Aku berlari keluar kamar, menyusuri koridor panjang Mansion Bennett, lalu menuruni tangga menuju taman bunga.
Jantungku masih berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aku harus memastikan bahwa aku tidak salah lihat.
Bahwa pria yang kulihat dari balkon tadi benar-benar Dominic.
Saat kakiku menginjak jalan setapak yang membelah taman, aku langsung menemukannya.
Dominic berdiri di tengah hamparan bunga yang bermekaran. Sinar matahari musim semi menyentuh rambut hitamnya yang sedikit berantakan tertiup angin. Dari kejauhan, sosoknya terlihat begitu tenang dan seolah menyatu dengan taman yang dirawatnya.
Tanpa sadar aku tersenyum.
Aku hendak menghampirinya.
Namun langkahku terhenti.
Nyonya Laurel berjalan mendekatinya lebih dulu.
Aku memperhatikan bagaimana wanita tua itu memeluk Dominic dengan hangat. Tatapan yang diberikannya penuh kasih sayang, seperti seorang nenek kepada cucu yang sangat dicintainya.
Mereka berbincang beberapa saat.
Kemudian Dominic mencium kedua pipi Nyonya Laurel dan memeluknya sekali lagi sebelum pergi meninggalkan taman.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi pemandangan itu membuat dadaku terasa hangat.
Sebelum sempat berpikir lebih jauh, Nyonya Laurel menoleh ke arahku.
Pandangan kami bertemu.
Aku segera menghampirinya.
"Selamat pagi, Nyonya."
"Selamat pagi, Kate," jawabnya lembut. "Kudengar kau berjalan-jalan setelah sarapan tadi pagi."
Aku mengangguk.
"Ya. Kupikir aku harus mulai melakukan sesuatu daripada terus berdiam diri di mansion."
Aku menggigit bibir bawahku sesaat.
"Lelaki tadi..."
Aku tidak melanjutkan kalimatku.
Entah kenapa aku merasa malu menanyakan tentang Dominic secara langsung.
Namun sepertinya Nyonya Laurel memahami maksudku.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
"Namanya Dominic."
Aku berusaha terlihat biasa saja.
"Oh... aku juga melihatnya mengantar bunga ke toko di pusat kota tadi pagi."
"Benar sekali."
Mata Nyonya Laurel tampak berbinar saat membicarakannya.
"Dia dan para pekerjanya yang merawat seluruh taman di mansion ini."
Aku menoleh ke hamparan bunga yang tertata rapi di sekeliling kami.
Tak heran.
Taman ini memang terlalu indah untuk dirawat oleh orang biasa.
"Dominic juga memiliki perkebunan dan peternakan terbesar di Edinville," lanjut Nyonya Laurel. "Sebagian besar toko bunga, supermarket, bahkan toko daging di kota ini mendapat pasokan darinya."
Aku mengangkat alis kagum.
"Dia memang sangat berbakat dalam bisnis."
Aku menunduk menyembunyikan senyum kecil.
Jadi bukan hanya wajah tampan dan karisma yang dimilikinya.
Dominic ternyata juga seorang pengusaha sukses.
Entah kenapa hal itu membuatku semakin penasaran.
"Pertama kali melihatnya tadi..." aku berkata pelan, "...aku langsung teringat pada Jeremiah."
Nyonya Laurel terdiam.
Senyumnya perlahan menghilang.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan kami dimulai, aku melihat kesedihan di wajahnya.
"Apakah Jeremiah tidak pernah menceritakannya padamu?"
"Menceritakan apa?"
"Mengenai Dominic."
Aku menggeleng.
Nyonya Laurel menarik napas panjang.
Seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka luka lama yang selama ini disimpannya.
"Dominic adalah adik Jeremiah."
Aku membeku.
"Apa?"
"Satu ayah. Beda ibu."
Aku menatapnya tidak percaya.
"Jeremiah punya adik?"
Nyonya Laurel mengangguk pelan.
"Dominic lahir satu jam setelah Jeremiah dilahirkan."
Dadaku seolah berhenti berdetak sesaat.
Tak heran mereka begitu mirip.
Aku kembali mengingat garis rahang mereka.
Rambut hitam mereka.
Postur tubuh mereka.
Dan kini semuanya terasa masuk akal.
"Tapi..." aku menelan ludah. "Jeremiah tidak pernah menyebutkan hal itu."
"Aku mengerti kenapa."
Suara Nyonya Laurel terdengar sangat sedih.
"Karena Jeremiah membenci Dominic."
Aku mengernyit.
Membenci?
Kata itu terasa asing jika dikaitkan dengan Jeremiah.
Pria yang selalu tersenyum.
Pria yang selalu ramah pada semua orang.
Pria yang bahkan tidak pernah marah kepadaku selama bertahun-tahun kami berteman.
"Apa yang membuatnya sampai membenci Dominic?"
Nyonya Laurel menatap taman di depannya.
Lama.
Sangat lama.
Kemudian ia berkata lirih.
"Karena kesalahan ayah mereka."
Aku ikut duduk di bangku taman di sampingnya.
Lalu untuk pertama kalinya, aku mendengar kisah yang selama ini disembunyikan keluarga Bennett.
Tentang perjodohan.
Tentang pengkhianatan.
Tentang cinta yang salah waktu.
Tentang seorang istri yang harus melahirkan seorang diri karena suaminya memilih berada di sisi wanita lain.
Wanita yang dicintainya.
Avelin Avcolf.
Ibu Dominic.
Semakin lama aku mendengarkan, semakin berat perasaanku.
Aku bisa merasakan kepedihan Ellia.
Bisa memahami kemarahannya.
Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti mengapa Jeremiah menyimpan kebencian yang begitu dalam.
Ketika cerita itu berakhir, air mata sudah mengalir di wajah Nyonya Laurel.
"Ellia begitu membenci anakku..." suaranya bergetar. "Dia terus menceritakan semua penderitaannya kepada Jeremiah sampai akhirnya meninggalkannya dua puluh dua tahun lalu."
Aku memeluk wanita tua itu.
Merasa sedih hanya dengan membayangkan semua yang telah terjadi.
"Jeremiah tumbuh besar dengan kebencian kepada keluarga Avcolf."
Aku terdiam.
Pikiranku dipenuhi berbagai emosi yang saling bertabrakan.
Aku dapat memahami Jeremiah.
Aku dapat memahami kemarahannya.
Aku dapat memahami mengapa ia tidak pernah ingin mengakui keberadaan Dominic.
Namun di saat yang sama, aku juga tidak bisa berhenti memikirkan satu hal.
Apa sebenarnya kesalahan Dominic?
Bukankah saat semua itu terjadi, dia bahkan belum lahir?
Bukankah dia sama sekali tidak memilih untuk menjadi bagian dari kisah yang menghancurkan keluarga Bennett?
Aku memejamkan mata sejenak.
Ini tidak baik.
Aku baru mengenalnya beberapa jam.
Namun entah kenapa, aku terus memikirkannya.
Tatapan matanya.
Senyumnya.
Dan cara dia menyebut namaku.
Aku menghela napas panjang.
Tidak.
Aku harus menghentikan semua ini sebelum terlambat.
Jeremiah adalah sahabat terbaikku.
Orang yang selalu berada di sisiku ketika hidupku runtuh.
Aku tidak ingin menyakitinya.
Apa pun yang terjadi, aku harus melupakan Dominic Avcolf.
Sebelum rasa penasaran ini berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit untuk kulepaskan.
===
"Katherine Beckett."
Suara seorang wanita membuatku segera bangkit dari kursi tunggu.
Wanita itu tampak tidak jauh berbeda denganku. Rambut cokelatnya digelung rapi dan pakaian formal yang dikenakannya membuatnya terlihat profesional.
"Silakan ikut saya."
Aku mengangguk pelan.
Jujur saja, telapak tanganku mulai berkeringat.
Ini adalah wawancara kerja pertamaku.
Sepanjang hidupku, aku tidak pernah membayangkan akan duduk di ruang tunggu seperti ini, menanti seseorang memanggil namaku untuk menawarkan pekerjaan.
Dulu aku adalah Katherine Beckett.
Putri tunggal keluarga Beckett.
Aku tidak pernah perlu memikirkan bagaimana cara mencari uang atau membayar tagihan.
Namun hidup berubah begitu cepat.
Kini aku hanyalah seorang gadis berusia dua puluh satu tahun yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan pertamanya.
Wanita itu membawaku melewati koridor sederhana sebelum berhenti di depan sebuah pintu kayu.
"Silakan masuk."
Aku menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.
Ruangan itu tidak terlalu besar.
Rak-rak penuh dokumen berjajar di salah satu sisi dinding. Sebuah jendela besar menghadap taman belakang, sementara seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun duduk di balik meja kerja.
Aku langsung mengenalinya dari foto yang pernah kulihat di situs perusahaan.
Vladimir Hipson.
Pemilik Hipson Corporation.
"Selamat siang," sapaku sopan.
Pria itu tersenyum ramah.
"Silakan masuk, Nona."
Aku berjalan mendekati mejanya dan mengulurkan tangan.
"Perkenalkan, saya Katherine Beckett."
"Senang bertemu dengan Anda, Nona Beckett."
Tangannya hangat ketika menjabat tanganku.
"Saya Vladimir Hipson. Silakan duduk."
"Terima kasih."
Aku duduk dengan punggung tegak, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang mulai muncul.
Vladimir membuka resume yang berada di atas mejanya.
"Kota Edinville cukup kecil," katanya sambil melihat dokumen di tangannya. "Saya rasa saya belum pernah melihat Anda sebelumnya."
"Saya memang baru pindah ke sini beberapa minggu yang lalu."
"Oh?"
Ia mengangkat kepalanya.
"Kalau begitu, selamat datang di Edinville."
Aku tersenyum.
"Terima kasih."
"Saya harap Anda menikmati tinggal di sini."
Aku mengangguk pelan.
Sejujurnya, aku masih berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan baruku.
Namun aku tidak mungkin mengatakan hal itu saat wawancara kerja.
Vladimir kembali melihat resume milikku.
"Anda lulusan manajemen bisnis dengan nilai yang cukup baik."
Aku mengangguk.
"Ya."
"Tapi saya tidak melihat pengalaman kerja sebelumnya."
Aku sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.
"Belum ada."
Aku menatapnya dengan mantap.
"Ini akan menjadi pekerjaan pertama saya."
Vladimir menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Dan apa yang membuat Anda yakin bisa menjadi Associate Consultant tanpa pengalaman sebelumnya?"
Pertanyaan itu membuatku menahan napas sesaat.
Inilah momen yang menentukan.
Aku tidak boleh terlihat ragu.
"Saya memang belum memiliki pengalaman kerja profesional."
Aku berhenti sejenak.
"Tetapi saya terbiasa mempelajari hal-hal baru dengan cepat."
Tatapanku tidak lepas dari matanya.
"Saya memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, kemampuan analisis yang baik, dan kemauan untuk bekerja keras."
Aku tersenyum tipis.
"Jika diberi kesempatan, saya akan membuktikan bahwa saya mampu menjalankan tanggung jawab tersebut."
Untuk beberapa detik, Vladimir hanya menatapku.
Seolah sedang menilai setiap kata yang baru saja kuucapkan.
Lalu perlahan ia tersenyum.
"Saya menyukai kepercayaan diri Anda."
Aku mengembuskan napas lega dalam hati.
Setidaknya aku belum gagal.
"Oh ya," katanya kemudian. "Tolong jangan memanggil saya Tuan Hipson."
Aku mengernyit bingung.
"Please. Vladi saja cukup."
Aku tertawa kecil.
"Kalau begitu Anda juga bisa memanggil saya Kate."
"Baiklah, Kate."
Aku membalas senyumannya.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan ini, rasa gugupku sedikit berkurang.
Aku membutuhkan pekerjaan ini.
Bukan karena aku ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Tetapi karena aku ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri.
Aku bukan lagi putri bangsawan yang hidup di balik kemewahan keluarga Beckett.
Dan mungkin...
Inilah langkah pertama untuk memulai hidupku yang baru.