Setelah acara sarapan yang bisa dikatakan berlangsung secara semi formal itu, Kegan menyempatkan diri untuk menemani Kanin di taman belakang rumahnya. semua keluarganya sudah kembali ke Yogyakarta dan beberapa lainnya ke kota tempat tinggal mereka karena masing-masing dari mereka memiliki kesibukan lain sehingga tidak bisa berlama-lama menetap di Jakarta.
Kanin dan Kegan duduk bersebalahan tanpa ada satu pun dari mereka yang membuka percakapan. Dua orang dewasa itu sama-sama diam dan memilih untuk menenggelamkan diri di dalam pikiran masing-masing. Kanin masih enggan berbicara, sedangkan Kegan memang tidak ingin banyak bicara apalagi di depan Kanin.
“Itu tadi semua keluarga kamu?” tanya Kanin yang akhirnya menemukan topik pembicaraan untuk mereka.
“Keluarga kakek saya,” jawab Kegan seadanya. Dan seperti biasa, terdengar tidak niat menjawab.
Kanin memutar bola mata malas mendengar jawaban yang diberikan oleh Kegan. Mungkin laki-laki itu berniat untuk melucu, atau bisa juga Kegan sedang melayangkan sarkas kepadanya. Entahlah. Kanin sama sekali tidak peduli tapi anehnya dia sangat ingin memperpanjang percakapan bersama Kegan.
“Pacar kamu gimana pas tau kamu bakal nikah sama orang lain?” Kanin kembali bertanya, kali ini diikuti dengan gestur tubuhnya yang menoleh ke arah Kegan.
Laki-laki dengan dua alis tebal di atas mata dengan rambut mata lentik itu mengangkat sebelah alisnya sebagai tanggapan atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Kanin kepadanya. Kegan menatap intens ke arah wajah Kanin yang sekarang memandangnya penuh rasa ingin tahu. Di sorot mata wanita itu, entah mengapa Kegan selalu menemukan rasa penasaran yang begitu menggebu.
“Jawaban gimana yang pengen kamu tau?” tanya Kegan, masih dengan tatapan yang mengarah kepada wajah Kanin.
Wanita itu mengedikkan bahunya sekilas lalu mengalihkan wajahnya dari hadapan Kegan. Kanin cukup penasaran mengapa Kegan malah bertanya balik kepadanya daripada langsung memberikannya jawaban. Tapi, tidak apa. Setidaknya dengan begini maka percakapan mereka akan berjalan semakin panjang.
“Jawaban yang sebenarnya,” balas Kanin kemudian.
“Pacar kamu gimana? Ngamuk waktu tau pacarnya bakal diambil sama orang lain?” Lagi, Kegan membalikkan pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan Kanin sebelumnya
Hal itu kontan membuat Kanin berdecih sinis. Dia tidak suka situasi seperti ini. Kanin tidak suka saat Kegan melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang dia tahu hanya bermaksud untuk menyudutkannya.
Wanita itu lantas menoleh, lalu kembali menatap intens ke arah Kegan yang sekarang memasang wajah tanpa sedikit pun ekspresi.
“Kamu senang banget ya balikin pertanyaan orang,” desis Kanin dengan tatapan sinis dan tajam.
“Bukan senang,” balas Kegan santai. “Saya Cuma nggak pengen jawab pertanyaan nggak penting kamu itu.”
Sebelah alis Kanin terangkat mendengar ucapan Kegan. Laki-laki yang duduk di sebelahnya ini memang selalu punya cara untuk membuatnya merasa kesal. Namun, seperti biasa, Kanin akan selalu bisa menutupi ekspresi kesalnya dengan wajah datar seolah dirinya sama sekali tidak terganggu dengan setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Kegan.
“Nggak penting juga masih kamu dengerin,” balas Kanin dengan kedikkan bahu acuh tak acuh. “Manusia nggak jelas.”
Sekarang giliran Kegan yang mengangkat sebelah alisnya. Berhadapan sekaligus berbicara dengan wanita keras kepala dan muka tembok seperti Kanin ini memang sangat menguras kesabarannya. Jika dibandingkan, kepribadian Kanin dan Nadeline benar-benar berbeda. Nadeline selalu berhasil membuat Kegan nyaman seberapa lama pun waktu yang mereka habiskan bersama. Sedangkan di dekat Kanin seperti sekarang ini, rasanya kepala Kegan benar-benar ingin meledak karena tidak tahan dengan sikap wanita satu ini.
“Kamu kalau udah nggak ada kepentingan, mending pergi deh.” Kegan berbicara dengan suara biasa saja, tapi tetap terdengar menusuk.
“Ya kalau aku nggak punya urusan, udah dari tadi kali aku pergi,” balas Kanin santai. “Your family still want me to be here, ya, Kegan.”
“Ya.”
Jawaban singkat itu sama sekali tidak membuat Kanin sakit hati atau merasa terhina. Lambat laun seiring dengan kebersamaannya dengan Kegan, dia jadi tahu bahwa laki-laki itu memang sering sekali berbicara singkat. Bahkan kadang Kanin tidak mengerti apa maksud ucapan Kegan saking singkatnya laki-laki itu berbicara, dan berakhir kebingungan lalu menerka-nerkanya seorang diri.
“Kamu nggak ada rencana buat ngundang Nade ke pernikahan kita, kan?” tanya Kanin yang seketika membuat fokus Kegan teralih kepadanya sepenuhnya.
“Tentu,” jawab Kegan yakin. “Dia pasti datang.”
Kedua alis Kanin menyatu mendengar jawaban yang diberikan oleh Kegan. “I really don’t want she betraying mu wedding day!”
“Simple. Don’t marry me,” balas Kegan seraya mengedikkan kepala.
Kanin menggelengkan kepala heran lalu memijat perlahan pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Berdebat dengan Kegan memang tidak akan ada habisnya dan saat ini Kanin benar-benar tidak punya niat untuk menentang laki-laki itu lebih jauh. Jadi dibiarkannya Kegan menang untuk hari ini.
Tidak. Bukan untuk hari ini. Kanin hanya membiarkan Kegan menang selama beberapa detik sebelum wanita itu kembali berujar. “Okay. Aku juga bakal ngundang Agam buat datang.”
“Do whatever you want to do,” jawab Kegan. “Lagipula saya sangsi Agam mau datang ke pernikahan pacarnya.”
“Sorry?” Kanin memiringkan kepala ke arah Kegan. “Aku nggak doyan selingkuh, ya. Im not his girlfriend anymore since I decided to married with you.”
“We didn’t married already,” bantah Kegan.
“We almost got married, Kegan.” Kanin mengucapkan kalimat itu dengan penekanan di setiap katanya.
Kegan mengedikkan bahunya tidak peduli. Berdebat dengan wanita sekeras kepala Kanin hanya membuang tenaganya dengan sia-sia. Wanita itu tidak akan pernah membiarkannya memenangkan argumen. Kanin akan menjajalnya dengan berbagai bantahan, sanggahan, dan segala jenis penolakan sampai wanita itu mencapai kemenangan.
Hening kembali menyelimuti keduanya. Kanin terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya, sementara Kegan mengeluarkan bungkus rokok dari kantung celananya. Laki-laki itu kemudian mematik api, lalu menghidupkan batang rokok itu hingga asapnya berhasil membuat Kanin mengenryitkan dahi tidak suka.
“Are you smoking now?” tanya Kanin seraya menutup hidungnya.
“As what you see,” balas Kegan. Lalu kepulan asap rokok keluar dari bibirnya.
“Don’t smoke arround me,” peringat Kanin yang masih berusaha menutupi hidungnya agar asap rokok itu tidak dia hirup.
Kegan menoleh, lalu menaikkan sebelah alisnya ke arah Kanin. “What is the problem? I am smoking in my house, Kanin. This is not your area.”
Kanin tidak sempat membalas karena sudah lebih dulu batuk-batuk karena asap rokok yang masuk ke hidungnya. Wanita itu hendak berdiri, tetapi tangannya ditahan begitu saja oleh Kegan. Ketika Kanin menatap ke arah laki-laki itu, dia mendapati seringai sinis di wajah Kanin.
Kegan mendekatkan wajahnya ke arah Kanin yang seketika membuat wanita itu menjauh. “So … kamu takut asap rokok?”
“It will kills me!” seru Kanin.
Kegan kembali menyeringai mendengar nada ketakutan di suara Kanin. Laki-laki itu kemudian membuang batang rokoknya lalu menginjaknya sampai padam. Tepat ketika asap rokok sudah hilang sepenuhnya dari sekitar mereka, Kanin baru berani melepaskan tangannya dari depan hidung dan bernapas lega.
“What about this? Will it kills you too?”
Setelah itu, bibir Kegan bergerak liar melumat bibir merona Kanin yang terbalut lipstik berwarna serupa buah peach. Kanin membulatkan mata tidak percaya dengan tindakan yang dilakukan oleh Kegan. Namun, seiring dengan lidah Kegan yang bermain di dalam bibirnya, Kanin mulai menikmati ciuman itu.
Bau tembakau menyengat di hidungnya, tetapi Kanin merasa tidak cukup terganggu. Dia tetap larut dalam ciuman intens dan dalam yang diberikan Kegan hingga laki-laki itu secara mendadak menghentikan kegiatannya.
“Kayaknya kamu nggak bakal mati waktu aku ngerokok,” ujar Kegan. “Asalkan habis itu aku nyium kamu.”
Setelah itu, Kegan segera beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Kanin yang masih berdiam diri di tempatnya. Sialan! Kanin merasa benar-benar dipermalukan.
--
Jantung Kanin masih berdebar begitu kencang bahkan setelah ciuman itu suda lewat beberapa menit yang lalu. Kanin masih berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terlihat tengah menahan sesuatu ketika dia berhadapan dengan kedua orang tua Kegan dan juga kakek laki-laki itu. kanin berusaha menampilkan senyumannya, tetapi kedua bola mata wanita itu tampak gelisah sehingga dia berkali-kali berusaha mengatur napasnya.
“Makasih udah datang ya, Kanin,” ujar Anelis yang seketika membuat Kanin menoleh ke arahnya.
Kanin tersenyum sopan seraya menganggukkan kepalanya dengan begitu anggun dan luwes. Wanita itu terlihat sangat terkendali meskipun jauh di dalam hatinya, debug jantungnya saat ini sedang bertalu sedemikian cepat.
“Terima kasih kembali karena udah mengundang aku ke sini, Tante. Senang ketemu sama kalian semua,” balas Kanin dengan senyum lebar di wajahnya.
Anelis tampak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Kanin. Raden juga tampak senang mendengar jawaban Kanin yang sangat sopan. Yang paling bahagia adalah Brata, laki-laki yang duduk di kursi roda itu dengan senang merentangkan tangannya ke arah Kanin, memberikan kode untuk wanita itu agar segera memeluknya.
“Sering-sering datang ke sini, Nin. Temani kakek main di sini,” ujar Brata seraya menepuk pelan puncak kepala Kanin.
Wanita itu mengangguk dengan senyum cerah hingga deretan gigi rapinya terlihat jelas. “Pasti, Kek. Nanti aku sering main ke sini,” balas wanita itu.
Semua orang tersenyum melihat bagaimana interaksi manis Kanin dan Brata, kecuali Kegan. Laki-laki itu menatap sinis penuh selidik ke arah Kanin yang masih dia anggap sebagai wanita paling licik dan manipulatif yang pernah dia temui.
“Salam sama Papa kamu ya, Nin. Sampaikan nanti om main ke sana kalau ada waktu,” ujar Raden ketika Kanin sudah melepaskan pelukannya dari Brata.
“Tentu, Om. Papa nanyain terus, katanya udah nggak pernah main ke rumah lagi,” jawab Kanin.
Beberapa saat kemudian, Galeo datang bersama Amara dari taman belakang. Dua anak muda itu saling tersenyum satu sama lain sehingga menimbulkan kehangatan baru di keluarga kecil Kegan. Galeo dan Amara, bagaimana pun juga mereka tahu seberapa rumit hubungan dua manusia itu.
“Ya sudah, Om, Tante. Aku pamit pulang dulu,” ujar Kanin seraya menyalami satu per satu tangan pasangan di depannya. “Aku pulang dulu, Kek. Nanti aku main lagi,” lanjutnya seraya menghadiahi Brata dengan pelukan singkat.
“Hati-hati bawa mobilnya, Galeo. Jangan ngebut-ngebut,” nasehat Raden saat Galeo sudah berdiri di sebelah Kanin.
Laki-laki muda itu mengangguk patuh. “Pasti, Om. Bisa mati aku sama Kak Kanin kalo bawa mobil ngebut,” jawabnya dengan nada kelakar.
“Aku pulang dulu,” pamit Kanin pada akhirnya. “Oh! Amara! Lama banget nggak ketemu kamu.” Belum sempat dia beranjak, Kanin lebih dulu memeluk Amara dengan begitu erat. “Kapan-kapan main sama aku, ya?”
“Oke, Kak. Aku juga udah tinggal di Jakarta sekarang,” balas Amara dengan suaranya yang terdengar begitu lembut.
Kedua mata Kanin berbinar senang. “Kabar bagus! Kita bisa hangout bareng,” seru wanita itu.
“Saya antara sampai depan.” Kegan memotong pembicaraan dua wanita itu dengan cepat.
Kanin menatapnya sengit, tetapi tak urung juga mengikuti langkah laki-laki itu setelah mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga Kegan.
“Gimana rasanya ketemu mantan?” tanya Kanin kepada Galeo dalam perjalanannya menuju garase rumah Kegan yang terletak di halaman depan.
Galeo mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Biasa aja,” jawabnya yang sepenuhnya bohong.
Kanin memincingkan mata ke arah adik satu-satunya itu dengan curiga. Tatapan itu kontan saja membuat Galeo mengernyit tidak senang sehingga dengan cepat memukul pelan kepala kakaknya.
“Awh!” ringis Kanin, yang tidak hanya membuat Galeo mendengus, juga membuat Kegan yang berjalan di depan mereka seketika menoleh.
“Jangan dibiasain bercanda di mobil, Gal,” ujar Kegan dengan ekspresi datar. “Kakakmu biasanya nggak tau tempat. Nyawa kalian taruhannya.”
Galeo tertawa ringan mendengar ucapan laki-laki itu, sementara Kanin memutar bola mata malas. Kanin sebenarnya tidak ingin memedulikan keberadaan Kegan dan menganggap laki-laki itu tidak ada—sejak kejadian ciuman tidak terduga itu, dia merasa enggan menanggapi Kegan. Tapi tetap saja Kegan berhasil membuat Kanin kesal sampai harus mendelik ke arahnya.
“Diem,” peringat Kanin tajam.
Kegan tidak memedulikan wanita itu dan memilih menepuk pelan pundak Galeo. “Nyetir hati-hati.”
“Siap, Mas Kegan. Kanin bakal selamat sampai tujuan,” balas Galeo seraya membungkuk.
“Bukan Kanin, sih. Tapi lo. Kasian adik sepupu gue nanti jomblo kalo lo kenapa-kenapa,” sanggah Kegan diikuti dengan kedikkan bahu tidak peduli.
Galeo kembali tertawa sementara Kanin sudah melemparkan tatapan sinis ke arah Kegan. Laki-laki itu selalu berhasil menyulut emosinya dalam keadaan apa pun dan Kanin sungguh tidak ingin menghabiskan energinya sepagi ini hanya untuk menanggapi Kegan.
“Buruan deh, Gal. Gue ada meeting sama klien sekarang,” cetus Kanin seraya melenggang lebih dulu masuk ke mobil Galeo.
“Gue pulang dulu, Mas. Salam sama Amara,” pamit Galeo sebelum dia menyusul kakaknya masuk ke mobil.
Kegan hanya mengangguk sekilas lalu berdiri di sana selama beberapa saat sebelum mobil Galeo meninggalkan halaman rumahnya. Sampai mobil itu benar-benar sudah pergi dan menghilang d balik gerbang rumahnya, baru Kegan beranjak masuk ke rumahnya.
--