Setelah hampir satu minggu berlalu, akhirnya Brata diperbolehkan pulang oleh dokter. Dan pada hari itu pula ketika Brata sudah boleh pulang, Kanin segera menuju ke rumah laki-laki itu. kekhawatirannya yang sudah memuncak membuat Kanin sama sekali tidak memedulikan apa pun selain tujuannya untuk datang dan melihat keadaan Brata secara langsung.
Wanita itu kini duduk di sofa ruang tamu rumah Kegan bersama Anelis yang juga duduk di depannya. Sementara itu, Raden Dikara duduk di sebelah istrinya dengan raut wajah yang tampak ramah menyambut kedatangan Kanin.
“Kamu nggak ngasih kabar sebelumnya mau datang jadi Tante nggak siapin banyak buat kamu,” ujar Anelis seraya menyerahkan piring berisi berbagai cemilan ke arah Kanin.
Kanin yang sore itu terlihat cantik dalam balutan blouse berwarna putih dibalut dengan rok yang panjangnya mencapai betis tersenyum sopan menanggapi ucapan Anelis. Wanita keturunan pribumi dengan darah Belanda itu selalu saja merendah di hadapan Kanin sehingga dia tidak tahu harus bereaksi apa di hadapan calon mertuanya ini.
“Ini udah lebih dari cukup, Tante. Aku ke sini juga bukan sebagai tamu lagi, kan?” balas Kanin dengan tawa kecil untuk menutupi kecanggungannya.
Anelis tersenyum lebar mendengar candaan Kanin. Di luar penampilannya yang tampak sangat elegan dan berkelas seperti seorang putri keturunan bangsawan pada umumnya, Kanin ternyata memiliki sisi modern yang membuat wanita itu terlihat menarik. Kanin bisa menempatkan dirinya dalam keadaan apa pun tanpa bersusah payah mengubah jati dirinya yang sebenarnya.
Di satu sisi, Kanin akan menjadi wanita berkelas dengan perilaku anggun yang selalu berhasil membuat seseorang betah menatapnya. Tetapi ketika lawan bicaranya membutuhkan sentuhan santai dalam pembicaraan mereka, maka Kanin akan membawa suasana menjadi lebih luwes dengan candaan khas anak muda ibu kota.
“Oh, ya. Papa sama Mama titip salam ke kalian. Katanya maaf nggak bisa dateng,” ujar Kanin beberapa saat setelahnya. “Papa masih ada dinas di luar kota ditemani Mama.”
Sekarang giliran Raden yang tersenyum mendengar penuturan Kanin. Wanita muda di depannya ini sukses membuat kesan sangat baik hingga Raden rasanya tidak akan melepaskan Kanin untuk menjadi menantunya. Setiap tutur kata yang diucapkan oleh Kanin terasa sangat menenangkan dengan sopan santun yang begitu menarik perhatian.
“Nggak apa, Nin. Kemarin Robert juga sudah bicara sama Om lewat telfon,” balas Raden dengan kekehan kecil,
Kanin tertawa lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Kegan belum pulang, Tante?”
“Sebentar lagi paling dia pulang. Sudah jam enam,” jawab Anelis. “Mau Tante antarkan ke kamar Kakek sekarang?”
Kanin menoleh ke arah Anelis lalu mengangguk dengan senyum lebar yang tampak indah di wajahnya. Wanita itu kemudian berdiri mengikuti Anelis yang sudah lebih dulu berdiri daripada dirinya. Setelah itu, kedua wanita dengan penampilan yang sekilas tampak mirip itu berjalan bersebelahan menuju kamar yang terletak di lantai atas.
“Gimana perkembangan hubungan kamu sama Kegan, Nin?” tanya Anelis ketika mereka berdua berjalan menaiki tangga.
“Baik-baik aja, Tante. Sekarang ini masih jarang komunikasi. Mungkin karena lagi sama-sama sibuk,” jelas Kanin, masih setia dengan senyum ramahnya.
“Kegan orangnya nggak akan terbuka kalau kamu nggak cari dia duluan,” ujar Anelis, lalu berhenti sehingga Kanin ikut berhenti di sebelahnya. “Kegan mungkin nggak akan nunjukkin perasaannya ke kamu sekarang. But once he notices you one day, he will actually yours. Dia nggak bakal pernah berpaling dari kamu sama sekali.”
Ucapan Anelis akan terdengar sangat melegakan seandainya Kanin memiliki perasaan terhadap Kegan. Wanita itu mungkin akan sangat bahagia mendengar kata-kata dari calon mertuanya yang sudah sepenuhnya mendukung hubungannya dengan Kegan. Namun, Kanin sama sekali tidak merasakan kebahagiaan itu karena hatinya pun tidak lagi milik Kegan sepenuhnya.
Namun, demi menjaga reputasinya di hadapan Anelis dan menjaga perasaan wanita itu, Kanin hanya memasang senyum lebar mendengar penuturan Anelis. Dia bersikap seolah-olah bahagia atas pendapat yang diberikan Anelis mengenai Kegan.
“Aku harap juga begitu, Tan.” Kanin tersenyum lembut, tampak seperti tidak ada paksaan.
“Why don’t you call me Mama instead of Tante?” Anelis tertawa kecil ketika menanyakan pertanyaan itu.
Kanin ikut tertawa kemudian berujar, “Can i?”
“Of course, dear. You are my daughter now,” balas Anelis seraya mengusap pelan pundak Kanin.
“Okay, I will calling you with Mama from now on,” sahut Kanin dengan senyum yang masih terukir di wajah cantiknya.
Anelis hanya tersenyum, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju salah satu kamar yang tertutup. Wanita itu kemudian membuka pintu, dan mempersilakan Kanin agar ikut di belakangnya. Kanin mengikuti langkah Anelis masuk ke sebuah kamar yang terlihat begitu luas dengan gaya Eropa Klasik.
Di tempat tidur berukuran besar yang terletak tepat di tengah-tengah ruangan, Brata terbaring dengan selang oksigen yang langsung terhubung dengan tabung oksigen. Laki-laki tua itu terlihat menutup mata sehingga ketika Kanin dan Anelis masuk, Brata sama sekali tidak menyadari kehadiran dua orang wanita itu.
“Kondisi Ayah Mertua masih belum stabil jadi kami memutuskan untuk melakukan perawatan di rumah,” jelas Anelis seraya melirik ke arah layar monitor pendeteksi detak jantung di sebelah ranjang Brata.
Kanin hanya mengganggukkan kepala sepintas lalu mengikuti langkah Anelis yang sekarang duduk di kursi dekat tempat tidur Brata. Wanita akhir empat puluh tahun itu kemudian menghampiri tempat tidur Brata dan membangunkan laki-laki yang merupakan ayah mertuanya dengan gerakan halus yang terkesan tidak mengganggu sama sekali. Hingga kemudian, Brata sudah membuka mata dan mengerjap beberapa kali sebelum dia melihat Kanin duduk tidak jauh darinya.
“Kanin,” sapa Brata seraya berusaha untuk duduk tegak dibantu oleh Anelis. “Kamu kapan datang?”
“Baru aja, Kek. Maafin Kanin nggak sempat jenguk ke rumah sakit,” jawab Kanin dengan senyum sopan.
Wanita itu kemudian melangkah mendekati Brata sehingga sekarang dia berdiri di sebelah Anelis. Tatapannya tetap mengarah kepada Brata yang sekarang memandangnya dengan raut wajah senang.
“Nggak apa. Kakek paham keadaan kamu,” balas Brata. “Ayah mau bicara berdua sama Kanin, Ann. Kamu bisa tinggalkan kami berdua?”
Anelis melirik sekilas ke arah Kanin yang berdiri di sebelahnya lalu kembali menatap ke arah ayah mertuanya. Wanita itu kemudian mengangguk singkat dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Selepas kepergian Anelis, sekarang di kamar yang luas itu hanya ada Brata dan Kanin. Dua orang berbeda generasi itu masih terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya Brata membuka suara untuk mempersilakan Kanin duduk di sebelah tempat tidurnya.
“Kamu masih kebayang kejadian itu?” tanya Brata ketika Kanin sudah duduk di sebelahnya.
Kanin mengulum senyum, lalu mendongak ke arah Brata seraya tersenyum tipis. “Masih, sangat. Aku bahkan nggak bisa napas lega kalau keingat kejadian itu.”
Brata menatap prihatin ke arah Kanin yang tampak sangat berat untuk menceritakan hal ini. Kanin terlihat tertekan sekaligus sedih sehingga Brata berniat untuk mengakhiri serangkaian pertanyaannya. Namun, gadis di sebelahnya malah kembali berbicara yang seketika membuat Brata memusatkan perhatian sepenuhnya kepada gadis dengan raut wajah yang hampir serupa dengan sahabatnya dulu.
“Aku selalu mikir kalau kejadian itu adalah salahku. Andai aja aku nggak keras kepala, mungkin Eyang nggak bakal pergi secepet itu,” ujar Kanin dengan nada getir.
“Itu bukan salah kamu sama sekali. Bahkan kalau pun kamu nggak pergi saat itu, Priya akan tetap ….” Brata menghentikan kalimatnya saat melihat perubahan ekspresi Kanin. “Nggak ada yang salah, Kanin. Eyangmu sudah bahagia di tempatnya sekarang.”
Kanin menarik sudut bibirnya dengan sangat terpaksa mendengar ucapan Brata. Laki-laki itu akan selalu mengatakan hal serupa ketika bertemu dengan dirinya dengan maksud untuk menenangkan perasaannya. Namun, tetap saja Kanin merasa sangat bersalah sehingga perasaannya bahkan sama sekali tidak bisa tenang.
“Makasih, Kakek. Nggak ada yang lebih ngerti perasaanku tentang ini daripada Kakek,” ujar Kanin lalu menggenggam erat kedua tangan keriput laki-laki di depannya.
Brata tersenyum lembut hingga guratan-guratan di wajahnya terlihat semakin jelas. Tangannya yang renta kemudian bergerak mengusap halus permukaan kepala Kanin penuh kasih sayang.
Hubungan di antara keduanya sudah bukan lagi sekadar hubungan dari dua orang yang hanya saling mengenal. Brata menganggap Kanin sebagai cucunya sendiri, begitu juga sebaliknya. Sehingga ketika Kanin merasa tidak ada alasan sama sekali untuk menikah dengan Kegan selain keinginan neneknya di masa lalu, wanita itu menemukan Brata sebagai alasan terkuatnya setuju menikah dengan Kegan.
“Kegan sampai sekarang belum tau kejadian tentang itu, kan?” tanya Brata yang seketika membuat Kanin menatap ke arahnya.
“Belum dan sebaiknya Kegan memang nggak pernah tau kejadian itu. Aku takut dia malah jadi nyalahin diri sendiri,” jawab Kanin dengan seutas senyum tipis. “Cukup aku yang ngerasa bersalah karena bertindak gegabah waktu itu. Kegan nggak perlu tau kejadiannya sama sekali.”
“Kamu masih sayang Kegan,” cetus Brata tiba-tiba. “Itu alasan kenapa waktu itu kamu nekat datang buat nyelametin cucu Kakek.”
--
Kegan pernah hampir mati ketika usianya baru menginjak dua puluhtahun. Saat itu, dia masih bersekolah di salah satu universitas di Jerman dan harus tinggal seorang diri. Nasib malang menimpanya ketika dia mengalami kecelakaan parah yang membuatnya kehilangan begitu banyak darah.
Entah bagaimana cerita yang sebenarnya saat itu, Kegan hanya tahu bahwa dirinya diselamatkan oleh seseorang yang rela datang bersama keluarganya untuk memberikan darah untuknya. Kegan sama sekali tidak mengingat siapa orang itu karena dari pihak keluarganya pun tidak mengatakan siapa pendonornya dan selalu mengatakan bahwa Kegan mendapat pertolongan darah dari rumah sakit.
Ketika kenangan beberapa tahun silam melingkupi pikirannya, Kegan akan kembali teringat dengan semua pertanyaan yang bercabang di kepalanya. Laki-laki itu sungguh penasaran dengan siapa yang sudah menyelamatkan nyawanya saat itu karena dirinya bahkan tidak sempat berterima kasih.
“You look so tired.”
Laki-laki yang sedang termenung di balkon kamarnya itu terperanjat saat mendengar suara Kanin di sekitarnya. Kegan dengan cepat menoleh dan mengernyitkan dahi kebingungan saat melihat Kanin yang sekarang sudah berdiri di sebelahnya dengan raut wajah bodo amat seperti biasanya.
“How can you enter to my room?” tanya Kegan dengan nada tidak suka.
“Ya, tinggal masuk aja,” balas Kanin sesukanya. “Pintunya nggak ketutup.”
“No. How can you be here?” Kegan menatap Kanin dengan kening mengernyit.
Kanin menolehkan kepala dan menatap ke arah Kegan dengan sebelah alisnya yang terangkat. Wanita yang tampak cantik dalam balutan blouse putih dengan rok panjang sebatas betis berwarna cokelat muda itu hanya menatap sekilas ke arah Kegan tanpa ekspresi apa pun di wajahnya.
“Dateng buat ketemu Kakek,” ujarnya kemudian.
“Then why you coming here?” tanya Kegan sekali lagi.
“Why you asking too much why?” Kanin menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan seolah dia kebingungan.
Kegan menggelengkan kepala lalu berkacak pinggang menatap ke arah Kanin. Laki-laki itu sudah sangat lelah seharian berada di kantor dan sekarang ketika pulang dan ingin beristirahat, dia malah bertemu dengan manusia menyebalkan seperti Kanin. Sungguh buruk hari Kegan hari ini.
“Udah ketemu Kakek?” tanya Kegan, dan Kanin langsung mengangguk. “Jadi sekarang pergi dari kamar saya. Oh, bukan. Pergi dari rumah saya.”
“Why? Ini bakal jadi rumahku juga, kan?” Kanin menanggapi pengusiran itu dengan sangat santai.
“But not now. Selama kita belum resmi nikah, kamu bukan bagian dari rumah ini,” sanggah Kegan dengan tatapan datar.
Kanin mengedikkan bahunya sekilas. “Sama aja bakal jadi bagian rumah ini.”
Mendengar jawaban yang sangat menyebalkan itu, Kegan menarik napas panjang-panjang lalu mengembuskannya perlahan. Berbicara dengan Kanin, apalagi dalam situasinya yang sedang lelah seperti ini benar-benar membuat suasana hatinya memburuk sepuluh kali lipat.
“Go away, Kanin. Pergi sebelum saya bener-bener ngusir kamu,” peringat Kegan sekali lagi.
“Kakek ngomongin tanggal pernikahan.” Alih-alih memberikan tanggapan sesuai ucapan Kegan, wanita itu lebih memilih mengalihkan pembicaraan. “Beliau mau pernikahannya dimajukan jadi satu bulan lagi.”
Kedua alis Kegan menyatu saat mendengar informasi yang diberikan oleh Kanin. Meskipun tidak mempermasalahkan kapan pernikahannya akan dilangsungkan karena percuma baginya, tetap saja Kegan sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan oleh Kanin.
“Are you lying?” tanya laki-laki itu pada akhirnya.
Kanin mendongakkan kepala lalu menatap jengah ke arah Kegan. “Just ask your grandfather if you don’t believe me.”
“Tapi bulan depan terlalu mendadak,” sahut Kegan lalu duduk di kursi yang terletak di sebelahnya.
“Kakek bilang nggak usah khawatir. Kita tinggal dateng terus nikah di Gereja. That’s all.” Kanin ikut duduk di kursi sebelah Kegan.
Kegan menghela napas panjang lalu menutup matanya. “Kamu bikin saya darah tinggi.”
“Daripada anemia,” balas Kanin. “Besok dateng ke butikku kalau nggak sibuk. Kita fitting baju.”
--