hari-hari yang begitu melelahkan ia rasakan tak kala melihat banyaknya kertas-kertas yang menumpuk di meja kerjanya setiap pagi, yah begitulah kehidupannya sekarang setelah menjadi pengusaha yang sangat terkenal akan bisnis properti dan real estate.
dialah William Wiratama seorang pengusaha muda yang baru berusia 27 tahun ini yang membangun dan merintis usahanya dari nol yang kini sukses hingga ia memiliki banyak kantor-kantor cabang di dalam dan diluar negeri, di bantu oleh sekertaris pribadinya sekaligus sahabat baiknya yaitu Bayu,
persahabatan William dan Bayu sudah terjalin saat mereka duduk di bangku SMP bahkan saat masuk kuliah pun mereka mengambil jurusan yang sama yaitu Arsitektur.
William : gimana bay, lo udah atur jadwal buat meeting hari ini.
Bayu : udah, gw udah atur jadwal meetingnya jadi selepas makan siang ini kita akan pergi ke perusahaan Briana Grup buat membahas proyek pembangunan hotel di kawasan wisata pantai Pangandaran.
William : good "dengan mengacungkan dua jempol tangannya".
"pemilihan waktu yang pas jadikan kalo beres meeting gw bisanya ngajak Devi jalan" batinnya, jujur saja William paling tidak suka kalo menghabiskan waktu makan siangnya bersama klien. menurutnya itu mengganggu Quality timenya yang berharga dan lebih baik meeting setelah makan siang, itu artinya setelah urusan-urusannya sudah selesai maka ia bisa pulang lebih cepat.
di lain tempat sebuah kerusuhan terjadi di jalan xxx kerusuhan itu adalah tawuran antar pelajar SMAN 17 dan SMK xxx, Barra sebagai anggota kepolisian di perintahkan atasannya untuk melerai aksi tawuran tersebut dan menjaga kawasan tersebut agar kembali kondusif, 100 anggota kepolisian di kerahkan untuk membubarkan massa dan ada beberapa pelajar yang ditangkap akibat melawan saat akan di giring ke truk.
"lepasin gw" seru salah satu pelajar yang berhasil tertangkap karena mencoba kabur. "untuk apa saya lepasin kamu hah" seru Barra saat menghampiri salah satu Pelajar tersebut.
Andara : lepasin gw woi "dengan nada suara yang meninggi" lepasin "sembari berontak".
Barra : sudah jelas-jelas kamu salah masih mau mengelak "dengan menatap pelajar itu dengan tajam" bawa dia ke kantor "memerintahkan kepada timnya agar para pelaku tawuran di bawa ke kantor kepolisian".
Andara : "sembari di giring oleh beberapa petugas dan menatap Barra dengan tajam" LO PASTI BAKAL MENYESAL KARENA TELAH BERURUSAN DENGAN GW "gumamnya dengan nada yang mengancam".
Barra : saya tidak takut "dengan senyum remeh menatap Andara".
Andara pun di bawa ke kantor polisi oleh Barra dan anggota kepolisian yang lainnya berjaga di kawasan tersebut supaya tidak terjadi tawuran susulan, sesampainya di kantor polisi para pelajar tersebut menjalani hukuman oleh pihak kepolisian dengan push up sebanyak 50 kali dan berjalan bebek sebanyak 1 putaran serta menulis surat pernyataan bahwa tidak akan lagi melakukan hal yang sama.
semua pelajar yang tadinya di tahan kini mulai di jemput orang tua mereka masing-masing kecuali Andara karena dia menolak untuk membuat surat pernyataan tersebut.
Andara : lepasin gw woi "yang tengah duduk di periksa oleh Barra".
Barra : jika kamu ingin saya bebaskan kamu tulis surat pernyataan itu terus berikan nomer orang tua atau kakak kamu di formulir itu " sembari memainkan pulpennya di meja.
Andara : gak "jawabnya ketus", gw gk akan ngisi tuh formulir.
Barra : jika kamu tidak mau berkerja sama dengan kami maka kami akan bertindak sedikit kasar pada kamu "mulai terpancing emosi".
Andara : terserah apa mau lo, gw gk peduli B*angs*at "umpatnya".
Kini kesabaran Barra mulai habis dan ia pun mengambil paksa ponsel yang ada di saku celananya Andara dan memegangi jarinya Andara untuk membuka Password ponselnya. Barra pun kini menguhubungi salah satu kontak telfon dari ponsel Andara. dan Barra pun menelepon seseorang yang ada di kontak itu yang bernama Kak. William.
di sebrang sana William mendapatkan telpon dari kepolisian bahwa sang Adik kini sedang ada di kantor polisi karena tertangkap mengikuti aksi tawuran antar pelajar, setelah mendapatkan informasi ia pun langsung menutup sambungan teleponnya,"tuh anak bikin masalah lagi sih". gumam William sedikit kesal, dan memijat pelipis matanya yang pusing itu, William pun langsung menyuruh Bayu agar bisa menggantikan dirinya karena ia harus ke kantor polisi
William : Bay, gw gk bisa ikut meeting sama Briana Grup siang ini jadi lo yang kesana gantiin gw.
Bayu : tuh anak bikin ulah lagi Wil?.
William : yah lo tau sendiri kan kelakuan ade gw gimana, "dengan memijat pelipis matanya yang sedikit pusing".
Bayu : ya udah lo pergi aja sana untuk masalah klien mh serahin ke gw ok "memegang pundaknya William".
William : thank's bay, lo emang sahabat gw yang terbaik "sembari memeluk Bayu dengan pelukan sesama pria", kalo gitu gw berangkat dulu.
William pun bergegas menuju kantor polisi menggunakan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesampainya di kantor polisi William pun di temani oleh seorang polisi untuk mengantarnya ke tempat Andara berada, merekapun sampai di ruangan tersebut, "makasih pak telah mengantarkan saya", seru William berterima kasih kepada polisi yang membantunya.
ia pun masuk ke ruangan itu dan melihat Andara yang tengah berteriak kepada si polisi tersebut dengan bahasa yang kurang sopan untuk minta di lepaskan William yang melihat tingkah laku Andara nampak kesal disana terlihat dari alisnya yang saling bertautan, "Andara", seru William dengan nada yang sedikit meninggi, Andara pun terkejut saat ia melihat sang kakak yang sudah datang ke kantor polisi, "kakak" ucap Andara pelan.
William : kakak, papah, sama mamah gk pernah ngajari kamu buat melawan atau berbicara kasar kepada seseorang yang lebih tua dari kamu Andara "dengan nada penekanan", minta maaf Andara, minta maaf "dengan sorot mata tajam menatap Andara".
Andara pun langsung meminta maaf kepada sang polisi tersebut karena telah berkata yang tidak pantas, William di persilahkan duduk oleh sang polisi tersebut dan polisi tersebut menceritakan kronologi kejadiannya kepada William, dan akhirnya Andara pun menulis surat pernyataan tersebut dan di persilahkan untuk pulang, William dan Andara pun bangkit dan bersalaman dengan polisi itu lalu meninggalkan ruangan tersebut.
William mengajak ngobrol Andara sembari berjalan dan menasehatinya agar ia tidak melakukan kesalahan itu lagi dan Andara pun mengiyakan nasehat dari William, saat mereka berdua sedang berjalan, William tidak sengaja menabrak seorang polisi dan ia pun terkejut sampai matanya membola sempura saat melihat orang yang menabraknya itu adalah Barra, musuhnya dulu saat mereka duduk di bangku SMA, lain halnya dengan William yang terkejut, Andara malah menatap Barra tajam tidak suka, karena Barra lah ia sampai di bawa ke kantor polisi.
Barra : ohh jadi ini ade lo Willy "menatap William remeh" pantes kelakuan ade sama kakak gk beda jauh sama-sama menyebalkan.
William : maksud lo apaan hah "mulai tersulut emosi" kenapa lo masih punya dendam pribadi sama gw Bapak polisi Barra Surya At-ma-jda Cih "dengan senyum remeh ke Barra" , ayok Andara kita pulang gk usah kamu perdulikan dia.
Barra pun mulai tersulut emosi lalu menahan tangan William dan menariknya ke arahnya namun saat Barra menarik William ia tidak sengaja mencium bibir William dan itu membuat bibir mereka bersentuhan selama beberapa detik, William sontak terkejut dan matanya membola sempurna saat ia mencium Barra.
dan Barra pun demikian sampai ia terdiam menatap William, Andara yang melihatnya pun terdiam dan mulutnya menganga lebar saat melihat sang kakak dan Barra bibir mereka bersentuhan, William pun langsung mendorong Barra agak menjauh dari dirinya dan mengelap bibirnya, "najis najis najis cuih" umpatnya, namun Barra masih tetap terdiam membeku, William pun langsung pergi meninggalkan Barra disana.
William langsung masuk mobil bersama Andara dan pergi dari kantor polisi di sepanjang jalan William terus saja memikirkan kejadian tadi yang selalu berputar-putar di pikirannya, akhirnya William dan Andara tiba di rumah dan Andara pun turun dari mobilnya William.
William : Dra kamu masuk duluan kakak harus masih kekantor ada yang ketinggalan disana.
Andara : iya kak, oh iya kak.
William : Apa.
Andara : kakak jangan bilang papa sama bunda yah kalo aku ikut tawuran.
William : "ia tersenyum manis kepada Andara" iya tapi kamu harus janji sama kakak kalo kamu gk boleh bikin masalah lagi yah baik disekolah maupun diluar, ingat kamu itu dah kelas tiga SMA fokus belajar, ok.
Andara : siap kakak ku sayang "sembari tersenyum dan memberi hormat pada William".
William : ya udah sana masuk.
William pun pergi menuju kantor, dan di sepanjang jalan pikiran akan kejadian di kantor polisi tadi terus saja terbayang-bayang di pikirannya, William pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan menyingkirkan pikiran itu.