Hari ini duka kembali datang menyelimuti keluarga besar Arzan. Seseorang yang berhati batu dan selalu diam-diam memperhatikan kini telah berpulang. Istrinya hanya tinggal nama, raganya telah berpulang.
Semua orang duduk terdiam di ruang utama, semua pelayan juga turut berduka atas kematian Dina. Ia wanita yang sempat berputus asa dan ingin mengakhiri hidupnya, dahulu ia selalu mengharapkan kematian setiap harinya tetapi takdir tak merestui keinginannya. Dan kini saat ia hendak merubah keadaan ternyata takdir terlambat menjawab permintaannya dulu.
Arzan tersenyum sekilas menatap foto Dina yang tersenyum manis, sekali lagi ia benar-benar merasakan apa itu kehilangan yang sesungguhnya. Belum sempat ia mengukir cinta bersama wanita yang ia cintai tetapi waktu telah berjalan sesuai apa yang seharusnya.
"Istirahatlah cantik, sakitmu telah sembuh deritamu telah usai. Tidurlah dengan nyenyak dan sampai jumpa di titik terakhir menurut takdir. Belum sempat kau menjawab cintaku justru kau memberiku kejutan tak terduga. Aku menyayangimu ...." lirih Arzan memeluk hangat foto istrinya itu dengan derai air mata.
Di belakangnya semua orang menangis sesegukan dan benar-benar merasakan kehilangan. Stella hanya diam termenung di bawah tiang utama, wajahnya pucat dan kantung matanya sedikit menghitam. Dirinya tidak menyangka jika dua orang yang selalu ada untuknya telah berpulang meninggalkannya sendiri.
"Tidakkah ini tidak adil untukku? kenapa kalian selalu bersama dan meninggalkanku?" lirih Stella bersamaan dengan air matanya yang menetes keluar. Ia sedang mengutarakan isi hatinya setelah kepergian Danu dan Dina.
Begitu juga dengan Dhafin, anak itu sejak tadi mengurung dirinya di dalam kamar tanpa berniat berbicara dengan siapapun. Hatinya hancur, kebahagiaannya kembali di renggut, begitu sakit dan sangat sakit.
Di dalam kamarnya hanya ada kegelapan, samar-samar cahaya masuk dari sela-sela jendela dan tidak ada suara sama sekali di dalam sana. Terlihat di sudut kamar Dhafin diam meringkuk menatap kosong tembok di depannya, perlahan ia terbangun menghampiri fotonya dengan sang ibu.
"Kau tidak pamit kepadaku?" lirihnya mempertanyakan kebingungannya.
"Ma, aku mencintaimu ... benar-benar mencintaimu," lanjutnya dengan hati yang hancur berkeping-keping. Detik itu juga anak itu mengukir mimpi di dalam lubuk hatinya, ia telah memutuskan untuk mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Mulai hari ini anak itu akan tumbuh dan berpikir dengan pendiriannya sendiri, tumbuh sebagai orang yang hebat dan akan di kenang oleh para musuh keluarganya.
Sore tiba, banyak orang yang menunggu kedatangan Arzan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? kejutan apa lagi setelah semua ini.
Semua orang menoleh melihat Arzan yang turun dari tangga denganw raut wajah dingin, begitu dingin jauh berbeda dari Arzan yang dulu. Di bawah sana orang-orang itu menunggu kedatangannya atas berita besar yang baru saja terjadi siang tadi.
Arzan menatap sekeliling mencari keberadaan seseorang yang ingin ia lihat tetapi tidak ada disana, semua orang nampak mencurigakan dan Arzan tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Siang tadi saham perusahaan hampir 60% telah diambil kuasa oleh seoang pria yang katanya baru tiba ke tanah air.
Arzan sendiri tak mampu mendebat lagi, mungkin inilah yang sebenarnya pelaku itu inginkan. Semua yang dimiliki Dina sebelumnya tiba-tiba sudah berpindah alih ke tangan pria yang dikenal dengan nama Jordan.
Karena hal itu semua pegawai telah diberhentikan bekerja, begitu juga dengan Stella. Tetapi wanita itu menolak dan memilih terus mengabdi kepada Arzan walaupun tanpa upah. Sekarang keluarga Dina yang dikenal dengan hartanya yang berlimpah kini sudah berbeda, banyak media cetak yang menyorotnya bagaimana tidak sebuah keluarga yang namanya begitu berpengaruh kini sudah jatuh miskin sekaligus tidak ada harga dirinya di mata orang lain.
Dhafin yang bersembunyi di balik tembok dan melihat semuanya hanya terdiam mengepalkan kedua tangannya kesal. Anak itu tidak tahu pasti apa yang dibicarakan oleh orang dewasa itu tetapi satu hal yang ia tahu jika kondisinya, kematian ibunya, dan menderitanya ayahnya disebabkan oleh satu orang yang belum diketahui identitasnya.
Dua hari berlalu, satu-satunya harta yang Dina tinggalkan dan masih utuh adalah istananya. Tetapi mulai hari ini juga Arzan harus meninggalkan tempat itu bersama Stella dan anaknya.
Ya, mereka pergi untuk tinggal di Amerika. Menjahui orang yang mungkin saja mempengaruhi Dhafin dalam masa tumbuh kembangnya.
"Kita mau pergi? tidak kembali?" Anak itu bertanya dengan wajah polos kepada sang ayah.
Arzan tersenyum dan memeluk tubuh mungil Dhafin. "Mulai sekarang kita akan hidup dimana orang akan menghargai kita. Kita akan bahagia jauh dari orang-orang itu."
"Bagaimana dengan ibu?" Dhafin mempertanyakan bagaimana mereka bisa meninggalkan ibunya disini sendiri. Stella hanya diam, sejak hari itu wanita ini tidak banyak bicara sama sekali.
"Kita akan mengunjunginya setiap tahunnya untuk memperingati hari kematiannya," jawab Arzan dengan senyum tulus.
Dan hari ini juga jalan hidup mereka telah memasuki awal baru. Mereka bertiga segera masuk ke dalam taksi tetapi Dhafin seolah masih berat hati untuk pergi, matanya terus menatap sekeliling seolah sedang mencari sesuatu, tetapi sayangnya ia tidak menemukan apa yang ia cari.
Sepuluh menit kemudian mobil taksi yang mereka bertiga kendarai sudah melaju menuju bandara pernerbangan, terlihat seorang anak perempuan baru saja tiba dengan nafas tak beraturan karena berlari.
Ia menatap pintu rumah orang yang dirinya cari sudah tertutup rapat, sedetik kemudian beralih menatap jalan yang nampak sepi di depannya. Ya, ia menyadari jika semua sudah terlambat dan juga ia sudah kehilangan satu temannya. Dia adalah Ara yang hendak menyampaikan salam perpisahan dengan Dhafin.
Tertawa karena bahagia, menangis karena duka. Gugur bunga karena layu, kering sungai karena kehilangan hujan. Hidup tanpa cinta pasti hampa, hidup terlalu memaksa pastilah menderita. Kehilangan cinta sejati sama seperti hilangnya separuh tujuan bertahan hidup.
Pada dasarnya semua yang ada di dunia ini, lahir dan mati, datang dan pergi, atau bahkan pergi dan kembali semuanya memiliki alasannya masing-masing. Hari ini atau esok pastilah semua yang tidak bisa kita mengerti akan dijelaskan dengan singkat oleh takdir dan waktu.
Keadaan yang memaksa, jalanan yang dipenuhi kabut, segala hal yang telah larut tiba-tiba terkuak dan menghanyutkan seorang insan hingga merasa binasa. Redup semakin redup, jeritan mengerikan yang tak bisa dipahami.
Hari hari yang dijalani tidaklah sedetik membuatnya bahagia, ia tidak meminta derita seperti ini. Tetapi disisi lain ia yakin jika ceritanya telah ditulis oleh penulis terbaik hingga nanti di akhir perlajalannya ia menemukan pintu keluar dari segalanya. Sekalipun itu buntu tetapi Tuhan baik memberimu pintu keluar berupa kematian.
Harap dan berharap, sejatinya hanya membuat hatimu terkoyak. Senyum dan menghilang dan tangis yang merobek wajah hingga terlihat menyedihkan benar-benar membuatmu muak dengan hidup.
Namun apa mampu kita jika manusia tidaklah bisa lepas dari harapan, seberupa kuat kia menghindari untuk berharap ... hati ini dengan sendirinya akan berharap, entah kepada mereka yang pantas atau justru kembali membawa penyesalan karena terlalu percaya.
Menyesal, sadar, dan mengulanginya lagi. Itu terus terjadi dalam hidup, ajaibnya dunia akan begitu luar biasa saat deritamu usai di waktunya nanti. Teruslah berjuang walaupun hanya ada padang pasir disana, berlarilah walaupun tidak ada jalan keluar. Kelak nanti akan ada tangan luar biasa yang akan menarikmu keluar dari labirin mengerikian ini.