“Gal, clubbing yuk.”
“Ayok!” Galeo bangkit dari tidurnya dan melemparkan ponsel ke sembarang arah. “Gue bosen di rumah.”
Kanin menatap datar ke arah adiknya yang sekarang terlihat sangat antusias setelah mendengar ajakannya. Laki-laki itu menatapnya dengan senyum cerah dan wajah berbinar yang seketika membuat kanin memutar bola mata malas.
“Buruan prepare,” ujar Kanin kemudian. “Gue tunggu di sini.”
“Lo udah siap?” tanya Galeo.
“Menurut lo?”
Galeo kemudian memperhatikan penampilan Kanin dari atas sampai bawah dengan tatapan menimang. Kakaknya itu memang terlihat sudah siap untuk keluar dengan baju berpotongan pendek dengan hot pants yang membalut paha langsingnya.
“Okay. Wait me,” ujar Galeo sebelum beranjak ke kamar mandi.
Seraya menunggu Galeo bersiap, Kanin membuka aplikasi di ponselnya dan melihat-lihat berita terkini yang sempat dia lewatkan beberapa hari terakhir. Di halaman utama portal berita, Kanin langsung melihat wajah Kegan terpampang dengan headline news yang seketika membuat Kanin penasaran.
Anak Perusahaan Dikara Group Berkolaborasi dengan Salah Satu Brand Fashion Terkenal.
Berita itu cukup membuat Kanin penasaran dan langsung membukanya hingga layar ponselnya bergulir menampilkan deretan kata demi kata berita yang berisi informasi mengenai perusahaan yang ditangani Kegan. Selama ini, Kanin tahu bahwa Kegan memang menjadi salah satu manager penanggung jawab anak perusahaan Dikara yang bergerak di bidang teksil yang cukup terkenal.
“He is amazing tho,” gumam Kanin dengan tatapan yang masih fokus kepada layar ponsel. “This is a big chance for me,” lanjutnya.
“Big chance apaan?” Galeo tiba-tiba datang dan bertanya kepada Kanin.
Kanin mendongakkan kepala ke arah Galeo dan menutup ponselnya. “Dikara textile sekarang dipegang sama Kegan?”
Galeo mengangkat sebelah alis kebingungan tapi tak ayal mengangguk mendengar pertanyaan Kanin. “Katanya sih gitu. Tapi bukan di posisi CEO, mungkin direktur utama?”
Kanin menganggukkan kepala lalu membiarkan percakapan itu berlalu begitu saja tanpa memperpanjangnya. Wanita itu kemudian berdiri dan merapikan sedikit pakaian yang dia kenakan sebelum menarik tangan Galeo dan mengamitnya.
Keduanya lantas keluar dari rumah menuju salah satu club malam di pusat kota. Kanin ingin menumpahkan semua masalahnya dengan minum-minum hari ini dan Galeo ingin menyingkirkan bosan karena tidak ada kegiatan di rumah.
--
Beberapa botol minuman beralkohol tinggi berderet di depan meja Kanin dengan wanita itu yang sudah terlihat setengah mabuk. Kanin memang datang untuk minum, bukan untuk menari di lantai tengah seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang di sana. Wanita itu hanya datang untuk melegakan pikirannya yang sampai saat ini masih terasa begitu berantakan.
Sementara di sebelahnya, Galeo hanya memperhatikan bagaimana kakaknya yang bahkan sudah menghabiskan hampir tiga botol minuman tanpa jeda sedikit pun. Kanin kadang berceloteh di sela kegiatannya menghabiskan minuman itu dan Galeo yang memilih untuk tidak minum hanya mendengarkannya sekilas.
“Lo tau kenapa gue mau nikah sama dia?” Kanin menatap Galeo dengan tatapan mata mengawang. “Ya karna Eyang! Gue udah … gue nggak mau kecewain Eyang.”
“Iya,” balas Galeo tidak minat.
Kanin menggelengkan kepalanya dengan mata mengerjap. “Nggak. Lo nggak paham kenapa gue begini.”
“Terus kenapa?”
Kanin mengerjapkan matanya agar dia bisa tetap sadar dan tersenyum lebar ke arah Galeo. Wanita itu sudah berada di bawah alkohol sehingga kesadarannya sedikit terenggut meskipun tidak sepenuhnya.
“Eyang sebelum meninggal udah nyelametin gue,” racau Kanin lalu menelungkupkan kepalanya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir wanita itu setelahnya. Kanin tertidur dengan posisi kepala bersandar di atas kedua tangannya yang terlipat. Galeo menghela napas panjang kemudian hendak menyentuh kepala kakaknya sebelum ponselnya berbunyi.
Laki-laki itu kemudian mengangkat telepon dan mengernyit ketika melihat nama Amara terpampng di layar ponselnya.
“Ya, Ra?”
“Kamu di mana, Gal? Bisa cari aku, nggak?”
Galeo terkejut ketika mendengar suara Amara yang terdengar bergetar. Gadis itu mungkin sedang menangis karena setelahnya Galeo bisa mendengar isakan penuh rasa takut dari Amara.
“Kirim lokasi. Aku ke sana sekarang,” jawab Galeo lalu menutup teleponnya dengan cepat.
Beberapa saat setelahnya, Amara mengiriminya pesan berupa lokasi di mana gadis itu berada. Galeo masih berdiam diri di posisinya dengan kebingungan karena keadaan Kanin yang sekarang tidak bisa dia urus. Setelah beberapa saat, Galeo kemudian menghubungi nomor seseorang untuk datang menjaga dan membawa pulang kakaknya.
Kegan adalah satu-satunya orang yang Galeo percaya untuk menjaga kakaknya.
--
Galeo mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal di tengah macetnya jalanan Ibu Kota. Laki-laki itu tidak bisa tenang saat memikirkan bagaimana keadaan Amara saat ini. Gadis itu sangat jarang menghubunginya mendadak seperti beberapa saat lalu, dan ketika Amara meneleponnya dengan suara bergetar, maka Galeo bisa menyimpulkan bahwa gadis itu sedang dalam masalah.
Setelah tiba di alamat yang diberikan oleh Amara melalui pesan, Galeo segera turun dari mobilnya dan berjalan cepat ke arah salah satu hotel yang anehnya terlihat sepi. Laki-laki itu cukup dibuat kebingungan mengapa Amara berada di tempat seperti ini dan meneleponnya dengan tangis yang membuat Galeo terganggu.
Galeo baru saja melangkah masuk ke pintu hotel ketika dia tidak sengaja melihat seorang gadis tengah duduk dengan posisi kaki tertekuk serta wajah yang tertutupi dengan rambut panjang. Melihat ciri-ciri yang sangat serupa dengan Amara, kaki Galeo otomatis melangkah mendekati gadis itu.
“Amara?” tanya Galeo hati-hati.
Panggilannya mendapat respons dari gadis itu yang ternyata memang benar Amara. Kepala Amara mendongak ke arah Galeo yang saat ini menatapnya dengan sorot khawatir. Gadis itu terlihat sangat kacau dengan riasan wajahnya yang berantakan dan rambutnya yang acak-acakan.
“Gal …” lirih Amara lalu berusaha berdiri.
Tanpa mengucapkan apa pun, Galeo mendekap tubuh Amara dengan sangat erat. Laki-laki itu mengembuskan napasnya lega saat melihat Amara berdiri di depannya meskipun keadaan gadis itu tidak bisa dikatakan baik. Namun, melihat Amara masih ada di sekitarnya saja sudah cukup membuat Galeo lega.
“Ayo ke mobil. Aku antar kamu pulang,” ujar Galeo, masih belum melepaskan pelukannya dari tubuh Amara.
Amara menggelengkan kepala keras-keras seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Galeo. Dalam keadaan seperti ini, berada di dalam dekapan Galeo adalah satu-satunya yang Amara perlukan. Gadis itu hanya ingin Galeo ada di sini, menemaninya meskipun besok mungkin Amara akan menyesal perbuatannya.
“Aku takut, Gal. Aku perlu kamu.”
--
Ketika mendapat telepon dari Galeo, sebenarnya Kegan sangat tidak ingin menuruti permintaan laki-laki itu. Namun saat Galeo menyebutkan bahwa Amara mungkin saja dalam bahaya dan Galeo ingin menemui sepupunya itu, Kegan terpaksa datang ke club untuk menjemput Kanin seperti apa yang Galeo mau.
Kegan bergerak lincah membelah kerumunan yang saat ini sedang bersenang-senang dengan kegiatan mereka masing-masing. Mata tajamnya menatap awas ke sekitar untuk mencari keberadaan Kanin yang sampai saat ini belum dia temukan. Hingga ketika tatapannya mengarah kepada bar tempat orang-orang sedang menikmati minuman mereka, laki-laki itu melihat Kanin yang duduk dengan kepala bersandar pada ujung meja.
Laki-laki itu melangkah dengan cepat mendekati Kanin yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri.
“Kanin,” panggilnya seraya berusaha mengangkat wajah Kanin agar wanita itu bangun. “Bangun,” ujarnya kemudian.
Kanin yang merasa tidurnya terganggu oleh seseorang seketika menegakkan tubuh dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Tatapannya yang tampak mengabur bergerak ke arah Kegan yang sekarang terlihat tidak jelas berdiri di depannya. Yang Kanin lihat hanya berupa perawakan tegap Kegan tanpa bisa mengenali wajah laki-laki itu.
“Siapa?” tanya Kanin dengan tatapan berpendar ke segala arah.
Kegan menghela napas panjang saat melihat keadaan Kanin yang bahkan sudah lebih dari mabuk. Wanita itu sudah benar-benar tidak sadar dan dengan teganya Galeo meninggalkan Kanin sendirian di tempat yang sangat rawan seperti ini.
Tanpa menjawab pertanyaan wanita di depannya, Kegan bergerak meraih tangan Kanin lalu melingkarkannya di bahu. Kegan berjalan bersama Kanin yang sudah kehilangan keseimbangan sehingga beberapa kali dia harus berurusan dengan orang-orang yang tidak sengaja ditabrak oleh Kanin sampai akhirnya mereka berdua sampai di parkiran mobil.
“Kegan?” Kanin menatapnya dengan pandangan kosong.
“Iya,” jawab Kegan seadanya
Ketika Kegan hendak membuka pintu dan meminta Kanin masuk ke mobilnya, wanita itu menghempaskan tangannya tiba-tiba. Tatapan Kegan saat ini mengarah kepada Kanin yang terlihat setengah sadar di depan pintu mobilnya.
“Jangan sentuh,” ujar wanita itu. “Nggak boleh sentuh.”
Kegan menghela napas panjang lalu menarik tangan Kanin agar wanita itu kembali ke sisinya. Dengan cepat, dia kemudian membuka pintu mobil dan mendorong Kanin masuk hingga wanita itu terjerembab di kursi penumpang.
Setelah menutup pintu, Kegan berlari mengitari mobilnya dan duduk di balik kemudi. Di sebelahnya, Kanin sudah menutup mata dengan penampilan yang sangat berantakan hingga sukses membuat Kegan keheranan.
Di balik semua keanggunan yang selama ini ditunjukkan oleh Kanin di hadapan banyak orang yang sampai membuat keluarganya tergila-gila dengan wanita itu, nyatanya Kanin tidak lebih dari seorang wanita liar seperti sekarang. Kanin selalu sukses membuat Kegan menemukan alasan mengapa dia sangat membenci wanita di sebelahnya ini setiap kali mereka bersama.
“Andai aja bukan karena Kakek,” ujar laki-laki itu yang tentu saja hanya didengar oleh dirinya sendiri.
Mobil yang dikendari Kegan kemudian melaju menuju salah satu hotel karena laki-laki itu tidak ingin menimbulkan salah paham jika membawa Kanin pulang. membawa wanita setengah gila itu ke hotel adalah satu-satunya pilihan untuk Kegan sekarang meskipun dia sendiri tidak ingin melakukannya.
Kanin beberapa kali menggeliat tidak nyaman selama perjalanan mereka dan Kegan melihat bahwa wanita itu bahkan tidak menggunakan sabuk pengaman. Laki-laki itu kemudian menghela napas panjang yang entah sudah keberapa kali keluar sejak dia menjemput Kanin di club.
Mobilnya kemudian menepi di pinggir jalan yang tidak begitu ramai. Kegan perlahan memasangkan sabuk pengaman di tubuh Kanin yang ditanggapi wanita itu dengan geliatan tubuh tidak nyaman. Bau alkohol menyeurak ketika Kegan mendekat untuk memasangkan sabuk pengaman itu di tubuh Kanin.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Kegan kembali mengendari mobilnya menuju salah satu hotel yang dekatnya tidak jauh dari rumahnya.
“Kanin,” panggilnya ketika mereka sudah sampai di hotel tersebut.
Kanin hanya melenguh mendengar panggilan yang diarahkan kepadanya. Wanita itu tetap menutup mata sehingga Kegan terpaksa menggendong tubuh Kanin ke dalam hotel.
“Satu kamar untuk malam ini,” ujarnya ketika sampai di depan meja resepsionis.
Setelah semua urusan administrasi dan kegan sudah menerima kunci kamar, laki-laki itu kemudian melangkah dengan Kanin yang masih berada di gendongannya. Dibantu dengan salah satu pegawai hotel, Kegan akhirnya berhasil membawa Kanin ke tempat tidur.
“Kegan …” lenguh Kanin ketika tubuhnya dibaringkan oleh Kegan. “Jangan pergi,” lanjutnya parau.
Kegan hanya menatap sekilas ke arah Kanin lalu membenarkan posisi wanita itu. dia hendak beranjak, tetapi tangannya digenggam begitu saja oleh Kanin hingga Kegan berhenti.
Kanin membuka matanya dan mengerjap beberapa kali menatap Kegan. “Jangan pergi,” lirihnya dengan suara serak.
“You are drunk,” ujar Kegan lalu melepaskan pegangan tangan Kanin pada pergelangannya.
“No,” balas wanita itu lalu mengeratkan pegangannya pada pergelangan tangan Kegan. “I’m awake.”
Kegan menghela napas panjang lalu duduk di depan Kanin dan melepaskan tangan wanita itu. tatapannya meneliti wajah Kanin yang saat ini masih terlihat seperti orang mabuk. Kanin memintanya untuk tidak pergi dalam keadaan di bawah sadar yang membuat Kegan berkesimpulan bahwa wanita itu mungkin saja menganggapnya sebagai Agam.
“I’m not your boyfriend,” cetus Kegan tegas.
“You are my future husband,” balas Kanin lalu menegakkan tubuhnya.
Wanita itu menatap Kegan dengan pandangannya yang berbayang dan kepalanya yang terasa sangat pusing. Kegan terlihat tidak terlalu jelas di depannya tetapi Kanin masih sangat mengenali siapa laki-laki ini.
“Don’t go,” ujarnya setengah sadar.
Beberapa saat setelahnya, Kanin mendekatkan kepalanya ke arah d**a bidang Kegan dan bersandar di sana. Wanita itu merasakan bagaimana degup jantung Kegan yang terasa begitu nyata di bawah alam sadarnya. Kanin merekamnya dengan sangat sempurna, merasakan irama demi irama yang hadir lewat degup jantung Kegan.
“Your heartbeat still be my favorite,” cetus Kanin pelan.
Tidak ada yang Kegan lakukan untuk menanggapi racauan Kanin yang menurutnya hanya sebuah bualan orang mabuk. Laki-laki itu tidak pernah sadar bahwa dalam keadaan seperti ini, Kanin sedang menunjukkan dirinya yang sebenarnya yang selama ini mungkin tidak pernah Kegan ingat. Wanita itu kembali menjadi dirinya di masa lalu ketika mereka masih dalam hubungan yang begitu hangat untuk saling mendekap satu sama lain.
--