Sudah tiga hari Galeo menemani Amara di rumah gadis itu. Galeo hanya pulang ke rumahnya sesekali dan pergi ketika harus ke kampus, lalu kembali ke rumah Amara di sore hari. Tidak pernah satu hari pun Galeo meninggalkan Amara sendiri sejak kejadian malam ketika Galeo menjemput Amara.
Sampai saat ini sejak tiga hari lalu, Galeo belum mengetahui apa yang sebenarnya yang terjadi dengan Amara sampai wanita itu terlihat sangat ketakutan bahkan ketika mereka sudah berada di rumah. Galeo tidak menuntut jawaban Amara dan membiarkan gadis itu tenang sementara waktu tanpa bertanya apa pun terkait kejadian itu. Galeo hanya menemani Amara sehingga gadis itu tidak takut dan kesepian.
“Kamu udah makan?” Galeo datang dari teras depan menuju ruang televisi tempat Amara sedang duduk dengan laptop di depannya.
Amara yang siang itu sedang merekap pekerjaannya segera mendongakkan kepala ketika Galeo datang. Senyumnya terukir tipis lalu mengangguk singkat menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Galeo beberapa saat lalu.
“Udah barusan,” jawabnya. “Kamu nggak pulang?”
“Nanti aja,” jawab Galeo dengan senyum di wajah tampannya. “How was your day?”
Amara meletakkan laptopnya di atas meja lalu membenarkan posisinya dan menghadap ke arah Galeo. Laki-laki itu terlihat sedikit kelelahan dengan raut wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan lelahnya. Entah sudah berapa kali Amara mengingatkan Galeo agar laki-laki itu pulang saja karena dia merasa tidak perlu ditemani sampai seperti ini.
Namun, Galeo akan tetap keras kepala. Laki-laki dengan perpaduan wajah lokal dan campuran Jerman itu akan tetap berada di sini sesuai dengan kemauannya sendiri. Seberapa keras pun Amara meyakinkan Galeo bahwa dia baik-baik saja sendirian, laki-laki itu tidak akan pernah menuruti perkataannya.
“Aku baik-baik aja,” ujar Amara. “Kamu pulang aja kalo lagi capek, Gal,” lanjutnya.
“Nanti, Ra,” tegas Galeo.
Amara kemudian terdiam mendengar jawaban Galeo yang seperti tidak boleh dibantah lagi. Wanita itu kemudian berdiri, lalu berjalan menuju meja dapur untuk mengambil segelas air yang kemudian dia berikan untuk Galeo. Laki-laki itu menerimanya dengan sebuah senyum lembut yang berhasil membuat Amara tidak berpaling.
“Can I ask you something?” tanya Galeo ketika air di gelasnya sudah sepenuhnya habis.
Mendengar pertanyaan itu, Amara sudah tahu akan ke mana topik pembahasan mereka kali ini. Galeo akan menanyakan apa yang terjadi malam itu yang memang tidak pernah dibahas Amara selama beberapa hari ini. Namun, sepertinya saat ini Amara harus mengatakan yang sebenarnya agar Galeo bisa setidaknya lebih tenang setelah tahu apa yang terjadi.
“About that night?” Amara menatap lurus ke arah Galeo.
Laki-laki itu seketika mengangguk. “Sebenarnya ada apa?”
“My ex almost did it,” ungkap Amara dalam satu tarikan napas panjang. “Dia hampir merkosa aku.”
Kening Galeo mengernyit dalam mendengar pengakuan itu. Tubuhnya mendadak kaku atas ucapan Amara yang sampai detik ini masih belum bisa diterima oleh alam pikirannya. Selama ini, Galeo sama sekali tidak pernah tahu bahwa Amara memiliki kekasih sehingga ketika mendengar kalimat itu dari wanita di depannya, Galeo benar-benar terkejut.
“You have a boyfriend here? In Jakarta?” Galeo terlihat terkejut sekaligus kecewa.
Amara menarik napas panjang lalu mengangguk singkat. “Dia mantanku pas kuliah dulu. We just have a short relationship but he too obssesed with me.”
“Who is the person?” Kemarahan terdengar menjalar lewat pertanyaan itu.
“You don’t need to know him,” balas Amara cepat. “Aku sama dia udah selesai dan aku nggak mau nambah masalah kalau kamu sampai ketemu dia.”
Galeo menggelengkan kepala mendengar ucapan Amara. Laki-laki itu menyangkal bahwa dirinya tidak boleh mencari masalah dengan laki-laki yang hampir mengotori perempuan yang sangat ingin dia lindungi.
Kemarahan serta rasa bingung menjalar jadi satu sebagai sebuah perasaan yang sangat membuat Galeo terganggu. Hatinya seolah terbakar saat tahu apa yang terjadi kepada Amara hingga wanita itu terlihat benar-benar ketakutan di malam mereka bertemu. Galeo sungguh ingin menemui orang itu dan memberikan pelajaran yang setimpal karena telah berani menyentuh orang yang dia sayangi.
“Kenapa aku nggak boleh tau dia?” tanya Galeo dengan emosi yang berusaha dia redam. “You are my family, Ra.”
“Your anger is dangerous. Aku nggak mau kamu celaka kalau harus berurusan sama orang yang sama sekali nggak ada hubungannya sama kamu.” Amara menatap lurus ke arah Galeo, berusaha memberikan laki-laki itu pengertian.
“Nggak ada hubungannya sama aku?” Galeo tertawa sinis. “Dia hampir ngerusak kamu dan kamu masih bisa bilang nggak ada hubungannya?”
“That’s the fact,” sergah Amara. “Kita sama sekali nggak punya hubungan sedekat itu sampai-sampai kamu perlu tau siapa orangnya.”
Galeo terpaku mendengar ucapan Amara. Jika wanita itu menganggap bahwa hubungan yang Galeo maksud adalah sekadar rasa suka yang dia miliki selama ini, maka Amara salah. Lebih dari itu dan berbeda dari rasa sukanya terhadap Amara, sebelum ini Galeo sudah menganggap Amara sebagai adiknya sendiri. Sehingga rasanya sangat wajar jika dia marah ketika tahu bahwa ada orang lain yang berniat melukai Amara.
Pemikiran Amara selalu berhasil membuat Galeo kebingungan. Wanita itu membentang jarak yang teramat jauh di antara kedekatan mereka yang terjalin selama ini. Amara seolah memberikan sekat yang sangat tinggi dan kasat mata sehingga Galeo bahkan tidak menyadari bahwa sebenarnya hubungan mereka terpaut jarak sejauh itu.
“Bukan karena aku suka kamu, aku jadi peduli gini, Ra.” Galeo menatap serius lawan bicaranya. “Lebih dari itu, aku nganggep kamu sebagai keluarga yang juga harus aku lindungi.”
Amara bisa paham apa yang dimaksud oleh Galeo saat ini. Hanya saja, hatinya terlalu takut untuk menerima semua kemungkinan buruk jika Galeo benar-benar menganggapnya sebagai orang yang harus dilindungi. Amara tidak ingin berhubungan dengan Galeo yang hanya akan membuat perasaannya terluka setiap saat.
“Makasih karena udah peduli sama aku,” ujar Amara kemudian. “But this is enough, Gal. semuanya udah cukup buat aku dan kamu nggak perlu peduli lebih daripada ini.”
Tatapan mata Galeo berubah kecewa saat mendengar kalimat yang secara tidak langusng berarti sebagai sebuah penolakan untuknya. Entah sudah keberapa kali Amara menolaknya seperti ini, dan Galeo selalu merasa gagal untuk membuat dirinya pantas bersanding dengan Amara.
Wanita itu selalu membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya yang salah sehingga Amara bahkan tidak pernah mau menerima kehadirannya. Galeo bahkan tidak pernah tahu alasan kenapa Amara selalu menolaknya jika sudah membicarakan perasaan mereka. Tapi beberapa saat kemudian, wanita itu akan bersikap biasa saja seolah mereka adalah kenalan yang sama sekali tidak terlibat perasaan asmara.
“Pulang, Gal. Aku udah nggak apa-apa.” Dan dalam kalimat itu, Galeo tahu bahwa Amara sama sekali tidak menginginkan kehadirannya lagi.
--
Kanin termenung di depan laptop meja kerjanya. Wanita itu sama sekali tidak memiliki niat untuk beranjak atau menyadarkan dirinya dari lamunan yang sekarang memenuhi isi pikirannya. Kenangan tentang bagaimana masa lalu pernah begitu indah membuat Kanin terdiam dalam waktu yang sangat lama dan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
Kebahagiaan pernah begitu memenuhi hidupnya beberapa tahun silam. Kanin yang tegas, dingin, dan tidak tersentuh ini dulu tidak pernah dia bayangkan sama sekali akan menjadi sosok dirinya. Dulu, ketika masih remaja Kanin adalah sosok hangat yang penuh dengan kasih sayang.
“Kanin mau main apa hari ini?”
Pertanyaan yang terlontar dengan nada lembut dari sang nenek masih begitu melekat indah di dalam kepalanya. Kanin akan tersenyum memperlihatkan deretan gigi rapinya lalu berlari dan menghambur ke pelukan sang nenek ketika wanita tua itu datang menemuinya sepulang sekolah.
“Aku tadi ketemu Kegan di sekolah,” ujar Kanin muda yang saat itu masih begitu ceria.
Neneknya—Nimas Priyaningrum—tersenyum lembut lalu mengusap pelan puncak kepala cucunya. Gadis belia yang baru menginjak bangku sekolah menengah pertama itu sekarang merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang nenek dan mendongak menatap wanita tua di atasnya.
“Oh ya? Kegan bicara apa sama kamu?” tanya Nimas dengan senyum yang masih melekat indah di wajah senjanya.
“Kegan nggak ngomong apa-apa. Dia selalu diem kalo ketemu aku, Nek,” ujar Kanin dengan nada merajuk.
Nimas tertawa kecil menanggapi ucapan cucu perempuannya itu. Tangannya mengusap perlahan permukaan wajah Kanin sehingga gadis itu tersenyum geli. Kebiasaan neneknya yang selalu membuatnya nyaman ini berhasil membuat raut wajah Kanin yang semula kesal berubah cerah kembali.
“Kegan kan orangnya memang nggak banyak bicara,” ujar Nimas. “Kamu juga tau tentang itu, kan?”
Kanin kembali mencebikkan bibirnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk menghadap sang nenek. Tatapan matanya tampak malas, tetapi seketika berubah ketika pandangannya mengarah ke pintu masuk rumahnya. Gadis itu berdiri dengan cepat lalu tersenyum lebar sampai membuat Nimas mengernyit heran.
“Kegan!” seru Kanin yang seketika membuat Nimas menoleh ke belakang.
Di pintu masuk rumah, seorang bocah laki-laki dengan penampilan yang sangat rapi datang bersama dengan dua orang dewasa yang mungkin seumuran dengan Nimas. Kedatangan tiga orang itu disambut hangat oleh Nimas yang sekarang berusaha berdiri dibantu oleh Kanin yang kegirangan.
“Mbak Yu,” sapa Nimas lalu mendekat ke arah seorang wanita yang tampak lebih tua dari dirinya.
Wanita tua itu adalah Ayudia Saskar Dikara, istri dari Barata Dikara yang merupakan sahabat baik dari Nimas. Sedangkan bocah laki-laki berpenampilan rapi yang sekarang bersembunyi di balik tubuh kakeknya, adalah anak laki-laki yang tadi dibicarakan oleh Kanin dengan sangat antusias.
“Kegan! Ayo main sama aku!” seru Kanin yang sekarang berdiri di depan Kegan dengan senyum manis di wajahnya.
Barata yang melihat antusias Kanin hanya tersenyum lembut lalu menepuk pelan puncak kepala gadis belia itu. sementara Kegan, anak laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi ketika Kanin menyambutnya dengan sangat gembira.
“Kamu main sama Kegan aja dulu,” suruh laki-laki yang masih terlihat gagah di usia senja itu kepada Kegan.
Mendengar ucapan kakeknya, kepala Kegan kontan mendongak. Tatapannya terlihat sangat enggan untuk menuruti permintaan sang kakek. Tapi laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya dengan mata tertutup sekilas yang berarti bahwa dirinya harus menuruti kata-kata untuk pergi bersama Kanin.
“Ayo. Aku tunjukkin adik kecil,” ajak Kanin seraya menarik tangan Kegan menjauh dari tiga orang dewasa yang sekarang mulai bercengkrama.
“Aku nggak mau main sama kamu,” cetus Kegan lalu menyentakkan tangannya dari Kanin.
“Kenapa?” Kanin mengernyitkan alis hitam tebalnya. “Kamu kayaknya nggak suka kalo deket-deket sama aku.”
“Memang,” balas Kegan cepat.
Jawaban itu semakin membuat dua alis tebal milik Kanin menyatu. Tatapan yang diberikan oleh Kegan kepadanya seperti mengatakan bahwa dirinya adalah penganggu dan Kanin sangat tidak suka tatapan itu.
“Kenapa kamu nggak suka aku?” tanya Kanin polos.
“Karena kamu banyak bicara,” jawab Kegan dengan sebelah alis terangkat sinis.
Kegan tidak pernah suka orang yang banyak bicara seperti Kanin. Anak laki-laki itu lebih suka tinggal di kedamaian tanpa banyak ocehan tidak berguna yang sangat sering didengarnya keluar dari bibir Kanin. Menurut Kegan, gadis di depannya ini sangat menyusahkan dan menganggu dengan celotehannya yang tanpa henti.
“Kamu nggak suka sama orang banyak bicara?” Kanin menatap penasaran ke arah bocah laki-laki di depannya.
“Iya. Karena orangnya kamu,” jawab Kegan.
Seketika, senyum yang sempat hadir di wajah Kanin mendadak lenyap. Seseorang yang selama ini diam-diam dia kagumi ternyata merasa sangat terganggu dengan keberadaannya. Kanin tidak bisa menyangkal bahwa perasaannya mendadak berubah sangat sedih ketika mendengar ucapan Kegan.
“Kenapa kalau orangnya aku?” Gadis itu sama sekali tidak berhenti bertanya.
“Karena aku nggak suka kamu.”
Lamunan Kanin terhenti tepat pada kalimat Kegan yang sampai saat ini masih sering terbayang di pikirannya. Ponselnya berbunyi sehingga Kanin mengerjapkan mata lalu mencari keberadaan handphone-nya dengan cepat.
“Halo,” sapa Kanin begitu sambungan terhubung.
“Ke rumah sakit. Kakek masuk UGD.”
Kedua bola mata Kanin membelalak dan rasa terkejut menyelimuti hatinya. Wanita itu berdiri dengan cepat lalu membereskan semua barangnya dan mematikan telepon dengan cepat. Setelah itu, Kanin beranjak meninggalkan butiknya dan melajukan mobil menuju rumah sakit.
Bahkan karena saking paniknya, Kanin melupakan betapa buruk keadaannya jika sampai dia melangkahkan kaki ke rumah sakit.
--