Satu hari setelah pernikahan, Kegan sama sekali tidak pulang. Laki-laki itu lebih memilih menghabiskan malam di apartemen Nadeline meskipun sudah diusir berkali-kali. Kegan tetap menginap di sana, dengan Nadeline yang terpaksa menemani laki-laki itu sampai dia ikut terlelap.
Matahari menyelinap masuk lewat sela-sela gorden di kamar sang artis. Kegan masih bergelung dengan selimut tebal di atas tempat tidur Nadeline bersama wanita itu yang tidur dalam dekapannya.
"Good morning," sapa Kegan dengan suara serak khas bangun tidur.
Nadeline mengerjapkan mata perlahan saat menyadari bahwa sekarang posisi tidurnya berada dalam dekapan seorang laki-laki. Wanita yang juga terlelap di dalam selimut tebal itu seketika berjingkat saat menyadari siapa yang tidur memeluknya saat ini.
"I thought you already go home," protes Nadeline sembari mengusap wajahnya yang baru bangun tidur.
"I'm here," jawab Kegan.
Kegan menatap ke arah Nadeline yang saat ini terlihat kesal di hadapannya. Laki-laki dengan alis tebal serta tatapan mata tampak teduh itu lantas tersenyum tipis. Tangannya bergerak menyentuh perlahan permukaan wajah Nadeine yang seketika ditepis oleh wanita itu.
"Kenapa belum pulang?" Nadeline bertanya seraya mengikat rambutnya tinggi-tinggi. "We are not a couple anymore."
"So why?"
"Jangan jadi bastard, Ke," tekan Nadeline.
"Aku cuma nginep," balas Kegan santai.
"Nginep sekarang udah nggak wajar buat kamu. You are already married." Nadeline menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
Kesabarannya ketika berbicara dengan Kegan seperti sekarang benar-benar terkuras habis. Nadeline berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak marah, tetapi semakin mereka berbicara, emosinya semakin tidak terkendali.
Nadeline memang masih mencintai Kegan dan ia menyadari hal itu sepenuhnya. Namun, dalam keadaan seperti ini Nadeline tidak ingin memperumit hidupnya dengan hubungannya yang semakin rumit bersama Kegan. Dia ingin semuanya selesai sehingga kehidupan serta karirnya nanti tidak terganggu.
"Jangan kaya gini, please," lirih Nadeline pelan. "Aku nggak mau kejebak sama kamu."
"Aku juga nggak mau, Nade. Aku pengen kamu tapi bukan kayak gini," balas Kegan lalu menegakkan tubuhnya dan menatap lurus ke arah Nadeline. "I want us."
Nadeline tertawa kecil terkesan meremehkan saat mendengar ucapan Kegan. Sejak awal, ia seperti tidak memiliki hak dalam hubungannya bersama laki-laki di depannya ini. Semua keputusan termasuk perpisahan mereka semua itu berada di bawah kendali Kegan. Nadeline tidak pernah mengambil keputusan apa pun bahkan saat Kegan memutuskan untuk menikah dengan wanita lain yang bukan dirinya.
"Siapa yang ninggalin duluan, Ke? Bukan aku.. tapi kamu," ujar Nadeline lamat-lamat. "Kamu yang mutusin buat nikah sama Kanin. Kenapa sekarang malah kamu yang minta buat balik?"
"Nade.. you know my situation, right?" Kegan menatap lurus ke arah Nadeline. "Kamu tau jelas gimana aku yang nggak bisa berbuat apa sama situasi ini."
"Sekalipun aku tau, kamu ngelakuin hal yang nggak bener. I hope you know what you have done, Ke. Kita sama sekali nggak bisa bareng lagi," jelas Nadeline. "Sekarang kamu pulang. Aku nggak mau dianggap perusak pernikahan orang."
Kegan terdiam sejenak dengan tatapan mengarah kepada Nadeline. Ada perasaan tidak rela ketika Nadeline memintanya pergi padahal dulu wanita itu yang paling ingin dia tetap tinggal.
Ketika pada awalnya Kegan mengira bahwa pernikahannya dengan Kanin tidak akan berdampak sebesar ini, ternyata dia salah. Pernikahan yang semula dianggapnya hanya sebuah formalitas semata sekarang berubah menjadi jebakan yang membuat perasaannya tidak menentu. Kegan merasa kehilangan, sekaligus marah karena keadaannya dengan Nadeline.
"Let me hug you," cetus Kegan setelah terdiam sekian lama.
Nadeline menghela napas perlahan lalu memajukan tubuhnya ke hadapan Kegan. Wanita itu memeluk tubuh Kegan, seperti apa yang diinginkan laki-laki tersebut.
Pelukan yang biasanya terasa hangat dan nyaman kini terasa begitu asing. Kegan merasa bahwa pelukan Nadeline kali ini kosong. Tidak ada perasaan hangat menggebu, atau ambisi yang meluap-luap seperti bagaimana mereka biasanya.
Pelukan itu kosong sekaligus menyakitkan.
—
Kanin kembali ke rumah yang kini ditempatinya bersama Kegan. Setelah menikah, Kegan memang memutuskan untuk tidak lagi tinggal bersama kedua orangtua laki-laki itu. Mereka berdua kini tinggal di sebuah rumah di pusat kota yang memang lebih dekat dengan kantor Kegan dibanding dengan rumah orangtuanya.
Tidak ada yang menarik selama hampir satu minggu mereka menjalani pernikahan. Apalagi setelah Brata meninggal, hubungan mereka berjalan semakin membosankan.
Kegan jarang pulang ke rumah dan lebih memilih untuk tinggal di kantornya. Sementara itu, Kanin menyibukkan diri dengan proyek fashion show yang hampir terbengkalai setelah sekian lama.
Pagi itu, untuk pertama kali Kanin melihat keberadaan Kegan di meja makan. Laki-laki yang sudah tampak rapi dengan setelan jas kerja itu duduk dengan secangkir kopi dan dua buah roti di atas piring. Sementara tatapannya tetap fokus ke arah tab, Kanin perlahan melangkah mendekat.
"Tumben di rumah," cetus Kanin seraya duduk di sebelah Kegan.
Mendengar suara Kanin di dekatnya, Kegan perlahan mendongakkan kepala. Laki-laki itu menutup tab yang tadi dipakainya lalu memusatkan perhatian kepada Kanin yang sekarang sedang mengoleskan butter ke atas roti tawar.
"Kenapa?" Kegan membalas ucapan Kanin yang sudah berlalu beberapa saat.
"Aneh aja," balas Kanin seraya mengedikkan bahu.
"Kenapa aneh?"
Kanin meletakkan sendok besi dengan hentakan cukup keras. Tatapannya lantas mengarah kepada Kegan yang kembali mengalihkan tatapan darinya.
"Aku lagi capek, jangan ngajak debat." Kanin berujar dengan nada malas.
"Siapa yang ngajak debat?" Balas Kegan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kamu," sahut Kanin cepat. "Kayaknya kamu emang selalu ngajak debat setiap kali kita ketemu."
Kegan mengalihkan tatapan dari tab yang dipegangnya lalu menatap ke arah Kanin. Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya dengan tajam ketika mendengar ucapan Kanin beberapa saat lalu.
"Saya diem dari tadi," ujar Kegan. "Kamu yang ngajak bicara duluan."
"Ngajak bicara bukan berarti ngajak berantem," balas Kanin tidak mau kalah.
"Kapan saya ngajak kamu berantem?"
"Itu! Baru aja!" Pekik Kanin dengan tangan menunjuk ke arah Kegan. "Omongan kamu setiap kali bicara sama aku selalu ngegas. Nggak pernah santai!"
"Bukannya ini kamu yang ngegas?" Kegan menanggapi kekesalan Kanin dengan santai.
Kanin menatap tajam ke arah Kegan sementara laki-laki itu hanya menatapnya tanpa minat.
"Okay well," balad Kanin. "Ke mana aja kamu seminggu ini?"
"It's your business?" sahut Kegan spontan.
"Of course!" sentak Kanin. "Kita suami istri kalau kamu lupa."
"Dan kita nggak niat nikah kalau kamu juga lupa," balas Kegan dalam satu tarikan napas.
Kanin memutar malas bola matanya saat mendengar jawaban Kegan. Laki-laki itu memang selalu berhasil membuatnya tidak bisa membalas kata-kata yang diucapkan. Selama ini, Kanin kira Kegan hanya menunjukkan sikap menyebalkan di awal untuk membuatnya menjauh. Namun sekarang, sikap Kegan semakin membuat Kanin percaya bahwa laki-laki itu memang membencinya.
“Serius.. seminggu ini kamu ke mana?” tanya Kanin sekali lagi.
“Urusan kamu?” balas Kegan dengan sebelah alis terangkat.
“Jelas! Aku perlu tau kamu di mana meskipun pernikahan ini memang nggak pernah kita setujui sejak awal,” jawab Kanin dengan emosi yang perlahan menggebu.
“Karena pernikahan ini sama sekali nggak kita setujui sejak awal, saya rasa hubungan kita lebih baik nggak mengganggu privasi satu sama lain.” Kegan menegakkan tubuhnya ke arah Kanin. “Dan urusan saya ada di mana, itu sama sekali nggak perlu kamu tau.”
Kegan beranjak dari tempatnya usai mengucapkan kalimat itu di depan Kanin. Laki-laki itu berjalan cepat keluar dari rumahnya dan meninggalkan Kanin yang sedang terpaku di tempatnya.
Kalimat Kegan perlahan menyusup ke hatinya, membuat sebuah denyut kecil yang terasa menyakitkan. Kanin menarik napas panjang, lalu mengendalikan dirinya untuk menjadi tidak terlalu perasa.
Apa pun yang diucapkan Kegan dan semua hal yang dilakukan oleh laki-laki itu tidak akan membuatnya goyah sedikit pun.