Merekapun telah tiba di sebuah Mall yang terkenal akan brand-brand ternama Eropa dengan kualitas terbaik di Bandung bahkan sebagian besar barang-barang yang di jual disini di datangkan langsung dari Prancis, PVJ Mall, surganya orang-orang yang haus akan produk-produk impor asal Eropa tersebut.
setelah memarkirkan mobilnya William dan Devi masuk kedalam Mall tersebut sembari bergandengan tangan dengan begitu mesranya, terkadang sesekali William curi-curi pandang ke arah Devi yang sedang memilih beberapa dress sembari tersenyum kepada Devi.
.
.
.
.
~William POV~
hai, namaku William Wiratama panggil saja aku willy dan orang yang berada di sampingku ini adalah Devi kekasihku, perbedaan usia kami hanya terpaut dua tahun jelas lah dia yang lebih muda dariku, dan hubungan kami sebagai kekasih hampir berjalan dua tahun, saat ini aku sedang menemaninya berbelanja pakaian terkadang dia juga membelikan ku kemeja satu setel.
setelah selesai membeli pakaian kini kita berjalan di koridor sembari bergandengan tangan namun penglihatan ku menajam tak kala melihat toko jam tangan,"yang", seruku memanggil Devi yang tengah memilih tas.
Devi : knp yang?.
William : aku mau ke toko jam karena ada 1 jam yang menarik perhatianku, jadi kamu gak apa-apakan belanja sendiri.
Devi : ihh kan aku belum selesai belanjanya "sembari cemberut dengan nada sedikit kesal"
William : sebentar aja kok sayang ya boleh ya,"seruku dengan muka memelas ku".
Devi : iya udah deh iya boleh tapi jangan lama loh.
William : ahh thanks honey "ucapku sembari ku cium keningnya yang lebar itu" nanti kalo udah belanjanya kabarin aku ya.
Devi : iya.
ini lah yang bikin aku jatuh cinta padanya, walaupun dia itu sifatnya kekanak-kanakan namun dia juga penurut.
(aku "jatuh cinta" padanya, ya mas percaya, tapi tenang takdir bisa berubah he-he-he ?) suara hati si penulis.
aku pun langsung meninggalkan Devi dan pergi ke toko jam tangan setelah sampai aku langsung menuju sebuah jam tangan yang sedari tadi menarik perhatianku itu.
namun saat aku sedang memegang dan memperhatikan jam tersebut tiba-tiba seseorang dari belakang merebut jam itu dariku, aku pun langsung berbalik dan melihat orang itu adalah Barra, sainganku sekaligus musuh bebuyutan ku.
Barra : Widih keren juga ini jam kayaknya cocok kalo di pake ditangan gw, "serunya sembari menatapku dengan remeh".
William : wah lo ngajak ribut sama gw, balikin gak, "ucapku dengan menatapnya dengan tajam".
Barra : santai bos biasa aja tuh mata Sampe keluar gitu, lagian ya Willy jam ini gk cocok di pake sama lo.
William: lo punya masalah apa sih sama gw hah, apa lo masih dendam sama gw dengan apa yang terjadi 11 tahun lalu, Cih.
Barra : ya gw masih dendam sama lo Willy, karena lo udah buat gw malu di depan umum.
disaat Barra mengatakan itu aku tertegun dan melihatnya sejenak, aku tak pernah menyangka kalau Barra masih menyimpan dendam kepadaku, Walaupun aku sudah meminta maaf padanya akan semua kesalahanku waktu di acara kelulusan kami tapi nyatanya ia masih membenciku.
William : ahh terserah lo aja yang penting sekarang siniin tuh jam,"pintaku dengan penuh penekanan".
Barra : gk gw gk mau.
William : siniin Barra.
Barra : gk mau.
ni anak maunya apa sih, batinku dengan menatapnya tajam, aku pun mulai tersulut emosi tapi aku harus tetap tenang dan memikirkan cara untuk merebut jam itu di tangan Barra, tak berapa lama ide cemerlang hinggap di pikiranku walaupun itu ide gila yang aku sendiri pun sedikit merinding memikirkannya, ahh kesel, batinku sembari frustasi.
mau tidak mau aku harus melakukan hal gila itu walaupun menurutku merasa jijik karena harus nyium Barra tapi mau gimana lagi demi jam itu,"Barra",seruku dan ia pun melihat ke arahku, aku pun langsung meraih dagunya dan dengan cepat mencium bibirnya Barra hingga membuat dia terkejut bukan main tapi lama kelamaan Barra mulai lengah dan aku pun dengan sigap mengambil jam itu dari tangannya.
aku pun langsung menghentikan aksiku lalu pergi meninggalkan Barra yang terdiam memandangi diriku dengan penuh tanda tanya, aku langsung membayar jam tangan itu dan pergi menuju toilet, sesampainya di toilet aku melihat diriku sendiri di depan cermin.
"b******k kenapa gw harus nyium dia sih", ucapku sembari menatap cermin, tanpa aku sadari tanganku ini menyentuh bibirku, aku masih terlena akan kejadian tadi yang dimana aku mencium Barra, kejadian itu terus saja membayang-bayangi pikiranku namun entah kenapa saat aku mencium Barra, mengapa bibirnya itu terasa lembut dan membuat ku candu akan itu.
sebenarnya ciuman kami itu sangat lama, walaupun aku sudah mendapatkan jam itu dari tangannya namun entah kenapa aku enggan untuk berhenti menciumnya, ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi ciuman menuntut, aku mulai tersadar dan menghentikan aksi kami saat ciuman ku berubah menjadi liar sampai-sampai aku mendorong bahunya Barra untuk sedikit menjauh dari.
aku menatap wajahnya Barra lamat-lamat, "ohh Tuhan kenapa dia begitu tampan sih", batinku saat aku menatap Barra, "maaf", hanya itu yang bisa aku ucapkan pada barra dan pergi meninggalkannya.
aahhg, teriakku karena frustasi sembari mengacak-acak rambutku, tak berapa lama ponselku bergetar di dalam saku celanaku dan melihat layar ponsel ada panggilan masuk dari Devi, aku pun langsung mengangkat telefon itu.
Devi : "menelpon di sisi lain Mall" yang kamu dimana aku cariin di toko jam gk ada.
waduh aku lupa lagi memberitahu ke Devi kalo aku udah pergi dari toko itu.
William : maaf sayang hehe, aku lagi di toilet, udah belanjanya"tanyaku".
Devi : udah cepetan sini aku tunggu di cafe lantai 3.
William : iya nanti aku kesana tunggu ya, bye sayang.
aku pun langsung bergegas dan merapihkan kemeja serta rambutku yang berantakan gara-gara tadi,"perfect" ucapku dan pergi dari toilet menemui Devi yang sedang menunggu di sebuah cafe di lantai 3 gedung mall ini.
****
sementara itu Barra sedang duduk termenung sembari menyentuh bibirnya di sofa apartemen miliknya, ia masih kepikiran akan apa yang terjadi di Mall tadi.
~Barra POV~
*Flash back mode on*
aku sih tadinya berniat ingin membeli beberapa pakaian di Mall namun saat aku sedang melewati sebuah toko jam tangan, aku melihat Willy yang tengah asik sedang melihat-lihat jam tangan, aku pun pergi menghampirinya dengan niat jail ku yang ingin membuat Willy kesal.
aku menghampiri Willy dan langsung aku rebut jam tangan yang sedang ia pegang itu,
Barra : Widih keren juga ini jam kayaknya cocok kalo di pake ditangan gw, "ucapku sembari menatap Willy dengan remeh".
William : wah lo ngajak ribut sama gw, balikin gak, "ucapnya dengan menatapku dengan tatapan tajam tapi aku tidak merasa terintimidasi oleh tatapannya itu".
Barra : santai bos biasa aja tuh mata Sampe keluar gitu, lagian ya Willy jam ini gk cocok di pake sama lo,. "ucapku dengan sarkasme"
kami pun sedikit cekcok di sana dan saling rebut-rebutan jam itu layaknya anak kecil, aku pun melihat jam tersebut begitu indah, tak berapa lama Willy memanggil namaku dan aku pun menoleh kearahnya, tanpa bicara sedikit pun ia memegang daguku dan tak lama Willy mencium bibir ku.
sontak saja aku terkejut bukan main Sampai-sampai mataku hampir membola sempura, aku tidak menyangka bahwa Willy akan mencium secara tiba-tiba, keadaan toko jam itu memang agak sepi cuman ada dua atau tiga orang pembeli lainya seperti kami namun posisi mereka berjauhan dengan kami karena kami berdua berciuman itu tepat di pojok toko itu dan beruntungnya terhalangi oleh lemari kaca yang di penuhi beberapa koleksi jam di toko itu.
Ciuman itu begitu lembut hingga aku tidak sadar bahwa tanganku menyentuh pipinya Willy, bibir Willy itu begitu manis dan lembut yang membuatku merasa candu akan ciuman itu, aku merasa bahwa jam tangan yang ada ditangan kiri ku sudah tidak ada, apa Willy sudah mengambilnya, batinku bertanya-tanya.
akhirnya aku menemukan jawaban atas semua benak di hatiku selama ini jawabannya adalah William, seolah-olah beban lenyap dalam diriku begitu saja, berkat ciuman pertama kami waktu itu kebencian ku pada Willy selama 11 tahun itu seketika lenyap dan mengubahnya menjadi kerinduan atau lebih tepatnya Cinta.
ciuman kami yang tadinya lembut kin menjadi ciuman menuntut hingga berubah menjadi liar, entah mengapa Willy mendorong ku menjauh dari dirinya dan menatap diriku begitu lama seketika suasana menjadi hening, dan Willy pun memecah keheningan itu dengan berkata maaf padaku dan pergi meninggalkan ku sendiri di toko jam itu.
entah mengapa saat aku menatap matanya Willy kala ia meminta maaf padaku, disitu aku melihat rasa penyesalan yang teramat dalam dimatanya yang membuat hatiku merasa perih seperti di tancap ribuan belati tajam sakit rasanya dan aku hanya bisa terdiam membeku disana.
*Flash back mode off*
aahhg, teriakku, kenapa sih dengan diriku, kenapa setelah kebencian itu berubah menjadi cinta rasanya sakit sekali, kenapa disaat Willy meminta maaf padaku karena telah mencium ku rasanya perih mendengarnya, ucapku, tidak terasa air mataku menetes dari sudut mataku, aku pun beranjak dari sofa dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku mungkin dengan mandi aku bisa sedikit menenangkan ku.