20 tahun kemudian.
Jalanan nampak dipadati oleh pengemudi mobil, dan angkutan umum. Kali ini halte bus menjadi sorotan semua orang yang berada di sana.
Seorang gadis dengan rambut panjang terikat sembarang tengah bertengkar dengan seorang supir mobil. Nampak baju gadis itu basah kuyup dan terus melontarkan kemarahannya.
"Kau yang tidak lihat jalan! sudah tahu ada genangan air kenapa tidak menepi!?" bentak si supir sembari sesekali memukul kening si gadis.
Semua orang yang berjalan di sana ikut memperhatikan apa yang sedang terjadi. Gadis itu tetap diam diperlukan kasar hingga akhirnya ia melontarkan perkataan terakhirnya.
"Ganti rugi seragam saya, Pak. Ini permintaan saya yang terakhir kali," lirihnya dengan tatapan mata tajam ke arah si bapak.
Pria tua itu justru tertawa lucu mendengar seorang gadis yang terus menerus bersikap sok jagoan di hadapannya, karena kesal akhirnya ia hampir menampar pipi gadis itu tetapi tertahan.
Mereka saling menatap, dan semua orang membulat tak percaya.
"Lepaskan!" sergah si sopir dan terus berusaha melepaskan tangannya yang ditahan oleh gadis itu.
"Aku benci saat kepalaku di pukul," jawabnya lirih dan kemudian ....
Plak! Dugh!
Satu tamparan dan satu pukulan melayang dengan spontan menghantam wajah pria itu. Semua orang berteriak kaget tak percaya.
"Lihat dia, tubuhnya memang kecil tapi tak disangka pukulannya membuat pria itu mimisan," geming seorang ibu-ibu berbicara dengan yang lainnya.
Gadis itu diam menatap pria tua yang mengelap kasar darah dari hidungnya.
"Beraninya kau-!"
Saat sopir itu hendak membalas pukulan gadis justru dirinya sendiri yang terluka. Dengan cepat tangannya di putar ke belakang dan sikunya mengenai hidung pria itu.
"Ohh ... maaf-maaf," lirih gadis itu berpura-pura tak sengaja meninju wajah pria untuk ketiga kalinya.
"Maaf-!!" ia melontarkan maaf sembari melayangkan satu pukulan sekuat tenaga ke arah kepalanya, dan akhirnya pria itu jatuh tak sadarkan diri.
Semua orang menatap takjub dan sesekali bertepuk tangan mengakui kekuatan si gadis. Merasa diperhatikan gadis itu terkekeh canggung dan mengambil beberapa lembar uang dari dompet supir itu dan pergi meninggalkan halte untuk mengganti bajunya.
Saat semua sibuk menonton apa yang dilakukan gadis itu dan merasa bangga, seorang pria yang duduk di dalam mobil merasa bosan dengan negara yang sudah lama ia tinggalkan.
Terlihat dari kaca mobil yang perlahan-lahan terbuka pria itu melepas kacamatanya perlahan dan terus memperhatikan gadis itu berjalan meninggalkan halte.
"Bahkan sekarang diskriminasi juga dilakukan oleh gadis polos seperti dia. Sungguh malang nasibnya," gumamnya lirih mengira jika gadis itu sengaja memalak si sopir karena ia tidak melihat semua kejadiannya dan salah menyimpulkan.
Padahal yang terjadi adalah si sopir yang sengaja menginjak genangan air saat gadis itu berdiri mencari taksi di tepi jalan. Bukannya bertanggung jawab sopir itu justru merendahkan si gadis dan akhirnya gadis itu tak bisa menerima begitu saja.
Lagipula siapa yang mau direndahkan oleh orang lain seperti itu? pastinya tidak ada yang akan menerimanya begitu saja.
Seorang wanita memang terkadang dipandang sebagai orang lemah yang hanya bisa menangis, tetapi gadis itu memberikan bukti jika tak semua wanita akan menerima semua yang terjadi begitu saja. Ia membuktikan jika wanita juga berhak mendapatkan posisi sama seperti laki-laki.
Di sebuah toko baju.
"Berita hari ini. Seorang pria muda yang dikenal begitu berkarisma kini telah kembali ke tanah air. Tak luput ia pastinya juga ikut andil dalam dunia bisnis, ia telah menduduki ranting teratas sebagai CEO di usianya yang terbilang muda."
Suara dari stasiun berita yang terpampang jelas di layar tv itu membuat banyak orang bertanya-tanya seperti apa rupa pria yang disebut-sebut begitu berkarisma itu.
Beberapa karyawan dan pembeli yang berada di dalam toko itu seketika berbisik-bisik kagum dan bahkan menyebut si pria yang namanya sedang dibincangkan itu sebagai pacar hingga calon suaminya.
Mendengar hal itu membuat gadis yang keluar dari ruang ganti merasa jengah dan bergidik ngeri melihat orang disekitarnya.
Apakah pria itu jelek? Tidak, hanya saja selera gadis ini sedikit berbeda dari yang lainnya. Bahkan terbilang sangat aneh, dimana para gadis pada umumnya memilih feminim ia justru nyaman dengan kaos oblongnya.
Tak sedikit ia menjumpai gadis feminim yang dilecehkan di dalam kendaraan umum, dan karena kesal ia pun melampiaskan amarahnya dan terlibat ke dalam masalah.
Ia tak sepenuhnya menyalahkan si pelaku, tetapi ia juga merasa sedikit risih melihat para gadis seusianya tengah berlomba-lomba untuk terlihat mempesona dengan belahan d**a dan paha mereka.
"Mereka itu hanya seperti orang bodoh, menyebar umpan tetapi tidak mau menjadi sasaran, bukankah itu bodoh? Mereka hanya peduli dengan tanggapan saat dipuji ... tapi tak sepenuhnya salah mereka juga, mereka menyukainya dan tak sedikit yang seperti itu karena lingkungannya." pendapat si gadis tentang tren berpakaian wanita saat ini.
Di gedung utama perusahaan untuk melakukan konferensi.
Seorang laki-laki begitu tampan, pakaiannya rapi, kulitnya begitu mulus, dan tatapan matanya yang mematikan.
Siapa dia? banyak orang bertanya-tanya siapa pria yang tiba-tiba muncul tanpa ada desas desus kabar sebelumnya.
"Berikan suara anda Pak Dhafin," ujar seorang wartawan yang tengah berdesak-desakan yang berusaha ditangani oleh pengawal.
Ya, dia Dhafin. Bocah kecil di masa lalu yang meninggalkan tanah air untuk pergi ke Amerika kini sudah kembali.
Tentunya ia kembali dengan membawa tujuan, sekarang nama keluarganya begitu harum di banyak negara. Arzan yang pergi tanpa membawa harta kini sudah bermandikan harta hasil kerja kerasnya, dan putranya sudah tumbuh begitu hebat.
"Kasih jalan!" teriak para pengawal menyuruh ratusan orang yang ingin menemui Dhafin itu untuk sedikit menepi agar tuannya bisa berjalan masuk ke dalam gedung.
"Pak Presdir, Aku mencintai mu!! ....." teriak seorang wanita begitu lantang sembari membawa poster nama Dhafin dan potongan wajahnya disana.
Karena suaranya yang begitu lantang itupun membuat Dhafin teralihkan dan menatap si wanita itu. Tangannya menurunkan sedikit kaca matanya agar bisa melihat dengan jelas tulisan poster itu.
Setelah itu ia mengabaikan para penggemarnya dan kembali berjalan masuk ke dalam gedung. Wanita yang hanya dipandang oleh idolanya itupun histeris bahagia dan terus berteriak kegirangan.
"Pak Presdir aku mencintaimu!!!"
"Jadilah pacarku!!"
"Cepat temui ibuku di rumah!!"
"Pak Presdir cintaku lebih berlimpah dari pada hartamu!!!"
Suara mereka terus bersahutan meneriaki nama idolanya dalam dunia bisnis itu hanya demi di notice olehnya.
Baru satu hari Dhafin kembali dan sudah dikerumuni banyak penggemar seperti itu. Anak yang dulu begitu tangguh ternyata tak sepenuhnya merasa bahagia walaupun berlinang harta.
Ya, ia tak akan merasa puas dengan ribuan emas dan milyaran dolar jika keinginan dan tujuannya belum tercapai.
Hari ini dia kembali sendiri, ayahnya (Arzan) masih berada di Amerika karena sakit keras. Perjuangannya mensejahterakan putranya benar-benar sudah membuahkan hasil sekarang.
Konferensi kali ini dihadiri banyak pebisnis besar, dan Dhafin sengaja menghadirinya untuk menemukan apa yang ia inginkan.
"Aku kembali untuk merebut apa yang menjadi milikku dulu. Setinggi apapun gedung yang kau dirikan saat ini, kelak akulah yang akan menghancurkannya. Seperti kau menghancurkan orang tuaku dulu." Dhafin.
Kau mungkin berpikir jika sudah berhasil menghancurkan ayah dan ibuku. Tetapi kau lupa jika anak panah beracun ini tengah semakin berbahaya saat kau mengusik busurnya. ~Dhafin