“Kegan.”
Anelis menyambut putranya dengan suara pelan yang terdengar lirih. Sekali lagi, sepanjang hidupnya Kegan sama sekali belum pernah mendengar suara ibunya selirih ini. Bahkan wanita yang biasanya tampak tidak jauh berbeda dari Kanin—dingin dan tak tersentuh itu menunjukkan ekspresi wajah cemas yang juga terkesan sedih.
“Dokter bilang apa?” tanya Kegan cepat.
“Kondisinya nggak bagus. Kemungkinan selamat kecil banget kali ini,” jelas Anelis dengan suara bergetar.
Kegan spontan mengcak rambutnya dengan frutasi. Laki-laki itu sungguh tidak tahu harus berpikir bagaimana lagi saat ini ketika semua hal terasa begitu kacau saat ini. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengendalikan perasaannya yang saat ini seperti sedang menggebu dengan kesedihan serta rasa putus asa yang luar biasa.
“Kegan…”
Suara lirih yang terdengar sangat pelan itu membuat Kegan menoleh. Kakeknya memanggilnya dengan begitu lirih sehingga Kegan dengan cepat berjalan mendekati laki-laki tua itu. tangannya bergerak spontan menggenggam tangan keriput sang kakek yang terasa sangat dingin di dalam genggamannya.
“Iya, Kakek. Aku di sini,” ujar Kegan lalu membawa tangan kakeknya ke samping wajahnya.
“Kanin…”
Mendengar namanya disebut, Kanin dengan cepat berjalan mengikuti Kegan dan berdiri di sebelah wanita itu. tatapannya mengarah kepada Brata yang saat ini berusaha menatapnya dengan pandangan lurus. Laki-laki tua itu kesulitan bernapas meskipun di tubuhnya kini terpasang begitu banyak alat penunjang kehidupan, termasuk selang oksigen yang menutupi sebagian wajahnya.
“Kalian … menikah.”
Kegan dan Kanin saling pandang ketika mendengar ucapan Brata yang keluar dengan terbata-bata di tengah susahnya laki-laki itu unuk menghirup udara. Selama beberapa saat mereka terdiam satu sama lain hingga akhirnya Kegan mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah Brata. Laki-laki itu kembali menggenggam tangan kakeknya dengan begitu erat.
“Kami akan menikah. Kakek harus sembuh biar bisa lihat aku sama Kanin nikah,” ujar Kegan dengan suara bergetar di ujung kalimatnya
Sementara itu, Kanin hanya mengangguk dan berusaha sebisa mungkin untuk menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman ketika perasaannya saat ini dilingkupi oleh gejolak aneh yang selalu dia rasakan ketika datang ke rumah sakit. Rasanya, batas Kanin untuk tetap berada di tempat ini sudah semakin menipis dan wanita itu tidak lagi bisa menahan rasa takutnya.
Brata mengulas sebuah senyum tipis sebelum laki-laki itu menutup matanya perlahan. Semua orang yang berada di ruangan itu sempat panik ketika Brata memejamkan mata. Tetapi suara monitor detak jantung yang tetap berbunyi serta napas Brata yang terdengar berat masih terdengar cukup membuat mereka tenang selama beberapa saat lamanya.
Pegangan tangan Kegan pada tangan kakeknya perlahan terlepas dan laki-laki itu seketika mengusap wajahnya kasar. Kini dia melihat ke arah Kanin yang masih berdiam diri dengan tatapan kosong serta wajah yang terlihat pucat pasi. Kegan tahu bahwa saat ini keadaan Kanin tidak cukup baik, sama seperti beberapa waktu lalu ketika wanita itu tiba-tiba terlihat kacau dan mendadak keluar dari area rumah sakit.
“Aku sama Kanin keluar dulu, Ma, Pa. Nanti kalau Kakek sadar, telepon aku,” ujar Kegan menatap bergantian ke arah Anelis dan Raden.
Dua orang dewasa itu mengangguk dan menatap ke arah Kanin. Mereka berdua tahu bahwa Kanin tidak akan bisa berlama-lama tinggal di rumah sakit apalagi dalam keadaan mencemaskan seperti sekarang. Dan keduanya sungguh tersentuh dengan keberanian Kanin yang sampai harus datang untuk melihat keadaan Brata meskipun wanita itu ketakutan setengah mati dengan rumah sakit.
“Ayo,” ajak Kegan lalu kembali meraih tangan Kanin dan membawanya ke dalam genggaman.
--
Kegan langsung membawa Kanin masuk ke dalam mobilnya begitu mereka berdua keluar dari rumah sakit. Laki-laki itu masih belum bertanya apa yang terjadi kepada Kanin karena wanita di sebelahnya masih terlihat terguncang selama beberapa saat. Kegan membiarkan Kanin duduk di kursi di sebelahnya dan memberikan air kepada wanita yang wajahnya pucat pasi saat ini.
Sementara itu, menyadari bahwa dirinya sudah menjauh dari area rumah sakit yang selama beberapa waktu lalu membuat Kanin tidak bisa bernapas bebas, wanita itu perlahan menenangkan perasaannya. Kanin berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak tergerus dengan rasa takut yang hanya akan membuat dirinya terlihat lemah dalam waktu yang lama di hadapan Kegan.
“Feeling better?” tanya Kegan setelah sekian lama mereka berdua tanpa satu pun yang berbicara.
Kanin menolehkan kepala ke arah laki-laki di sebelahnya. Bahkan saking takutnya dia beberapa waktu lalu dan sampai sekarang, Kanin tidak menyadari bahwa Kegan masih terus menggenggam tangannya tanpa melepaskannya sebentar saja. Kanin membiarkan Kegan terus menggenggam tangannya tanpa merasa bahwa laki-laki itu mungkin menjadi satu-satunya orang yang akan ia hindari dalam situasi menyedihkannya seperti ini.
“Lumayan,” balas Kanin seraya perlahan melepaskan genggamannya pada tangan Kegan. “Thank you.”
“I should thanks to you,” sahut Kegan cepat.
Selama ini, Kegan selalu menganggap apa pun yang berkaitan dengan kakeknya adalah sesuatu yang harus benar-benar dia hargai. Termasuk Kanin yang sudah bersedia datang menjenguk kakeknya padahal keadaan wanita itu tidak memungkinkan untuk datang ke rumah sakit.
Sehingga kali ini Kegan ingin melupakan semua rasa benci dan kesalnya terhadap Kanin dan membiarkan hati nuraninya berbicara. Laki-laki itu mengakui bahwa Kanin adalah wanita baik yang mungkin selama ini salah dinilainya karena penampilan luar wanita itu yang memang luar biasa menyebalkan.
“Gimana sekarang? Kita nggak mungkin abaikan permintaan Kakek, kan?” Kanin mengalihkan pembicaraan mereka ke arah topik yang lebih serius. “I think we should prepare our wedding as fast as soon.”
Kegan menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Permintaan kakeknya dalam situasi darurat seperti ini adalah salah satu yang membebani perasaannya. Kegan yang semula ingin mengulur waktu agar pernikahannya dengan Kanin tidak dilaksanakan dalam kurun waktu dekat, sekarang terpaks memajukan pernikahan mereka dari kesepakatan semula.
Meskipun Kegan sudah menemukan satu sisi baik Kanin yang berhasil membuat perasaannya sedikit melunak, tetap saja tidak ada perasaan apa pun di dalam hatinya untuk wanita itu. kegan masih begitu mencintai Nadeline hingga rasanya sama sekali tidak ada ruang untuk Kanin di dalam hatinya. Dan hal tersebut, entah mengapa sekarang membuat Kegan merasa terganggu.
“We must,” jawab Kegan. “Mau nggak mau kita harus percepat pernikahannya. Pemberkatan gereja buat sekarang saya rasa cukup.”
Giliran Kanin yang menghela napas mendengar ucapan Kegan. Pernikahan impiannya yang mungkin hanya akan terjadi satu kali seumur hidupnya terpaksa dilakukan dengan cara sangat sederhana dan dengan seseorang yang bahkan tidak mencintainya. Kanin sungguh ingin menolak, tapi keadaan mereka saat ini sungguh tidak memungkinkannya untuk banyak menuntut.
“Okay. Kita urus secepatnya,” balas Kanin.
--
Setelah beberapa hari menahan dirinya untuk tidak mendatangi Amara, pada akhirnya Galeo kalah dengan perasaannya. Laki-laki itu mendatangi rumah Amara setelah menanggalkan segala jenis ego yang berkeliaran di dalam kepalanya. Rasa khawatirnya terhadap keadaan Amara saat ini juga ikut menjadi penyebab kenapa Galeo akhirnya memutuskan untuk datang
“Galeo?”
Wanita muda itu berdiri di depan pintu rumahnya dengan pandangan kebingungan karena Galeo yang berdiri di hadapannya. Selama beberapa hari terakhir, laki-laki di depannya ini bahkan sama sekali tidak mencoba menghubunginya lewat sosial media. Dan sekarang secara mengejutkan, Galeo sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
“Ra,” ujar Galeo dengan suara pelan.
Laki-laki itu mendekatkan tubuhnya ke hadapan Amara lalu memeluk wanita di depannya begitu erat. Galeo menumpukkan dagunya di atas bahu Amara dan memejamkan mata dengan tangan yang merengkuh erat tubuh wanita yang sangat dia sayangi.
Galeo merasa bahwa dunia sempat akan runtuh saat melihat keadaan Amara beberapa hari lalu. Dia bahkan tidak bisa mengendalikan emosinya selama beberapa saat sehingga ketika Amara secara tersirat memintanya untuk tetap menetap dengan dalih mengusirnya, Galeo malah langsung pergi tanpa berniat memahami maksud ucapan wanita itu. galeo hanya merasa tidak kuat jika harus melihat keadaan Amara yang menyedihkan saat itu.
“I’m so sorry,” lirih Galeo dalam pelukan Amara.
Tangan Amara yang sejak tadi membeku di sebelah tubuhnya usai Galeo memeluknya perlahan bergerak. Wanita itu membalas pelukan Galeo dan semakin mengeratkan tubuhnya dalam dekapan laki-laki itu.
Seberapa keras pun Amara berusaha menyangkal keberadaan Galeo dan betapa dirinya membutuhkan laki-laki itu, tetap saja dia tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri. Amara tidak bisa memungkiri bahwa hanya bersama Galeo dia bisa merasakan apa arti sebuah ketenangan yang berhasil membuat perasaannya sedikit membaik.
“Bukan salah kamu,” balas Amara, masih dalam posisi memeluk erat tubuh Galeo.
“Aku ninggalin kamu,” bantah Galeo. “Aku salah. Harusnya aku tetap di sini sama kamu.”
Amara menggelengkan kepalanya dan tepat saat itu juga, air mata menuruni wajahnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menahan air matanya yang menetes terus menerus karena sikap Galeo yang benar-benar tulus terhadapnya.
“That’s not your fault. Aku yang memang minta kamu pergi,” pungkas Amara lalu melepaskan pelukan mereka perlahan. “Dan aku salah kalau bilang aku nggak perlu kamu, Gal. I need you so much.”
Galeo mengulas sebuah senyum tipis di wajahnya saat matanya beradu pandang dengan dua netra indah milik Amara. Mendengar penuturan wanita itu sebagai sebuah perasaan yang sesungguhnya, Galeo sudah cukup senang mendengarnya. Mengetahui bahwa Amara membutuhkannya sudah lebih daripada cukup untuk membuat Galeo tetap bertahan di sisi wanita itu.
“You need me and I think that was enough,” ungkap Galeo. “I will always be here for you, Ra. Nggak peduli seberapa sering kamu minta aku pergi, aku bakal selalu di samping kamu kedepannya.”
Amara tersenyum tulus mendengar ucapan Galeo. Tidak pernah sekali pun dia meragukan bagaimana tulusnya perasaan yang dimiliki oleh Galeo terhadapnya. Laki-laki itu bahkan akan memberikannya dunia jika saja dia memintanya.
Namun, keadaan mereka dan latar belakang keluarga keduanya yang bertolak belakang adalah satu-satunya hal yang membuat Amara ragu dengan Galeo. Wanita itu percaya Galeo sepenuhnya, tetapi tidak dengan situasi keluarga mereka saat ini.
Berbeda dengan keluarga Kegan yang memang memiliki nama serta reputasi yang sangat baik serta hubungan begitu dekat dengan keluarga Galeo, keluarganya sedikit berbeda. Amara lahir dari hubungan yang tidak direstui oleh keluarga besarnya sehingga kedudukannya di keluarga Dikara tidak bisa dikatakan baik.
Tetapi untuk saat ini, Amara ingin melupakan semua hal yang menghalangi pikirannya dan membiarkan hubungannya bersama Galeo berjalan dengan sebagaimana mestinya.
“Thank you, Gal,” ujar Amara pelan. “Thank you for everything.”