Setelah mengantarkan Andara ke sekolah, William berniat untuk mengunjungi kakak iparnya di rumah ibunya Ayu. Sebelum mengunjungi mereka, William membeli buah tangan di sebuah super market di sekitaran rumah kakak iparnya itu.
Ia pun berkeliling mencari beberapa buah-buahan dan snak buat keponakan tercintanya Clara, William sekarang berada di rak bagian khusus keperluan pria seperti parfum, deodoran, sabun muka dan masih banyak lagi, ia pun membeli beberapa karena stok di rumahnya sudah mulai habis, namun parfum yang ia inginkan ada di rak paling atas dan entah kenapa ia tidak bisa mengapainya.
“aneh padahal tinggi badan gw seratus tujuh puluh lima senti meter, tapi kenapa gw gk bisa meraihnya ya”, ucapnya yang sedang berusaha mengambilnya.
William pun terus berusaha mengambil nya, sampai pada akhirnya seseorang membantunya dari belakang dan mengambil barang yang Willy mau, menyadari ada seseorang membantunya ia pun berbalik dan ingin melihat orang tersebut.
“TERIMA KAS-“, ucap Willy sembari berbalik, namun perkataaanya terpotong saat melihat orang yang menolongnya tersebut adalah Barra, mereka pum saling menatap satu sama lain, keadaannya menjadi hening di sekitar mereka, William dan Barra masih terus saling pandang, Barra meliahat wajah dan mata William lamat-lamat, ia melihat mata Willy yang tengah berkaca-kaca seperti ingin mengeluarkan air mata.
Barra menentuh pipi William dengan begitu lembut dan benar saja seketika itu mata William sebelah kiri mengeluarkan air mata, dengan spontan tangan ia menghapus air mata tersebut dari mata Willy dan Barra pun dengan tanpa sadar mengecup sudut mata Willy yang basah karena air matanya, kecupan itu begitu lembut sampai-sampai Willy pun menutup matanya dan mengakibatkan air matanya kembali tumpah membasahi pipinya, merekapun saling menatap kembali dan Barra pun berniat ingin mencium bibirnya William namun seseorang teman Barra dari kepolisian memanggil namanya dari bagian yang lain sebut saja namanya Aditya.
[duh Aditya ini ganggu aja jadi ilang kan momen uwu nya ??]
William pun tersadar kembali ke kenyataan, ia pun melihat Barra sekilas lalu pergi meninggalkannya di sana, Barra pun hanya melihat Willy pergi menjauh dari dirinya sampai orang yang memanggilnya tadi datang menghampira Barra yang tengah terdiam sendirian menatap seorang pria yang sudah pergi.
“nah tuh bocah” gumamnya lalu menghampiri Barra, “woi kenapa lo bengong disini, lo liat apaan” tanya Aditya.
Barra pun langsung menatap Aditya dengan tajam karena dia sudah merusak momennya dengan Willy, “bangs*t ganggu momen aja lo” ucap Barra dengan sedikit ketus.
Aditya pun mengangkat salah satu alisnya saat mendengar ucapan Barra barusan, “lah kenapa lo marah-marah ke gw, emangnya ada apa sih”tanyanya binggung plus heran.
“gak ada, udah belanja nya yuk balik cape gw” seru Barra lalu meninggalkan nya begitu.
Aditya yang melihat kelakuan Barra hanya bisa geleng-geleng kepalanya dan hanya bisa menggerutu di dalam hatinya, tuh anak kenapa sih heran gw, gumam Aditya dalam batinnya, “lah Bar kok gw di tinggal sih” ucap nya sedikit berteriak pada Barra, Aditya pun langsung pergi dan menyusul Barra yang entah kemana iya pergi.
Willy langsung menuju kasir dan membayar semua belanjaannya dan pergi menuju parkiran, sesampainya di parkiran ia pun masuk ke mobilnya dan Willy pun menangis sejadi-jadinya di sana, entah kenapa saat ini hatinya sangat sakit di kala ia bertemu kembali dengan Barra setelah kejadian di mall itu sebulan lalu, kejadian di super market tadi membuat perasaannya campur aduk, saat William menatap mata Barra ia melihat ada perasaan cinta yang teramat dalam disana.
ingatan-ingatan yang ada di dalam mimpi William akan Barra seakan-akan muncul tiba-tiba ditengah ia memandang wajah Barra, iya itulah yang membuat Willy meneteskan air matanya di depan Barra dan disaat Barra menyentuh pipinya lalu mencium sudut matanya, ia merasakan adanya kehangatan yang ia rasakan dalam hatinya, Willy saat ini masih menangis di dalam mobilnya, seseorang datang mengetuk kaca mobilnya, orang itu seperti juru parkir di sana dan Willy pun kembali ke dunia nyata dan menghapus air matanya, juru parkir tersebut berkata pada Willy jika ada mobil yang ingin memarkirkan mobilnya, Willy pun langsung pergi dari super market tersebut lalu melaju kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju rumah kakak iparnya.
Di sekolah saat jam istirahat, Andara bersama tiga sahabatnya yaitu, Zaki,Ronald dan Dinda tengah nongkrong bersama di sebuah kantin sekolah, “Dinda” seru Andara di sela makannya.
“kenapa dra” bales Dinda yang sedang minum jus mangganya.
“gw mau minjem buku catatan lo yang B.inggris, PAI, KIMIA dan B.indonesia dong, gw mau salin semuanya buat gw belajar nanti” ucap Andara.
Zaki dan Ronald yang tadinya sedang fokus makan ketoprak seketika melirik ke arah Andara, ini adalah perkataan langka Andara yang paling akan terjadi seratus tahun sekali, Andara yang merasa di tatap aneh sama para sahabatnya ini hanya bisa menaikan sebelah alisnya dan menatap heran sahabat-sahabatnya.
“kalian semua ngapain menatap gw kayak gitu, emang ada yang salah ya” tanya Andara heran.
“ya iya lah, kesambet apaan lo mau belajar hah,” ucap Ronald sarkasme dan langsung dapat pukulan manis dari belakang kepalanya oleh Zaki karena mendengar perkataan yang Ronald yang bikin iya gatel pengen memukulnya.
“aaww, apaan sih Za main pukul-pukul aja sakit tau” seru Ronald yang merintih kesakitan.
“gedeg gw ama pertanyaan lo itu, bukannya di dukung malah bilang kaya gitu heran gw” ucap Zaki sembari geleng-geleng kepalanya, Andara dan Dinda yang melihat nya pun tertawa terbahak-bahak dibuatnya.
“ya kan gw cuman heran aja, jarang-jarang kan si Andara bilang gitu” ucapnya sebagai pembelaan diri.
“santuy Dra tar gw kasih pinjem” seru Dinda.
“thank’s Din” ucap Andara dengan memperlihat kan senyum mautnya yang membuat semua kaum hawa di buat klepek-klepek.
Tet..tet...tet... bel berbunyi pertanda waktu istrahat telah usai.
Saat ini William sudah tiba di rumah keluarga kakak ipar nya dan tengah duduk di sofa bersama Clara sembari menonton film frozen di tv dengan beberapa cemilan di depannya yang di beli William beli tadi pas di super market, tak berselang lama seorang wanita paruh baya keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati Willy dan Clara, iya dia adalah ibunya mba Ayu yang bernama Verra.
“Willy kapan kamu kesini nak” tanya Verra.
“udah dari tadi pagi bunda Willy ada di sini” jawab William pada Verra sembari tersenyum.
“kok gak bangunin bunda sih nak, kan bunda itu kangen sama kamu” seru Verra
“aku gak enak ngebangunin nya bun, Willy tau bunda kan lagi sakit jadi aku sengaja supaya bunda bisa istirahat” ucap Willy sembari memeluk Verra.
Entah mengapa William itu lebih manja kepada Verra dari pada sama Amara yang notabenya ia lah ibu kandung William, namun kasih sayang yang di berikan Verra ke padanya jauh lebih besar bahkan Ayu pun suka terlihat cemburu kalo perhatian ibunya lebih banyak ke William dari pada yang ayu dapat, tapi Ayu tidak pernah merasa marah pada ibunya karena sebelum ia menikah dengan Yoga kakaknya William Verra memang sudah dekat dengan William saat Willy masih kuliah, kala itu dia diajak Amara untuk ikut menemani nya arisan sama teman-teman ibunya tersebut nah di acara itulah Amara memperkenal kan Willy sama Verra karena Amara sekaligus ingin Yoga dengan Ayu segera menikah, setelah di acara itu Willy dan Verra jadi dekat dan Verra meminta kepada Willy untuk tidak memanggilnya dengan sebutan tante melainkan bunda.
[maaf kalo ceritanya di bagian ini ngebosenin]
“kalo kamu datang ke rumah bunda pasti ada masalah besar yang kamu hadapi, benar yang bunda omongin ini Willy” ucap Verra.
“iya bun hehe” jawabnya sembari tertawa garing.
“ya udah kamu mau cerita apa sama bunda”
“Jadi gini bun waktu itu Willy ketemu teman lama Willy waktu SMA di kantor polisi saat aku mau jemput Andara di sana karena ketangkep saat ikutan tawuran, nah dia itu dah jadi polisi dan dia juga masih benci sama Willy.” Ucap Willy dan Verra pun masih ingin mendengar cerita dari Willy dengan jelas, “lalu kami sedikit bertengkar namun saat aku ingin pergi dia menarik tangan ku dan entah bagaimana bibir kami tanpa sengaja bersentuhan selama beberapa detik, aku yang kaget saat itu juga dorong dia dan pergi meninggalkan dia” lanjut Willy.
“Terus nama teman kamu itu siapa sayang” tanya Verra penasaran dengan cerita Willy.
“namanya Barra Surya Atmadja bun” jawab Willy sedikit menunduk.
“namanya seperti bunda kenal” gumam Verra sembari mengingat-ngingat nama Barra.
“ah bunda baru ingat Barra itu anak tetangga bunda, rumahnya gk jauh kok dari rumah bunda tapi saat ini anaknya Barra sudah tinggal di Apartment miliknya” ucap Verra yang membuat Willy terkejut bukan main.
“HAH” teriak Willy terkejut, “bunda kenal sama Barra?” tanya Willy penasaran.
“kenal sih, dia itu anaknya baik sama rendah hati lagi” jawab Verra “terus cerita selanjutnya gimana” lanjutnya.