H a p p y r e a d i n g
..
"Makasihh Anyee!! Muaahh" Anyelira melambaikan kecil tangannya saat Kiara telah ia antar sampai rumah. Mereka bertiga eh berempat dengan Vivian dan Rosa sempat nongkrong sebentar si cafe yang baru buka. Lebih tepatnya Vivian yang merengek ingin kesana karna tempatnya lumayan bagus untuk selfie dan foto-foto.
Melihat mobil yang dikendarai Anyelira menjauh dari rumahnya, Kiara langsung masuk ke dalam rumah.
"Assalammualaikumm Kiara cantiik pulaang yuhuu, anybody homeee?"
Jeslyn-kakak sepupu Kiara yang tengah santai di ruang tengah berdecak mendengar suara cempreng milik Kiara yang tidak ada bagus-bagusnya.
"Berisik Kiaaa!" Dengus Jeslyn saat Kia mendudukan diri di sampingnya yang tengah menikmati sinetron sore yang ditanyangkan salah satu channel televisi. Kiara melihat kesekitar dan ia merasa sepi padahal biasanya jam segini rumah ramai.
"Tante Monik mana?" Kiara tidak menemukan tante kesayangannya itu yang biasanya jam segini sudah ada di rumah dan pasti ada di dapur untuk memasak makanan untuk nanti malam.
"Pergi ke kondangan, nginep sana katanya. Terus lo sama gue di suruh buat delivery makanan aja sama Tante Monik"
Bibir Kiara maju beberapa senti, yah, gagal dirinya ingin makan masakan tantenya. "Yaudah, Kak Jess delivery aja di restoran biasa, aku kepiting saus padang ye. Mau ke kamar, ganti baju dulu"
Kiara langsung beranjak ke kamarnya yang berada di lantai dua. Ia segera membersihkan diri dan mengganti bajunya. Kia mengeringkan rambutnya yang baru saja ia keramas dengan handuk kecil begitu keluar dari kamar mandi.
Tok! Tok! Tok!
"Kiaa! Makanan nya udah dateng nih. Cepetan keluar." Dari luar kamar Kiara.
"Iya!!" Balas Kiara berteriak dari dalam kamarnya, ia meletakkan handuk di gantungan lalu keluar kamar dengan piyama tidurnya bergambar mickey mouse.
"Wah! Banyak banget Kak. Ntar kena amuk sama Tante Monik kalau nggak habis" Jeslyn hanya mengangkat bahunya acuh dan mulai makan makanan yang ia pesan.
Tak!
"Aduh! Sakit tau!" Kiara mengelus tangannya yang kena pukul Jeslyn yang kini melotot padanya saat ia ingin mengambil perkedel kentang.
"Itu punya gue. Lo kan cuma kepiting saus padang doang. Jangan embat punya gue juga lah.
"Idih! Pelit banget sih lo sama adek sendiri. Ntar gue aduin sama Tante Monik dan Om Irwan"
"Aduin aja. Ntar gue juga aduin kalau lo disekolah itu caper mulu sama cowok"
"Eh enggak ya! Jangan asal ngomong dong!"
Kiara langsung mengurungkan niatnya untuk mengambil perkedel Jeslyn daripada urusannya menjadi panjang. Dia tidak ingin beradu mulut terlalu lama dengan Jeslyn yang sudah dapat dipastikan Kakaknya itu yang menang.
"Aku dah selesai." Kiara langsung beranjak meletakkan piringnya di wastafel dan membiarkannya begitu saja karna besok pagi Bi Narti akan membereskannya. Ia mendudukan dirinya di sofa ruang tengah dan mengganti channel televisi. Merasakan getaran di saku piyamanya, Kia mengeluarkan ponselnya.
Mama is Calling...
"Halo Ma?" Kiara menyamankan dirinya menyandar di sofa sambil mendekatkan ponselnya di telinga.
"Kamu baik-baik aja kan Kia? Kok jarang telpon ke rumah?"
"Baik Ma. Lupa. Lagi sibuk-sibuknya di sekolah"
"Ohh. Yaudah, jaga kesehatannya. Jangan berantem mulu sama Jeslyn, kasian Monik sama Irwan kalau kalian berdua tingkah lakunya nakal. "
"Iyaaa Mama sayang. Lagian disini Kiara jadi anak baik kok. Sering juga jagain Azura-anak Tante Monik dan Om Irwan. Kalau mereka lagi pergi"
"Mama kangen kamu. Papa juga. Telpon Papa ya nak?"
"Kia juga kangen Mama. Cuma Mama. Gak deh Ma. Makasih. Bilangin aja, Kia masih baik kok disini, masih hidup juga"
"KIA!"
"Ini yang buat Kia males nelpon Mama. Kalau tiap harinya terus bahas dia. Kia udah ngalah ya Ma, mau terima dia selepas apa aja yang udah dia lakuin ke kita sepuluh tahu lalu. Memaafkan bukan berarti melupakan Ma. Udah ya Ma, Kia ngantuk. Salam buat Meisya ya. Tolong bilangin kalau kakak cantiknya kangen dia. Assalammualaikum"
Kiara langsung mematikan panggilan telponnya saat itu juga tanpa menunggu balasan dari Mamanya. Sepulug tahun lalu, dan ia hanyalah seorang anak perempuan kecil yang sayangnya digores luka batin oleh Papanya sendiri.
"Woi!"
"Ck! Apaan sih Kak Jess! Ngagetin!" Dengus Kia dan ia mulai fokus pada film yang di putar oleh channel favoritnya. Jeslyn mendudukkan dirinya di samping Kiara yang tengah fokus tapi ia tahu, pikiran Kiara tidak mengarah pada Film yang sedang di tontonnya.
"Lo dekat sama Yuda ya? Gue saranin jangan deh. Dia preman sekolah. Gak baik. Yang ada ntar lo di rusak sama dia kayak Lana IPA 1"
Kiara melirik heran pada Jeslyn yang tiba-tiba membicarakan Yuda. Cih, pasti Jeslyn memata-matainya di sekolah.
"Iya, gue juga tau. Tapi gimana cara bikin si Yuda berhenti nguber-nguber gue? Bosan tau"
"Oh, masalah itu, tenang aja. Biar gue yang bertindak."
"Emang bisa?"
"Apa sih yang gak bisa di lakuin seorang Jeslyn Maharani? Gue juga tahu lo lagi di deketin sama Dimas"
"Ih! Kak Jes!! Banyak amat sih informan nya. Sialan. Ini nih yang gue gak suka." Kiara berdecak kesal.
"Gue cuma ngejalanin perintah Mama lo buat ngejagain lo, Kia." Jeslyn tau sebenarnya seperti apa rasanya dikekang, tapi mau bagaimana lagi, ia juga tidak terlalu mengekang Kiara. Hanya memperhatikan dari jauh seperti yang ia lakukan selama ini, sebagai seorang Kakak.
"Terserah deh Kak Jess. Btw, makasih kalau emang lo bisa bantuin gue tentang masalah sama Yuda. Kalau bisa sih, bikin dia jauh-jauh dari gue"
"Eitss.. ada imbalannya dong"
"Sialan, gue udah nyangka sih, seorang Jesslyn, kakak sepupu yang cantiknya kalah sama gue, bakalan ngebantuin adiknya secara cuma-cuma"
Jesslyn tertawa pelan, adiknya itu memang tau seperti apa dirinya. Selagi bisa menguntungkan, apapun itu, ia akan melakukannya.
"Tenang aja. Tas yang lo pengen bakalan ada, kalau lo, berhasil ngebuat si Yuda menjauh"
"Oke Deal"
Kiara menghela napas kesal, tapi lumayan dengan menjauhnya Yuda dari hidupnya, ia akan tentram. Satu hal yang perlu ia pastikan. Dimas. Laki-laki itu, entahlah, Kiara belum tau pasti apa yang di inginkan Dimas sebenarnya. Dan tadi, sebelum pulang, diperjalanan, ia mengatakan hal itu pada Anyelira. Hanya pada perempuan itu karna Rosa sedang disibukkan Olimpiade Kimia dan ia tidak mau mengganggu konsentrasi sahabatnya itu ditengah ujian yang harus membuat Rosa membagi pikirannya antara Ujian dan Olimpiade. Vivian, memang, perempuan itu tahu tapi ia terlalu tidak ingin membicarakan hal itu dengan Vivian, ia hanya kurang percaya saja meskipun perempuan itu sering kumpul-kumpul dengannya.
"Lo lihatin aja dulu, maunya Kak Dimas itu gimana. Lagian, gue kenal Kak Dimas, dia baik dan sopan sejauh ini, kalau rumor tentang dia putus sama Kak Marissa emang bener tapi lo harus hati-hati sama Kak Elena."
"Lah, hubungannya sama Kak Elena apa?"
Anyelira tersenyum miring, "Kak Elena suka Kak Dimas dan mungkin dalam tahap lagi pendekatan sama Kak Dimas. Yah, walau harus gue akui kalau mereka sahabatan. Tapi, yang harus lo tahu, Kak Elena gak segan-segan untuk ngehancurin siapapun yang ngehalangin niat dia buat jadian sama Kak Dimas."
"Kok lo tau?"
"Itu gunanya gue masuk organisasi iu. Semua masalah ada disana. Bahkan gue, sialannya, juga kena. Dan lagi, Kak Dimas, pengurus pramuka, Kak Marissa dan Kak Elena juga pengurus disana."
"Sial juga ya. " Anyelira tersenyum kecut, Kiara juga iba melihat apa yang terjadi dengan Anyelira. Senior yang menurutnya tidak terlalu tampan tapi liciknya ia menggunakan kekuasaannya untuk menjebak Anyelira bahkan menggunakan seseorang yang sangat dipedulikan oleh Anyelira untuk menekan sahabatnya itu.
"Tenang aja sih, dia emang bisa ngancem gue, tapi lo tau kan, kalau gue gak akan tinggal diam gitu aja. Bikin dia lengah dulu, baru gue serang"
Kiara tertawa mendengar rencana Anyelira yang telah matang merencanakan semua hal itu. Ia tahu, jika Anyelira tidak akan sebodoh itu mau diancam dan diperlakukan seperti itu, akan ada saatnya dia membalas. Sama seperti yang dulu ia lakukan, dan Anyelira adalah orang yang menyelamatkannya begitu juga Rosa. Rencananya dulu, mungkin akan gagal total jika Anyelira yang dengan santainya memuluskan semua rencananya padahal saat itu mereka belum terlalu kenal. Namun kini, ia yakin, jika dirinya tidak salah memilih sahabat.
Mereka berdua sama-sama tenang, namun akan menakutkan jika ada yang mengusik ketenangannya.
"Tapi gue seriusan penasaran, anceman apa yang di gunain sama Senior itu ke Lo?"
"Sorry, bukannya gue gak mau kasih tau nih, tapi itu aib buat orang kalau tahu. Gue bukannya gak percaya lo, Kia. Tapi lebih baik gue aja, cukup gue aja yang tau dan sialannya dia juga tau. Karna gue yakin, kalau lo tau, lo gak akan sama lagi sikapnya ke orang itu"
"Yah! Padahal gue penasaran. Tapi gak apa-apalah. Nanti juga tahu"
Lamunan Kia terhenti saat ia mendengar nada dering hapenya yang berbunyi, yang menandakan jika ada pesan yang masuk.
Unknown number
Hai, lo lagi apa?
-Dimas. S-
Kiara berdecak kesal. Persis seperti apa yang di katakan oleh Anyelira. Ia tidak boleh terlalu percaya terhadap seseorang. Dan ini buktinya, Dimas bisa mendapatkan nomor aslinya. Padahal selama ini, ia menggunakan nomor lain jika ingin menghubungi teman sekelasnya. Lalu sebuah pesan lain mengalihkan perhatian Kia.
Vivian A. T
Kia, lo di sms sama Kak Dimas? Sorry, bukannya maksud buat nyebarin nomor lo, tapi.. pokoknya sorry. Gue beneran nyesel udah ngasih nomor lo ke Kak Dimas. Maafin gue Kia ^^
Kia segera menghapus pesan dari Dimas maupun Vivian, ia dalam mood yang tidak baik. Dan ia tidak mau sampai harus bertengkar hanya perihal nomor. Biarkan saja, paling hanya berselang seminggu, Dimas akan berhenti mendekatinya. Menyerah dan mencari perempuan lain untuk bisa ia jadikan pacar.
Tbc
Makasih untuk yang udah ngeluangin waktunya membaca cerita ini.
Dapat notif dari Falling To You, kalian lagi apa?
Semoga kita tetap sehat ya,
Luv yaa!!