H a p p y r e a d i n g
Eh kabar kalian gimana? Semoga baik-baik aja yaaa..
Komen dan Vote nya jangan lupa yaa thankyouu
* * * * * *
Seminggu berselang setelah mendapatkan sms dari Dimas, hari-hari berikutnya, Dimas tidak pernah absen untuk mengiriminya pesan singkat. Entah itu hanya ucapan selamat pagi dan selamat malam dan pertanyaan-pertanyaan aneh yang sering kali Kiara abaikan bahkan hampir tidak pernah ia membalas pesan dari Dimas.
"Hei!" Tepukan pelan di punggungnya dirasakan Kia saat ia fokus mengerjakan tugas seni budaya. Kelompoknya tepilih untuk menunjukkan ajang fashion show bertema koran bekas dan mau tidak mau dirinya dan teman-teman lainnya mulau memikirkan rancangan baju dibantu Kak Kori senior kelas 3.
"Dih, dari mana aja? Perasaan gue gak ngeliat lo sama Anye deh belakangan ini, kalian kemana? Ngilang gak ngajak-ajak" Kiara mendengus. Setelah ujian selesai duo sahabatnya ini malah menghilang tanpa kabar. Rosa terkekeh kecil mendengar gerutuan Kiara, belakangan ini memang dirinya sibuk bersama anggota klub sains dan waktu olimpiadenya juga mepet terlebih Anyelira memilih untuk tidak ikut kali ini dan digantikan Genta.
"Iyaa deh maaf, gue sibuk sama olimpiade bulan depan. Nih" Rosa mengulurkan Es Teh yang dia beli di kantin sekolah pada Kiara yang diterima senang hati.
"Gue murahan banget dah, dikasih es teh aja mau mau aja" dengus Kia tapi ia tetap mengambil Es teh yang dibelikan Rosa untuknya. Lumayan bisa menyegarkan kerongkongannya yang seret.
Saat ini mereka tengah berada di dalam ruangan 01 yang berada di lantai 1 diujung dekat tangga laki-laki. Ya, sekolah ini mempunyai tangga khusus sendiri. Tangga laki-laki didekat ruangan 01 sedangkan tangga perempuan ada di dekat ruangan komputer disebelah gedung organisasi.
Beberapa siswa lainnya memilih berkeliaran di luar sembari menunggu hasil ujian yang akan ditempel siang nanti setelah jam istirahat. Tidak ada pelajaran yang menanti mereka karna sebentar lagi Kia dan teman-teman senagkatannya yang lain akan naik kelas menuju kelas 11. Ia tidak perlu pusing memilih IPA atau IPS karna sejak awal sudah ditentukan melalui test dan jika dipertengahan semester ada yang ingin pindah, mereka bisa langsung mengurusnya sebelum naik kelas 11 dimana semua mata pelajarannya akan lebih di fokuskan sesuai dengan jurusan masing-masing.
"Lo sms an sama siapa?"
" Eh enggak, cuma sama anak-anak klub sains" Rosa sedikit terkejut karna Kia tiba-tiba menengok pada layar ponselnya. Alis Kiara terangkat sebelah dan seulas senyuman tipis menghiasi wajahnya.
"Apaan sih! Bukan siapa-siapa" Jawab Rosa langsung dan menjauhkan wajah Kiara yang masih ingin tahu siapa yang mengiriminya SMS.
"Ck! Kalau bukan siapa-siapa, noh pipi bakpau lo gak bakalan memerah" dengus Kiara.
Rosa memutar bola matanya kesal, ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan sesuatu dengan Kiara yang memang tahu bagaimana sifatnya. "Eh udah liat pengumumam nilai ujian kemarin belum? Gue harap sih gak ada yang remedial"
Kiara mengangkat bahunya acuh dan kembali menekuni tugasnya "Kalau lo sih gue yakin gak bakalan remedial tapi kalau gue? Gak yakin, palingan ada beberapa yang remedial. b*****t emang kapasitas otak gue beneran harus di upgrade secepatnya"
Rosa tertawa hingga membuat beberapa temannya yang ada di kelas itu melihat padanya. "Ntar gue bayarin deh biayanya, kasian gue liat lo yang tiap pulang pasti di tagih mulu nilai tinggi dari peringat atas bukan bawah mulu"
"Sialan" Kiara melemparkan kacang atom pada Rosa.
"Eh ngomong-ngomong, lo denger berita baru gak tentang Nando? Tadi rame banget di mading sekolah"
"Iya, gak nyangka gue dia ternyata gitu"
"Parah sih"
Kiara yang tengah menulis terhenti begitu beberapa Geng Echa, teman seangkatannya masuk ke kelas dan tiba-tiba membicarakan tentang Nando Alamsyah. Kiara dan Rosa saling menatap dan bingung dengan apa yang tengah terjadi. Karna tidak ada berita apapun yang sampai pada mereka berdua menyangkut salah seorang teman seangkatan mereka itu. Laki-laki yang selalu menyendiri tapi juga mereka berteman baik apalagi dengan Anyelira.
"Joe! Berita apaan sih?" Tanya Kiara langsung pada Joe salah satu anggota geng Echa.
Raut wajah Joe terkejut. "Lo gatau? Beritanya udah kesebar lho. Nih" Kiara mendekat pada Joe dan mengambil ponsel yang diserahkan Joe padanya. Rosa juga ikutan mendekat.
Seakan memiliki pemikiran yang sama dengannya, Rosa langsung mendial nomor Anyelira. Namun hanya mbak-mbak operator yang menjawab panggilannya. "Gue lupa! Ponselnya Anye kan rusak" keluh Rosa dengan wajah panik. Ia benar-benar panik.
"Kenapa sih emangnya, yang nyebarin berita itu siapa?" Tanya Kiara bingung, ia tidak mengerti kondisi yang sedang terjadi.
"Kita harus cari Anye, ntaran aja gue jelasin." Jawab Rosa dan menarik tangan Kiara untuk keluar kelas setelah memberikan ponsel Joe pada pemiliknya lagi.
"Rosa! Kiara!" Langkah Rosa dan Kia terhenti saat Yuni tiba-tiba berlari ke arah mereka. Yuni terengah-engah dan menarik napasnya.
"Cepetan! Ke .. ke ruangan Pramuka. Kania ngamuk!" Ucap Yuni setelah bisa mengatur napasnya.
"Ayo Kia, gawat ini!" Rosa kembali menarik tangan Kiara karna ia sangat bingung dengan apa yang terjadi sekarang dan kaitannya dengan Anye yang lagi ngamuk di ruang pramuka. Mau tidak mau, ia akan sabar menanti jawabannya nanti dan memilih untuk mengikuti langkah Rosa di koridor kelas menuju ruangan pramuka.
* * * * * *
Kondisi ruang pramuka yang tidak kondusif setelah kepergian Anyelira dan Rakha beserta Rosa membuat Kiara menghela napas tapi juga mengutuk Dimas yang kini ada di hadapannya. Laki-laki itu tiba-tiba saja menariknya saat Ia ingin mengikuti Anyelira. Kia menatap kesal pada Dimas yang kini malah dengan santainya duduk di hadapannya setelah menariknya ke atas shelter ruangan Pramuka.
"Ngapain narik aku kesini sih Kak?" Kiara masih menjaga rasa hormatnya pada laki-laki aneh di hadapannya namun sialannya juga ganteng.
Senyum tipis Dimas terlihat namun tidak terlalu jelas karna hanya sepersekian detik, Dimas mengubah raut wajahnya menjadi serius dan menatap perempuan yang duduk di salah kursi yang ada di shelter ruangan pramuka ini.
"Kenapa gak balas sms aku? Kamu gak ada pulsa ya?" Dahi Kia langsung berkerut.
"Lah, emang ada keharusan aku buat balesin sms Kak Dimas? Gak kan? Nah udah kan? Nanya itu doang? Aku mau pergi nih Kak"
"Aku gak bakalan biarin kamu pergi Kia. Urusan kita masih panjang"
Kia menarik napas kasar dan memutar bola matanya. Meniup poni nya dengan kasar. Kondisi lagi panik dan ia didera rasa penasaran tingkat akut akan masalah Anyelira tapi ia malah tertahan disini dengan Dimas.
"Masalah apa lagi sih Kak? Perasaan aku gak ada urusan deh sama Kak Dimas. Kita juga baru kenalan pun "secara aneh" baru sehari setelah Kak Dimas kasih surat aneh sama aku dan setelahnya Kak Dimas dapetin nomor aku Dari temen aku dan setelahnya membombardir aku dengan sms setiap harinya selama seminggu ini ..."
"Kamu cerewet juga ya"
Kiara langsung terdiam dengan bibir mengerucut dan tangan yang terlipat. Ia keceplosan karna kekesalannya dengan Dimas dan juga rasa penasarannya tentang masalah tadi.
"Kamu tau kan kalau aku senior kamu?" Kiara mengangguk malas. Ia memiliki firasat kalau sudah menyangkut masalah senior- senior an, pasti ada saja musibah buruk menimpanya.
Dimas mendekat dan membungkuk menatap kedalam pada kedua netra coklat milik Kiara. Bola mata Kiara membesar karna tidak siap dengan Dimas yang tiba-tiba saja berada didekatnya terlebih jarak wajah mereka hanya beberapa centi meskipun masih cukup aman. Dan kedua tangan Dimas berada pada sandaran kursi yang tengah diduduki Kiara. Dalam hati, perempuan itu memaki karna memiliki respon yang kelewatan lamban untuk antisipasi sikap Dimas padanya.
Kiara mengerjap beberapa kali karna Dimas tiba-tiba saja menyeringai padanya yang menyebabkannya memuji laki-laki itu tanpa sadar di dalam hati. Untung saja didalam hati, kalau sampai Dimas mendengarnya, sudah pasti nasibnya tidak akan selamat ditangan senior rese itu.
"Jadi, kamu siap-siap aja nerima perhatian yang bakalan aku kasih ke kamu. Jangan coba-coba melarikan diri karna aku bakalan bikin kamu gak ada kesempatan untuk lari. Dan satu lagi. Kalau aku kirim pesan ke kamu, dibalas ya."
Wajah Kiara menghangat, Dimas laki-laki pertama yang berada sedekat ini dengannya. Kia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang terlihat jelas di pipi putihnya. Dimas terkekeh pelan saat menjauhkan tubuhnya setelah membisikan sesuatu pada Kiara. Lalu ia menepuk pelan kepala perempuan itu.
BUGH!!
Dimas meringis menahan sakit dan ia mundur beberapa langkah. Kia mengepalkan kedua tangannya menahan untuk tidak memberikan tendangan lagi pada Dimas setelah ia sadar saat Dimas mempermainkannya dan membuatnya tidak bisa berkutik sedikitpun. Ia menendang tulang kering milik Dimas dan puas melihat raut wajah kesakikannya.
Tanpa banyak kata atau pun sekedar pamit pada Dimas, Kiara langsung pergi tanpa menoleh lagi pada Dimas. Sedangkan Dimas tertawa ditengah rasa sakitnya setelah mendapatkan balasan kecil dari perempuan yang menarik perhatiannya sejak awal masuk.
"Menarik.."
TBC
Halo!! Hihiya setelah sekian minggu akhirnya aku update lagii..
Ada yang kangen?
Kiara Barbar ya. Hahaha.
See you next!
Tetap jaga kesehatan dan jangan lupa olahraga meskipun di rumah aja, dan yang terpaksa harus keluar rumah, tetap jaga kesehatan yaa!!
.
.
.
Luv yaa!!