Namaku Senja Hascaryn, kerap dipanggil Senja, Karin, Ryn atau Aryn. Sebut saja Aryn. Ini adalah hari pertamaku mengenakan seragam putih abu-abu dan tentunya dengan semangat yang baru.
Aku tengah sibuk membenarkan seragam baruku di depan cermin yang ukurannya hampir sama dengan tubuhku. Lalu, akupun berdialog dengan diriku sendiri layaknya memberi stok kata kata motivasi sebagai siswa baru.
Setelah merasa puas dengan penampilanku pagi ini dengan gesit aku menyambar tas yang tergeletak di atas kasurku.
Aku tergesa-gesa menuruni anak tangga dengan sedikit berlari kecil, sesekali membenarkan posisi rambutku yang menutupi wajah saat menunduk.
Aku mendapati mama sedang mengolesi roti untuk sarapan. Tidak hanya itu di meja makan juga terdapat makanan yang siap disantap, nasi goreng dengan bau khas masakan mama membuatku tak henti-henti menikmati bau masakannya.
“Morning my sweet heart,” ucap mama kepada anak gadisnya dengan memberikan senyum yang tulus.
“Morning semuanya!” sapaku kepada seluruh penghuni meja sarapan pagi ini seraya tersenyum renyah.
Tetapi hal itu tidak mendapat respon yang hangat seperti biasanya. Kakakku yang biasa kusebut bang kevin hanya tersenyum kaku, juga papa yang tidak menanggapi sapaanku.
Kengapa tidak seperti biasanya? Aku lantas bertanya-tanya kepada diri sendiri, otakku berputar dengan sangat hebat. Ah, mungkin sedang ada masalah di kantor atau sedang bertengkar dengan mama.
Otakku terus menyangkal pikiran-pikiran buruk yang sedang menghantuiku. Mungkin, terlihat berlebihan tetapi aku sangat khawatir jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Satu santapan mendarat dengan sempurna di mulutku dengan terus memikirkan alasan orang rumah tidak seperti hari-hari kemarin. Kecuali, mama yang tetap tersenyum ramah melihatku turun dari kamar 10 menit yang lalu.
Pada santapan kedua papa tanpa pamit langsung keluar rumah dan mengambil kunci mobil dengan sangat kasar. Aku yang tidak mengetahui apapun hanya saling memandang dengan Bang Kevin yang terlihat kaku sejak tadi.
Apakah ada hal yang aku tidak tahu? Apakah ada masalah besar sedang menghampiri keluarga yang dikenal hangat ini? tidak seharusnya aku mendapati pagi hari dengan suasana panas seperti saat ini.
Belum sempat aku melahap santapan ketiga, aku dikejutkan dengan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7. Berpamitan dengan tergesa gesa adalah kebiasaanku saat pagi hari. Suasana pagi di Jakarta tidak berhasil aku nikmati dengan sempurna. Aku harus berlari dari rumah ke sekolah yang berjarak sekitar 2 km. Tentu itu sangat menguras tenagaku pagi ini ditambah sarapan yang belum selesai aku habiskan.
Aku tahu hari ini adalah hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Namun, kakiku sudah tidak kuat untuk diajak berlari lebih jauh lagi. Napasku tersenggal-senggal dan keringatku mulai bercucuran karena terkena sinar matahari yang bersinar cukup cerah.
Baiklah, aku akan berjalan kaki untuk hukuman yang akan aku terima nanti itu urusan belakang. Yang terpenting sekarang adalah aku tidak tergeletak di trotoar tidak berdaya.
5 menit kemudian aku lihat gerbang sekolah sudah tertutup rapi beserta satpam yang berbadan kekar sedang berjaga. Alisku mengkerut ketika menyadari bahwa ada anak laki-laki yang berseragam sama sepertiku sedang merokok di sudut tembok.
“Dasar Badboy!” cibirku kepadanya yang sedang asik merokok mengeluarkan kepulan asap dari dalam mulut dan hidungnya.
Aku masih berdiri tak jauh darinya, masih memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk bisa masuk kedalam sekolah tanpa berbicara kepada satpam berbadan kekar dan terlihat galak.
“Anak baru?” telingaku mendengar suara yang bersumber dari bocah badboy itu. Aku pun lantas menoleh mendapatinya yang sudah berdiri di belakangku dan aku lihat ia membuang putung rokok yang panjangnya hanya tersisa sekitar 4 cm.
“Iya, lo sendiri?”
“Gue juga, mau masuk?”
Kenapa dia terlihat seperti anak baik-baik jika bicara kepadaku dan matanya terlihat tulus.
“Iya tapi takut.”
“Lewat belakang bareng gue.”
“Naik dinding?”
Tanpa banyak bicara ia pun menggandengku berlari untuk menuju belakang sekolah baruku. Aku yang tidak mengerti area sekolah ini pun hanya menurutinya kemana ia membawaku. Tidak butuh waktu lama untuk sampai belakang sekolah dan benar saja di sini tersedia pintu gerbang yang tidak terkunci. Dia menyuruhku melihat sekitar untuk sekadar memastikan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa kami masuk lewat jalur tidak resmi.
Tapi pagi ini aku dengannya sedang tidak beruntung. Kakak panitia memergoki kami sedang mengendap-endap lewat pintu belakang.
Mampus.
“HEI KALIAN! NGAPAIN DI SITU? TELAT?”
Hening.
“NGAPAIN?!” tanyanya lagi dengan eskpresi wajah siap menerkam mangsanya.
Aku bermaksud untuk menjawab pertanyaan kasar dari kakak panitia. Tetapi si badboy ini mencegahku untuk tidak mengatakan sepatah kata apapun dan dengan lantang ia pun menjawab “Maaf, kak. Kami telat.”
“Baiklah, kalian akan menerima hukuman sesuai peraturan. Barangsiapa tidak disiplin waktu akan bersedia menerima sanksi.”
Akhirnya, kami berdiri di tengah lapangan yang disaksikan ratusan siswa baru. Malu, Cuma kata itu yang mewakili perasaanku saat ini.
Hari yang buruk, batinku.
“Lo malu?” tanyanya dengan tampang tidak merasa berdosa karena terlambat.
“Eh, nggak.”
“Udah gak usah malu. Kan lo gak sendirian dihukumnya.”
Kami hanya saling menatap lalu kembali mendengarkan ramainya isi kepala masing-masing. Aku menghembuskan napas berkali-kali pasrah dengan nasib sialku hari ini. Aku menunduk seperti letih dan kepalaku terasa pusing. Aku kembali mengingat kejadian tadi pagi di rumah. Otakku selalu menyangkal kemudian memberi pemakluman bahwa itu baik-baik saja dan lumrah terjadi jika pikiran orang dewasa sedang penat.
Aku masih menunduk lemas, letih, dan terlihat menyedihkan. Anak lelaki di sampingku seperti selalu melirik ke arahku. Mungkin hanya memastikan bahwa aku baik-baik saja, tapi tidak ada yang bisa menjamin itu kan?
Pandanganku mulai mengabur dan gelap juga tubuhku tidak bisa untuk menjaga keseimbangan. Aku seperti sedang berada dalam ruangan kosong dan sangat gelap. Kepalaku terasa berat dan mataku masih sulit terbuka.
“Are you okay?”
Selang beberapa detik perlahan mataku mulai terbuka setelah mendengar suara yang tak jauh dari telingaku seperti sedang membisikkan sesuatu yang membuatnya khawatir. Suaranya tidak asing dan dia adalah badboy perokok yang sedang dihukum denganku tadi.
Aku hanya diam melihatnya menatapku dengan raut wajah yang sulit diartikan. Tapi, jika di lihat dari dekat wajahnya lumayan juga, matanya tajam seperti elang, kulitnya agak sawo matang, cakep juga hehe.
“Are you okay?” ia mengulang kata itu sembari menatapku tajam. Apakah dia sedang marah kepadaku? Atau hanya tatapannya yang terlalu tajam ketika menatap sesuatu? Entahlah, aku takut dengan tatapan itu tapi aku sedikit menyukai bola matanya yang indah.
“Emm, I’m not okay.”
“Why?”
“Gue sarapan dikit tadi di rumah, gak punya tenaga.”
“Cewek lemah.”
“Hah? Eh, tadi gue habis lari dari rumah ke sekolah. Makanya gue telat.”
“Trus lo ngode gue buat beliin sarapan?”
“Ya, itu peka. Yaudah sana beliin ntar gue ganti deh duitnya.” Perintahku kepadanya dengan sedikit memelas.
Tanpa merespon perkataanku ia langsung keluar dari ruang UKS dan berjalan dengan gema langkah kaki yang terdengar jelas.