Kanin memejamkan matanya ketika dia sudah berada di ruang kerjanya. Kejadian yang terjadi dalam beberapa hari terakhir benar-benar menguras pikirannya sehingga banyak hal yang tidak bisa dia kerjakan. Rencana awalnya yang akan mengadakan peragaan busana sebelum pernikahannya digelar terpaksa dibatalkan karena keadaan Brata yang juga ikut membuatnya cemas dan tidak fokus menjalani pekerjaannya. Proyek yang seharusnya sudah selesai sejak satu minggu lalu, sampai saat ini masih berada dalam tahap pengerjaan hingga kliennya bahkan beberapa kali menghubunginya untuk memastikan pesanan mereka memang benar dikerjakan.
Sebagai seorang perempuan yang tidak pernah bisa melepaskan dirinya dari pekerjaan, Kanin merasa bahwa ini adalah saat terburuk dalam karirnya. Berbagai rancangan pakaian yang sudah siap dikerjakan mendadak berubah haluan menjadi hal yang tidak ingin Kanin sentuh sama sekali. Padahal, sejak dulu Kanin selalu menempatkan pekerajaan desainnya di urutan pertama dari beragam prioritas hidupnya.
Dunia desain dan seni adalah satu hal yang begitu melekat di dalam diri Kanin selama ini. Wanita itu bisa menghabiskan waktu yang sangat lama hanya untuk melakukan observasi terhadap karya terbarunya dengan detail yang luar biasa sulit jika dikerjakan oleh orang lain selain dirinya. Kecintaan Kanin teradap dunia fashion sudah mendarah daging dan menjadi bagian dari dirinya yang tidak akan pernah bisa dihilangkan sampai kapan pun.
“Mbak Kanin.” Panggilan dari luar ruangannya membuat Kanin mengerjap dari lamunan.
“Masuk aja, Ra,” suruh Kanin ketika tahu bahwa orang itu adalah Naira.
Beberapa saat setelahnya, Naira datang setelah membuka pintu ruang kerja atasannya yang baru kembali sejak kemarin ke kantor. Wanita dengan rok span serta kemeja berwarna krem itu tersenyum tipis ke arah Kanin yang terlihat tidak cukup baik, dilihat dari ekspresi wajahnya serta bibirnya yang sedikit pucat.
“Kemarin Mrs. Liliana dateng buat nanyain udah sampai mana proses gaunnya,” lapor Naira seraya menyerahkan iPad ke arah Naira. “Dan ini laporan penjualan bulan ini. Lumayan turun banyak.”
“Kamu bilang apa ke Mrs. Liliana?” tanggap Kanin dengan tatapan yang masih fokus ke arah tab di tangannya.
“Aku bilang udah mulai diproses. Beliau nanyain kamu dan aku jawab lagi ada acara keluarga,” jelas Naira berusaha serinci mungkin.
Kanin mendongakkan kepalanya ke arah Naira lalu tersenyum puas. Kinerja salah satu pegawai yang juga merangkap sebagai teman bicaranya ini memang sudah tidak diragukan lagi. Dalam keadaan mendesak dan sangat dibutuhkan, Naira akan menjadi salah satu penyelamatnya dengan segala ide brilian gadis itu.
“As always, you did your best,” puji Kanin dengan senyum lebar.
Naira membalas pujian itu dengan tawa kecil dan anggukkan kepala samar. Tatapannya pun sekarang fokus mengarah kepada kantung mata di bawah mata Kanin yang terlihat menghitam.
“Kamu ada masalah akhir-akhir ini, Mbak?” tanya Naira pada akhirnya.
“Banget. Aku stres banget sama semua yang terjadi belakangan,” jawab Kanin seraya menghela napas panjang lalu meletakkan tab di atas meja. “Nikahanku maju jadi tiga hari lagi.”
Kedua bola mata Naira membesar saat dia mendengar perkataan Kanin. Semua yang terjadid alam kisah asmara Kanin selama ini memang sudah biasa penuh kejutan, tapi untuk yang satu ini Naira bahkan tidak bisa menduganya sama sekali. Pernikahan yang semula direncanakan satu bulan dari sekarang mendadak berubah menjadi tiga hari lagi. Sungguh perubahan waktu yang sangat drastis dan terlalu tiba-tiba
“Are you serious?” tanya Naira tidak percaya. “Tiga hari loh, Mbak. Emangnya persiapan udah selesai pas itu?”
“I don’t want to believe this too,” balas Kanin seraya menggelengkan kepala pelan. “Tapi keadaannya benar-benar mendesak dan diputusin buat gelar pemberkatan aja dulu. Asal nikah aja dulu, katanya.”
Naira terdiam mendengar jawaban yang diberikan oleh Kanin. Mengenal wanita itu selama hampir lima tahun sejak dia masih jadi mahasiswa semester awal, Naira tentu saja tahu bahwa mimpi terbesar Kanin selain melebarkan sayapnya di kancah internasional adalah menikah dengan acara luar biasa mewah. Kanin berkeinginan untuk menjadikan momen pernikahannya menjadi moment yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya. Dan hanya melakukan pemberkatan gereja tanpa acara lainnya, sungguh bukan yang Kanin inginkan selama ini.
“Are you really fine with that?” Naira bertanya dengan hati-hati. “Maksudku … pemberkatan gereja sedikit…”
“I know. Sedikit mengecewakan walaupun ya, tetep aja inti pernikahan pas ngucap janji,” potong Kanin dengan senyum kecut. “Tapi aku juga pengen resepsi meriah.”
“Mbak, I’m sorry for asking you this. Tapi kamu beneran bakal nikah sama orang asing yang bahkan nggak kamu cinta?” Naira menatap ragu ke arah Kanin ketika menanyakan pertanyaan yang membelenggu di dalam kepalanya sejak beberapa waktu lalu.
Kanin menghela napas panjang usai mendengar pertanyaan dari Naira yang juga selama ini ikut dipertanyakan oleh hatinya. Jika ditilik lagi, Kegan mungkin bukan orang asing baginya. Kanin juga pernah memiliki perasaan untuk Kegan meskipun itu berakhir mengenaskan hingga membuat Kanin memiliki banyak trauma. Namun tetap saja bahwa selama beberapa tahun ini, Kegan seolah menghilang dari hidupnya dan dia sudah hampir memulai kisah baru bersama Agam jika saja keluarganya tidak mengingatkannya dengan janji pernikahan masa lalu yang dibuat oleh neneknya dengan pihak keluarga Kegan.
Kegan adalah orang asing sekaligus orang yang juga pernah hadir dalam dunianya di masa lalu. Laki-laki itu pernah menemani masa remajanya selama beberapa tahun, bahkan mereka juga sudah bersama sejak kecil. Kebersamaan yang tidak ada artinya bagi Kegan itu, ternyata adalah salah satu alasan kenapa Kanin menyetujui pernikahan tidak masuk akal ini selain karena permintaan neneknya dulu.
“Aku udah kenal sama Kegan sejak lama meskipun nggak bisa dibilang deket,” jawab Kanin. “Dan buat perasaan cinta, kayaknya aku nggak perlu itu buat menikah sama dia.”
Naira mengernyitkan dahi mendengar jawaban yang diberikan oleh Kanin. Semua teka-teki di dalam kepalanya belum terpecahkan dan sekarang semakin bertambah rumit ketika Kanin memberikan jawabannya.
“Kamu masih sayang sama Mas Agam?” tanya Naira pada akhirnya.
Kanin tersenyum pahit. “Tentu aja. Agam is the one I love right now. I love him, so much.”
Perasaannya terhadap Agam mungkin akan menghilang dengan seiring waktu, apalagi setelah dia sudah resmi menjadi istri Kegan. Sehingga saat ini, Kanin benar-benar ingin menikmati seluruh waktunya untuk mencintai laki-laki itu dengan sepenuh hatinya. Kanin ingin terus mencintai Agam, hingga nanti batas waktu mereka sudah benar-benar berakhir di masa depan.
“Aku nggak ngerti sama kehidupanmu, deh,” cetus Naira seraya menggelengkan kepala. “terlalu ribet.”
Kalimat itu ditanggapi Kanin dengan tawa kecil. Semua yang dikatakan Naira memang benar. Kehidupannya terlalu rumit untuk dimengerti oleh orang-orang yang tidak pernah berada di posisinya.
“Kadang ada banyak hal yang keliatannya biasa aja dari luar, ternyata luar biasa rumit di dalamnya. Dan yang kelihatannya ribet, ternyata Cuma berjalan dengan sebagaimana mestinya dia jalan.”
--
Kabar pernikahan Kanin dan Kegan yang dimajukan dari rencana semula ternyata sudah sampai kepada Agam. Laki-laki yang saat ini memegang salah satu posisi tertinggi di perusahaannya itu mencengkram erat-erat meja kerjanya dengan emosi yang menyelimuti perasaannya. Agam tidak pernah semarah dan sekecewa ini kepada apa pun sebelumnya.
Kanin berhasil membuat Agam kehilangan kepercayaan terhadap semua hal, termasuk terhadap perasaan cinta yang entah mengapa saat ini terengar seperti bualan semata untuknya. Sejak Kanin memutuskannya secara sepihak di pesta pernikahan kakaknya, Agam masih bisa memaklumi tindakan wanita itu dan menganggap Kanin hanya sedang kehilangan kepercayaan diri selama beberapa waktu.
Lalu ketika Kanin datang untuk membela Kegan di depan matanya sendiri, Agam mulai meragukan bagaimana perasaan wanita itu kepadanya selama ini. Hingga kemudian hari ini, saat di pagi hari dia mendengar bahwa wanita yang selama beberapa tahun ini mengisi hatinya akan menikah besok dengan seseorang yang bahkan tidak pernah dia ketahui sama sekali, kepercayaan Agam hancur sepenuhnya untuk segala hal.
“Selamat pagi, Pak Agam.”
Laki-laki itu mengalihkan tatapannya dari layar laptop ke arah depan dan melihat salah satu karyawannya berdiri di depannya. Agam menghela napas panjang lalu menampilkan wajah yang seolah menjelaskan bahwa saat ini dia sama sekali tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
“Informasi yang Anda minta kemarin sudah selesai saya cari,” ujar pegawainya itu.
“Kirim ke email saya langsung,” perintah Agam yang ditanggapi anggukkan kepala oleh laki-laki di depannya.
“Sudah, Pak,” ujarnya kemudian. “Kalau begitu saya permisi.”
Setelah itu, laki-laki yang merupakan asisten pribadi Agam beranjak dari ruangan atasannya. Laki-laki bernama Bras itu tahu bahwa saat ini suasana hati atasannya sedang buruk sehingga dia tidak ingin tetap berdiam diri di sana yang hanya akan menambah kacau perasaan Agam.
Agam kembali memusatkan perhatiannya kepada layar komputer yang saat ini memperlihatkan beberapa dokumen yang telah dikirim oleh bawahannya. Ekspresi wajah laki-laki itu tampak datar, tanpa sedikit pun emosi di dalamnya. Namun, di balik wajah datar itu, nyatanya Agam merancang begitu banyak hal yang saat ini seperti sedang membuncah di dalam kepalanya.
“Kegan Bratadikara,” gumam Agam, pelan dan menghanyutkan.
--
Akibat dari kejadian beruntun yang menimpanya beberapa hari ini, Kegan merasa bahwa pekerajaannya ikut terganggu. Beberapa proyek yang sudah dijadwalkan akan selesai dalam kurun waktu satu bulan ini macet di tengah jalan karena Kegan yang tidak bisa mengawasinya secara langsung. Begitu juga dengan beberapa investor yang menarik kerja sama mereka dengan perusahaannya sehingga membuat perusahaan Kegan perlahan kehilangan sumber dana hingga mencapai titik tertinggi
Kegan sempat menghiraukan masalah itu dan menganggap semuanya akan berjalan normal ketika dirinya sudah bisa fokus mengerjakan satu per satu pekerjaannya. Setelah pernikahannya dengan Kanin yang akan dilangsungkan besok, maka Kegan akan bisa mengurus segala sesuatunya dengan lebih fokus sehingga tidak akan berdampak lebih buruk lagi daripada ini.
Laki-laki itu tengah membaca laporan pengeluaran perusahaan di kamarnya ketika pintu kamar itu terbuka. Kegan dengan terpaksa mengarahkan pandangannya ke depan, lalu tersenyum tipis saat melihat ibunya datang dengan satu nampan berisi segelas kopi lengkap dengan beberapa cemilan.
“Istirahat dulu, Ke. Besok kamu menikah,” ujar Anelis yang saat ini duduk di sebelah putranya.
“Ini leluhur kita beneran nggak bakal marah kalau aku Cuma nikah dengan pemberkatan aja?” Kegan meletakkan laptop lalu mendekat ke arah ibunya.
Anelis mengangkat sebelah alisnya ke arah Kegan. “Apa maksudnya?”
“Keluarga kita nggak pernah bikin acara besar apalagi pernikahan tanpa tradisi, Ma. Semuanya harus berjalan sesuai pakem dan ini pertama kalinya keluarga kita ngadain pernikahan tanpa ngikutin adat,” jelas Kegan.
Selama beberapa generasi, keluarga Dikara memang selalu mengutamakan tradisi yang sudah terjaga turun-temurun dari leluhur mereka. Segala sesuatu yang menyangkut upacara harus berjalan sesuai dengan tradisi yang ada dan ini adalah pertama kalinya bagi keluarga besar Dikara melangsungkan pernikahan yang sama sekali tidak melibatkan tradisi apa pun.
“It’s okay. Ini juga karena permintaan kakek kamu. Nggak bakal ada yang bisa nentang beliau,” balas Anelis lalu mengusap pelan pundak Kegan. “Setelah hari ini, tanggung jawabmu berubah, Ke. Kamu akan jadi suami orang.”
“Dan aku sama sekali belum siap buat tanggung jawab itu,” sambar Kegan malas.
“Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus bisa jalanin ini,” balas Anelis. “Pada akhirnya kamu yang akan meneruskan keluarga ini, Kegan. Dan menikah dengan pilihan kakekmu adalah salah satu syaratnya.”
Kegan menghela napas panjang lalu menganggukkan kepalanya sekilas. Tidak akan ada yang bisa dia lakukan ketika dirinya terjebak dalam situasi seperti ini. Apa pun keinginannya, semuanya akan terbatasi dengan dalih bahwa kewajibannya sebagai cucu dan keturunan langsung pemilik darah keluarga Dikara adalah mengikuti apa saja perintah dari para tetua.
Dan sayangnya, menikahi Kanin termasuk ke dalam perintah yang tidak bisa Kegan hindari itu.
p>