Upacara pemberkatan itu sudah selesai sejak satu jam lalu dan sejak saat itu juga, Kanin dan Kegan sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Tidak pernah keduanya bayangkan bahwa mereka akan sampai di tahap ini. Menjadi pasangan suami istri setelah mengikat janji pernikahan, lalu selanjutnya menjalani kehidupan pernikahan selayaknya pasangan pada umumnya. Semuanya seperti sebuah mimpi yang bahkan tidak ada di dalam bayangan mereka sebelumnya.
Kanin sedang duduk di dalam kamar Kegan yang mulai saat ini juga menjadi kamarnya. Wanita itu masih menggunakan gaun pengantin berwarna putih dengan potongan sederhana, tetapi bukan gaun yang dipilih Kegan beberapa minggu lalu. Karena keadaan yang tidak memungkinkan dan pernikahan mereka harus dilangsungkan secepatnya, rancangan gaun pernikahan Kanin hanya bisa menjadi angan-angan tanpa bisa dia gunakan.
“Habis ini kita ke rumah sakit.” Kegan masuk ke dalam kamarnya seraya melepaskan dasi dengan sebelah tangan.
“Tunggu,” sambar Kanin ketika melihat Kegan hendak membuka baju.
Gerakan tangannya terhenti di atas kancing bajunya saat Kanin menyuruhnya menunggu. Tatapan Kegan saat ini mengarah kepada Kanin dengan sebelah alis terangkat kepada wanita yang masih menggunakan gaun pernikahan lengkap itu.
“Kenapa?” tanya Kegan kemudian.
“Kita pakai ini ke rumah sakit,” ujar Kanin yang semakin membuat kening Kegan mengernyit dalam-dalam.
“What are you…”
“Biar kakek bisa liha kita pakai baju pengantin secara langsung,” potong Kanin yang seketika membuat Kegan terdiam. “Lagian kamu nggak ribet-ribet amat. Cuma jas aja, kan?”
Kegan mengembuskan napas panjang mendengar ucapan Kanin. Pakaiannya saat ini memang tidak terlalu rumit seperti kebanyakan pengantin lainnya karena Kegan hanya menggunakan setelan kemeja lengkap berwarna biru gelap. Yang menjadi pusat perhatian seharusnya adalah Kanin, wanita itu menggunakan gaun pengantin panjang yang tentu saja akan sangat menyusahkan
“But are you sure want to go?” Kegan memperhatikan Kanin dengan saksama. “Terakhir kali kita ke rumah sakit, kamu udah hampir pingsan.”
“Asal kamu genggam tanganku,” balas Kanin yang ditanggapi oleh Kegan dengan sebelah alis terangkat. “Aku ngerasa lebih tenang waktu kamu genggam aku,” lanjut wanita itu kemudian.
“Kamu cinta saya?”
Kanin terdiam. Tatapannya seketika bergeliat ke segala arah saat mendengar pertanyaan Kegan yang terlontar secara tidak terduga. Dia sungguh tidak menyangka bahwa Kegan akan melemparkan pertanyaan seperti itu dalam keadaan mendadak seperti ini sehingga Kanin tidak memiliki jawaban untuknya.
Sementara itu, karena tidak ada jawaban yang diberikan oleh Kanin, sekarang Kegan memperhatikan wanita itu dengan saksama. Tatapannya menilik ekspresi wajah Kanin yang sekilas terlihat panik tetapi berusaha disembunyikan oleh wanita itu dengan menghindari pandangannya.
“Kamu … nggak mungkin, kan?” tanya Kegan sekali lagi.
Kanin seketika menoleh ke arah laki-laki di depannya lalu menggeleng dengan seutas senyum sinis di wajahnya. “Nggak mungkin. Jangan GR.”
Embusan napas kencang keluar dari bibir Kegan ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Kanin. Seharusnya tidak ada yang dia harapkan selain jawaban seperti tadi serta tatapan mata malas yang ditunjukkan oleh Kanin ketika menjawab pertanyaannya. Wanita itu akan selalu menyebalkan dan seharusnya Kegan sudah mengetahuinya sejak awal.
“Ayo. Kita ke rumah sakit,” cetus Kegan kemudian.
Tangannya terulur ke arah Kanin yang ditanggapi oleh wanita itu dengan kernyitan asing. Dibanding dengan kali pertama mereka berinteraksi setelah sekian lama, sikap yang ditunjukkan oleh Kegan saat ini sangat jauh berbeda. Kegan berubah menjadi sedikit hangat yang entah mengapa malah membuat Kanin terjebak dalam kebingungan yang membuat hatinya bertanya-tanya.
--
Tangan Kanin bergetar hebat ketika dia dan Kegan mulai memasuki area rumah sakit. Kenangan itu seperti menariknya masuk ke dalam lubang paling gelap sehingga tidak ada ruang sedikit pun baginya untuk merasa bebas. Kanin merasa seperti dirinya sedang terjebak di ruangan itu dan napasnya seketika tercekat dalam kegelapan
Kanin masih ingat bagaimana saat itu dirinya harus menyaksikan orang yang paling berharga di dalam hidupnya meregang nyawa di depan matanya sendiri. Ingatan itu masih terasa sangat segar sehingga ketka Kanin datang ke tempat terakhir orang itu mengembuskan napasnya, Kanin merasa bahwa ada begitu banyak rasa sakit yang menyergap dadanya seketika.
“Sebentar,” cetus wanita itu ketika Kegan menarik tangannya mendekat.
Kegan yang sejak tadi menatap ke depan, perlahan menolehkan kepalanya ke arah Kanin dan menatap wanita itu datar. Sampai saat ini, Kegan sama sekali tidak tahu alasan di balik ketakutan Kanin yang sangat tidak wajar jika mereka datang ke rumah sakit. Wanita itu seperti memiliki trauma yang bahkan tidak Kegan ketahui penyebabnya apa.
“Ayo,” ujar laki-laki itu kemudian.
Tatapan Kanin mengarah sepenuhnya kepada Kegan dengan pandangan memohon. Saat ini, jantungnya berdetak begitu kencang dengan rasa takut yang menyelimuti dirinya dengan begitu ganasnya. Kanin bisa merasakan bagaimana tangannya yang saat ini masih berada dalam genggaman Kegan mulai bergetar dan berkeringat.
Kanin masih belum beranjak meskipun Kegan sudah berusaha menariknya mendekat. Wanita itu tetap pada tempatnya dengan pandangan cemas yang terlihat sarat akan ketakutan. Hal tersebut kontan membuat Kegan menghela napas panjang lalu mendekati Kanin hingga jarak mereka berdua saat ini hanya sebatas satu langkah kaki.
“You will be okay,” ujar Kegan pelan. “Kalau keterusan begini, saya nggak bisa jagain kamu lagi.”
Ada sebuah sengatan hangat ketika Kanin mendengar ucapan Kegan yang saat ini terasa begitu tulus. Tidak ada rasa kesal atau marah ketika Kegan mengucapkan kalimat itu sehingga Kanin merasa bahwa sikap Kegan saat ini sungguh berbeda dari biasanya.
Bukan sekali dua kali Kanin merasa bahwa sikap Kegan berubah terhadapnya. Laki-laki itu bisa menjadi sosok yang sangat dingin sampai membuat Kanin enggan mengajaknya bicara. Kegan juga bisa menjadi laki-laki paling menyebalkan hingga rasanya Kanin ingin menghilang dari dunia saat berdebat dengannya. Namun, satu sisi Kegan juga berhasil menjadi laki-laki yang menunjukkan perhatian serta rasa pedulinya terhadap Kanin
“I’m afraid,” ungkap Kanin pada akhirnya.
Kegan menghela napas panjang lalu melepaskan genggaman Kanin pada tangannya. Laki-laki itu kemudian mengubah posisi genggaman tangan mereka, kali ini Kegan meletakan tangannya di atas tangan Kanin. Setelah itu, Kegan mendongak lalu tersenyum tipis ke arah Kanin yang sukses membuat wanita itu tercekat selama beberapa saat.
“It’s okay.” Kegan mengusap puncak kepala Kanin dengan salah satu tangannya yang bebas.
Laki-laki itu lantas membawa Kanin berjalan perlahan menuju area rumah sakit setelah berhasil meyakinkan wanita itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Keduanya berjalan beriringan dengan Kanin yang sesekali mengeratkan genggamannya pada tangan Kegan ketika merasa ketakutan menerjangnya.
Selama beberapa menit, mereka berdua melewati lorong rumah sakit hingga akhirnya keduanya sampai di depan ruangan VIP yang ditempati oleh Brata. Tidak ada siapa pun di ruang tunggu, yang cukup menjelaskan bahwa anggota keluarga Kegan tidak berjaga di rumah sakit.
Kegan membuka pintu kamar ramat inap itu lalu menoleh ke belakang, ke arah Kanin. Setelah menganggukkan kepala singkat, Kegan lantas menarik tangan Kanin mendekat menuju bangsal di mana Brata sedang terbaring dengan berbagai selang yang berfungsi untuk menunjang kehidupan bagi laki-laki tua itu.
“Kakek lagi tidur?” tanya Kegan ke arah Anelis yang sedang duduk bersama Raden di sofa yang ada di ruangan itu,
Anelis berdiri seketika lalu mendekat ke arah Kegan dan Kanin yang saat ini masih menggunakan pakaian pengantin mereka. Wanita berdarah campuran Indonesia-Belanda itu mendekati Kanin dan mengusap perlahan pipi halus menantunya dengan gerakan lembut. Jujur saja, Anelis merasa sangat bersalah terhadap Kanin yang terpaksa ikut terseret dalam urusan keluarganya yang memang tidak pernah berakhir menjadi sesuatu yang sederhana
“Maaf karena semuanya jadi kayak gini, ya, Kanin,” ujar Anelis tanpa mengindahkan pertanyaan tidak penting putranya. “Maaf juga karena kamu jadi harus ke rumah sakit lagi.”
Kanin mengulas senyum tipis lalu melepaskan genggamannya pada tangan Kegan dan beralih menggenggam tangan Anelis.
“Aku nggak apa-apa, Tante. Ini juga dilakuin demi Kakek,” balas wanita muda itu seraya tersenyum tipis.
“Mama sama Papa kamu sempat kirim pesan ke Tante. Katanya suruh kamu biar nggak kelelahan.” Anelis menarik tangan Kanin untuk duduk bersamanya.
Kegan mengangkat sebelah alisnya saat dia melihat perlakuan ibunya yang jauh berbeda antara dirinya dengan Kanin. Mungkin karena efek ingin punya anak perempuan sejak lama, sekarang Anelis memperlakukan Kanin selayaknya putri kandung ketimbang dirinya sendiri. Kegan sampai heran apa perannya saat ini hingga dia bahkan tidak mendapat jawaban dari Anelis sama sekali.
“Kakek gimana, Pa? Kata dokter gimana?” tanya Kegan kepada Raden saat menyadari bahwa ibunya tidak akan memberikannya jawaban sama sekali karena wanita itu terlihat sibuk bercengkrama dengan Kanin.
Raden Dikara mengembuskan napas panjang mendengar pertanyaan putranya. Laki-laki itu mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak dan menghadap ke arah Kegan sebelum berujar, “Dokter bilang kemungkinan sembuh total udah sangat tipis. Kondisi jantungnya nggak baik, Ke.”
“Tapi masih ada cara buat sembuh, kan?” tanya Kegan setengah menuntut.
“Nggak ada yang tau. Dokter udah hampir pasrah sama keadaan Kakek,” jawab Raden berterus terang.
Kanin yang duduk tidak jauh dari dua orang dewasa itu mengalihkan perhatiannya dari Anelis dan sepenuhnya memperhatikan percakapan antara Raden dan Kegan. Jantungnya berdegub kencang mendengar jawaban Raden yang seakan ikut membuat remuk hatinya
“Kegan…”
Panggilan lirih yang diikuti dengan suara batuk keras itu mengalihkan perhatian semua orang. Saat ini mereka semua menatap ke arah Brata yang berusaha memanggil Kegan dengan napasnya yang tercekat pendek. Kegan yang pertama kali bangun lalu berlari menghampiri bangsal kakeknya dan seketika menggenggam tangan laki-laki itu.
“Iya, Kakek. Ini Kegan,” ujar Kegan pelan. “Aku di sini sama Kanin. Kita udah resmi nikah,” lanjutnya.
Kanin menyusul Kegan setelah itu dan berdiri di sebelah laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya. Tidak ada kata yang dikeluarkan oleh Kanin dan tatapannya hanya mengarah fokus kepada Brata yang tampak berupaya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
“Makasih… makasih Kegan. Kanin…” Brata berusaha meraih wajah Kanin tetapi batuk menghadangnya.
“Ini Kanin, Kakek,” sambar Kanin seraya ikut menggenggam tangan Brata.
“Cantik,” ujar Brata lemah.
Kanin tersenyum tipis lalu mengeratkan genggamannya pada tangan Brata. Tidak berselang laam setelah pujian itu terlontar dengan suara pelan dan lirih, suara pendeteksi detak jantung yang berdering nyaring menyambut.
Keempat orang itu mendadak panik saat monitor yang mendeteksi detak jantung Brata berbunyi nyaring dengan garis datar yang seolah menjelaskan sudah tidak ada lagi kehidupan dalam tubuh laki-laki tua itu. genggaman tangan yang melemas antara Brata, Kegan, dan Kanin juga ikut menjelaskan semuanya.
Seolah menunggu Kegan dan Kanin datang sebagai sepasang suami istri, Brata mengembuskan napas terakhirnya dengan teramat damai.