Mataku menyapu area ruang UKS dengan teliti, memainkan jemariku sembari menunggu sarapan datang. Tapi, aku mulai penasaran dengannya. Mengapa terlihat biasa saja ketika di hukum? Atau dia sudah terbiasa di hukum ketika masih SMP? Aku kembali teringat ketika dia sedang merokok mengeluarkan asap rokok yang begitu tebal. Seperti orang tua yang sedang stress menghadapi masalah hidup. Lalu, mengapa ia merokok? Apakah dia juga sedang mengalami masalah hidup atau sekadar untuk mengikuti trend anak nakal jaman sekarang yang konon katanya, gak rokok gak keren.
Selang beberapa detik, aku melihatnya dari kaca jendela berjalan sembari membawa makanan dan minuman di tangannya. Matanya melihat ke arahku dengan menyorot tajam dan gema kaki yang tidak teralu jelas, kali ini ia berjalan cukup santai dan elegan.
“Nih.”
“Totalnya berapa?”
“Gak usah.”
“Kenapa?”
“Gapapa.”
“Lah.”
“Ikhlas gue.” Jawabnya dengan nada rendah seperti tidak mempunyai semangat hidup.
“Makasih.” Ujarku seraya tersenyum memperlihatkan deretan gigiku.
Makanan yang terbungkus daun jati ini perlahan kubuka dengan hati-hati dan memperlihatkan nasi goreng dengan lauk tempe goreng yang masih hangat. Itu adalah makanan kesukaanku. Lalu, aku melirik ke arahnya dengan suapan nasi yang masuk ke mulutku. Aku lihat ia sedang terduduk lemas dengan mata yang tertutup.
Fajar bramashtya, begitulah name tag yang terpasang di seragam barunya yang terlihat putih bersih. Seragamnya tidak berantakan atau bisa dibilang ia rapi bukan urakan seperti anak badboy lainnya yang aku tahu selama ini.
Aku masih dengan nasi goreng yang belum habis dan tiba-tiba seorang kakak panitia menghampiri kami, hal itu sontak membuatnya yang sedang menutup mata pun akhirnya membuka matanya dengan sempurna.
“Dek, kamu masih sakit?”
“Sudah mendingan, kak,” jawabku dengan sopan.
“Nanti kalau sudah selesai makan, segera ikut yang lain ya di kelas. Kalian kebetulan satu kelas. Kelas 10 MIPA 1, kakak tinggal dulu.” Ujarnya menjelaskan lalu berbalik meninggalkan suasana canggung diantara aku dan dia.
“Tungguin gue ya.” Pintaku kepadanya dengan segera melahap nasi goreng yang tinggal beberapa suap saja.
“Santai aja. Btw, nama lo siapa?”
“Senja Hascaryn, panggil aja Aryn.”
“Gue Fajar Bramashtya, panggilan akrabnya Feer.”
“Nama yang bagus, Feer.”
“Kenapa nama panggilan lo nggak Senja aja?”
“Oh, kalau mau panggil Senja sih its oke aja. Tapi, temen-temen gue manggilnya Aryn.”
“Aryn? This is good name,” katanya sambil tersenyum kepadaku.
“Yuk, ke kelas. Makanan gue udah habis.”
“Ayok.”
Aku dan Feer menyusuri koridor sekolah dengan langkah kaki yang sedikit menggema. Tidak ada percakapan yang menyelingi langkah kami. Kami hanya fokus berjalan menatap kedepan sembari melihat sekitar lingkungan sekolah baru ini. Aku mulai menyukai sekolah ini, lingkungannya hijau, banyak pohon, dan terdapat taman yang menyediakan beberapa tempat duduk juga tak lupa perpustakaan yang berdiri kokoh. Aku menyukai ruang perpustakaan, banyak buku, sunyi, dan tempat yang akan menjadi tujuanku ketika bell istirahat berbunyi.
Senyum mengambang begitu saja menghiasi wajahku yang kusam sejak tadi. Aku menghembuskan napas tanda lega, awalnya aku tidak ingin masuk ke SMA Harapan Bangsa, tetapi semesta berkata lain. aku sekolah disini dan pertama kalinya aku dihukum karena terlambat, tak lupa aku juga bertemu dengan seseorang yang ku tahu dia badboy tapi aku senang ketika berteman dengannya.
Tidak terasa kami sudah berdiri di depan kelas 10 MIPA 1, pintunya terbuka lebar dan belum ada guru yang mengisi hanya siswa siswi yang berkenalan dengan teman barunya juga teman laki-laki yang sedang bergurau membicarakan hal-hal yang tidak penting. Seluruh kursi di ruangan ini sudah terisi oleh teman-temanku hanya menyisakan dua kursi berdampingan di sudut ruangan. Dan itu tandanya aku akan duduk bersebelahan dengan Feer.
Kamipun akhirnya berjalan menuju tempat duduk paling belakang di sudut ruangan. Not bad, begitulah kataku. Setidaknya aku sudah sedikit mengenal teman sebangkuku. Aku meletakkan tasku di laci meja begitupun dengannya.
“Lo gapapa kan sebelahan sama gue?” tanyanya dengan nada yang begitu santai kepadaku.
“It's ok. This is not a problem.”
“Btw, kalau ada tugas atau pelajaran yang susah boleh dong minta tolong. Gue kan gak jago banget di akademik.” Serunya dengan menenggelamkan wajahnya di meja, seperti tidak niat untuk pergi ke sekolah.
“Boleh, tapi ada syaratnya.”
“Yaelah, apaan?”
“Es krim, satu tugas satu es krim. Tugas plus minta ajarin pelajaran berarti dua es krim. Gimana? Menarik kan?”
“Demi tugas gue selesai nanti, oke deal.”
Dan kamipun berjabat tangan tanda bahwa aku dengannya menyetujui perjanjian konyol itu.
Matanya selalu menyorot tajam dan itu membuatku terkunci ketika ia memandangku dengan jarak yang tidak begitu jauh. Lalu, aku pun membuang muka sebab tidak bisa mengontrol gejolak di hatiku. Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan Feer si cowok badboy. Tujuanku pergi ke sekolah adalah menuntut ilmu, bukan cari cinta. Tapi, jika itu datang begitu saja apakah aku bisa menolaknya? Apakah aku bisa mengendalikannya? Yang Namanya perasaan tidak bisa di atur-atur, Aryn.
Terus kenapa aku jadi melamunkan hal semacam ini kepada laki-laki di sampingku? Oh My God, ada apa denganku. Aku segera membuang pikiran-pikiran burukku yang sedang bergemuruh di dalam otakku.
Beberapa menit kemudian seorang guru datang membuat kelas yang semula riuh menjadi senyap. Perempuan paruh baya dengan kacamata yang menempel pada wajahnya itu tersenyum kepada seluruh murid yang berada di dalam ruangan ini dan kamipun membalasnya dengan ramah. Kemudian, beliau memperkenalkan dirinya dan menjelaskan hal-hal apa saja yang harus kami ketahui tentang sekolah baru ini pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mulai dari sejarah berdirinya sekolah ini, tata tertib, pencapaian-pencapaian yang telah diraih SMA ini, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan SMA Harapan Bangsa Jakarta.
Semuanya mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang keluar dari perempuan paruh baya yang tengah berdiri menjelaskan dengan sungguh-sungguh, namanya Ibu Ami. Iya, semuanya tampak antusias kecuali laki-laki di sampingku yang sejak tadi menguap berkali-kali dan malas mendengarkan apa-apa yang di ucapkan oleh Bu Ami. Feer terlihat mengantuk, matanya terlihat merah karena sejak tadi ia menahan untuk tidak tertidur.
“Lo ngantuk?” bisikku kepadanya yang sedang memperlihatkan wajah lesu.
“Hoam, yap gue ngantuk banget. Tadi malem main game, seru banget.”
“Yaa kalau main game jangan malem-malem lah kan besoknya sekolah. Pasti lo ngantuk kayak sekarang ini. Muka lo dah keliatan asem banget, Feer.”
“Cie perhatian ya,” jawaban darinya sukses membuat pipiku bersemu merah.
“E…maksud gue itu, ya gue ngingetin sesama temen.”
“Gitu doang?”
“Ya, iya.”
“Yaudah, nanti pulang sekolah beli es krim ya. Gue traktir.”
“Acara apa sampai traktir-traktir?”
“Emm, gak ada. Pengen aja.”
“Kita baru kenal tapi udah kayak kenal lama ya, Ryn,” sambungnya seraya menenggelamkan wajahnya tanpa memperdulikan jawaban yang akan aku lontarkan kepadanya.
Nyebelin.
Dan benar, ketika sekolah telah usai hari ini, ia benar menepati janjinya. Feer mengajakku ke sebuah supermarket mini di sekitar sekolah kami berada untuk membeli es krim. Kami berjalan menyeberangi jalanan yang ramai dilalui berbagai macam kendaraan. Aku harus berusaha untuk tidak jatuh hati kepadanya sekali lagi aku menekankan pada diriku bahwa Feer hanyalah temanku.
“Lo tunggu di luar aja ya, biar gue yang masuk supermarketnya,” perintahnya kepadaku.
“Oke.”
Tidak butuh waktu lama untuk memilih es krim yang akan ia beli. Terlihat dari pintu kaca itu Feer sedang memberikan beberapa lembar uang kepada kasir dan segera meninggalkan supermarket yang mulai ramai dikunjungi pembeli. Lalu, dengan langkah tergesa-gesa ia menghampiriku yang tengah menunggunya untuk keluar membawa sebungkus es krim di tangannya.
“Cornetto,” katanya sambil menyodorkan es krim berbentuk kerucut tersebut seraya memamerkan senyum manisnya.
“Wah, kok lo tahu aja gue sukanya cornetto?”
“Feeling.”
“Thanks loh, gue makan ya,” Feer membalas perkataanku dengan menganggukkan kepalanya.
Kami sedang duduk di kursi panjang dekat supermarket dengan membawa es krim yang siap untuk dilahap. Aku perlahan mulai membuka bungkus cornetto yang sedang aku genggam dan aku melahapnya dengan menyisakan beberapa es krim di mulutku sampai belepotan. Hal itu membuatnya tertawa ketika melihatku belepotan dengan es krim.
“Ryn, muka lo belepotan banget kalau lagi makan es krim hahahaha,” katanya sambil tertawa kencang. kali ini ia tertawa seperti tidak memiliki beban dalam hidupnya.