Alea menunjukkan ancaman itu kepada Matias. Wajah lelaki tersebut berubah ketika membaca nama Tobias dan penyelidikan.
"Om tahu sesuatu?" tanya Alea.
Matias menyangkal terlalu cepat. Tobias dan Rendra datang bersama polisi untuk memeriksa pesan. Ketika melihat Matias, Rendra tampak mengenalinya.
"Kita pernah bertemu di perusahaan Damien," kata Rendra.
Matias akhirnya mengaku dahulu bekerja sebagai penyelidik keamanan untuk ayah Tobias. Ia meninggalkan perusahaan setelah menemukan transaksi mencurigakan yang melibatkan Sophia dan ibunya.
"Kenapa Om tidak pernah cerita?"
"Karena aku ingin menjauhkanmu dari masalah mereka."
Matias menyimpan salinan laporan lama. Laporan itu menunjukkan mobil Damien diperiksa bengkel milik kerabat Sophia sehari sebelum kecelakaan.
Tobias marah karena bukti tersebut disembunyikan.
"Papaku mungkin masih hidup kalau laporan itu diberikan lebih cepat!"
"Aku sudah memberikannya kepada polisi saat itu. Berkasnya menghilang dan seseorang mencoba membunuhku. Aku pergi untuk mencari bukti lain."
Alea berdiri di antara mereka. "Berteriak tidak akan mengembalikan waktu. Cari tahu siapa yang menghapus berkasnya."
Rendra memeriksa laporan dan menemukan nama petugas penerima. Petugas itu kini bekerja sebagai kepala keamanan perusahaan Sophia.
Polisi membuka kembali penyelidikan. Matias bersedia menjadi saksi dengan syarat Alea dilindungi.
Tobias meminta Alea tinggal di rumah aman. Alea menolak meninggalkan Matias, sehingga mereka semua pindah ke vila milik Tobias untuk sementara.
Di vila hanya ada tiga kamar siap pakai. Matias mengambil satu, Siska satu, dan kamar terakhir harus diperebutkan Alea serta Tobias karena Rendra memilih tidur di sofa ruang kerja.
"Aku tidak mau sekamar dengan rentenir," kata Alea.
"Aku juga tidak mau sekamar dengan perempuan yang mendengkur."
"Aku tidak mendengkur!"
Rendra menawarkan kamarnya kepada Alea, tetapi Tobias menolak terlalu cepat. Akhirnya Alea mendapat kamar dan Tobias tidur di sofa depan pintunya dengan alasan keamanan.
Malam itu Alea keluar dan menemukan Tobias masih terjaga.
"Kamu takut aku diculik?"
"Aku takut utangmu tidak dibayar."
Alea melempar bantal ke wajahnya, tetapi diam-diam tersenyum sebelum kembali ke kamar.
Selama tinggal di vila, Alea menerima pesan dari Tara yang menanyakan keadaannya. Ia bercerita tentang ancaman tanpa memberikan lokasi.
Rendra membalas dari ruang kerja. Tobias masuk dan hampir melihat nama akun tersebut.
"Kamu sedang apa?"
"Mengurus masalah pribadi."
Tobias curiga karena Rendra segera menutup layar. Ia meminta tim IT menelusuri akun Tara yang selama ini membeli seluruh barang Alea.
"Itu pelanggaran privasi," kata Rendra.
"Aku ingin memastikan Tara bukan bagian orang Sophia."
Rendra terjebak. Jika menolak terlalu keras, Tobias akan semakin curiga.
Tim IT menemukan akun Tara menggunakan jaringan kantor Tobias. Tobias langsung memanggil seluruh pegawai yang pernah mengaksesnya. Rendra berusaha menghapus jejak, tetapi satu pembayaran mengarah pada rekeningnya.
Pada saat yang sama, Alea meminta Tara melakukan panggilan video. Ia ingin berterima kasih langsung karena pembelian itu membantunya membayar utang.
Rendra menggunakan aplikasi pengubah wajah dan suara untuk mempertahankan penyamaran. Namun koneksi vila bermasalah dan filter mati selama beberapa detik.
Alea melihat wajah Rendra.
"Kak Rendra?"
Panggilan langsung terputus.
Alea keluar kamar dan menemukan Rendra berdiri di ruang kerja dengan ponsel di tangan. Tobias juga datang setelah menerima hasil pelacakan.
"Jadi kamu Tara?" tanya Tobias sambil menahan tawa.
Rendra tidak dapat menyangkal. Alea menatapnya dengan campuran malu, marah, dan bingung.
"Kak Rendra membeli semua barangku, termasuk foto berbingkai?"
"Aku bisa menjelaskan."
"Kakak selama ini pura-pura jadi perempuan dan mengaku fans nomor satuku!"
Tobias tertawa keras sampai Alea melotot kepadanya.
"Kamu juga tahu?"
"Aku baru tahu sekarang. Tapi ini sangat lucu."
Rendra mengakui ia menyukai Alea dan ingin membantu tanpa membuatnya merasa berutang. Ia tidak berani bicara langsung karena takut ditolak.
Alea terdiam. Perasaan kepada Rendra selama ini tidak pernah jelas, tetapi mengetahui kebohongan tersebut membuatnya tidak nyaman.
"Aku butuh waktu," katanya lalu kembali ke kamar.
Tobias berhenti tertawa ketika menyadari pengakuan Rendra mungkin benar-benar membuat Alea mempertimbangkan hubungan dengannya.
Malam itu sebuah ledakan kecil terdengar dari gerbang vila. Mobil Matias terbakar, dan pada dinding pagar tertulis dengan cat merah: SAKSI HARUS MATI.
Tobias menarik Alea menjauh dari jendela ketika api membesar. Siska membawa Matias ke ruangan belakang, sedangkan Rendra menghubungi polisi serta pemadam.
"Om Matias baik-baik saja?" tanya Alea panik.
"Om di sini. Jangan keluar!" seru Matias.
Kamera keamanan merekam seorang pengendara motor melempar botol berisi bahan bakar ke mobil. Wajahnya tertutup helm dan pelat kendaraannya palsu.
Polisi menemukan cat merah di pagar berasal dari merek industri yang dipakai bengkel milik kerabat Sophia. Bukti itu belum cukup untuk menangkap Sophia, tetapi memperkuat hubungan serangan dengan kasus Damien.
Tobias menyalahkan diri karena membawa Matias dan Alea ke vila yang ternyata telah diketahui musuh.
"Kamu bukan orang yang membakar mobil," kata Alea. "Tapi mulai sekarang jangan menyimpan informasi dariku dengan alasan melindungi."
Rendra mendukung Alea. Tobias kesal karena mereka tampak selalu berada di sisi yang sama.
"Kamu masih marah soal Tara?" tanya Rendra ketika mereka berbicara berdua.
"Aku bingung. Kakak membantu, tapi juga membohongiku."
Rendra meminta maaf tanpa menuntut jawaban perasaan. Ia berjanji tidak lagi menghubungi menggunakan identitas Tara.
Tobias mendengar bagian akhir percakapan dan merasa lega, lalu marah kepada dirinya sendiri karena peduli.
Vila dikosongkan malam itu. Mereka dipindahkan ke hotel yang dikelola polisi dengan nama samaran.
Saat Alea hendak tidur, Tobias mengetuk dan memberikan ponsel darurat.
"Nomor pertama menghubungiku."
"Kenapa bukan polisi?"
"Nomor kedua polisi."
Alea tersenyum mengejek. "Ternyata kamu ingin jadi prioritas."
Tobias pergi sebelum telinganya yang memerah terlihat jelas.
Pagi hari polisi menerima rekaman anonim. Di dalamnya terlihat Matias berbicara dengan Damien seminggu sebelum kecelakaan. Percakapan itu dibuat seolah Matias mengancam ayah Tobias.
Seseorang sedang berusaha mengubah saksi utama menjadi tersangka.
Matias mengakui pertemuan dalam video, tetapi mengatakan percakapannya telah dipotong. Ia memperingatkan Damien tentang kebocoran keamanan, bukan mengancam.
Tobias sulit memisahkan fakta dan kemarahan. "Kenapa semua orang baru bicara setelah papaku mati?"
"Karena saat itu kami tidak tahu siapa yang bisa dipercaya," jawab Matias.
Polisi membawa Matias untuk pemeriksaan sukarela. Alea bersikeras ikut ke kantor, sementara Tobias dan Rendra mencari rekaman asli dari server lama perusahaan.
Server telah dihapus, tetapi Rendra menemukan cadangan pada perangkat pribadi Damien. Kata sandinya adalah tanggal ulang tahun Tobias.
Rekaman utuh menunjukkan Matias berkata, "Kalau kau tetap memakai pengawal pilihan Sophia, kau sedang memberi mereka jalan untuk membunuhmu."
Nama Matias dibersihkan. Namun perangkat Damien juga menyimpan surel kepada seorang jurnalis mengenai bukti pencucian uang ibu Sophia.
Jurnalis tersebut menghilang beberapa hari setelah kecelakaan.
Alea membuat konten seperti biasa agar musuh mengira mereka tidak menemukan apa pun. Tobias meminta kampanye dihentikan, tetapi Alea menolak kehilangan pekerjaan hanya karena ancaman.
"Kita ubah lokasi dan tidak siaran langsung," katanya. "Aku masih bisa bekerja dengan aman."
Tobias menerima setelah Siska menyusun prosedur baru.
Rendra membantu produksi dan menjaga jarak pribadi sesuai permintaan Alea. Sikapnya justru membuat Alea nyaman kembali berbicara dengannya.
Tobias melihat kedekatan itu dan menjadi semakin menyebalkan selama pemotretan.
"Senyummu terlalu lebar," katanya kepada Alea.
"Senyum juga salah?"
"Tidak sesuai konsep."
Sutradara mengatakan senyum Alea sudah sempurna. Semua kru menahan tawa melihat Tobias kehilangan alasan.
Malamnya Alea menuduh Tobias cemburu. Tobias menyangkal sampai wajahnya memerah.
"Aku tidak mungkin menyukaimu. Kamu boros, berisik, dan selalu membuat masalah."
"Bagus. Aku juga tidak suka rentenir pelit."
Keduanya berpisah dengan kesal, tetapi sama-sama tidak bisa tidur memikirkan ucapan tersebut.