Tengah malam tak terasa sudah datang. Pukul dua dini hari, Ara tengah tertidur di samping Neta yang juga ikut terlelap dengan sangat tenang.
Jauh disana, di mansion Dhafin. Pria itu abru saja menutup matanya satu jam yang lalu. Saat dia asik berlayar di pulau kapuk nya, tiba-tiba ponselnya berdering puluhan kali sejak 10 menit yang lalu.
Dhafin yang sudah mendengarnya berpikir jika itu adalah orang yang datang untuk mengancamnya lagi, tapi karena terus terusan menghubunginya akhirnya dia merasa risih dan bangun dengan keadaan kesal.
Matanya melebar ketika melihat jika bukan nomor asing lagi, tapi Juna yang menghubunginya di tengah malam seperti ini.
"Ada apa?" tanya Dhafin malas sesekali mengacak-acak rambutnya frustasi.
"P-pak, sedang terjadi keributan! Terjadi pembunuhan di kantor t