Bunga-bunga mulai bermekaran. Pucuk-pucuk daun muda muncul di antara ranting-ranting pohon yang selama musim dingin tampak mati. Musim semi telah tiba.
Aku mengembuskan napas panjang.
Pemandangan indah di luar jendela seharusnya membawa harapan baru, tetapi pikiranku justru kembali pada kejadian beberapa bulan terakhir. Kesedihan seolah tak pernah memberiku kesempatan untuk bernapas.
Pagi itu, pemakaman ayahku baru saja selesai. Namun sebelum aku dan Ibu sempat menerima kenyataan bahwa beliau telah pergi untuk selamanya, para petugas datang menyita hampir seluruh harta keluarga kami.
Perusahaan keluarga Beckett bangkrut.
Hutang yang menumpuk selama ayah berjuang melawan penyakitnya telah menghabiskan segalanya.
Rumah.
Perusahaan.
Aset keluarga.
Semua lenyap dalam waktu singkat.
Namaku Katherine Beckett. Aku berusia dua puluh satu tahun. Dan kini, setelah kehilangan ayahku, aku hanya memiliki satu orang yang tersisa di dunia ini.
Ibuku, Madison Beckett.
"Kate. Sudah waktunya berangkat."
Suara tegas Ibu membuyarkan lamunanku.
"Baik, Mom."
Aku berdiri dan berjalan menyusuri jalan berbatu menuju sebuah Chevrolet hitam yang telah menunggu di depan mansion.
Barang-barang kami sudah dimasukkan ke dalam bagasi.
Semua yang tersisa dari kehidupan keluarga Beckett.
Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ibu. Tak lama kemudian, sopir menutup pintu dan mesin mulai menyala.
Sebelum mobil bergerak, aku menoleh untuk terakhir kalinya.
Mansion Beckett.
Tempat aku dilahirkan.
Tempat aku tumbuh besar.
Tempat yang selama ini kuanggap akan selalu menjadi rumah.
Dadaku terasa sesak.
Aku akan merindukannya.
Sangat merindukannya.
"Berapa lama perjalanan kita?" tanyaku pelan.
Saat ini kami tak memiliki tempat tinggal lagi. Beruntung, Lady Laurel Bennett bersedia menampung kami.
Jeremiah Bennett, cucunya, adalah sahabatku sejak lahir.
Keluarga kami telah dekat selama beberapa generasi. Ibuku dan mendiang ibu Jeremiah bahkan bersahabat sejak masa sekolah asrama mereka.
Sejak kedua orang tuanya meninggal ketika Jeremiah berusia tujuh tahun, Ibu selalu berusaha memperhatikannya seperti keluarga sendiri.
Mungkin karena itulah keluarga Bennett tak pernah ragu membuka pintu mereka untuk kami.
"Kurang lebih enam jam," jawab Ibu. "Sebaiknya kau beristirahat."
"Hmm."
Aku memandang wajahnya.
Meski duka terlihat jelas di matanya, Madison Beckett tetap memancarkan wibawa seorang bangsawan.
Beliau adalah wanita yang kuat.
Dalam beberapa bulan terakhir, aku melihat sendiri bagaimana ia mengurus perusahaan yang runtuh, menghadapi para kreditur, sekaligus merawat ayah hingga akhir hayatnya.
Meskipun Ibu jarang menunjukkan kasih sayang secara langsung, aku tahu betapa besar cintanya kepadaku.
Mansion keluarga Bennett berada di sebuah kota kecil bernama Edinville, jauh dari kota kelahiranku, Ivyrea.
Dan enam jam kemudian, kami akhirnya tiba.
"Kate. Bangun."
Aku membuka mata perlahan.
"Sudah sampai. Rapikan dirimu."
Aku menguap kecil lalu membereskan rambut yang berantakan akibat tidur selama perjalanan.
Mobil berhenti tepat di depan tangga utama mansion.
Begitu pintu dibuka, aku turun perlahan dan langsung terpana.
Mansion Bennett jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
"Kate!"
Suara yang sangat kukenal membuatku menoleh.
Seorang pria tinggi dengan rambut hitam berkilau berlari menuruni tangga.
Sebelum aku sempat bereaksi, tubuhku sudah terangkat dari tanah.
"Jeremiah!"
"Aku merindukanmu!"
Ia memelukku erat hingga aku nyaris kehabisan napas.
"Aku senang kau akhirnya tinggal di sini."
Setelah melepaskanku, Jeremiah tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.
"Aku tidak punya banyak pilihan, kan?" balasku masam.
Senyumnya justru semakin lebar.
Jeremiah Bennett selalu seperti itu.
Tujuh tahun lebih tua dariku, tetapi sering kali bersikap jauh lebih kekanak-kanakan.
"Kau sudah datang, Madison. Katherine."
Suara lembut seorang wanita tua membuat kami menoleh.
Lady Laurel Bennett sedang menuruni tangga perlahan.
Meski usianya telah melewati tujuh puluh tahun, auranya masih memancarkan keanggunan yang luar biasa.
Jeremiah segera menghampirinya dan menawarkan bantuan.
"Nyonya Bennett," kata Ibu sopan. "Terima kasih telah menerima kami."
Lady Laurel tersenyum hangat.
"Jangan berkata seperti itu. Mansion ini terlalu sepi hanya dengan aku dan Jeremiah."
Tatapannya berpindah kepadaku.
"Kehadiran kalian justru membuatku senang."
Dadaku menghangat mendengar ucapannya.
"Jeremiah, antar mereka ke kamar masing-masing. Sebentar lagi waktu makan siang."
"Baik, Nek."
Jeremiah segera meraih koperku.
"Ikut aku, Kate."
---
Beberapa saat kemudian, aku berdiri di kamar yang telah disiapkan untukku.
Kamar itu begitu besar.
Tempat tidur berukuran king-size, perabot kayu mahal, serta jendela tinggi yang menghadap taman belakang.
Kemewahan yang selama setahun terakhir hampir terlupakan.
Aku menatap koper tuaku.
Kontrasnya terasa menyakitkan.
Dalam satu tahun terakhir, hampir seluruh barang berharga keluarga kami dijual untuk membayar biaya pengobatan Ayah, hutang perusahaan, dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Tok.
Pintu kamar diketuk.
"Boleh aku masuk?"
Aku menoleh.
Jeremiah berdiri di ambang pintu.
"Tentu. Ini rumahmu."
"Ayolah, Kate."
Ia masuk sambil menggelengkan kepala.
"Haruskah kau selalu terdengar seperti itu?"
"Kau tahu bagaimana perasaanku soal semua ini."
"Benar. Aku mungkin orang yang paling mengenalmu."
Aku mendengus pelan.
"Kau selalu mengatakan hal itu."
"Karena itu memang benar."
Jeremiah menjatuhkan dirinya ke sofa.
"Aku mencintaimu dengan caraku sendiri."
Aku tertawa kecil.
Meskipun sering terdengar berlebihan, aku tahu maksudnya.
Jeremiah memang selalu ada untukku.
Saat aku sedih.
Saat aku marah.
Saat aku kehilangan arah.
Selalu.
"Aku harap kau betah di sini," katanya kemudian.
Aku berhenti melipat pakaian.
"Aku dan Ibu tidak bisa terus bergantung pada keluargamu, Jere."
Ekspresinya berubah serius.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku harus mencari pekerjaan."
Jeremiah menatapku sejenak sebelum menghela napas.
"Kau serius?"
"Tentu."
"Kate, kau hampir tak pernah mengenal dunia luar selain mansion, sekolah, dan asrama."
Aku menyipitkan mata.
"Terima kasih. Kau benar-benar tahu cara membangun rasa percaya diriku."
"Aku hanya realistis."
"Bukan. Kau menyebalkan."
Ia tertawa.
"Aku hanya tak ingin kau terluka."
Tatapannya melembut.
"Kau tahu aku sangat menyayangimu, kan?"
"Berhenti merayuku."
"Kenapa? Biasanya berhasil pada wanita lain."
"Itu masalahmu."
Jeremiah menyeringai nakal.
"Aku bahkan mulai curiga kau tidak menyukai pria."
Bruk!
Sebuah bantal menghantam wajahnya.
"Aww!"
"Aku akan melaporkanmu atas pencemaran nama baik!"
"Dan aku akan melaporkanmu atas pelecehan fisik!"
Kami saling menatap tajam.
Hening beberapa detik.
Lalu, tanpa bisa ditahan lagi, kami tertawa bersamaan.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan hidup dalam kesedihan, aku merasa sedikit lebih ringan.
Meski hanya sesaat.
Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan segalanya, aku mulai percaya bahwa mungkin... hidupku belum benar-benar berakhir.
---
Bunga lily putih memang memiliki pesonanya sendiri.
Aku mengangkat setangkai lily yang baru saja kupilih, lalu menghirup aroma lembutnya. Untuk sesaat, aku mengabaikan hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang di sekitar toko bunga kecil itu.
Hari ini adalah hari pertamaku keluar dari Mansion Bennett sejak seminggu lalu aku dan Ibu pindah ke Edinville.
Aku harus mulai mengenal dunia luar.
Setidaknya agar Jeremiah berhenti menggodaku dan menyamakan diriku dengan kura-kura pemalu yang enggan keluar dari tempurungnya.
Setelah berjalan kaki hampir tiga puluh menit dari mansion, aku menemukan sebuah toko bunga di pinggir jalan.
Toko itu tidak besar, hanya berupa bangunan terbuka beratapkan kayu dan jerami seluas kurang lebih lima belas meter persegi. Namun justru kesederhanaannya membuat tempat itu terasa hangat dan menyatu dengan alam.
Perhatianku teralihkan ketika sebuah kereta kuda yang penuh dengan bunga berhenti di depan toko.
Dua pria yang duduk di bangku kusir turun dan mulai menurunkan pot-pot bunga dari kereta.
Tak lama kemudian, suara derap kaki kuda terdengar dari arah belakang.
Seekor kuda hitam berhenti tepat di samping kereta.
Seorang pria melompat turun dengan gerakan lincah.
Aku tanpa sadar memperhatikannya.
Usianya mungkin tidak jauh berbeda dari Jeremiah. Tubuhnya tinggi dan tegap. Kulitnya kecokelatan, rambutnya hitam pekat dan sedikit berantakan karena angin.
Entah kenapa, dari belakang ia mengingatkanku pada Jeremiah.
Pria itu mulai memberi instruksi kepada para pekerja yang sedang menurunkan bunga. Pemilik toko keluar menyambutnya dengan ramah dan keduanya terlihat berbincang akrab.
Aku tersenyum kecil.
Pemandangan seperti ini jarang kutemui di Ivyrea.
Edinville terasa berbeda.
Di kota kecil ini masih banyak orang menggunakan kuda dan kereta sebagai alat transportasi. Udara terasa jauh lebih bersih, dan kehidupan berjalan lebih lambat dibandingkan kota kelahiranku.
Tanpa sadar, mataku kembali tertuju pada pria itu.
Semakin lama memperhatikannya, semakin kusadari bahwa kemiripannya dengan Jeremiah hanya sekilas.
Jika Jeremiah memiliki aura hangat dan mudah didekati, pria ini justru sebaliknya.
Tatapan matanya lebih tajam.
Rahangnya lebih tegas.
Dan ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang lain enggan memalingkan pandangan.
Seolah merasakan tatapanku, ia menoleh.
Mata kami bertemu.
Jantungku langsung berdetak kencang.
Aku membeku.
Padahal aku pernah bertemu banyak pria tampan selama hidupku.
Namun untuk alasan yang tidak kumengerti, aku tidak mampu mengalihkan pandangan darinya.
Pria itu tersenyum.
Aku langsung menunduk panik.
Panas menjalar hingga ke telingaku.
Memalukan.
Benar-benar memalukan.
Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Bahkan Jeremiah yang jauh lebih tampan tidak pernah membuatku bereaksi seperti ini.
"Bunga lily melambangkan kebangkitan hidup."
Aku tersentak.
Suara itu terdengar begitu dekat.
Saat mengangkat kepala, aku mendapati pria tadi sudah berdiri di sampingku.
"Karena itulah banyak orang mengaitkannya dengan harapan baru, matahari, dan awal yang baru."
Aku menelan ludah gugup.
"Kau menyukai lily?"
"Ah... ya..." jawabku terbata.
Lalu, karena gugup, aku malah mengatakan hal paling bodoh yang bisa terpikirkan.
"Aku suka semua yang berwarna putih."
Begitu kalimat itu keluar, aku langsung ingin menghilang dari muka bumi.
Untungnya ia hanya tersenyum.
"Bagaimana kau bisa tahu arti bunga?" tanyaku cepat-cepat untuk mengalihkan rasa maluku.
Ia menunjuk ke arah kereta yang dipenuhi bunga.
"Aku salah satu pemasok bunga untuk toko ini."
"Oh."
"Tentu aku harus memahami produk yang kujual."
Aku mengangguk pelan.
Pria itu mengamatiku beberapa saat.
"Sepertinya aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
"Aku memang bukan penduduk sini."
"Dari mana?"
"Ivyrea."
Alisnya sedikit terangkat.
"Itu enam jam perjalanan dari sini."
"Aku tahu."
"Kau tidak mungkin menempuh perjalanan sejauh itu hanya untuk membeli bunga."
Aku tertawa kecil.
"Tentu saja tidak. Aku baru pindah ke Edinville seminggu yang lalu."
"Warga baru rupanya."
Ia tersenyum.
"Kalau begitu, selamat datang di Edinville."
"Terima kasih."
Pria itu mengulurkan tangannya.
"Dominic Avcolf."
Aku menyambut uluran tangannya.
"Katherine Beckett."
"Katherine?"
"Semua orang memanggilku Kate."
"Kate."
Entah kenapa, mendengar namaku keluar dari bibirnya membuat jantungku kembali berdebar.
Dominic berbalik menuju kereta.
Beberapa detik kemudian ia kembali dengan membawa sebuah buket lily putih yang cantik.
Ia menyerahkannya kepadaku.
"Untukmu."
Aku berkedip bingung.
"Aku tidak memesannya."
"Aku tahu."
Senyumnya kembali muncul.
"Anggap saja hadiah selamat datang."
Sebelum aku sempat menolak atau mengucapkan apa pun, Dominic sudah melangkah menuju kudanya.
"Semoga kau menyukai Edinville, Kate."
Ia menaiki kudanya dengan satu gerakan lincah.
"Sampai bertemu lagi."
Lalu ia pergi.
Meninggalkanku yang masih berdiri memeluk buket bunga sambil memandangi punggungnya menjauh.
---
Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku terus dipenuhi oleh Dominic.
Senyumnya.
Tatapan matanya.
Caranya mengucapkan namaku.
Dan kenyataan bahwa aku bahkan tidak mengenalnya.
Saat tiba di mansion, Jeremiah langsung menyambutku di depan pintu.
"Bagaimana perjalananmu?"
"Menyenangkan."
"Kau bahkan tidak mengajakku."
"Tadi pagi aku mencarimu."
Aku memperhatikan setelan jas yang dikenakannya.
"Kau mau pergi?"
Jeremiah tersenyum lebar.
"Aku ada janji kencan."
"Dengan Winona?"
Ia menggeleng.
"Bukan. Aku bertemu wanita menarik di pesta semalam."
Aku memutar mata.
"Tolong jangan mulai menceramahiku soal komitmen."
"Aku bahkan belum mengatakan apa-apa."
"Karena aku sudah hafal ekspresi wajahmu."
Jeremiah mencium pipiku sekilas lalu bergegas pergi.
"Sampai nanti, Kate."
Aku hanya menghela napas pasrah.
Setelah bertahun-tahun mengenalnya, aku sudah menyerah mencoba memperbaiki kebiasaan buruknya dalam urusan percintaan.
Sesampainya di kamar, aku membuka pintu balkon.
Angin musim semi menyambutku dengan lembut.
Aku menatap buket lily putih di tanganku.
Tanpa sadar, senyum kecil terukir di bibirku.
"Dominic Avcolf..."
Aku mengucapkan namanya pelan.
Mengingat kembali senyumnya.
Tatapan matanya.
Dan suara rendahnya yang tenang.
Jika benar ada yang disebut cinta pada pandangan pertama...
Mungkinkah seperti ini rasanya?
Aku langsung menggeleng keras.
Tidak mungkin.
Aku baru mengenalnya selama beberapa menit.
Aku bahkan tidak tahu apa pun tentang dirinya.
Pandanganku beralih ke taman bunga di bawah balkon.
Bunga-bunga di sana bermekaran dengan indah, dirawat dengan sempurna oleh para tukang kebun keluarga Bennett.
Lalu aku membeku.
Di tengah hamparan bunga itu berdiri seorang pria.
Tinggi.
Tegap.
Berambut hitam.
Bermata tajam.
Jantungku seakan berhenti berdetak.
Tidak.
Mustahil.
Aku pasti sedang berhalusinasi.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali.
Namun sosok itu tidak menghilang.
Sebaliknya, pria itu mengangkat kepalanya.
Tatapan kami bertemu.
Dan senyum yang sangat kukenal muncul di wajahnya.
Dominic Avcolf.
Dia benar-benar berada di taman keluarga Bennett.