Ketika pagi hari dia membuka mata setelah semalam berada dalam pengaruh alkohol, Kanin tahu bahwa dirinya melakukan sebuah kesalahan. Atau setidaknya hal yang memalukan ketika Kanin sadar bahwa sekarang dia tidur bersama Kegan di sebelahnya.
Tangan laki-laki itu berada di bawah kepalanya sebagai bantal hingga Kanin bisa merasakan lehernya yang seketika pegal. Kanin mengerjapkan mata beberapa kali tanpa berani bergerak dan hanya menatap takut-takut ke arah Kegan yang saat ini terlihat memejamkan mata lelap.
“What the f**k I did?” gumam Kanin seraya menggigit bibirnya dalam-dalam. “Aku nggak sampai sejauh itu, kan?”
Wanita itu kemudian menyibakkan selimut yang dia pakai dan seketika bernapas lega saat menemukan tubuhnya masih terbalut sempurna dengan pakaian. Begitu juga dengan Kegan yang masih terlihat utuh dengan setelan setengah formalnya.
“You didn’t doing anything,” ujar Kegan yang sukses membuat Kanin terkejut.
Tatapannya mengarah kepada Kegan dengan kedua mata melebar. Setelahnya, Kanin melemparkan bantal di dekatnya ke arah wajah Kegan sampai laki-laki itu terbangun.
“What are you doing?!” pekik Kegan dengan kening mengerut dalam.
“Why are you here?” balas Kanin dengan tatapan tajam mengarah kepada Kegan.
Laki-laki itu bangun dari tidurnya dengan kening yang masih mengerut begitu dalam. Tindakan Kanin sukses membuat pagi hari Kegan terganggu hingga suasana hatinya saat ini benar-benar kacau.
“Ask it to yourself,” jawab Kegan sinis. “You hold me here.”
“Why me?” Kanin terlihat tidak terima karena disalahkan.
Kegan menghela napas panjang saat Kanin masih juga melemparinya dengan tatapan tajam. Wanita itu bahkan tidak ingin mengingat apa yang kemarin dia lakukan sampai Kegan terpaksa tetap menemaninya di sini dalam keadaan memeluk Kanin sepanjang malam.
Kemarin ketika Kegan hendak keluar dari kamar hotel, Kanin tiba-tiba menangis dan memintanya untuk tetap di sana. Meskipun selama ini Kegan memang selalu membenci Kanin, tetapi sebagai laki-laki yang bertanggungjawab, tidak mungkin baginya untuk meninggalkan Kanin dalam keadaan menangis tersedu-sedu seperti kemarin malam.
“You cried infront of me like a stupid!” pekik Kegan tidak sabar. “Kamu narik saya buat tetap di sini. Terus meluk saya tiba-tiba. How can I go when you never let me go?”
Kanin menggelengkan kepalanya keras-keras, berusaha mengingat kejadian kemarin malam yang mungkin saja dilakukannya secara tidak sadar. Wanita itu kemudian mengembuskan napas panjang lalu memejamkan mata seraya bersandar di sandaran ranjang. Ingatannya ternyata tidak mampu mengingat kejadian kemarin malam setelah dia tertidur di club dan Kegan datang menemuinya.
“Where are you go?” tanya wanita itu ketika melihat Kegan bersiap menggunakan jaketnya.
Kegan mengarahkan tatapan ke arah Kanin dan mengangkat sebelah alis. “Home?”
“You will leave me?” Kanin menatap tidak percaya ke arah Kegan.
Entah sudah keberapa kali, Kegan kembali menarik napas panjang. Berurusan dengan Kanin, apalagi sepagi ini adalah hal yang sangat Kegan hindari. Namun kehadiran wanita itu di depannya saat ini dalam keadaan yang belum sepenuhnya pulih dari hangover seperti sekarang membuat Kegan terpaksa bertahan sedikit lebih lama.
“Cepetan. Saya tunggu,” ujarnya kemudian.
“Why don’t you driven me home last night?” Kanin bertanya seraya berdiri dari tempat tidur.
Kegan menghela napas, lagi. Bersama Kanin adalah ajang untuk menguji kesabarannya dan Kegan sangat membenci hal ini.
“Diem. Jangan banyak protes,” cetusnya kemudian.
Kanin mencibir lalu merapikan penampilannya yang memang terlihat sangat berantakan. Wanita itu kemudian melirik ke arah cermin dan melihat bagaimana Kegan yang saat ini sedang merapikan penampilannya. Laki-laki itu terlihat fokus dengan lipatan kemejanya tanpa memedulikan Kanin sama sekali.
“Tapi serius,” cetus Kanin yang seketika membuat Kegan menoleh ke arahnya. “Kenapa nggak antar aku pulang aja?” tanya wanita itu kemudian.
“Biar nggak dikira aneh-aneh,” jawab Kegan seadanya.
“Bukannya kaya gini yang malah dikira aneh-aneh?” Kanin membalikkan tubuhnya dan mneatap sepenuhnya ke arah Kegan.
Laki-laki itu hanya memandangnya dengan tatapan datar tanpa sedikit pun ekspresi yang menunjukkan emosinya. Kegan sama sekali tidak ingin meladeni setiap ucapan dan pertanyaan Kanin yang hanya membuatnya tambah emosi. Namun, melihat bagaimana raut penuh tanya yang ditunjukkan oleh wanita di depannya, sepertinya Kegan harus berpikir dua kali untuk mengabaikan Kanin.
“Seenggaknya aku nggak nganter kamu pulang malam,” balas Kegan yang terlihat tanpa minat sama sekali.
“Terus apa bedanya sama sekarang?” tanya Kanin tanpa mau kalah sedikit pun.
Kegan menatap malas ke arah Kanin dan berjalan mendekati wanita itu. tangannya meraih tangan Kanin lalu menariknya keluar tanpa peduli wanita itu yang memekik tidak terima. Kegan membawa Kanin keluar dari kamar hotel setelah mengambil tas wanita itu yang kemarin diletakkannya di meja dekat pintu.
Sementara Kegan hanya menarik tangannya tanpa mengatakan sepatah kata pun sebagai penjelasan, Kanin hanya mengikuti langkah laki-laki itu membawanya. Raut wajahnya terlihat malas apalagi saat Kegan membawanya masuk ke mobil dan masih tetap tidak berbicara sedikit pun.
“Kenapa aku bisa sama kamu?” tanya Kanin ketika Kegan sudah duduk di sebelahnya.
“Adik kamu nelepon saya buat dateng,” jawab Kegan dengan pandangan fokus ke depan.
Kanin mengernyitkan dahinya karena sama sekali tidak ingat kapan Galeo meninggalkannya. Wanita itu melupakan sebagian besar kejadian malam sehingga sekarang dia berakhir kebingungan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Terus Galeo ke mana?” Wanita itu kembali bertanya.
Kegan menoleh ke arah Kanin dengan tatapan yang masih tetap terlihat datar. “Tanya adik kamu.”
Jawaban yang diberikan oleh Kegan seketika membuat Kanin mengembuskan napas kasar. Laki-laki di sebelahnya ini memang selalu berhasil membuat Kanin kehilangan kesabaran karena kata-katanya yang hanya beberapa dan berakhir membuatnya kebingungan. Kegan tidak pernah memberikan jawaban yang dia inginkan dan hal tersebut adalah salah satu hal yang sangat Kanin benci dari kepribadian calon suaminya ini.
“Langsung anter aku ke butik aja,” ujar Kanin ketika mobil Kegan mulai melaju perlahan.
Laki-laki itu hanya mengangguk kecil tanpa berbicara untuk menanggapi ucapan Kanin. Tatapannya tetap fokus ke depan tanpa menghiraukan Kanin yang saat ini terlihat sebal karena tindakannya. Lagipula, menurut Kegan dirinya sama sekali tidak perlu bersikap sok baik di depan Kanin yang juga sudah tahu bahwa dia membenci wanita itu.
“Kamu beneran mau langsung ke butik?” Setalah kebisuan yang bisa dibilang lama Kegan akhirnya kembali membuka suara.
Kanin segera menoleh dan menaikkan sebelah alisnya ke arah Kegan. Satu sisi, laki-laki di sebelahnya ini adalah salah satu orang yang sangat Kanin benci karena sikap apatisnya. Namun ketika Kegan menunjukkan atensinya yang bahkan tidak pernah Kanin duga, entah mengapa Kegan berubah menjadi sosok laki-laki idaman yang diinginkannya.
“Langsung aja biar nggak ditanya keluargaku,” jawab Kanin setelah terdiam beberapa detik. “Maaf ngerepotin.”
Ucapan terakhir Kanin berhasil membuat Kegan menolehkan kepalanya. Kanin meminta maaf dan hal itu adalah sesuatu yang cukup langka terjadi sehingga Kegan tidak ingin kehilangan moment ini.
“Sounds like not you.”
--
Kegan benar-benar mengantarnya sampai butik dan pergi tanpa mengucapkan apa pun setelah itu. sementara Kanin, wanita itu masih berdiri di depan butiknya dengan tatapan tidak percaya ke arah mobil yang sekarang mulai hilang dari jangkauan pandangannya.
Selama dua puluh enam tahun hidupnya, baru kali ini Kanin mengenal dan dekat dengan seseorang yang bahkan tidak memiliki kepedulian sedikit pun seperti Kegan. Meskipun sebenarnya dia tahu bahwa alasan Kegan bersikap seperti itu adalah karena membencinya, hal tersebut masih membuat Kanin tidak terima dengan perlakuan Kegan.
Laki-laki itu bertindak dengan semaunya tanpa pernah memikirkan Kanin sedikit pun. Ketika mengambil keputusan untuk setuju dengan pernikahan mereka, Kegan sama sekali tidak menanyakan pendapat Kanin. Begitu juga ketika laki-laki itu mengatakan bahwa dia tidak bisa menikah karena menjaga perasaan Nadeline, laki-laki itu sama sekali tidak berpikir tentang Kanin.
Dalam setiap hal yang Kegan lakukan, hanya ada diri laki-laki itu bersama ego yang begitu besar di dalamnya.
“Mbak Kanin!” panggilan dari Naira berhasil membuat Kanin sadar dari lamunannya.
“Udah dateng dari tadi?” tanya Kanin dengan senyum lembut di wajahnya.
Wanita yang umurnya dua tahun lebih muda dari Kanin itu mengangguk sopan. “Hari ini ada meeting, Mbak? Tumben dateng pagi,” tanya Naira kemudian.
“Enggak ada. tadi habis ada urusan sebentar jadi sekalian ke sini,” jawab Kanin.
Kedua wanita itu kemudian berjalan masuk ke butik yang belum sepenuhnya buka itu. Ruangan utama tempat beberapa patung manekin dengan baju-baju keluaran ekslusif yang sedang dipasarkan masih temaram dengan penerangan yang seadanya. Baru ketika Kanin meghidupkan saklar lampu, ruangan itu berubah menjadi terang dengan warna putih yang sedikit menyilaukan.
“Aku denger kamu udah mau nikah, Ra?” tanya Kanin yang sekarang berjalan ke arah penyeduh kopi sambil menggulung lengan kemejanya.
Naira tertawa kecil dengan wajah bersemu mendengar pertanyaan Kanin. Meskipun hubungan mereka selama ini hanya sebatas rekan kerja yang kadang merangkap menjadi teman cerita, bisa Naira akui bahwa dia dan Kanin memang cukup dekat. Sehingga tidak heran bahwa atasannya itu bisa tahu permasalahan internal Naira yang selama ini memang selalu dia ceritakan dengan teman kerjanya.
“Iya, Mbak. Kalau nggak ada halangan, sih, rencananya bulan depan,” jawab Naira.
“Dua bulannya lagi aku, deh. Bakalan sibuk banget Biley sama Emmy bikin bride gown,” balas Kanin dengan tawa kecil.
Naira memperhatikan bagaimana saat ini Kanin yang terlihat begitu santai menanggapi ucapannya mengenai pernikahan. Selama beberapa waktu terakhir, sebenarnya Naira sangat penasaran dengan bagaimana hubungan Kanin dan Agam begitu juga dengan Kegan Bratadikara. Bukan hanya itu, Naira juga penasaran apa campur tangan Nadeline Razmi sampai-sampai artis papan atas itu datang ke butik ini dalam keadaan yang terlihat mendesak.
“Mbak, aku boleh nanya sesuatu, nggak?”
Kanin yang sedang menyesap kopinya segera menoleh ke arah Naira. Wanita muda itu terlihat ragu-ragu ketika menatapnya sehingga Kanin menaikkan sebelah alis penasaran.
“Tanya aja,” ujar Kanin kemudian.
“Hubungan kamu sama Mas Agam gimana? Terus kenapa tiba-tiba nikah sama Kegan itu?” Naira menggigit bibir bagian dalamnya ketika usai menanyakan hal itu.
Kanin tersenyum simpul lalu meletakkan cangkir berisi kopi yang tinggal setengah. Ternyata pertanyaan ini yang membuat Naira terlihat gugup di depannya. Kanin kemudian mendekat ke arah Naira yang duduk di sofa dan menempatkan diri di sebelah rekannya itu.
“Kamu pernah ngelakuin sesuatu yang sama sekali nggak kamu suka demi kepentingan orang lain? Posisinya orang ini penting banget buat kamu.” Kanin menatap lekat ke arah Naira dan wanita itu menggeleng. “Itu yang aku lakuin. Aku relain rasa nggak sukaku ini demi kepentingan dan kebahagiaan orang yang berharga buat aku.”
--