekali tidak memiliki pilihan selain melakukan semua hal yang memang terkesan tidak masuk akal ini. Hidupnya selama ini memang didedikasikan untuk dirinya sendiri sehingga Kanin selalu mengambil keputusan tanpa memikirkan orang lain dan tetap teguh dengan pendiriannya. Namun, saat semua hal yang terjadi menyangkut mendiang eyangnya, maka Kanin hanya sebatas butiran halus yang sama sekali tidak memiliki hak atau pun suara untuk menolak.
“Aku punya alasan buat semua ini,” ujar Kanin setelah sekian lama dia terdiam.
“Then what is the reason? Don’t leave me without telling me what actually happened, Kanin.” Agam berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan kemarahannya yang sekarang seperti mencapai puncak.
Kanin terdiam sejenak lalu menatap lurus ke arah kedua mata Agam. Masih ada sisa-sisa perasaan yang berusaha dia raih di dalam dua mata indah itu. agam masih sangat mencintainya, dan hal itu semakin membuat Kanin seolah sedang memerankan tokoh jahat di dalam sebuah cerita.
“Eyang,” ujar Kanin dengan suara berat. “Aku ngelakuin semuanya buat Eyang.”
Dan harapan itu pun pupus di hati Agam. Harapan akan membaiknya hubungan antara dirinya dan Kanin. Harapan bahwa setidaknya masih ada kesempatan bagi mereka untuk melanjutkan cerita tanpa melibatkan Kegan Bratadikara di dalamnya.
--
Kegan tidak menyangka bahwa semuanya terjadi dengan begitu cepat. Baru beberapa jam lalu dia bersedia menikah dengan Kanin, sekarang semua keluarga besarnya sudah datang ke rumahnya. mereka berbondong-bondong datang untuk memastikan bahwa kabar itu benar atau tidak dengan raut wajah berseri-seri yang sungguh membuat Kegan kebingungan.
Apa menariknya seorang Kanin sampai-sampai semua keluarganya yang selama ini terkenal kaku dengan menantu perempuan terlihat begitu kegirangan?
“Kenapa ramai banget, Ma?” Kegan berjalan ke arah mamanya yang sekarang sedang berkutat di dapur bersama beberapa asisten rumah tangga
“Katanya mau ketemu sama Kanin besok,” jawab Anelis tanpa menatap ke arah anaknya.
Kedua bola mata Kegan membulat sempurna mendengar jawaban yang diberikan oleh Anelis. Seingatnya, baru dia dan Kanin yang tahu mengenai rencana pernikahan mereka yang sudah disetujui oleh dua-duanya. Kegan bahkan belum sempat mengabari keluarganya bahwa dirinya sudah setuju dinikahkan, atau tepatnya mungkin bisa dikatakan dijodohkan dengan Kanin.
“Kalian tahu dari mana aku udah setuju sama pernikahan itu?” tanya Kegan.
Gerakan tangan Anelis yang sejak tadi bergerak menyusun kue-kue di atas piring porselen berwarna emas itu seketika berhenti. Tatapannya kini mengarah ke arah Kegan dengan kedua mata mengerjap tidak percaya.
“Do you finally agree?” Anelis menatap tidak percaya ke arah putranya.
Pertanyaan itu kontan saja membuat kedua alis tebal milik Kegan menyatu sempurna. Beberapa saat kemudian dia sadar bahwa belum ada yang tahu tentang rencana itu. keluarganya yang datang malam ini tidak tahu bahwa dia sudah setuju menikahi putri sulung keluarga Priyaningrum. Mereka hanya datang untuk menemui Kanin, tidak lebih dari itu.
--