Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMA Harapan Bangsa Jakarta telah usai. Kini aku sedang duduk di sebuah taman sekolah beralaskan kursi kayu yang sudah mulai rapuh bersama Melly, seseorang yang mengajakku berkenalan setelah Feer, lokasi taman ini tak jauh dari kelasku.
Sejak pertama menginjakkan kaki di SMA Harapan Bangsa aku hanya mempunyai teman Melly dan Feer, si remaja perokok dan itu sudah lebih dari cukup.
Sesekali aku mengedarkan pandanganku melihat sudut demi sudut lingkungan sekitar taman. Pagi ini udara terasa sejuk dan aku berhasil menikmatinya dengan sempurna. Seulas senyum merekah di bibirku, aku menyukai suasana taman sekolah kali ini yang sedang tidak ramai di kunjungi oleh murid lainnya.
“Ryn,” panggil Melly datar.
“Hmm.”
“Lo suka sekolah di sini?”
“Suka, kayaknya gue udah mulai nyaman sama lingkungan sekolah ini.”
“Nyaman sama sekolahnya atau nyaman sama teman sebangku? Hayoo!”
“Ish, lo apaan deh. Gue sama Feer itu cuma teman, gak akan lebih.”
“Terus ngapain waktu pulang sekolah makan es krim bareng, gak ajak gue lagi.”
“Ya gimana mau ngajak lo, gue aja baru kenal lo kemarin ahahahha.”
“Iya deh iya, semoga lancar PDKTannya.”
“Temen!” ucapku menegaskan.
“Temen apa demen?” godanya sehingga membuat pipiku sedikit memerah karenanya.
“Temen, Mel.”
“Demen.”
“Tau ah!”
Tanpa memperdulikan Melly yang sibuk menggodaku aku langsung berlari menuju kelas seraya menahan untuk tidak tertawa di depannya.
“Hei, Ryn. Jangan ngambek dong!”
*
Feer sedang tertidur di kursi dengan tas berwarna hitam yang dijadikan sebagai alasnya. Matanya menutup dengan sempurna, muka letihnya terpancar begitu saja. Cuaca masih pagi dan ia sudah terlihat letih. Aku perhatikan lamat-lamat wajahnya yang asik tertidur pulas. Aku tidak tahu mengapa aku seperti ini, aku tidak mengerti mengapa aku selalu mengamatinya diam-diam, dan yang aku tahu adalah aku mulai menyukainya tanpa alasan yang pasti.
Rasa ini datang begitu saja tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadaku. Oh, ternyata seperti ini rasanya menyukai seseorang. Mungkin ini terbilang pertama kalinya aku menyukai lawan jenis dan aku sungguh tidak mengerti alasan apa aku menyukai si badboy ini. Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud semesta membiarkanku bertemu dengannya, mengenalnya, dan menyukainya. Cara kerja semesta memang sering kali tidak bisa kita pahami termasuk keadaan hatiku saat ini.
“Hayo, keliatan kan lagi namatin diem-diem. Ngaku aja lo sebenernya suka kan sama dia?” Melly membisikkan perkataannya tepat di dekat telingaku dengan memberikan senyum jailnya. Huft, aku tidak menyukai caranya tersenyum menggodaku.
Aku tidak melontarkan kata apapun kepadanya, hanya memutar bola mata dengan malas lalu mencibirnya yang sedang asik tersenyum jail kepadaku.
“Gapapa kok, Ryn. Perasaan kan gak bisa di atur-atur. Gue dukung. Semangat pdkt sobat!”
Mendengar perkataan Melly membuatku geli dengan perasaanku sendiri dan cuma geleng-geleng kepala saja.
Aku mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tasku ke atas meja tak lupa novel yang kubawa dari rumah yang belum selesai aku tamatkan tadi malam. Toh, sekarang belum ada guru yang mengisi. Masih ada waktu lah buat baca novel bentar. Membaca fiksi membuatku senang dan seperti mempunyai dunia sendiri yang terlihat sempurna juga menarik daripada dunia nyata. Seperti novel yang aku baca sekarang berjudul Kata yang mengisahkan keikhlasan seorang tokoh yang bernama biru untuk melepas jani bersama laki-laki yang bisa menjaga dan menyayanginya lebih baik dari biru.
“Suka baca novel?”
Suara itu mendadak mengagetkanku yang tengah fokus membaca kata demi kata dalam buku ini. Aku lantas mendongakkan kepalaku menemui sumber suara. Aku lihat Feer sedang menatapku tajam seperti biasanya, matanya masih terlihat merah khas orang bangun tidur.
“Suka, suka banget,” jawabku lalu kembali memfokuskan diri menatap tulisan novel yang sudah menunggu untuk aku baca.
“Gue ada novel, banyak banget di rumah. Lo mau?”
Aku mendongak lagi.
“Lo koleksi novel?”
“Nggak, itu punya mama waktu muda. Tapi, sekarang udah gak pernah dibaca. Gue juga gak suka baca, sih. Jadi, mending lo bawa pulang deh.”
“Emm, menarik. Tapi, gue sungkan sama mama lo.”
“Gapapa, mama gue sendiri waktu itu bilang kalau ada temen gue yang suka baca buku atau novel suruh bawa pulang,” jelasnya.
Temen dia bilang hehe.
“Boleh juga.”
“Yaudah nanti pulang sekolah ke rumah gue.”
Aku menganggukkan perkataannya tanda setuju dengan tawaran yang ia berikan kepadaku. Selang beberapa menit seseorang yang berbadan tegap dengan tinggi kira kira hampir 180cm itu memasuki ruangan dengan senyum yang mengambang.
“Selamat pagi anak-anak!” sapanya ramah.
“Pagi, Pak Tio!” Seluruh murid yang ada di ruangan itu menjawab serempak.
“Baik, kali ini bapak mengajar mata pelajaran matematika, jadi untuk pemanasan kalian baca buku paket bab 1 terlebih dahulu ya,” perintahnya dengan nada yang agak keras.
Terlihat seluruh murid yang berada dalam ruangan itu mengikuti perintah Pak Tio. Aku mengeluarkan buku paket matematika yang bergambar angka dan jangka itu ke atas meja. Mulai membuka halaman pada bab pertama. Mataku melirik sekilas ke arah lelaki di sampingku yang sedang sibuk mengobrak-abrik tasnya untuk mencari sesuatu, mungkin bukunya.
“Buku gue ketinggalan, Ryn!!” serunya kepadaku dengan wajah yang sedikit panik.
“Satu buku sama gue aja, Feer,” tawarku sembari sodorkan buku paket ke tengah-tengah meja.
“Hehe thanks, Aryn,” ucapnya seraya tersenyum manis yang dibuat-buat olehnya.
Lembar halaman pertama pada bab 1 membuatku tidak mengerti bagaimana menggunakan rumus-rumus yang tercantum di sana. Aku memang tidak menyukai angka tapi aku malah mengambil kelas MIPA. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa supaya jam berputar lebih cepat dari biasanya karena diriku tidak bisa berlama-lama melihat angka dan rumus yang memenuhi setiap lembar halaman buku paket.
Aku membolak-balikkan halaman buku paket berulang kali hingga membuatnya bosan melihat tingkahku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Gak."
"Orang ditanya kenapa kok jawab gak."
"Yaudah, gak usah berisik dulu. Nanti di notice sama Pak Tio baru tau rasa lo."
"Emang kenapa? galak?"
"Ya lo tau sendiri dari mukanya gimana, Feer."
"Itu yang belakang ngapain? lagi musyawarah apa sih?" suara Pak Tio terdengar menggema di dalam ruangan ini.
Seluruh sorot mata beralih menatapku dan Feer. Mampus, batinku. Aku hanya diam dan menunduk begitu juga dengan Feer.