~AUTHOR’S POV~
Saat ini William dan Devi tengah berada di sebuah cafe yang ada di lantai tiga gedung mall tersebut, Devi yang tengah menikmati secangkir latte pun melihat ke arah William yang tengah terdiam sedari tadi bahkan hot cappucino yang William pesan pun belum disentuh olehnya sama sekali,”Willy kenapa yah kok dari tadi ia melamun terus” ucap Devi yang penasaran akan keadaan Willy.
Devi : sayang,”sembari memegang tangan William”.
William : “yang tersadar dari lamunannya” hah, kenapa yang.
Devi : kamu kenapa, aku liat dari tadi kamu bengong terus, lagi mikirin apa? Apa ada masalah di kantor ”tanyanya sembari mengelus tangannya Willy”.
Willam : gk kok, aku gak apa-apa “jawabnya berbohong.
Devi : kamu yakin gk apa-apa.
William : iya aku gk apa-apa.
ia tidak bisa berkata jujur pada Devi tentang apa yang ia pikirkan sedari tadi, karena Willy masih kepikiran atas tindakannya mencium Barra di toko jam tangan tadi, jika William berkata jujur pada Devi akan masalah ini, ia takut Devi akan meninggalkannya dan minta putus karena merasa jijik. “hah” Willy menghembuskan nafas dengan kasar.
William : yang “seru Willy”.
Devi : hm, kenapa yang “sahutnya”.
William : kita pulang yuk, kepala aku sedikit pusing.
Devi : ya udah kita pulang yah.
Mereka pun meninggalkan cafe tersebut pergi menuju parkiran, sesampainya di depan rumah Devi, William menghentikan mobilnya dan turun mengantarkan Devi sampai depan pintu rumahnya.
~WILLIAM POV~
William : udah masuk sana, tapi awas jangan main-main lagi udah malam “ucapku posesif”.
Devi : iya “ucapnya lembut”.
Sebelum pulang Aku pun mengecup kening Devi sekilas lalu mencium bibirnya, namun disaat aku mencium bibirnya entah mengapa aku tidak merasakan apa-apa lagi di dalam ciuman itu kalo perumpamaanya seperti kita masak makanan namun saat kita akan memakannya rasanya hambar, iya itulah yang aku rasakan sekarang saat aku mencium Devi, Aku pun menghentikan ciuman itu dan menatap Devi.
William : aku pulang dulu yah udah malam gk enak sama tetangga, “seruku pada Devi”.
Devi : iya, hati-hati di jalan yang.
William : iya, dah “ucapku sembari
melambaikan tanganku padanya”.
Aku langsung masuk kedalam mobilku dan pergi menuju rumahku dengan kecepatan sedang, sesampainya dirumah aku pun langsung pergi menuju kamarku dan melemparkan tubuh ini ke sebuah kasir king size empuk milikku ini.“ahh nyamannya” ucapku setelah menempelkan diri ini ke kasur, tidak lama aku terlelap tidur.
~AUTHOR’S POV~
William terlelap entah mengapa setelah masuk dunia mimpi ia malah bermimpi tentang Barra, di dalam mimpinya William di lamar oleh Barra di sebuah puncak gunung yang begitu indah sejauh mata memandang, disana Barra berlutut di hadapan William sembari memperlihatkan sebuah cincin berwarna perak yang dihiasi sebuah batu berlian putih yang begitu indah, melihat hal itu membuat William tidak bisa menahan air matanya yang turun membasahi pipinya.
“WILL YOU MARRY ME, MY PRINCE Mr.WILLIAM WIRATAMA”, ucap Barra yang sembari berlutut dihadapan William, dan semua orang menyaksikan bersorak untuk William menerimanya dan ada juga yang terlihat terharu akan adanya aksi romantis di saat sunrise mulai menyinari sepasang insan muda yang tengah berbahagia ini.
William tidak henti-hentinya meneteskan air mata itu, seumur hidupnya ia baru pertama kali merasa sebahagia ini, apakah perasaan ini yang dirasakan para wanita saat sang kekasih melamarnya, ucap Willy dalam batinnya, “hah” William pu mengeluarkan nafas itu untuk membantunya agar lebih tenang, “YES I WLL” ucap William sembari satu tangan menutup mulutnya dan yang satunya menyentuh bagian d**a.
Mendengar hal itu Barra langsung berdiri untuk memasangkan cincin itu di tangan William dan langsung memeluk William dengan perasaan senang dan bahagia sampai-sampai air mata Barra pun ikut menetes “thank you honey, i love you” ucap Barra berbisik di telinga Willy, “i love you too honey” balas Willy lirih dan langsung mencium Barra dengan lembut, semua orang yang ada disana pun bertepuk tangan dengan kencangnya sampai-sampai William terbangun dari tidurnya itu, ahh mimpi yang sangat indah.
William pun terbangun dari tidurnya dan langsung pergi ke kamar mandi, namun saat Willy bercermin, ia baru sadar kalau matanya bengkak seperti habis menangis semalaman, ”sejak kapan ini, baru pertama kali gw tidur sambil nangis gini” gumam Willy, lalu pergi meninggalkan cermin itu dan mandi.
Satu bulan berlalu begitu cepat namun sebulan itulah di setiap bangun tidur Willy selalu menangis dalam tidurnya, entah apa yang membuat Willy selalu begini tapi yang jelas itu rasanya menyakiti hatinya sendiri seperti disayat-sayat dengan belati tajam.
Setelah berganti pakaian William pun turun dari kamarnya menuju ke meja makan untuk bergabung sarapan, di meja makan hanya ada Andara dan Amara yang tengah melapisi roti dengan selai kacang, “bi tolong bikin teh jahe dong” seru William di meja makan dan di iyakan oleh bi Sari, Amara yang mendengar hal itu, di buat terheran-heran akan permintaan Willy yang ingin di buatkan teh jahe, pasalnya William paling tidak suka sama teh jahe tapi sekarang ia ingin minum teh jahe, sungguh mengherankan, batin Amara.
Amara : nak tumben kamu minum teh jahe, bukannya kamu gk suka teh jahe ya.
William : lagi pengen aja mah.
Amara : kalo kamu minum teh jahe, pasti ada masalah yang kamu pikirkan, cerita dong sama mamah ada apa,”sedikit khawatir”.
William : cuman masalah kantor aja kok mah, aku gk apa-apa “jawabnya berbohong”.
Amara : ya udah kalo gitu mamah gk akan paksa kamu buat cerita sama mamah, tapi nanti kalo ada masalah kasih tau mamah ya sayang,”sembari memegang tangan Willy”.
“iya mah “ seru Willy sembari senyum tipis, jujur William enggan untuk bercerita pada sang ibu akan masalahnya ini, biarkan dulu semuanya seperti ini sampai Willy mencari tau yang sebenarnya.
Andara : oh iya kak Willy, kakak bisa enggak hari ini antar aku ke sekolah?.
William : tumben minta di anter sama kakak emangnya motor kamu kemana Dra, atau kenapa kamu gk bawa mobil kakak aja kebetulan kakak sedang cuti dulu 3 hari dari kantor.
Andara : gk ahh males maunya di antar jemput sama kakakku tersayang “sembari memeluk
William manja”.
William : dih mulai deh manja, kan biasanya juga kamu sama kak Yoga.
Andara : kak Yoga udah pergi sama papah duluan tadi sampai gk sempat sarapan, katanya sih ada meeting gitu,”jawabnya sedikit kesal”.
Andara itu sedari kecil paling dekat sama Yoga di bandingkan sama William namun Andara paling sayang sekaligus takut sama William, karena kalo ketahuan Andara melakukan kenakalan di sekolah atau diluar sekolah sampai diketahui William pasti ia akan di hukum di ruangan khusus yang isinya sih seperti perpustakaan dan disuruh untuk membaca sejarah selama 3 jam lamanya, apa gak ngeri tuh, tapi Andara tau semua yang dilakukan William semata-mata ingin membuat Andara lebih disiplin dan menjadi orang yang lebih baik lagi.
William : oh iya mah, mba Ayu sama Clara mana kok gk keliatan.
Amara : itu, dia lagi pulang ke rumah orang tuanya, katanya ibunya sakit gk ada yang rawat.
Andara : yuk kak berangkat sekarang keburu telat.
William : ya udah ayo.
William dan Andara pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampairi Amara dan mencium tangan sembari mengucapkan salam lalu pergi menuju sekolah Andara menggunakan mobil warna hitam metalik punyanya, mobil yang di tumpangi Willy berhenti di lampu merah, ia melihat Barra yang tengah bertugas disana, entah kenapa saat Willy melihat Barra air matanya menetes seketika, Andara yang melihat sang kakak menangis tanpa sebab langsung memegang pundak William dan bertanya apa yang terjadi.
Andara : kakak kenapa kok nangis, "tanyanya heran".
William : hah,"sembari mengusap air matanya" kakak gk apa-apa kok Dra.
Andara : apa kakak merindukan seseorang, "ucapnya tepat sasaran".
William pun langsung terdiam sejenak melihat Barra lalu kembali melihat Andara.
Andara : kalo kata orang jika kita menangis tanpa sebab yang jelas itu artinya kita sedang merindukan seseorang, coba kakak pejamkan mata kakak sebentar dan pikiran siapa orang yang kakak rindukan saat ini, kalo kakak meneteskan air mata saat memikirkannya itu artinya ia adalah jodoh kakak.
William pun mengikuti saran Andara lalu ia pejamkan mata sejenak, namun saat ia memejamkan mata kenapa yang iya pikiran hanya ada Barra disana, Andara melirik ke arah William yang sedang memejamkan matanya, terlihat jelas air mata William menetes seketika dan Andara pun tersenyum tipis.
Andara : jadi siapa orang yang kakak rindukan saat memejamkan mata,"tanyanya penasaran".
ia pun kembali membuka matanya dan melihat ke arah Andara, "kakak melihat" seketika perkataan William pun terhenti karena suara klakson mobil lain yang menyuruh William segera melaju karena lampu sudah berubah menjadi hijau, "nanti akan kakak beritahu sama kamu pas di rumah saja" ucap William yang di iya kan oleh Andara, sesampainya di sekolah Andara dan William pun turun dari mobil lalu berbincang sebentar dengan Andara.
William : awas jangan bikin onar mulu kamu Dra, inget kamu tuh mau hampir UN jadi belajar yang rajin.
Andara : iya kakakku tersayang Andara janji gk akan bikin masalah lagi.
William : hmm "sembari mengacak-acak rambut Andara yang membuat Andara cemberut".
Andara : ihh kak Willy apaan sih ahh, jadi rusak kan rambut aku, udah ganteng gini "ucap Andara kesal".
William : iya maaf, ya udah sana gih masuk.
Andara pun membalas ucapan William dengan deheman saja sembari tersenyum kepada sang kakak lalu pergi masuk kedalam dan meninggalkan William, William pun langsung masuk ke dalam mobil, ia pun memikirkan tentang apa yang ia rasakan saat di lampu merah, "apa gw beneran merindukan Barra" gumam William, lalu pergi melaju dengan kecepatan sedang.