Kegan mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal membelah jalanan kota Jakarta yang padat saat malam hari. Tangannya mencengkram erat kemudi mobil dengan tatapan mata tajam menghunus ke depan. Amarah serta semua emosinya berkumpul menjadi satu saat ini hingga rasanya Kegan berpikir tidak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Laki-laki itu membawa mobilnya ke kawasan apartemen mewah yang merupakan tempat tinggal Nadeline. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang jauh lebih membuatnya tenang selain pelukan hangat Nadeline yang bahkan tidak lagi dia rasakan beberapa waktu terakhir. Peduli setan dengan statusnya yang sudah menjadi suami Kanin saat ini, Kegan sama sekali tidak peduli.
“What are you doing here?” Kedatangannya disambut dengan tatapan heran dari Nadeline yang saat ini berdiri di depan pintu apartemennya.
“I need you,” balas Kegan dengan suara lirih.
Nadeline mengenryitkan dahinya lalu dengan cepat menarik tangan Kegan masuk ke apartemennya. Akan sangat bahaya jika seseorang apalagi media massa melihat kehadiran Kegan di apartemennya tengah malam seperti ini. Nadeline yang masih sangat memperhitungkan karirnya tentu saja tidak ingin reputasinya rusak saat orang-orang tahu Kegan yang sudah beristri datang ke tempat tinggalnya seperti ini.
“What happened?” tanya Nadeline ketika pintu apartemen mereka sudah tertutup sepenuhnya. “This is about your grandpa?”
Kegan tidak menjawab pertanyaan Nadeline dan lebih memilih untuk memeluk erat wanita itu. Laki-laki itu menumpukkan dagunya pada bahu Nadeline lalu memejamkan mata untuk merasakan bagaimana hangat dan tenangnya pelukan mantan kekasihnya ini.
“I’m tired. Give me some space,” lirih Kegan dalam pelukan Nadeline.
Wanita itu masih sangat terkejut karena kedatangan Kegan yang terlampau tiba-tiba. Tetapi seiring waktu, Nadeline mulai bisa menyesuaikan diri dan memberikan ruang yang diinginkan oleh Kegan. Tangannya sekarang perlahan bergerak mengusap punggung Kegan dengan gerakan lembut yang menenangkan.
“Maaf karena aku nggak hadir ke kremasi Kakek,” ujar Nadeline tanpa melepaskan pelukan mereka. “I just don’t want to see you with another girl.”
Kegan melepaskan pelukan mereka perlahan saat mendengar ucapan Nadeline. Rasa bersalah langsung menyelimuti hatinya karena melihat Nadeline seperti sekarang. Jika saja Kegan memiliki sedikit saja kuasa dan sepercik keberanian untuk menolak pernikahannya dengan Kanin dan tetap mempertahankan Nadeline di sisinya, mungkin hubungan mereka tidak akan berakhir menyedihkan seperti sekarang.
“I’m sorry for hurting you, Nade. I really sorry,” ujar Kegan sarat akan rasa penyesalan. “Aku sama sekali nggak bisa nolak pernikahan ini…”
“Don’t talk about it again. Aku nggak pengen denger tentang pernikahan kamu atau segala macemnya,” potong Nadeline kemudian berlalu dan duduk di sofa kamarnya.
Kegan mengarahkan tatapannya kepada Nadeline yang sampai saat ini masih terlihat begitu santai. Tidak ada kemarahan menggebu atau kesedihan berlarut yang ditunjukkan oleh wanita itu di depannya yang malah membuat Kegan bertanya-tanya. Bukankah seharusnya Nadeline marah kepadanya setelah semua yang terjadi?
“I feel sorry for your lost, Ke. But I’m sure grandpa will have the best place ever right now,” ungkap Nadeline seraya mendongak ke arah Kegan dan tersenyum tipis.
Langkah Kegan perlahan mendekat ke arah Nadeline dan duduk di sebelah wanita itu. saat keadaan hatinya buruk seperti sekarang, Kegan tahu bahwa satu-satunya tempat untuk dirinya bisa merasa tenang adalah berada di sisi Nadeline. Tidak ada satu pun tempat yang bisa membuat Kegan merasa tenang selain Nadeline.
“Kamu nggak marah?” tanya Kegan tanpa memedulikan ucapan Nadeline beberapa saat lalu.
Wanita itu tertawa miris mendengar pertanyaan tidak masuk akal dari Kegan. Tentu saja dia marah. Bahkan jauh sebelum ini, sebelum pernikahan mantan kekasih yang sangat dia sayangi terjadi, Nadeline sudah benar-benar marah. Wanita itu marah sekaligus kecewa dengan Kegan pun dengan dirinya yang sama sekali tidak berdaya untuk mempertahankan hubungan mereka.
“Aku marah juga semuanya nggak bakal berubah,” balas Nadeline seraya mengembuskan napas panjang. “You will still be hers and I have nothing to do.”
“I’m not hers,” sergah Kegan cepat. “Sampai kapan pun, Cuma kamu yang punya aku, Nad.”
“Bullshit.” Nadeline tertawa miris sekali lagi. “You already married with her, Ke.”
“Bukan berarti aku jadi milik dia,” bantah Kegan.
Nadeline menggelengkan kepala mendengar ucapan Kegan. Wanita itu tidak lagi mau menyangkal perihal hubungan Kegan dan Kanin yang hanya akan membuat harapannya hancur begitu saja. Saat ini, meskipun perasaannya terhadap Kegan masih sangat besar dan menggebu, Nadeline tidak ingin membuat dirinya berada di posisi menyedihkan untuk mendambakan kehadiran Kegan lagi.
“Kamu udah nikah sama dia, Ke. Mau gimana juga kamu bilang kayak tadi, nyatanya kalian udah sama-sama saling punya.” Nadeline menarik napas panjang usai mengucapkan kalimat yang terasa menyakitkan di ujung lidahnya. “Sekali aja kamu punya hubungan sama orang lain, itu berarti kamu udah jadi milik dia.”
Kegan mendengarkan ucapan wanita itu dengan saksama. Tidak ada yang salah dari pernyataan Nadeline dan dirinya merasa bahwa saat ini dia terjebak di dalam situasi yang sama sekali tidak membiarkannya bergerak.
“Aku harus gimana sekarang?” tanya Kegan dengan nada lirih.
“Nggak ada yang bisa kamu lakuin selain ikuti semuanya. Jadi suaminya Kanin, dan berhenti berhubungan sama aku.”
--
Pekerjaannya yang kacau selama hampir satu bulan terakhir membuat pergelaran busana yang harusnya dilaksanakan bulan ini harus terhambat. Team yang dipimpin oleh Kanin sejak bertahun-tahun silam sekarang duduk di meja bundar dengan wajah pias satu sama lain. Tidak ada yang bisa melakukan apa pun selain menunggu keputusan Kanin yang akan mempengaruhi project yang telah mereka siapkan selama hampir enam bulan lamanya.
“Aku tahu ini akan membuat kalian sangat kecewa, bahkan mungkin bakal marah sama aku,” ujar Kanin dengan kedua tangan mengait di atas meja. “Dan untuk itu, aku benar-benar minta maaf ke kalian. Kesalahanku kali ini adalah terlalu nggak fokus sampai mengganggu kinerja tim.”
“Terkait pengerjaan baju dan semua ornamen, aku yakin kalian udah sangat bekerja keras sampai rela lembur setiap minggu. Jadi di sini, aku pengen ambil jalan tengah biar kerja keras kalian juga nggak sia-sia selama berbulan-bulan.” Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap pegawainya satu per satu. “Ada yang berniat memberikan saran?”
“Kalau acaranya tetep diadain, nggak mungkin banget, ya, Mbak?” tanya Naira seraya menatap cemas ke arah atasannya itu.
“Sponsor udah narik dukungan semua, Ra. Susah buat bikin persiapan singkat begini,” balas Emmy pasrah. “Kecuali event-nya kita undur terus cari sponsor baru yang mau kerja sama.”
Kanin menganggukkan kepala seraya memutar-mutar pulpen yang kini terselip di antara jemarinya. Wanita itu berusaha untuk mencari jalan keluar dari semua masalah yang sekarang hadir karena berbagai kesibukannya beberapa bulan belakangan. Kanin tidak ingin mengorbankan timnya, tidak juga ingin mengorbankan kesibukan pribadinya terlalu banyak.
“Kalau kita susun ulang acara buat dua bulan kedepan, kira-kira kalian sanggup?” Kanin melontarkan pertanyaan lalu menatap satu per satu ke arah Naira, Emmy, dan Biley.
“Sanggup sih sanggup,” jawab Biley. “Tapi siapa yang minat sama acara yang iklannya udeh lima bulan lalu?”
Kanin mengembuskan napas panjang lalu mengerjapkan matanya perlahan. Selain masalah waktu yang mendadak kacau karena kesibukannya, sekarang reputasi brandnya juga terancam karena banyak klien yang menaruh harapan besar terhadap peragaan busana yang selalu dinantikan setiap tahunnya.
“Selain itu, kita juga terancam kehilangan pelanggan. Udah banyak banget yang nanya tentang Brive Launching ini,” cetus Emmy seraya menyerahkan tab ke arah Kanin.
Wanita itu kemudian membaca laporan yang diberikan oleh Emmy kepadanya. Kepala Kanin terasa semakin berdenyut saat melihat banyaknya komplain clien yang masuk ke sosial media yang dijalankan oleh Emmy.
Kanin menarik napas panjang sebelum kembali berujar dengan suara berat, “Kita meeting besok lagi. Kayaknya kepalaku masih belum bisa dipake mikir sekarang.”
“It’s okay Mbak. Kita Cuma takut ini keterusan dan kesannya ngegantung audiens,” balas Naira lalu menepuk pelan pundak Kanin yang kebetulan duduk di sebelahnya.
Kanin tersenyum tipis seraya mengangguk singkat. “Kalian boleh pulang lebih awal hari ini. Aku juga masih ada urusan di rumah.”
Setelahnya, Kanin keluar dari ruangan rapat meninggalkan rekan-rekannya yang saat ini memutar cara untuk menyelesaikan masalah kali ini. Semua orang tampak kerepotan dengan kejadian kali ini yang memang membuat pekerjaan mereka terhambat. Tidak hanya Kanin yang terkena dampaknya, tetapi juga mereka yang harus memikirkan cara untuk mempertahankan kepercayaan klien terhadap butik yang dikelola oleh Kanin selama bertahun-tahun ini.
“Gue heran sama Mbak Kanin,” cetus Emmy seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal. “Beban hidupnya kayak banyak banget sampe pekerajaannya berantakan gini.”
“Ya, namanya juga manusia. Pasti punya beban hidup lah,” balas Naira yang saat ini sedang membereskan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja
“Eike lebih heran kenapa doi malah keliatan beda banget sekarang,” timpal Biley. “Kayak eike udeh nggak ngenali deseu karna berubah banget. I mean, Kanin itu independent woman yang nggak bakal kepengaruh masalah ginian buat kerjaan. But see? Kacau!”
Emmy dan naira mengembuskan napas panjang mendengar ucapan Biley. Keduanya juga menyadari perubahan yang terjadi pada Kanin semenjak wanita itu mengatakan akan menikah dengan orang asing dan rela meninggalkan Agam begitu saja. Kanin yang biasaya tidak terpengaruh dengan masalah percintaan ke dalam pekerjaannya, kali ini benar-benar kacau karena masalah asmara.
Mungkin Kanin memang benar-benar mencintai Kegan sampai semua urusannya menjadi berantakan seperti ini. Atau mungkin saja ada hal lain yang membuat Kanin menjadi seperti sekarang dan menelantarkan pekerajaannya. Tidak ada yang tahu pasti, karena Kanin juga tidak pernah membahas mengenai hal itu di depan mereka.
“Kayaknya lagi kasmaran. Suaminya bikin dia bucin, kali?” Naira menatap satu per satu ke arah Biley dan Emmy yang ditanggapi dua orang itu dengan dengkusan kecil
“Mbak Kanin ngebucin laki? Mimpi!”