Keadaan yang semakin kacau itu membuat Kanin seperti terlempar kepada dirinya di masa lalu. Melihat seseorang yang tengah berada di ambang kematian di depan matanya sendiri, dengan suara alat-alat medis yang berdenging tanda bahwa kehidupan semakin menipis. Semua itu terasa menyesakkan sekaligus menakutkan untuk Kanin saat ini hingga membuat kakinya bergetar hebat.
Ketika banyak orang termasuk para dokter sudah mendekati tubuh Brata dengan tergesa, Kanin tetap pada posisinya tanpa bisa beranjak sedikit pun. Kakinya seperti menempel pada lantai begitu saja hingga membuat Kanin tidak bisa bergerak bahkan saat Kegan berusaha menariknya.
“Kanin!” teriak Kegan yang sejak tadi berusaha menyadarkan wanita itu. “Kanin, hey.”
Tidak ada tanggapan yang diberikan oleh Kanin karena tatapan wanita itu masih mengarah kepada tubuh Brata yang saat ini dikelilingi oleh petugas medis. Tubuhnya seketika kaku sehingga Kanin berkali-kali harus ditarik oleh Kegan agar menjauh.
“Listen me!” peringat Kegan seraya menghempaskan tubuh Kanin ke belakang. “Bukan waktunya kamu kayak gini,” lanjut laki-laki itu dengan deru napas tidak beraturan.
Kanin mengarahkan pandangannya kepada Kegan dengan tatapan kosong. Tidak ada emosi yang dia tunjukkan, sementara Kegan di depannya sudah terlihat luar biasa marah. Laki-laki itu, dengan tatapan tajam yang mampu membuat Kanin terintimidasi, menatap tajam ke arah wanita di depannya yang masih terlihat ketakutan.
Selang beberapa lama mereka bertatapan, keduanya kembali mengarahkan pandangan ke arah kekacauan yang terjadi di depan mereka. Dokter dan perawat itu sudah mulai menghentikan kegiatan mereka dan membalikkan badan lalu menatap kecewa ke arah Raden dan Anelis yang memang kebetulan ada di depan Kanin dan Kegan.
“Mohon maaf, Pak Brata sudah berpulang.”
Tanpa perlu ditebak lagi, mereka semua pada dasarnya sudah sangat tahu apa informasi yang akan diberikan oleh dokter itu setelah selesai menangani Brata. Namun, tetap saja hal itu menjadi sebuah keterkejutan baru yang langsung memecah tangis Anelis yang sekarang mendekatkan kepalanya pada d**a bidang Raden. Wanita itu menutup mata dengan tangis yang semakin deras, sementara Raden berusaha untuk terlihat tetap tegar di tengah kekacauan hatinya saat ini.
Kanin yang mulai menyadari apa yang sedang terjadi, sekarang menyentuh lengan Kegan lalu menggenggamnya dengan sangat erat. Sorot ketakutan, marah, sedih, bahkan kecewa kini terlihat jadi satu dalam tatapannya. Wanita itu sama sekali tidak berbicara, tetapi lewat sorot matanya sekarang Kanin berhasil menjelaskan bagaimana rasa sakitnya.
“Kakek kenapa? Kenapa tidur? Kenapa dokter bilang gitu?” racau Kanin dengan tatapan matanya yang masih terlihat mengambang. “Kakek nggak pergi kan, Ke? Kakek nggak ninggalin kita, kan?”
“Diam, Kanin,” balas Kegan dengan kemarahan tertahan. “Jangan bikin keadaan tambah kacau.”
“Tapi Kakek kenapa?!” sentak Kanin dengan satu tetes air mata yang menuruni wajahnya.
Anelis yang melihat keadaan Kanin semakin memburuk dengan cepat mendekati wanita itu. dipeluknya Kanin tanpa memedulikan Kegan yang saat ini masih mengarahkan tatapan tajam kepada Kanin. Mungkin bagi Kegan, tindakan dan kepanikan Kanin yang ditunjukkan saat ini hanya sebuah pengganggu yang membuat keadaan semakin kacau. Namun bagi Anelis yang tahu betul alasan di balik sikap Kanin saat ini, tentu saja dia akan berusaha bertindak melindungi Kanin.
“Ayo keluar,” ujar Anelis pelan.
“Kakek kenapa, Tante?” Kanin mendongak, menatap Anelis dengan air mata yang semakin deras turun di wajahnya. “Kenapa Kakek sama kayak eyangku dulu?
Anelis menatap prihatin ke arah Kanin lalu segera membawa menantunya itu keluar dari ruang rawat inap ayah mertuanya. Tidak ada satu pun penolakan yang diberikan oleh Kanin karena saat ini pikirannya sama sekali tidak fokus dengan segala hal yang terjadi secara mendadak.
Setelah wanita dengan gaun pengantin itu keluar dari ruang rawat tersebut, Kegan baru bisa melihat ke arah kakeknya dengan jelas. Laki-laki itu mendekati ayahnya yang berdiri di sebelah brankar yang ditempati oleh sang kakek lalu menyentuh pelan bahu Raden. Saat ini, tidak ada yang bisa Kegan katakan untuk menjelaskan bagaimana perasaannya.
“Nggak ada yang bisa kita lakukan,” cetus Raden dengan suara yang terdengar putus asa. “Kehendak Tuhan, dan memang keinginan Kakekmu pergi dengan cara seperti ini.”
“Aku ngerti,” balas Kegan pelan. “Kakek pergi setelah lihat aku udah nikah.”
“Itu kenapa kamu harusnya bisa jagain Kanin.” Raden menoleh ke arah Kegan dan menatap lurus kedua manik hitam milik putranya.
Kegan mengernyitkan dahi mendengar ucapan yang terlontar dari Raden. Selain karena keinginan kakeknya untuk menikahkannya dengan Kanin, sampai saat ini Kegan sama sekali tidak tahu apa alasan di balik pernikahannya ini. Bahkan Kegan tidak tahu kenapa Kanin begitu histeris dengan kematian Brata dibanding dengan dirinya yang merupakan cucu kandung laki-laki itu.
“Sebenarnya aku sama Kanin ada hubungan apa sampai kalian keras kepala biar kita nikah?” tanya Kegan dengan kening mengernyit dalam.
“Hubungan yang bahkan nggak pengen kamu tau apa yang sebenarnya terjadi,” jawab Raden, yang bukannya menjawab rasa penasaran Kegan tetapi membuat laki-laki itu semakin penasaran.
“Tapi kenapa Cuma aku yang nggak tau? Kenapa kalian nyembunyiin hal yang seharusnya aku tau?” tuntut Kegan tidak sabar.
Raden Dikara menghela napas lalu mengembuskannya perlahan saat mendengar pertanyaan yang diberikan oleh putranya. Laki-laki itu hanya merasa bahwa ini bukan saat yang tepat bagi Kegan untuk mempertanyakan hal tersebut bahkan saat jenazah Brata masih berada di depan mata mereka.
“Kita urus pemakaman Kakek dulu. Kamu bakal tau nanti,” cetus Raden seraya berlalu dari hadapan Kegan begitu saja,
Sepeninggal Raden, hanya ada Kegan yang saat ini mennatap lurus ke arah tubuh kakeknya yang terbaring kaku. Laki-laki tua yang sejak dulu menemani Kegan dalam setiap pertumbuhannya sampai menjadi sedewasa saat ini, sekarang terbaring di depan matanya dalam keadaan tidak bernyawa.
Bohong jika mengatakan bahwa saat ini Kegan tidak merasa sedih, karena jauh di dalam lubuk hatinya, ada sebuah luka yang menganga begitu lebar. Kegan merasa kehilangan dan perasaan itu bahkan tidak bisa dia luapkan hanya lewat air mata.
--
Anelis menggenggam tangan Kanin bahkan setelah beberapa lama wanita di sebelahnya itu sudah berhenti menangis. tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka selama beberapa menit lamanya, karena baik Kanin maupun Anelis sama-sama sepakat untuk membungkam diri. Semua yang ingin mereka ucapkan, terkurung jauh di dalam perasaan keduanya tanpa bisa dikeluarkan.
Tatapan mata Anelis mengarah kepada Kanin yang masih menundukkan wajah di sebelahnya. Wanita paruh baya itu menghela napas panjang lalu mengelus perlahan permukaan tangan Kanin yang saat ini berada di dalam genggamannya.
“Semuanya memang harus seperti ini, Kanin. Orang yang pergi nggak bisa kamu tahan lebih lama. Dan orang yang menetap, seharusnya jadi prioritas untuk kamu pikirkan,” ujar Anelis yang langsung membuat Kanin menoleh ke arahnya.
Kedua mata sembab itu menatap ke arah Anelis setelah mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh wanita berparas setengah barat itu. Kanin menatap kosong ke arah Anelis dengan pandangan tidak tentu yang terlihat sangat terluka
Jika dipikirkan lebih jauh, hubungan Kanin dan Brata memang tidak sedekat itu untuk membuat Kanin merasa begitu hancur seperti sekarang. Bahkan Anelis yang merupakan keluarga inti Brata tidak menangis sekeras dirinya. Kegan yang juga cucu dari laki-laki itu tubuhnya tidak bergetar ketakutan seperti dia tadi.
Namun, ada satu sisi di dalam hatinya yang terluka begitu lebar dengan kenangan luka masa lalu yang menyambutnya. Selain karena kematian Brata yang membuatnya merasa begitu kehilangan sekaligus hancur seperti sekarang, kenangan masa lalu itu juga menjadi alasan utamanya menjadi seperti saat ini.
“Aku kayak ngelihat gimana eyang dulu,” balas Kanin dengan suara serak. “Rasanya sama sakit.”
“Mama tahu. Pasti sangat susah bagi kamu buat berdiri seperti saat ini. Di sini, di posisi yang sama seperti dulu,” sahut Anelis lalu mengusap pelan puncak kepala Kanin.
“Terima kasih, Kanin. Kamu sudah mau memenuhi permintaan terakhir ayah mertua saya,” lanjut Anelis. “Kalau aja kamu nggak setuju sama pernikahan ini, mungkin ayah mertua bakal tetap menderita sampai akhir hidupnya.”
“Aku setuju sama pernikahan ini karena permintaan eyang dan kakek. Nggak ada tujuan lain dan aku juga ngerasa lega sekarang,” jawab Kanin.
Sejak awal, Kanin menegaskan kepada dirinya sendiri bahwa pernikahannya dengan Kegan hanya sebuah pernjanjian dua keluarga yang harus dia turuti. Wanita itu berusaha menahan dirinya untuk tidak membiarkan perasaan lain mendominasi yang hanya akan membuat harapannya melambung semakin tinggi. Lalu ketika harapan itu tidak bersambut, hatinya hanya akan merasakan rasa sakit yang luar biasa. Kanin tidak ingin kembali merasakan sakit itu sehingga tidak ada sedikit pun harapan yang dia tumpukkan dalam pernikahan ini.
“Aku tau nggak ada harapan dari aku sama Kegan. Semua ini untuk Kakek dan sekarang beliau sudah pergi. Jadi aku harus gimana Tante? Aku nggak mungkin hidup selamanya sama Kegan.” Kanin menggenggam erat-erat tangan wanita yang kini menjadi ibu mertuanya.
“Saya tahu ini akan jadi hal sulit bagi kamu. Tapi saya minta, kamu bertahan, ya?” balas Anelis penuh pengharapan. “Selain kamu, nggak ada yang bisa lebih pantas buat Kegan.”
Kanin menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Anelis. “Kegan already had a girlfriend. I don’t supposed to be her wife when Kakek passed away.”
“Why not? Your wedding already held, Sayang. Setidaknya tahan untuk satu tahun pertama,” jawab Anelis.
Kanin menutup matanya sejenak lalu mengembuskan napas berat. Semuanya terasa kacau saat ini. Segala hal yang berada di dalam genggamannya, mendadak keluar dari kendali. Kanin mendadak menyesali semua keputusan yang membawanya sampai di tahap ini.
Di belakang mereka, sejak tadi Kegan berdiri mendengar semua percakapan yang terjalin antara Kanin dan ibunya. Laki-laki itu mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat. Kegan merasakan kemarahan yang kini meledak di dalam dirinya saat mendengar alasan pernikahannya dengan Kanin dan bagaimana wanita itu sama sekali tidak menghormati pernikahan mereka.
--