Terlihat Arzan tengah duduk di kursi rodanya dan didampingi oleh Stella, saat ini ia sedang berpamitan kepada Mahendra yang menampungnya selama semalam.
"Kau yakin sudah mendingan?" tanya pria paruh baya yang kerap disapa Mahen itu menanyakan kondisi sahabatnya.
Arzan mengangguk dan menjawab, "Aku berterima kasih padamu dan putrimu, aku dan anakku berhutang nyawa pada kalian."
Mahen mendengarnya seketika bangkit dari posisi jongkoknya menjadi berdiri.
"Tidak, aku tidak melakukan apapun. Bahkan aku yang berterimakasih padamu atas kebaikanmu dulunya, walaupun istriku tidak berumur panjang. Ditambah aku semakin senang karena putriku akan segera menikah dengan Dhafin."
Mahen menjawab dengan rendah hati, memang benar apa yang ia katakan. Puluhan tahun lalu saat istrinya membutuhkan operasi