Kanin berlari dengan raut wajah panik menuju ruang UGD. Aroma khas rumah sakit langsung menusuk indra penciumannya yang sebenarnya membuat wanita itu sangat terganggu. Namun, entah mengapa kali ini Kanin memberanikan diri untuk masuk ke bangunan yang benar-benar dia benci sepanjang sisa hidupnya itu.
Ketika sampai di depan ruang UGD, Kanin bertemu dengan beberapa anggota keluarga Kegan yang sedang berdiri dengan tatapan cemas. Wanita itu berhenti, lalu menetralkan detak jantungnya yang bertalu sekian kali lebih cepat. Tatapannya kemudian berpendar untuk mencari keberadaan Kegan dan menemukan laki-laki itu menyandar pada tembok tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Setelah menundukkan kepala sejenak kepada kedua orangtua Kegan yang hendak menyambut kedatangannya, Kanin melangkahkan kaki mendekat ke arah Kegan. Laki-laki itu terlihat berantakan dengan kemeja yang tampak kusut dan rambutnya yang acak-acakan.
“Kegan,” panggil Kanin ketika dia sudah berdiri di sebelah Kegan.
Mendengar suara yang sangat ia kenal memanggil namanya, Kegan segera menoleh. Dia menemukan saat ini Kanin sedang menatapnya dengan raut wajah cemas yang entah mengapa berhasil membuat Kegan penasaran. Kanin tidak pernah terlihat seemosional ini selama mereka mengenal satu sama lain.
“It’s okay. Kakek baik-baik aja,” ujar Kegan, berusaha menenangkan Kanin.
Wanita itu sama sekali tidak terpengaruh dengan kata-kata Kegan yang terdengar seperti bualan semata. selama ini, Kanin selalu menganggap bahwa orang yang sampai masuk rumah sakit adalah orang dengan keadaan kritis. Itu kenapa dirinya terlihat benar-benar panik ketika Kegan mengabarinya bahwa kakek laki-laki itu masuk rumah sakit.
“Kakek kenapa?” tanya wanita itu kemudian.
“Cuma drop karena kecapean. Nggak perlu khawatir,” jawab Kegan.
Kanin tidak sempat menanggapi jawaban Kegan atau menanyakan hal lain lebih jauh. Kepalanya mendadak berputar ketika dia mendengar suara sirine ambulans yang terasa begitu memekakkan telinga. Kanin menutup matanya rapat-rapat seraya menggelengkan kepalanya keras-keras.
Kenangan kelam itu mendadak mendatangi ingatannya sehingga Kanin harus kembali terjebak di dalam ruang gelap yang seolah merenggut dirinya. Kanin merasa bahwa dirinya dikurung di sana dengan berbagai macam ingatan buruk tentang seseorang yang sangat dia cintai dengan tempat yang saat ini dia pijaki.
“Kanin?” Kegan meraih bahu Kanin. “Are you okay?”
Wanita itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Kegan. Pikirannya terlalu kacau dan dadanya terasa sangat sesak hingga dia sama sekali tidak menyadari situasi di sekitar. Napasnya juga mulai tidak beraturan dengan bahu naik turun.
“What is wrong with you?” tanya Kegan, lalu berusaha menyentak Kanin agar membuka mata.
Kanin perlahan membuka kelopak matanya. Tangannya sekarang bergerak lemah meraih tangan Kegan lalu menggenggamnya. “Bawa … bawa aku keluar,” lirih Kanin susah payah.
Kegan sebenarnya masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada Kanin. Namun, melihat keadaan wanita itu yang semakin memburuk bahkan sampai hampir terjatuh di depannya, Kegan segera meraih tubuh Kanin dan membawa wanita itu keluar.
Sementara itu, Anelis dan Raden menatap cemas ke arah Kanin yang sekarang dibawa keluar area rumah sakit oleh Kegan. Kedua orang dewasa itu kemudian mengembuskan napas pendek, lalu kembali menatap ke arah kaca tembus pandang yang memperlihatkan situasi UGD.
“Harusnya Kegan tidak menghubungi Kanin agar datang,” ujar Anelis, pelan.
--
Kegan memperhatikan wanita di sebelahnya dengan saksama. Kanin duduk di sebelahnya, dengan satu botol air kemasan yang tadi Kegan beli untuk wanita itu. sudah hampir lima belas menit setelah mereka berdua keluar dari area UGD tetapi Kanin masih tetap menunjukkan keanehan yang semakin membuat Kegan bertanya-tanya.
Tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Kanin sejak mereka duduk di bangku taman rumah sakit. Wanita itu hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong serta raut wajah yang sama sekali tidak bisa terbaca. Sedangkan Kegan, laki-laki itu tetap menemani Kanin tanpa bertanya apa pun dan membiarkan Kanin tenang selama beberapa saat.
“Are you feel better?” tanya Kegan setelah beberapa saat lamanya dia terdiam.
Kanin menoleh, lalu menatap lurus ke arah Kegan yang juga menatapnya. “Sorry. Aku malah ngerepotin,” ujarnya.
“What’s happened to you?” Kegan menatap lekat ke arah Kanin dengan kening berkerut.
Tidak ada jawaban yang diberikan Kanin dan wanita itu memilih memalingkan wajahnya dari hadapan Kegan. Perasaannya terlalu tidak stabil untuk mengatatakn apa yang sebenarnya dirinya rasakan saat ini. Kanin bahkan tidak tahu harus menjelaskan seperti apa perasaannya sekarang di depan Kegan.
“I’m okay. Just a bit tired,” ungkapnya dengan suara pelan. “Kamu bisa pergi sekarang. Kakek mungkin udah sadar.”
“Ada Mama sama Papa di sana. They can handle it,” balas Kegan.
Laki-laki itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi taman lalu memejamkan mata sejenak. Embusan angin kemudian menyapu halus permukaan wajahnya hingga membuat Kegan merasakan ketenangan yang sangat memanjakan. Entah sudah sejak berapa lama dia tidak merasakan perasaan tenang semacam ini
“Kakek tiba-tiba pingsan waktu habis sarapan,” ujar Kegan dengan mata yang masih tertutup rapat. “Beliau punya penyakit jantung yang bisa kambuh kapan aja.”
“Kenapa nggak operasi?” tanya Kanin.
“Kakek udah pernah operasi. Semuanya lancar. Tapi belakangan kesehatannya menurun,” tutur Kegan.
“Tapi Kakek keliatan sehat waktu terakhir kali aku dateng ke rumah kamu.” Tatapan Kanin mengarah kepada wajah Kegan yang tampak tampan dengan mata terpejam.
Kegan tersenyum tipis lalu membuka matanya. Laki-laki itu kemudian mengubah posisinya menjadi duduk tegak dan menghadap ke arah Kanin. Tatapan mereka bertemu, tetapi hanya beberapa saat karena setelahnya Kanin langsung mengalihkan pandangan.
“He would not let people see his pains,” ujar Kegan, mengarah kepada keadaan kakeknya. “Beliau bakal berusaha kelihatan baik-baik aja sampai keadaannya benar-benar fatal.”
“Is that too danger for him? Kakek bisa drop kapan aja tanpa sepengatahuan kalian, kan?” Kedua alis Kanin menyatu ketika mempertanyakan hal itu.
“Syukurnya Kakek ngerti kapan beliau harus minta pertolongan jadi kita selalu tahu kalau kesehatannya lagi nggak baik,” jelas Kegan. “By the way, why you look so care with him?”
Kanin mengangkat sebelah alis. “Bukannya wajar? Kakek juga bakal jadi bagian keluargaku,” balas wanita itu.
Sekali lagi, senyum di wajah Kegan hadir. Kali ini bukan sebuah senyum sinis atau meremehkan seperti apa yang biasanya laki-laki itu tunjukkan ketika bersama Kanin. Senyum yang diperlihatkan oleh Kegan saat ini terlihat lebih tulus dan nyata.
“I don’t expected that you will take this marriage seriously,” cetus Kegan.
“I should take this with serious. This is about my future,” sergah Kanin dengan suara yang kembai terdengar datar, tidak penuh perhatian seperti beberapa saat lalu.
“Thank you.”
Kanin menoleh. Tatapannya beradu dengan kedua netra kelam milik Kegan yang sekarang seperti tengah menguncinya. Laki-laki itu menatap lekat ke arah Kanin hingga membuat Kanin kehilangan kata-kata selama beberapa saat lamanya.
“For what?” Wanita itu akhirnya bertanya.
“For take care about my family,” jawab Kegan.
Keheningan seketika menyergap keduanya ketika Kegan usai melontarkan jawaban itu. Kanin terdiam dengan pandangan terpaku ke arah Kegan. Sementara Kegan masih belum melepaskan pandangannya dari wajah Kanin yang saat ini berusaha menghindari tatapannya.
“Aku ngelakuin ini juga biar namaku nggak buruk di keluarga kamu,” bantah Kanin dengan tatapan berpendar ke berbagai arah.
Kegan menaikkan sebelah alis ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Kanin. Laki-laki itu tahu bahwa seberapa pun Kanin terlihat lemah di hadapannya, wanita keras kepala ini akan selalu tampak ingin berkuasa dan mendominasi. Kanin tidak akan pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan seseorang dalam jangka waktu yang lama dan Kegan sudah hampir mengerti tentang hal itu.
“Kamu mau saya antar?” Kegan kemudian bertanya tanpa menghiraukan ucapan Kanin sebelumnya.
Wanita yang masih terlihat pucat itu hanya menggeleng pelan. Kanin tidak ingin Kegan tahu lebih jauh mengenai dirinya jika mereka pulang bersama-sama setelah ini. Setidaknya, ketika Kegan tidak mengantarnya pulang, laki-laki itu tidak bisa melihat ekspresi wajahnya yang tampak kosong sepanjang perjalanan
“Nggak perlu. Aku bisa sendiri,” jawab Kanin.
“But how is your feeling right now?” Kegan menatap lekat ke arah Kanin.
“I’m totally fine.” Wanita itu menegakkan tubuhnya lalu merapikan penampilannya sebelum berdiri. “It’s okay. Kamu di sini aja jagain Kakek. Aku nggak bisa lama-lama di tempat ini.”
Kegan mendongak ke arah Kanin yang sekarang sudah berdiri di hadapannya. Kekhawatiran yang sempat hadir beberapa saat lalu karena dia melihat keadaan Kanin yang tiba-tiba berubah, sekarang mendadak lenyap saat dia mendapati bahwa wanita di depannya ini sudah kembali seperti semula. Kanin yang tampak tangguh dan berkuasa sudah terlihat kembali dengan sorot mata yang tampak tegas, tajam, tetapi anggun dalam waktu bersamaan.
“Take care, Ke. Salam sama Kakek,” ujar Kanin sebelum beranjak meninggalkan Kegan yang masih berdiam diri di posisinya.
Kegan hanya diam dan memperhatikan setiap langkah penuh percaya diri yang diambil oleh Kanin. Wanita itu berjalan dengan dagu terangkat, serta langkah kaki yang sama sekali tidak menunjukkan kelemahan. Sungguh berbanding terbalik dengan keadaannya beberapa saat lalu yang tampak sangat mengkhawatirkan.
--
Kanin sampai di rumahnya sekitar satu jam setelah dia mengendari mobil dari rumah sakit. Kondisinya masih belum sepenuhnya membaik sehingga Kanin memilih untuk pulang ke rumah alih-alih kembali ke butiknya atau datang ke apartemen. Menurutnya, rumah adalah satu-satunya tempat yang bisa membuatnya merasa tenang dalam keadaan seperti ini.
Ketika Kanin berjalan melewati taman rumah, wanita itu menemukan adiknya sedang berdiam diri di meja taman dengan tatapan kosong ke depan. Sepertinya, bukan hanya Kanin yang mengalami hari buruk saat ini, melainkan juga Galeo.
“Lo baru pulang?” tanya Kanin yang seketika membuat Galeo menoleh.
“Lo juga,” balas laki-laki itu lalu kembali mengarahkan tatapannya ke depan.
Kanin duduk di sebelah Galeo dan memperhatikan hamparan bunga-bunga indah di depan matanya. Setelah beberapa saat, wanita itu kemudian menoleh ke arah Galeo yang masih tetap diam bahkan saat dia sudah duduk beberapa lama di sebelah adiknya itu.
“Lagi ada masalah?” sambar Kanin.
“Hm,” gumam Galeo menanggapi pertanyaan kakak perempuan satu-satunya itu.
“Kenapa? Sama Amara?” tebak Kanin, yang langsung membuat Galeo menoleh ke arahnya.
“Iya, tentang Amara,” sahut Galeo seadanya. “She has a boyfriend.”
“So what is the problem with you?” Kanin menegakkan tubuhnya menghadap ke arah Galeo.
“Nothing,” jawab laki-laki itu. “Tapi pacarnya hampir merkosa Amara.”
Jawaban itu sukses membuat Kanin terbungkam dengan keterkejutan yang menyelubungi perasaannya. Wanita itu masih menatap lurus ke arah Galeo dengan tatapan yang menyiratkan begitu banyak hal.
“Wait … his boyfriend almost r***d her? I mean, his boyfriend?” tanya Kanin. Nadanya terdengar sangsi.
Galeo menoleh ke arah kakaknya lalu mengangguk singkat dengan helaan napas panjang. “Gue nggak ngerti gimana cerita detailnya. Amara Cuma bilang begitu pas gue tanya.”
“Terus kenapa lo malah tinggalin dia sendiri?” tanya Kanin dengan kening mengernyit. “She needs your support right now,” lanjutnya.
“Nggak. Dia sama sekali nggak perlu,” balas Galeo dengan senyum miris.
Kanin tahu bagaimana rumitnya hubungan Galeo dengan Amara selama ini. Dua orang itu sama-sama saling terikat dengan perasaan sayang, tetapi sama sekali tidak bisa bergerak dari lingkaran yang entah sejak kapan menjadi jarak pembatas di antara mereka. Baik Galeo maupun Amara, keduanya sepakat untuk tetap berdiam diri di posisi aman agar tidak menyakiti perasaan salah satu pihak.
“Kalian harusnya sama-sama jujur tentang perasaan satu sama lain,” cetus Kanin.
“Gue udah terlalu sering jujur ke dia,” sahut Galeo. “Dan akhirnya, ya, tetep. Akhirnya bakal tetep ditolak.”
“Lo masih belum tau alasan dia selalu nolak lo?” Kanin menatap ke arah Galeo dengan alis terangkat.
Galeo menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan kakaknya. “Dia sama sekali nggak ngasih tau.”
Embusan napas panjang keluar dari bibir Kanin. Wanita itu berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terlalu emosional dalam keadaan adiknya yang juga sama-sama tertekan. Kanin tahu bahwa saat ini Galeo sedang merasa begitu kacau, dan Kanin tidak ingin membuat laki-laki itu merasa semakin buruk.
“Someday she will knows how much you love her,” ujar Kanin dengan senyum tipis. “Sekarang lo berusaha jaga dia dulu. Mentalnya pasti masih nggak stabil habis kejadian ini.”
“Dia pengen gue pergi, Kak,” lirih Galeo dengan nada pasrah.
“Gal,” panggil Kanin seraya menyentuh pundak adiknya. “Kadang orang yang bilang pengen seseorang pergi dari hidupnya itu Cuma pengalihan dari lemahnya dia. Amara Cuma nggak mau kelihatan lemah di depan lo makanya dia nyuruh lo pergi, padahal sebenernya jauh dari itu, dia bener-bener lagi perlu lo di sisinya.”
--