William tiba di kantor jam 15.00 dan ia pun memarkirkan mobilnya berwarna hitam metalik dan ia bergegas menemui Bayu untuk menanyakan hasil Meetingnya tadi.
William : gimana Bay hasil Meetingnya kita menang tender nya gak "harap-harap cemas"
Bayu : biasa aja kali mukanya jangan tegang gitu hehe "tertawa garing melihat William yang tegang menunggu jawabannya" kita menang tender kok.
William : serius "tanyanya tidak percaya".
Bayu : iya Willy.
William pun langsung loncat kegirangan tak kala iya menang tender dan memeluk Bayu ala lelaki lalu berteriak seperti orang yang kesetanan, Bayu pun yang melihat tingkah Absurdnya William hanya bisa galeng-galeng kepala, "kenapa gw punya sahabat kaya gini sih hadeh" umpatnya dalam hati.
Bayu : hmm dapet bonus gaji bulan ini kayaknya enak kali ha-ha-ha.
William : tenang aja kali Bay, untuk masalah bonus gw kasih 50% gaji plus gaji lo gw naikin 25% bulan ini, itu sebagai benefit buat lo karena kita menang tender sama Briana Grup.
Bayu : beneran "sembari matanya membulat sempurna" lo gak boong kan "ungkapnya tidak percaya".
William : beneran, kapan sih gw boong sama lo Bay.
Bayu : ihh ya lo udah ganteng, baik, dermawan pula, thanks ya "ucapnya memuji".
William : bullshit "umpatnya" lo kalo muji gw selalu ada sesuatu disana.
Bayu : ha-ha-ha "nyengir kuda" oh iya gimana masalah ade lo, aman kan.
William : aman sih, dia udah pulang tapi lo tau gak gw ketemu siapa disana.
Bayu : siapa?ade lo?.
William : bukan anjir "umpatnya" gw ketemu Barra di kantor polisi.
Bayu : hah "serunya kaget" Barra, musuh bebuyutan lo waktu SMA?.
William : siapa lagi coba, sekarang dia udah jadi polisi, beh belagunya gk ke tolongan jir "ucapnya sarkasme" tuh anak dari dulu sampe sekarang kayaknya punya dendam kesumat sama gw Bay.
Bayu : ya udah sih, kan lo sama Barra emang gk pernah akur dari kita MOS sampe kita lulus, heran gw sama lo Willy, sebenernya lo ama dia punya masalah apa sih "dengan radar kekepoan yang kuat".
jujur saja selama Bayu berteman dengan William, ia gk pernah tau apa masalah sebenarnya di antara William dan Barra yang selalu perang dingin semasa SMA.
**Flash back mode on**
SMAN 17 Bandung
William Wiratama siswa kelas 1 IPA yang banyak di gandrungi banyak siswi-siswi karena parasnya yang tampan dengan tinggi badan 170cm serta tubuh atletis dan juga iya selalu menjadi juara umum di sekolahnya,
awal permusuhannya dengan Barra karena kala itu William tengah menjalin hubungan dengan seseorang siswi kelas 2 sebut saja namanya Bella yang dimana Bella juga berpacaran dengan Barra, ya bisa di bilang kalau William itu selingkuhannya Bella.
Barra mengetahui bahwa Bella itu sudah menghianatinya karena sahabatnya Yuda dan Satria selalu memberi tau Barra akan Bella, kali ini Barra akan menangkap basah kekasihnya itu, dari informasi yang Barra terima dari Yuda bahwa Bella akan pergi bersama selingkuhannya ke sebuah mall di jl. Kepatihan.
sesampainya Barra disana, ia melihat Bella sedang asik mengobrol dengan seorang pria yang begitu tampan, "pasti itu selingkuhannya Bella"batin Barra, namun iya tak kalah terkejutnya saat ia menajamkan penglihatannya bahwa selingkuhan Bella itu ia lah William, "Willy" ucapannya terkejut "itukan Willy jadi Bella sama Willy"ucap Barra, emosi Barra kini mulai memuncak tak kala ia melihat Bella sama Willy begitu mesra bahkan sesekali William mencium tangannya Bella.
rasa sakit hati, kepedihan dan amarah bercampur aduk menjadi satu, kini Barra mulai dibakar api cemburu dan ia pun langsung melabrak mereka berdua dengan emosi yang meledak-ledak dan langsung meninju wajahnya William dan membuat Bella tersentak kaget akan kemunculan Barra secara tiba-tiba.
Barra : bangun lo B*ngsat "dengan emosi yg sedang memuncak, Barra pun menatap William tajam penuh kebencian".
Bella : stop Barra "sembari memegangi tangan Barra".
William : "ia pun bangun dan menatap Barra remeh", hanya segitu doang pukulan lo, Cih, "sembari memegangi pipinya dan tersenyum Remeh pada Barra".
BANGSAT "umpatnya sembari hendak kembali memukul William namun tangannya di tahan William dan William pun membalas pukulan Barra hingga membuat Barra tersungkur di lantai, "Cih" ucap William.
Bella : kita putus Barra jadi lo gk usah hubungi gw lagi "serunya sembari tangannya memegang tangannya William".
William : cowok lemah kayak lo gk akan pernah menang bersaing gw Barra "ucapnya sarkasme", yuk yang kita pergi dari sini, gk usah perdulikan cowok cupu kaya dia "sembari berjalan meninggalkan Barra".
William dan Bella pun meninggalkan Barra disana yang sembari menjadi tontonan banyak orang di kafe tersebut "b******k, liat aja akan gw bales semuanya, lo liat aja Willy" ucap Barra, setelah kejadian itu Barra dan William selalu saja perang dingin dan merekapun selalu bersaing menjadi yang terbaik meskipun Barra selalu menjadi yang kedua terbaik di sekolahnya.
**Flash back mode off**
William : oh iya Bay kali ini gw mau balik pulang, cape gw.
Bayu : ya udah, sana gih ah hus hus "dengan nada yang sedikit mengusir"
di rumah kediaman keluarga Wiratama seorang perempuan berparas cantik dan fashionable memencet bel pintu dan di buka kan oleh Bi sari "eh non Devi silahkan masuk non" seru Bi sari ramah tamah, Devi pun masuk ke dalam rumah, Andara yang sedang menuruni tangga menatap Devi tidak suka, "ini cewe rubah ekor sembilan ngapain ada di sini sih" ungkapnya dalam hati, "eh ada Devi" seru seseorang di dapur, ya itu ibunya William namanya Amara.
Devi : halo tante "sembari cipika-cipiki dengan Amara".
Amara : kamu kemana aja kok baru main kesini lagi sih kemana aja."serunya sembari tersenyum".
Devi : ini tante akhir-akhir ini Devi sibuk nemenin mama jalan-jalan ke Eropa tante jadi gk sempat kabarin Tante.
Amara : kamu sama William gimana kapan mau tunangannya "tanya Amara penasaran".
Devi : kalo itu sih gimana Willy nya aja tante, Devi ikut aja apa kata Willy.
Andara yang mendengar percakapan ibunya dengan Devi, langsung menatap Devi dengan penuh kebencian, Andara pun ikut duduk bersama Devi dengan Amara, ya bukan salah lagi kalo ingin membuat Devi terpojok, karena dari awal William sama Devi pacaran, Andara sama sekali tidak merestui hubungan William entah kenapa namun firasat Andara selalu mengatakan begitu.
Devi : hai Andara "ucapnya sembari tersenyum" gimana kabar kamu?.
Andara : Cih sok akrab banget ni cewe rubah "batin Andara", hmm gw baik "jawabnya dengan ketus dan dingin".
Amara : dara yang sopan dong kalo di ajak ngobrol itu "gumamnya memberi tau Andara kalo bicara itu yang sopan".
Andara : itu udah sopan kali mah "ucapnya gk mau kalah".
Devi : udah tante gk papa biarin aja "dengan bersilat lidah, walaupun Devi juga mulai tersulut emosi atas perkataannya Andara namun iya tahan karena ada Amara di sampingnya".
Amara : maafin anak tante ya-"seketika ucapannya di potong sama Andara".
Andara : ngapain mamah minta maaf sama cewe rubah ini, kaya gk ada harga diri aja "sarkasme".
Amara : Andara "mulai meninggi suaranya".
Devi : udah tante jangan marah-marah sama Andara, "Cih ni anak kalo bukan adiknya Willy udah gw bejek-bejek kaya sambel"batinnya.
Andara : gaya lo ingin bejek-bejek gw kaya sambel, emangnya lo bisa masak hah "ucapnya sembari mengetahui isi hatinya Devi".
Devi langsung terdiam sejenak tak kala mendengarkan ucapan Andara yang mengetahui isi hatinya dan membuat Devi merasa terpojok akan ucapan Andara, Amara yang melihat kelakuan Andara hanya bisa geleng-geleng kepala karena ia tidak habis pikir kenapa Andara sangat membenci Devi.
Andara : mending gw balik ke kamar dari pada liat lo lama-lama disini bikin mata gw perih "ucapnya sarkasme dan langsung pergi begitu saja".
Amara : Andara Andara "gumam Amara sembari meneriaki Andara namun Andara menuli", maafin Andara yah Devi.
Devi : ohh gk apa-apa tan " s****n tuh anak"batinnya.
tidak berapa lama William pun datang ke rumah dan ia terkejut saat melihat Devi ada di rumahnya, "sayang" gumam William, Devi pun langsung pergi menuju William dan memeluk dirinya.
William : kok kamu di sini bukannya kamu bilang pulang ke Indonesia nya besok "serunya kaget melihat Devi".
Devi : ihh kan aku mau ngasih surprise ke kamu sayang, ehm sayang.
William : apa "dengan lemah lembut".
Devi : hmm temenin aku ke mall yah"gumamnya manja".
William : boleh tapi kamu tunggu dulu sebentar ya aku mau mandi habis itu kita jalan.
Devi menjawab dengan deheman di barengi anggukan kecil, William pun mencium kening Devi dan ia pun langsung melesat ke kamarnya, sejurus kemudian William kembali menghampiri Devi dan langsung pergi naik mobilnya.