Kanin kembali ke butik setelah kemarin dia mengatakan akan libur satu hari kepada seluruh pegawainya. Hal tersebut tentu saja membuat mereka terkejut dan bertanya-tanya kenapa Kanin membatalkan agendanya. Tetapi melihat ekspresi wajah Kanin yang tidak terlalu bersahabat, mereka semua sepakat untuk tidak membahas mengenai alasan mengapa wanita itu tiba-tiba datang ke kantor dan hanya menyapa Kanin takut-takut.
“Klien buat wedding dress ini mau ketemu kapan, Ra?” tanya Kanin kepada Naira seraya menunjuk jadwal di ipad miliknya.
“Besok siang, Mbak. Katanya mau ketemu langsung sama Mbak Kanin buat bicarain desain,” jawab Naira.
Kanin mengangguk paham lalu kembali berjalan menuju mejanya dan duduk di sana. Tatapan wanita itu terlihat fokus kepada layar laptop yang menunjukkan laporan bulanan butik mereka. Beberapa kali keningnya terlihat mengernyit singkat lalu kembali normal ketika dia sudah menemukan apa yang salah.
“Fotografer buat model rancangan LookMe gimana, udah deal?” Kanin bertanya dari kursinya tanpa menatap karyawannya.
“Deal, Mbak. Sabtu depan udah mulai rancang shooting,” jawab Emmy, karyawan yang bertugas di bidang content creator.
“Bagus,” komentar Kanin pendek.
Tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka sehingga suasana mendadak berubah canggung. Kanin yang menyadari kecanggungan itu segera mengangkat kepalanya dari layar komputer lalu menatap ke arah pergawainya satu per satu. Mereka semua terlihat sibuk dengan tugas masing-masing dengan bibir terbungkam yang terlihat sangat aneh di mata Kanin.
Biasanya, kantor sekaligus butik itu tidak pernah sediam ini karena semua orang yang bekerja dengannya punya begitu banyak bahan cerita. Bahkan dalam keadaan genting sekali pun, mereka masih tetap bisa bercerita satu sama lain sehingga suasana di tempat itu terasa hidup dan menyenangkan.
“Kok diem?” tanya Kanin tiba-tiba.
Semua orang di sana saling lirik, kemudian serempak mengarahkan pandangan ke arah Kanin. Biley yang pertama kali merespons dan langsung tertawa terbahak, membuat Kanin juga ikut tertawa setelahnya. Baru kemudian setelah itu, semua orang mengembuskan napas mereka dengan lega dan tersenyum lebar.
“You dateng-dateng kayak mau makan orang, Mbak! Kita kan jadi ketakutan,” celetuk Biley di sela-sela tawanya.
“Kalian kayak nggak kenal aku aja,” balas Kanin dengan nada santai. “Mukaku emang gini, kali! Ngapain kalian takut, sih.”
“Habisnya kemarin kamu juga keliatan banyak masalah sama Mas Agam,” balas Naira dengan kedikkan bahu kecil.
Ekspresi wajah Kanin seketika berubah ketika mendengar nama Agam disebut. Wanita itu baru ingat bahwa kemarin dia sempat beradu mulut dengan Agam. Selama berada di rumah Kegan, entah mengapa ingatannya mengenai Agam seolah menghilang dan satu-satunya yang dia pikirkan adalah sikap menyebalkan Kegan yang membuatnya kesal bukan main.
“You okay with him, Nin?” tanya Biley dengan tatapan lekat memperhatikan wajah sahabat sekaligus atasannya itu.
“I break up with him,” jawab Kanin dengan tatapan menerawang. “Dan aku mau nikah sama orang lain. Am I such a bastard?”
Mereka semua terdiam dengan tatapan yang fokus mengarah kepada Kanin. Tidak ada yang membuka suara untuk sekadar menyanggah pernyataan Kanin karena mereka sendiri bahkan tidak tahu di mana duduk permasalahan atasan mereka tersebut.
“Ini beneran, Mbak? Aku kira kemarin itu Cuma candaan biasa,” cetus Naira yang akhirnya berbicara.
Kanin mengangguk singkat kemudian berdiri dari tempatnya. Wanita itu berjalan perlahan menuju lemari pendingin lalu mengambil satu botol air mineral dan meneguknya cepat. Semua pegawainya masih menatapnya penuh penasaran sehingga Kanin perlahan menurunkan pandangannya lalu tertawa kecil.
“Aku serius,” ujar wanita itu kemudian. “Beneran nikah sama laki-laki tapi bukan Agam,” lanjutnya.
“Kalo boleh tau, kenapa, Mbak?” Emmy mulai terseret rasa penasarannya.
Kanin menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Bahkan dia sendiri pun tidak tahu alasan mengapa dirinya sampai di tahap ini bersama Kegan. Kanin yang teramat mencintai Agam, sungguh tidak menyangka bahwa dia akan memutuskan kekasihnya itu dan setuju menikah dengan Kegan.
“Aku nggak tau persisnya gimana. Tapi keluargaku punya semacam perjanjian gitu sama keluarga calon suamiku,” jelas Kanin berusaha seringkas mungkin.
“Jadi ini sejenis perjodohan?” tanya Naira yang seketika membuat Kanin menoleh ke arahnya.
Wanita itu mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Bisa dibilang begitu.”
Semua orang terpana mendengar jawaban yang diberikan oleh Kanin. Siapa sangka atasan mereka dengan keras kepalanya serta pemikiran modernnya itu ternyata masih mau mengikuti tradisi keluarga yang masih kuno seperti perjodohan? Tidak mereka. Semua orang yang sudah bekerja bersama Kanin sejak lama sama sekali tidak menyangka hal itu terjadi.
“Tapi kamu ada rasa suka sama orang itu, Mbak? Atau ini pure bener-bener Cuma karena ngikutin keluarga?” tanya Emmy dengan rasa penasarannya yang semakin meledak-ledak.
Kanin tampak berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya sekilas. “Belum tau cinta apa enggaknya karena itu cowok satu ngeselin banget! Tapi, dari tampang sih, ya, lumayan.”
Mereka semua menyemburkan tawa mendengar kata-kata Kanin yang terdengar seperti gurauan belaka. Bekerja dengan Kanin selama hampir empat tahun semenjak butik ini didirikan sampai hari ini, Kanin memang lebih cenderung berperan sebagai sahabat sekaligus partner yang baik untuk mereka. Namun, meskipun terlihat santai seperti ini, tingkat ketelitian Kanin dalam bekerja benar-benar sangat tinggi sampai terkadang membuat mereka kagum.
“Udah, udah. Balik kerja sana,” cetus Kanin kemudian kembali duduk di meja kerjanya. “Collab sama Pradnya Ratih gimana? Udah ada tim mereka yang ngontak kita?”
“Kemarin managernya ngirim email. Katanya Senin mau ketemu sama kamu,” jawab Naira sigap.
Kanin menganggukkan kepalanya sekilas lalu kembali memeriksa laporan penjualan mereka bulan ini. Wanita itu memasang kacamatanya kemudian larut dalam kegiatannya memeriksa semua laporan, lalu melakukan beberapa koreksi sampai mengecek jadwal pekerajaannya selama seminggu kedepan.
Kanin terlihat sibuk hingga beberapa menit kemudian, ponselnya berdering hingga konsentrasi Kanin buyar begitu saja. Wanita itu menarik napas panjang lalu meregangkan tubuhnya yang terasa kaku sebelum dia meraih ponsel dan mengangkat panggilan dari nomor Kegan.
“Kenapa? Do you miss me?” tanya wanita itu tanpa basa-basi.
Meskipun hanya lewat telepon, Kanin seolah bisa melihat ekspresi datar Kegan yang terasa menyebalkan. Laki-laki itu pasti sedang mengangkat sebelah alisnya di sana dengan pandangan datar setengah jijik mendengar pertanyaan Kanin.
“Dompet kamu ketinggalan di sini.”
Dengan cepat Kanin memeriksa tasnya dan mengembuskan napas berat saat menyadari dompetnya memang tidak ada di sana. Wanita itu mengira mungkin saja dia lupa memasukkannya setelah memberikan kartu nama kepada salah satu tante Kegan yang menanyakan di mana butiknya berada.
“Bisa antarkan ke sini?” tanya Kanin kemudian.
“Nggak.”
Seperti biasa. Tanpa perlu terkejut, Kanin sudah tahu apa jawaban yang diberikan Kegan. Wanita itu memutar bola matanya malas lalu menyiapkan semua barangnya untuk kembali ke rumah Kegan. Sebenarnya Kanin sedikit malas karena rumah laki-laki itu cukup jauh dari tempatnya bekerja, tapi karena dompet adalah barang penting untuknya dan Kanin takut Kegan berbuat macam-macam, maka wanita itu memutuskan untuk mengambilnya saja.
“Aku yang ngambil ke sana,” ujar Kanin kemudian.
Ada jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya Kanin kembali mendengar suara Kegan. “Ketemu di coffee shop. Saya kirim alamatnya.”
--
Tempat yang dimaksud oleh Kegan adalah tempat yang sama ketika mereka bertemu beberapa hari lalu untuk membicarakan pernikahan. Kanin suka aroma di salah satu kafe itu sehingga dia tidak keberatan untuk datang ke sana menemui Kegan. Wanita itu turun dari mobilnya, lalu berjalan dengan langkah anggun masuk ke dalam kafe tersebut.
Pandangannya berpendar mencari keberadaan Kegan yang ternyata sudah duduk di tempat yang sama seperti terakhir kali mereka bertemu di sana. Kanin segera melangkah ke arah Kegan, menimbulkan bunyi hentakkan heels yang beradu dengan lantai kayu di bawahnya. Wanita itu berjalan dengan begitu elegan dan sangat sesuai dengan penampilannya yang terlihat mewah dari atas sampai bawah.
“Mana dompetku,” cetus Kanin ketika dia sudah berdiri di sebelah Kegan.
Kegan yang sejak tadi sibuk mengecek pekerjaannya lewat ipad dengan segera menolehkan kepala ketika mendengar suara wanita yang mulai terasa tidak asing di pendengarannya. Sebelah alisnya terangkat saat melihat Kanin berdiri di sebelahnya dengan gaya angkuh, seperti wanita itu biasanya.
Laki-laki itu memperhatikan penampilan Kanin yang terlihat berbeda dari sejak terakhir kali mereka bertemu tadi pagi. Kanin terlihat menggunakan sebuah blazer berwarna cokelat muda untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Lipstik yang tadi pagi hanya sekadar warna merah muda cerah, sekarang berubah menjadi merah pekat yang seakan menunjukkan siapa Kanin sebenarnya. Wanita itu terlihat elegan, mahal, sekaligus berkelas.
“Duduk dulu,” ujar Kegan seraya menunjuk kursi di depannya dengan dagu.
Kanin sudah hendak melontarkan protes dengan semua jenis ocehannya, tapi saat matanya menangkap sepotong cake lengkap dengan satu gelas minuman yang dia duga adalah coffe latte, Kanin segera duduk seperti apa yang Kegan suruh.
“Aku mau ini,” cetusnya seraya menunjuk cake dengan aroma lembut yang ada di depan Kegan.
Laki-laki itu menghela napasnya panjang lalu menyodorkan potongan kue itu ke arah Kanin yang seketika diterima wanita itu dengan senyum cerah. Kanin terlihat begitu bahagia padahal Kegan hanya memberikan bagian kecil kue yang menurut Kegan sama sekali tidak membuat kenyang.
“Aku mau—
“Sebentar,” potong Kegan sebelum Kanin sempat menyelesaikan ucapannya.
Kegan memanggil salah seorang pelayan kafe yang sekarang berjalan mendekat ke arahnya. Kemudian, dia memberikan kode kepada Kanin untuk memesan apa yang wanita itu inginkan. Alis Kanin sempat terangkat sekilas ketika Kegan hanya mengangkat dagunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tapi sadar bahwa Kegan memanggil pelayan itu untuknya, Kanin segera menoleh. Dia tersenyum sekilas ke arah waitress muda yang sekarang tersenyum sembari menunggunya mengatakan pesanan.
“Matcha latte tapi esnya sedikit aja, ya,” ujar Kanin kemudian.
“Ada tambahan, Kak?” pelayan itu terlihat mencatat di buku menunya.
Kanin menggelengkan kepala singkat. “Itu aja.”
Setelahnya, pelayan itu kemudian pergi dari hadapan Kanin dan meninggalkannya berdua bersama Kegan. Tatapan Kanin mengarah kepada Kegan yang sekarang terlihat fokus dengan ipad di tangan laki-laki itu. Sama seperti dirinya ketika bekerja, Kegan juga menggunakan kacamata baca yang membingkai wajahnya.
“Ngapain lihatin saya?” tanya Kegan tiba-tiba.
Kanin menaikkan sebelah alisnya lalu mengedikkan bahu sekilas. Tingkat kepercayaan diri Kegan memang sangat tinggi sampai-sampai membuat Kanin malas jika laki-laki itu sudah menunjukkan kenarsisannya.
“Dompet, Kegan.” Kanin lantas teringat tujuannya datang ke sini.
Tanpa mengalihkan tatapannya dari ipad, Kegan mengeluarkan dompet berwarna hitam dari saku celananya. Tangannya kemudian menyodorkan benda itu ke arah Kanin, masih dengan tatapan yang berfokus kepada berbagai macam data yang harus dia analisis.
“Sebenarnya aku nggak pengen lama-lama di sini karena kerjaanku banyak banget,” cetus Kanin tiba-tiba. “Tapi karena kue ini enak dan aku lihat minuman kamu juga enak, aku mutusin buat di sini dulu.”
Kegan tidak menanggapi ucapan Kanin dengan balasan kata-kata. Tapi di dalam kepalanya, dia sedang memikirkan betapa sifat Kanin sangat berbeda dari biasanya. Wanita itu terlihat lebih ceria sampai Kegan kebingungan sendiri. Apakah makanan manis sebegitu berpengaruhnya untuk memperbaiki mood Kanin sampai wanita itu banyak bicara dengan nada ceria?
“Pernikahan kita,” ujar Kegan lalu meletakkan ipad miliknya dan melepaskan kacamata, lalu menatap serius ke arah Kanin.
Wanita yang terlihat masih asik memakan kue miliknya itu lantas berhenti mengunyah. Bibirnya seketika terkatup dan ekspresi wajahnya terlihat sangat serius, persis seperti Kanin yang biasa. Hal itu kembali membuat Kegan bertanya-tanya tetapi dia simpan semua rasa penasarannya terhadap Kanin dalam diam. Kegan tidak ingin terlihat sedang memperhatikan Kanin sampai-sampai dia tahu bagaimana perubahan ekspresi wanita di depannya yang bisa berganti begitu cepat.
“Keluarga saya pengen cepat-cepat, terutama Kakek,” ujar Kegan setelah dia berhenti memperhatikan Kanin. “Menurut kamu gimana?”
“Cepatnya kapan?” tanya Kanin dengan nada tajam andalannya.
“Dua bulan lagi,” jawab Kegan lugas.
Kanin terlihat berpikir. Kening wanita itu mengerut memikirkan ucapan yang dilontarkan oleh Kegan kepadanya. Dua bulan waktu yang terlalu cepat untuknya, dan kebetulan dalam kurun waktu dua bulan ini Kanin sedang menyiapkan pameran untuk salah satu rancangan terbarunya.
“Dua bulan kecepetan,” sergah Kanin kemudian. “Gini, ya, Ke. Aku tau kita nikah karena terpaksa, tapi aku Cuma pengen nikah sekali seumur hidup dan aku pengen bikin pernikahanku berkesan. Bahkan meski nggak sama orang yang aku sayang, aku pengen pernikahanku jadi kenangan paling bahagia buat aku.”
Kegan cukup terpana mendengar penjelasan yang diberikan oleh Kanin dengan raut wajah serius itu. wanita yang selalu dianggapnya egois, kekanakkan, tidak memikirkan perasaan orang lain dan berbagai hal buruk lainnya, ternyata bisa memiliki pemikiran seperti ini dan hal tersebut cukup membuat Kegan terkejut.
“Okay, I get it,” balas Kegan. “Tapi kita harus gimana sebelum bener-bener nikah? Maksud saya, nggak mungkin kamu cinta sama saya dan gitu juga sebaliknya. Kamu nggak takut pernikahan ini akhirnya malah batal?”
Kanin menggelengkan kepalanya keras-keras, seolah yakin bahwa ketakutan Kegan tidak akan pernah terjadi. “Nggak bakal batal karena kita bakal jadi pasangan setelah ini. Kita pura-pura aja depan semua orang. Hitung-hitung nambah chemsitry biar nggak dikira boongan banget, kan?”
Sekali lagi, Kegan terpana. Kali ini karena tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kanin. Wanita itu terlalu ajaib sampai Kegan tidak bisa menebak isi pikirannya apa. Kanin benar-benar tidak terduga sekaligus mengejutkan.
--