Proses kremasi Brata sudah berlangsung sejak beberapa jam lalu. Semua anggota besar keluarga Dikara yang semula datang untuk pernikahan antara Kegan dan Kanin saat ini harus menghadiri upacara kremasi dari Brata. Kesedihan melahap semua orang, apalagi saat peti mati berwarna putih yang membawa tubuh Brata itu ditutup lalu dibawa ke ruang pembakaran.
Kanin membeku dengan air mata yang menetes perlahan melewati pipinya. Wanita itu terlihat pucat dengan tangis yang sama sekali tidak berhenti. Entah sudah berapa kali Kanin menangis terisak hingga berteriak histeris menyaksikan setiap proses menyayat hati yang seperti membuat luka lamanya terbuka kembali.
Sementara itu, berbeda dengan Kanin yang tampak terguncang dengan kesedihan yang terlihat jelas, Kegan hanya berdiri dengan wajah kaku serta tatapan lurus ke depan. Laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan air matanya dan hanya beberapa kali terlihat sedih saat peti jenazah kakeknya perlahan ditutup.
“Kamu ajak makan Kanin dulu. Dia dari pagi sama sekali nggak makan,” ujar Anelis yang saat ini berdiri di sebelah putranya.
Kegan menolehkan kepala ke arah Anelis dengan tatapan datar. “Dia bisa makan sendiri.”
“Sekarang dia udah jadi tanggung jawab kamu,” balas Anelis tanpa mau dibantah.
Belum sempat Kegan membalas ucapan ibunya, ketika dia mengarahkan tatapan ke depan, Kegan mendapati Leo mendekat ke arah Kanin dan berbicara dengan wanita itu. jarak mereka yang memang terpaut cukup jauh membuat Kegan tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Leo dengan istrinya itu. Namun dilihat dari Leo yang menyentuh pelan bahu Kanin dan menuntun wanita itu keluar, sepertinya kakaknya itu sudah melakukan tugas yang diberikan oleh Anelis kepadanya.
“Udah ada Kak Leo,” cetus Kegan dengan pandangan yang tidak berhenti mengikuti setiap langkah Kanin yang sekarang sudah keluar dari area gereja.
“Leo isn’t her husband,” sanggah Anelis dengan suara yang terdengar sedikit geram. “This is your responsibiility, Kegan.”
“What I supposed to do with this fake wedding, Ma? Aku sama sekali nggak ngerti peran apa yang harus aku lakuin.” Kegan menatap tajam ke arah Anelis. “Aku nggak pengen nikah sama dia, tapi karena keadaan Kakek, aku terpaksa.”
“Terserah apa alasan di balik pernikahan kalian. Once you married her, she is your wife until forever,” sergah Anelis lalu beranjak meninggalkan Kegan.
Kegan menghela napas lalu memijat pelan pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Laki-laki seakan menyadari bahwa menikah dengan Kanin adalah keputusan paling buruk yang pernah dia ambil. Semua hal yang terjadi kali ini, yang semuanya berakhir rumit begini, berakar dari hubungannya dengan Kanin yang tidak bisa dicegahnya.
--
Leonard membawa Kanin keluar dari area gereja menuju sebuah warung di depan mereka. Laki-laki yang baru saja mendarat di Jakarta setelah mendengar kabar kematian kakeknya itu bahkan masih menggunakan pakaian santai yang dia gunakan sejak dari Bali sampai di bandara tadi.
Kepribadian Leon yang terlalu santai serta Kegan yang teramat kaku benar-benar berbanding terbalik. Ketika Leon datang dan mengajaknya berbicara seolah mereka sudah sangat mengenal lama dan akrab satu sama lain langsung membuat Kanin berpikir bahwa laki-laki di sebelahnya ini jauh berbeda dengan suaminya. Leon lebih hangat dan penuh semangat. Berbeda dengan Kegan yang luar biasa dingin dan apatis.
“Kamu nggak lemes seharian nangis terus?” tanya Leon seraya menarik salah satu kursi untuk agar Kanin bisa duduk.
Wanita itu tertawa kecil mendengar pertanyaan Leon. Entah mengapa, sikap supel dan ramah yang ditunjukkan oleh Leon saat ini cukup bisa membuat Kanin merasa nyaman. Dibanding dengan ketika dia berada di dekat Kegan yang hanya menguras emosinya, bersama Leon dia seolah bisa melupakan sedikit kesedihannya.
“Lumayan,” jawab Kanin singkat.
“Mau makan apa? Di sini mie gorengnya enak. Mau coba?” tawar Leon seraya menatap lekat wajah Kanin.
“Boleh. Kebetulan lagi laper,” jawab Kanin kemudian.
Leon tertawa ringan mendengar jawaban yang diberikan oleh Kanin. Laki-laki itu kemudian mengangkat tangannya kepada si penjual sehingga wanita paruh baya itu datang menghampiri meja mereka.
“Lemon di sini juga enak. Kamu harus coba kayaknya,” cetus Leon sebelum menyebutkan pesanan mereka kepada si penjual.
Kanin tersenyum tipis melihat bagaimana Leon yang dengan sangat mudah berinteraksi dengan orang lain, termasuk dengan penjual di depan laki-laki itu. sebelumnya, Kanin kira Leon akan memiliki ego yang sangat tinggi seperti Kegan sehingga laki-laki itu akan sangat anti berinteraksi dengan orang lain. Di bayangannya saat mendengar nama Leonard Sasmita yang selama ini dikenal sebagai pengembara, laki-laki itu adalah sosok liar yang senang merendahkan orang lain.
Selama ini, Kanin memang hanya mengetahui Leon lewat cerita-cerita dari anggota keluarganya atau keluarga Kegan ketika dia berkunjung. Leon lebih suka menghabiskan sepanjang waktunya dengan menjelajah setiap tempat bahkan hampir di seluruh dunia.
“Aku habis dari Bali rencananya mau ke Papua,” cetus Leon yang seketika membuyarkan lamunan Kanin dan membuat wanita itu dengan segera menolehkan kepala.
“Papua?” beo Kanin dengan tatapan kebingungan. “Kenapa Kak Leon suka banget pindah-pindah tempat?”
Leon tertawa keras sampai bahunya terguncang mendengar pertanyaan Kanin. Hal tersebut kontan saja membuat Kanin mengangkat sebelah alisnya kebingungan. Hingga kemudian, selang beberapa menit sejak tawanya tersembur begitu kencang, Leon kembali menegakkan tubuhnya dan menatap lurus ke arah Kanin.
“Bukan pindah-pindah tempat,” ralat laki-laki itu dengan senyum mengembang. “Ini cara paling indah buat menikmati hidup.”
“Tapi tetap aja kan namanya pindah-pindah? Nomaden,” sergah Kanin seraya mengedikkan bahu acuh tak acuh.
“It’s called explore, Kanin. Aku lagi mengeksplor semua tempat indah biar bisa aku simpan di memori kalau nanti udah tua,” balas Leon dengan nada bangga.
“Bukannya itu buang-buang waktu sama uang?” tanya Kanin, kemudian raut wajahnya berubah sejenak. “Uang nggak masalah karena kamu kaya tujuh turunan.”
Lagi-lagi Leon tertawa mendengar ucapan Kanin sampai membuat wanita itu heran. Apa yang sebenarnya lucu dari ucapannya hingga Leon tertawa terbahak seperti sekarang ini?
“Justru aku lagi memanfaatkan waktu yang aku punya dengan baik. Adventure can makes me live, Kanin,” ujar Leon.
Tidak ada lagi tanggapan yang diberikan oleh Kanin karena beberapa saat setelahnya, ibu warung itu sudah datang dengan makanan pesanan mereka. Dua orang itu kemudian makan bersama dengan sesekali melempar canda di antara mereka. Kanin merasa nyaman, dan Leo bisa merasa sedikit senang di tengah hatinya yang berantakan akibat kematian sang kakek.
--
Hampir jam tujuh malam Kanin baru pulang ke rumah bersama Leon yang berjalan di sebelahnya. Laki-laki itu mengajak Kanin bercerita panjang lebar sehingga tidak terasa waktu sudah berlalu sekian jam lamanya. Kanin mendengarkan setiap cerita dari berbagai pengalaman Leon berkeliling dunia dengan sangat terpana.
Sekarang wanita itu berjalan memasuki rumah keluarga Kegan yang sepertinya masih sangat ramai oleh keluarga laki-laki itu. Ada sedikit ketakutan di hati wanita itu ketika memikirkan bahwa saat ini dia sudah secara resmi bergabung dan menjadi bagian dari anggota keluarga Dikara yang terkenal terhormat. Namun, bukan Kanina Salasar jika dia tidak bisa menangani perasaannya dengan baik.
“Kanin!” panggil Anelis saat melihat menantunya datang bersama dengan putra sulungnya. “Mama kira kamu ke mana,” lanjut wanita yang saat ini sudah tidak lagi canggung menyebut dirinya mama di depan Kanin.
“Aku habis makan sama Kak Leon,” balas Kanin dengan senyum tipis.
“Kamu pasti lelah. Ke kamar saja, ya,” ujar Anelis seraya menepuk pelan bahu Kanin dan mengalihkan tatapannya ke arah Leon. “Mama mau bicara sama kamu,” ujarnya yang mengarah kepada Leon.
Laki-laki itu menghela napas panjang sementara Kanin terlihat kebingungan. Namun saat sadar bahwa kali ini Anelis dan Leon memerlukan waktu pribadi, Kanin lantas berlalu dari hadapan dua orang itu.
Kanin menaiki tangga melingkar dengan ornamen rumit berwarna emas mewah itu perlahan. Langkah kakinya tetap anggun meskipun saat ini dibalut dengan kehati-hatian. Beberapa saat kemudian, Kanin sudah sampai di depan kamar Kegan yang mulai hari ini juga menjadi kamar tidurnya.
“Aku masuk,” ujar Kanin seraya mengetuk pintu.
Tidak ada tanggapan dari Kegan sehingga Kanin memutuskan untuk membuka pintu kamar bercat hitam itu. Saat dia memasuki ruangan yang didominasi warna hitam dan abu itu, Kanin menemukan Kegan yang sedang duduk dengan mata terpejam serta wajah yang terlihat cemas.
“Kegan?” panggil Kanin seraya mendekat ke arah laki-laki itu. “Are you sleeping?”
Tangannya menyentuh pundak Kegan, tetapi dengan cepat ditepis oleh laki-laki yang sekarang membuka matanya itu. Kegan mengarahkan tatapan tajam ke arah Kanin dengan matanya yang memerah
Melihat kedua netra yang terlihat merah seperti habis menangis itu, Kanin lantas menaikkan sebelah alisnya. Kegan sama sekali tidak terlihat sedih atau menangis sedikit saja ketika proses kremasi. Sehingga melihat keadaan Kegan yang seperti ini, Kanin benar-benar dibuat kebingungan.
“Jangan ganggu saya,” desis Kegan dengan tangan yang masih mencengkram pergelangan Kanin.
“I don’t. I just ask you,” bantah Kanin lalu berusaha melepaskan cengkraman Kegan pada tangannya.
Laki-laki itu berdiri tanpa melepaskan cengkraman tangannya. Sekarang tubuhnya berhadapan dengan tubuh Kanin yang mendadak terlihat lebih kecil di depannya. Tatapan mata Kegan masih begitu tajam dengan kemarahan serta frustrasi yang seakan bisa Kanin rasakan.
“Karena kamu ada, hidup saya jadi benar-benar rumit,” geram Kegan dengan suara tertahan. “Kamu bikin hidup saya berantakan, Kanin.”
Wanita itu mengernyitkan dahi tidak suka. “I don’t want to be here neither.”
“You do. Kamu pengen di sini karen keluarga saya kaya, kan?” Kegan tersenyum sinis di depan wajah Kanin.
Mendengar ucapan itu, Kanin dengan cepat menghempaskan tangannya dari cengkraman Kegan. Napasnya memburu saat dia menatap ke arah Kegan yang masih menunjukkan raut wajah meremehkan.
“Bahkan kamu sama sekali nggak berpikir untuk perlu menghormati pernikahan ini,” ujar Kegan lamat-lamat. “Kamu Cuma mau keluarga saya, Kanin.”
Kanin menggeram marah. Ketika tangannya sudah terangkat dan hendak bergerak menampar wajah Kegan, laki-laki itu sudah lebih cepat berlalu meninggalkannya. Kegan melenggang pergi begitu saja sementara Kanin masih membeku di tempatnya.
Tepat di malam pertama pernikahannya, Kanin mendengar kata-kata yang sepertinya tidaka akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya.
--