Alea ingin langsung meyakinkan Bima bahwa mereka tidak akan pergi. Tobias menghentikannya dengan sentuhan ringan di lengan.
"Kami akan datang Sabtu depan," kata Tobias. "Itu janji yang bisa kami berikan sekarang."
Bima tampak kecewa, tetapi mengangguk.
Di mobil, Alea menangis. "Aku ingin membawanya pulang."
"Karena kita siap atau karena kamu tidak tahan melihatnya sedih?"
Pertanyaan Tobias menyakitkan karena tepat. Mereka berkonsultasi dengan pekerja sosial bernama Maya. Proses pengasuhan membutuhkan pemeriksaan rumah, pelatihan, serta evaluasi motivasi.
"Bima bukan obat untuk kesedihan kalian tentang kehamilan," kata Maya. "Dia anak dengan sejarah dan kebutuhan sendiri."
Mereka mengikuti pelatihan. Tobias belajar uang serta fasilitas tidak dapat mengganti kestabilan emosional. Alea belajar kasih sayang spontan tetap membutuhkan batas dan rutinitas.
Mereka terus mengunjungi Bima pada hari yang dijanjikan. Kadang Bima ramah, kadang menolak bicara untuk menguji apakah mereka tetap datang.
Pada satu Sabtu, pekerjaan Roda Rasa mengalami masalah besar. Alea hampir membatalkan kunjungan, tetapi memilih mengirim timnya menangani produksi dan tetap datang.
Bima tidak menyambut atau berterima kasih. Ia hanya meninggalkan kursi kosong di sampingnya.
Tobias duduk di kursi itu dan membantu menyusun puzzle.
Tiga bulan kemudian, Maya menawarkan program kunjungan akhir pekan di rumah mereka. Alea serta Tobias menerima setelah memastikan jadwal kerja dapat disesuaikan.
Malam pertama Bima di rumah berjalan kacau. Ia menyembunyikan makanan di bawah bantal, menolak mandi, lalu memecahkan vas ketika diminta tidur.
Alea hampir memarahinya, tetapi mengingat makanan tersembunyi mungkin berasal dari ketakutan pernah kekurangan.
Mereka tidak menghukum Bima karena vas. Mereka menetapkan bahwa benda boleh rusak, tetapi orang tidak boleh dilempar atau disakiti.
Menjelang pagi, Bima bertanya apakah ia akan dikembalikan karena nakal.
"Besok sesuai rencana kamu kembali ke rumah asuh," jawab Alea. "Bukan karena nakal. Minggu depan kami datang lagi kalau kamu mau."
Kunjungan akhir pekan berlangsung selama enam bulan. Bima mulai menyimpan pakaian di satu laci dan berhenti menyembunyikan terlalu banyak makanan.
Tobias mengajarkan komputer, sedangkan Alea mengajaknya memasak tanpa kamera. Bima membenci sayuran dan mahir menemukan alasan agar tidak memakannya.
"Om Tobias juga tidak suka wortel," katanya.
"Tapi Om tetap makan," jawab Tobias sambil memasang wajah menderita.
Maya menilai mereka siap menjadi keluarga asuh jangka panjang. Sebelum dokumen ditandatangani, ibu kandung Bima muncul dan meminta bertemu.
Namanya Sari. Ia kehilangan hak pengasuhan sementara karena masalah kecanduan dan kondisi ekonomi. Kini ia mengikuti rehabilitasi serta ingin kembali terlibat.
Alea merasa takut Sari akan mengambil Bima setelah mereka semakin dekat. Ia malu mengakui perasaan tersebut.
"Bima bukan milik kita," kata Tobias. "Kalau hubungan dengan ibunya aman, kita harus mendukung."
Pertemuan pertama didampingi Maya. Bima menolak memanggil Sari ibu dan duduk dekat pintu. Sari tidak memaksa.
"Aku datang karena ingin memperbaiki, bukan membawa kamu hari ini," katanya.
Setelah pertemuan, Bima marah kepada Alea dan Tobias karena mengizinkan Sari datang. Ia menuduh mereka ingin membuangnya.
Tobias menjelaskan keputusan pertemuan dibuat pekerja sosial dan Bima berhak menyampaikan ketidaknyamanan.
Mereka tetap menandatangani pengasuhan jangka panjang. Sari memperoleh kunjungan bertahap jika pemulihannya konsisten.
Bima pindah membawa satu tas kecil. Alea telah menyiapkan kamar berlebihan dengan tema taman hiburan. Bima meminta sebagian dekorasi dilepas karena membuatnya pusing.
Alea menurut. Kamar itu harus menjadi ruang Bima, bukan proyek kontennya.
Pada malam pertama, Bima menempelkan gambar bianglala kecil di dinding yang dibiarkan kosong. "Yang ini boleh," katanya.
Kabar Bima tinggal bersama Alea dan Tobias bocor melalui seorang staf rumah asuh. Media meminta foto keluarga, sementara merek menawarkan iklan bernilai besar.
Alea menolak semuanya. Wajah serta sejarah Bima tidak akan dipakai sebagai konten.
Sebagian follower menuduh Alea menyembunyikan anak karena malu. Ia hanya menjawab bahwa anak memiliki hak atas privasi.
Staf yang membocorkan informasi diberhentikan. Rumah asuh memperbaiki sistem data dan meminta maaf kepada Bima secara langsung.
Di sekolah baru, teman-teman mengetahui Tobias adalah CEO dan meminta Bima membawakan barang mahal. Bima mengambil kartu Tobias tanpa izin untuk membeli hadiah.
Tagihan muncul dan Tobias langsung marah. Alea mengingatkan agar mereka mencari alasan sebelum menghukum.
Bima mengaku takut tidak punya teman jika tidak memberi barang. Tobias terdiam karena mengenali pola dirinya sendiri: memakai uang untuk memperoleh rasa aman.
Kartu diblokir dan Bima harus mengembalikan barang yang masih bisa dikembalikan. Ia membantu tugas rumah untuk mengganti sebagian kecil biaya, bukan bekerja melunasi jumlah yang mustahil.
"Teman yang hanya datang karena hadiah bukan teman," kata Tobias.
"Om dulu juga beli orang?" tanya Bima.
Alea tertawa keras. Tobias mengakui pernah menggunakan uang untuk membuat orang menuruti keinginannya.
"Terus Tante Alea tetap mau menikah?"
"Om belajar minta maaf dan berubah," jawab Alea. "Tapi Tante juga tidak harus bertahan kalau Om tidak berubah."
Bima mulai memahami bahwa orang dewasa di rumah itu tidak berpura-pura selalu benar.
Sari tetap konsisten dalam pemulihan. Kunjungannya bertambah menjadi dua kali sebulan. Bima masih bingung, tetapi mulai membawa gambar untuknya.
Keluarga mereka tidak terbentuk dengan menghapus ibu kandung Bima, melainkan mencari tempat aman bagi seluruh hubungan yang layak dipertahankan.
Krisis ekonomi membuat perusahaan Tobias mengalami kerugian besar. Sebuah proyek regional gagal dan dewan menuduh keputusan Tobias terlalu berisiko.
Ia diminta mengundurkan diri sementara sebagai CEO. Tobias merasa seluruh nilainya hilang bersama jabatan.
"Aku gagal menjaga perusahaan Papa," katanya.
"Perusahaan itu bukan tubuh papamu," jawab Alea. "Dan jabatan bukan seluruh dirimu."
Tobias tetap sulit menerima. Ia menghabiskan hari membaca laporan dan menjadi mudah marah di rumah.
Ketika Bima menumpahkan susu dekat laptop, Tobias membentaknya. Anak itu langsung bersembunyi di kamar dan mengemas tas kecil.
Alea menghadapi Tobias. "Kamu boleh takut kehilangan pekerjaan. Kamu tidak boleh membuat Bima takut kehilangan rumah."
Tobias menenangkan diri lalu meminta maaf kepada Bima tanpa membeli hadiah. Ia menjelaskan kemarahannya bukan kesalahan anak tersebut.
"Kalau Om marah lagi, aku bakal dikembalikan?" tanya Bima.
"Tidak. Kalau Om marah lagi, Om yang harus memperbaiki cara bicara."
Tobias mengikuti konseling dan mengambil jarak dari perusahaan. Audit menunjukkan kegagalan proyek berasal dari pemalsuan laporan direktur regional, bukan keputusan Tobias seorang. Namun ia tetap mengakui sistem pengawasannya kurang kuat.
Dewan menawarkan jabatan kembali setelah direktur tersebut dipecat. Tobias meminta struktur kepemimpinan bersama agar perusahaan tidak bergantung pada satu CEO.
Ia kembali sebagai salah satu dari dua direktur utama dengan wewenang terbagi.
Pengalaman tersebut mengubah cara Tobias melihat warisan Damien. Menjaga perusahaan tidak berarti harus duduk di kursi tertinggi selamanya.
Di rumah, Bima menempelkan kertas di pintu ruang kerja: Dilarang marah karena susu.
Tobias membingkainya dan menaruh di meja.