Setelah satu tahun pengasuhan, Maya menanyakan apakah Alea dan Tobias ingin mengajukan adopsi permanen. Keputusan itu juga harus mempertimbangkan kemajuan Sari.
Sari sudah bekerja dan memiliki tempat tinggal kecil. Ia belum dinilai siap mengasuh penuh, tetapi ingin tetap menjadi ibu bagi Bima.
Alea takut adopsi akan dianggap merebut hak Sari. Maya menjelaskan dokumen dapat mempertahankan hubungan terbuka jika semua pihak menyepakati dan aman.
Mereka bertemu Sari tanpa Bima terlebih dahulu.
"Saya tidak mau kehilangan anak saya," kata Sari.
"Kami juga tidak ingin Bima kehilangan anda," jawab Alea. "Kami ingin dia punya rumah stabil tanpa harus memilih siapa yang boleh disayang."
Sari meminta waktu. Tobias tidak menawarkan uang agar keputusan lebih mudah.
Bima juga diberi penjelasan sesuai usia. Ia mengatakan ingin tinggal bersama Alea dan Tobias, tetapi tetap bertemu Sari.
"Kalau diadopsi, aku harus memanggil kalian Mama Papa?"
"Tidak harus," kata Tobias. "Panggilan bisa kamu pilih."
Setelah beberapa pertemuan, Sari menyetujui adopsi terbuka dengan jadwal hubungan yang didampingi pekerja sosial. Keputusan itu menyakitkan baginya, tetapi ia mengakui Bima membutuhkan kestabilan yang belum mampu ia berikan.
Proses pengadilan dimulai. Media kembali mencoba mendapatkan informasi, tetapi sidang ditutup demi privasi anak.
Menjelang keputusan akhir, ayah biologis Bima yang tidak pernah terlibat muncul dan menolak memberikan persetujuan.
Ia mengaku ingin mengambil Bima, meski catatan menunjukkan dirinya menghilang sejak anak itu bayi.
Alea dan Tobias harus membuktikan bahwa adopsi bukan hanya keinginan pasangan terkenal, melainkan pilihan terbaik bagi Bima.
Ayah biologis Bima bernama Deni. Ia mengatakan dahulu pergi karena belum siap menjadi orangtua dan baru mengetahui Bima akan diadopsi melalui berita.
"Saya ingin kesempatan," katanya di depan Maya dan para pengacara.
Tobias ingin menanyakan kenapa kesempatan baru diminta setelah bertahun-tahun. Alea menahan tangannya agar pembicaraan tidak berubah menjadi serangan.
Deni harus menjalani pemeriksaan latar belakang, tes kesehatan, dan kunjungan bertahap. Ia tidak boleh langsung membawa Bima.
Bima menolak bertemu pada awalnya. Terapis membantu menjelaskan bahwa ia berhak mengatakan belum siap.
Deni mengirim surat tanpa hadiah. Ia mengakui ketidakhadirannya dan tidak meminta dipanggil ayah.
Setelah tiga minggu, Bima bersedia bertemu selama tiga puluh menit. Deni tampak gugup dan hanya membawa album foto keluarga.
"Aku mirip siapa?" tanya Bima.
"Matamu mirip nenekmu," jawab Deni.
Pertemuan berjalan tenang, tetapi setelahnya Bima marah kepada Tobias. Ia menuduh Tobias bukan ayah sungguhan.
Tobias terluka, namun memahami kemarahan itu berasal dari kebingungan.
"Benar, Om bukan ayah biologismu," katanya. "Tapi Om tetap memilih merawatmu. Kamu tidak harus memilih salah satu sekarang."
Pemeriksaan menemukan Deni memiliki pekerjaan dan rumah layak, tetapi baru enam bulan pulih dari kecanduan judi. Maya menyarankan hubungan dibangun perlahan, bukan pengasuhan langsung.
Deni menerima rekomendasi tersebut. Namun pengacaranya tetap menolak adopsi, membuat proses tertunda.
Alea kemudian menemukan Deni telah menerima uang dari sebuah tabloid untuk menceritakan konflik keluarga. Kepercayaan yang baru tumbuh kembali retak.
Tabloid menerbitkan judul bahwa pasangan kaya merampas anak dari ayah miskin. Foto rumah Alea serta sekolah Bima ikut dimuat.
Deni mengaku membutuhkan uang untuk membayar utang lama. Ia tidak menyangka alamat Bima akan dipublikasikan.
"Kamu menjual ceritanya tanpa memikirkan akibat," kata Alea.
"Kalian punya keamanan dan uang. Saya tidak punya apa-apa."
Tobias hampir menawarkan melunasi utang, tetapi berhenti. Bantuan finansial dapat dianggap membeli persetujuan adopsi.
Maya menangguhkan kunjungan sampai risiko keamanan diperiksa. Bima merasa dihukum dan menyalahkan Alea serta Tobias.
"Aku mau ketemu Deni!"
"Bukan kami yang menghentikan selamanya," jelas Alea. "Alamat sekolahmu tersebar. Kami harus memastikan aman."
Deni meminta maaf secara tertulis dan mengembalikan sebagian uang tabloid. Ia juga bersedia mengikuti konseling keuangan.
Pengadilan menilai tindakannya buruk, tetapi bukan satu-satunya ukuran kemampuan berubah. Adopsi belum diputuskan; hubungan biologis tetap dipertimbangkan.
Tobias frustrasi karena uang dan rumah aman tidak dapat menjamin hasil. Alea mengingatkan itulah yang seharusnya terjadi—anak tidak boleh diberikan kepada pihak yang paling kaya.
Setelah keamanan diperbaiki, kunjungan dimulai lagi dengan pengawasan. Deni tampak lebih berhati-hati dan tidak menjanjikan kehidupan bersama.
Bima akhirnya berkata ingin Alea serta Tobias menjadi orangtua hukumnya, tetapi masih ingin mengenal Deni.
Pengadilan meminta semua pihak mengikuti mediasi. Deni mendapat pilihan mempertahankan keberatan dan menghadapi pemeriksaan panjang, atau menyetujui adopsi terbuka dengan hak hubungan terjadwal.
Ia belum menjawab ketika utang judinya kembali muncul. Dua penagih mendatangi tempat kerjanya dan mengancam akan mencari Bima.
Deni langsung melaporkan ancaman kepada polisi dan Maya. Tindakannya kali ini menunjukkan perubahan; ia tidak mencoba menyembunyikan masalah demi terlihat layak.
Tobias membantu melalui yayasan perlindungan saksi, bukan membayar utang secara pribadi. Polisi menangkap para penagih karena pemerasan.
Deni mengakui dirinya belum siap menjadi pengasuh utama. Ia menyetujui adopsi terbuka dengan syarat Bima tetap dapat mengenal keluarga biologisnya jika aman.
Sari juga menandatangani kesepakatan. Pertemuan antara Sari dan Deni berlangsung tegang karena keduanya saling menyalahkan masa lalu.
Maya menghentikan mereka. "Kalian boleh marah, tetapi Bima tidak boleh menjadi tempat menitipkan rasa bersalah."
Sidang akhir berlangsung tertutup. Hakim bertanya langsung kepada Bima menggunakan bahasa sederhana.
"Di mana kamu merasa aman?"
"Di rumah Om Tobias dan Tante Alea," jawabnya. "Tapi aku masih mau ketemu Ibu Sari dan Deni kalau mereka baik-baik."
Hakim mengesahkan adopsi serta rencana hubungan terbuka. Bima tidak mengganti nama belakang kecuali suatu hari memilih sendiri.
Di luar pengadilan tidak ada konferensi pers. Mereka merayakan dengan makan mi dan es krim.
"Sekarang aku harus panggil Mama Papa?" tanya Bima.
"Tidak harus," jawab Alea.
Bima berpikir lalu memanggil Alea Mama untuk pertama kalinya. Alea menangis begitu keras hingga pengunjung lain menoleh.
Kepada Tobias, Bima tetap berkata Om selama beberapa hari. Tobias tidak memaksa.
Pada suatu malam, Bima terbangun karena mimpi buruk dan berteriak, "Papa!"
Tobias datang berlari. Bima tampak malu, tetapi Tobias hanya memeluknya setelah diizinkan.
Keluarga mereka resmi terbentuk, bukan dengan menghapus asal Bima, melainkan menambah orang yang bertanggung jawab menjaga hidupnya.