Alea menolak kontrak eksklusif. Keputusan itu mengejutkan publik karena musim pertama sedang berada di puncak rating.
Produser menyebarkan kabar bahwa Alea sulit diatur dan meminta honor berlebihan. Beberapa merek menunda kerja sama.
Tobias ingin mengadakan konferensi pers dengan tim perusahaan. Alea menolak menjadikan kekuasaan suaminya sebagai senjata pertama.
Ia mengunggah video yang menjelaskan hak kreator atas karya tanpa menyerang produser. Ia juga menunjukkan bagian kontrak yang boleh dipublikasikan melalui pengacaranya.
Follower mendukung. Banyak kreator lain berbagi pengalaman kehilangan hak kanal setelah menerima kontrak eksklusif.
Produser akhirnya menawarkan negosiasi ulang, tetapi Alea tetap memilih membuat program independen bersama tim kecil.
Modalnya besar. Tobias menawarkan investasi, kali ini dengan proposal bisnis dan kepemilikan jelas.
"Aku tidak mau hadiah," kata Alea.
"Ini investasi. Kalau rugi, aku akan ikut rugi. Kalau untung, aku mendapat bagian sesuai kontrak bisnis."
Alea meminta Rendra serta auditor luar memeriksa proposal. Tobias tidak tersinggung.
Program baru diberi nama Roda Rasa. Konsepnya mengunjungi usaha makanan kecil dan membantu promosi tanpa mengambil hak pemilik.
Episode pertama sukses, tetapi komentar warganet menuduh Alea hanya mampu karena uang Tobias.
Alea marah dan hampir mengembalikan investasi. Matias mengingatkan bahwa menerima modal secara profesional bukan kehilangan kemandirian.
"Kamu membayar investor dengan saham dan hasil. Itu bisnis, bukan belas kasihan," katanya.
Alea belajar membedakan dukungan sehat dari ketergantungan. Tobias juga tidak mencampuri keputusan editorial meski beberapa ide menurutnya terlalu berisiko.
Enam bulan kemudian program menghasilkan keuntungan. Alea membayar dividen pertama kepada Tobias dengan transfer sembilan juta rupiah, nilai yang dahulu menjadi awal pertengkaran mereka.
"Sekarang lunas?" tanyanya.
"Kita sudah lama lunas," jawab Tobias.
Setelah dua tahun menikah, keluarga mulai bertanya tentang anak. Matias tidak pernah memaksa, tetapi kerabat Tobias menganggap penerus perusahaan harus segera ada.
Alea dan Tobias belum memutuskan. Alea menikmati kariernya, sedangkan Tobias takut menjadi ayah yang mengukur cinta melalui uang seperti Damien.
Mereka sepakat melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menentukan pilihan.
Hasil awal menunjukkan Alea memiliki kondisi yang dapat membuat kehamilan lebih sulit, meski bukan mustahil. Dokter menyarankan konsultasi lebih lanjut dan menegaskan tidak ada kewajiban buru-buru.
Alea terpukul. Ia tidak yakin ingin anak sekarang, tetapi mengetahui pilihannya mungkin terbatas membuatnya sedih.
"Tubuhku seperti menentukan sebelum aku siap," katanya.
Tobias memeluknya setelah meminta izin. "Kita tidak harus memutuskan malam ini."
Kabar tersebut bocor ketika seorang staf klinik menjual data pasien. Media menulis bahwa Alea tidak mampu memberi penerus kepada Tobias.
Tobias langsung menuntut klinik. Alea mengeluarkan pernyataan bahwa kesuburan bukan ukuran nilai perempuan dan keputusan memiliki anak bukan urusan perusahaan.
Kerabat Tobias menyarankan adopsi hanya untuk menjaga garis perusahaan. Tobias menolak keras.
"Anak bukan alat warisan. Perusahaan sudah punya sistem pemimpin profesional."
Mereka mengambil waktu jauh dari media dan pergi berlibur singkat. Di sebuah taman hiburan, Alea melihat keluarga dengan anak kecil dan menangis tanpa tahu pasti alasannya.
Tobias tidak menawarkan solusi. Ia hanya duduk di sampingnya.
Mereka memutuskan belum menjalani program kehamilan. Alea ingin memahami keinginannya sendiri lebih dahulu, terpisah dari tekanan publik.
Beberapa minggu kemudian, klinik menemukan staf pelaku kebocoran ternyata dibayar oleh produser lama yang masih ingin merusak reputasi Alea.
Produser lama bernama Bastian menyangkal memerintahkan kebocoran, tetapi transfer dari perusahaan pribadinya tercatat jelas.
Alea mengajukan gugatan bersama pasien lain yang datanya juga dijual. Ia tidak menjadikan kasus hanya tentang dirinya.
Roda Rasa membuat episode mengenai keamanan data usaha kecil tanpa menyebut proses hukum yang sedang berjalan. Tobias kagum karena Alea mengubah pengalaman buruk menjadi pendidikan tanpa mengeksploitasi korban.
Bastian mencoba menawarkan penyelesaian besar dengan syarat Alea diam. Alea menolak klausul kerahasiaan, tetapi menerima mediasi terbuka yang mewajibkan perusahaan memperbaiki sistem serta meminta maaf kepada semua korban.
Kasus selesai setelah berbulan-bulan. Staf klinik dihukum, sedangkan Bastian dilarang menangani data produksi tertentu.
Tekanan membuat kondisi kesehatan Alea menurun. Ia mengalami gangguan tidur dan kehilangan nafsu makan, sesuatu yang sangat tidak biasa bagi food vlogger.
Tobias mengajak mencari bantuan profesional. Alea awalnya menolak karena menganggap dirinya hanya lelah.
"Aku tidak bilang kamu lemah," kata Tobias. "Aku hanya melihat kamu tidak menikmati hal yang paling kamu sukai."
Alea menemui psikolog dan didiagnosis mengalami kecemasan akibat tekanan publik serta ancaman masa lalu. Ia mengambil cuti satu bulan dari media.
Program tetap berjalan dipimpin tim, membuktikan Roda Rasa tidak bergantung pada wajahnya setiap saat.
Selama cuti, Alea memasak tanpa kamera. Tobias mencicipi hasilnya dan memberi nilai terlalu rendah hanya untuk menggodanya.
"Mau tidur di sofa lagi?" tanya Alea.
"Masakannya sempurna."
Mereka tertawa. Penyembuhan datang melalui hari biasa, bukan kemenangan besar.
Saat kembali bekerja, Alea membatasi komentar yang dibaca dan menyerahkan sebagian media sosial kepada tim. Ia tetap menjadi kreator tanpa memberikan seluruh dirinya kepada penonton.
Setahun setelah pemeriksaan pertama, Alea dan Tobias kembali membicarakan anak. Kali ini tanpa keluarga atau dokter di ruangan.
"Aku ingin menjadi ibu," kata Alea. "Tapi aku takut menjalani perawatan hanya karena merasa waktuku habis."
Tobias mengakui ia juga ingin anak, tetapi tidak ingin kehilangan Alea dalam obsesi memperoleh kehamilan.
Mereka berkonsultasi mengenai berbagai pilihan: mencoba secara alami, program medis, adopsi, atau hidup berdua.
Dokter menyarankan perawatan ringan terlebih dahulu. Alea menyetujuinya dengan batas enam bulan. Jika tubuh dan mentalnya terlalu terbebani, mereka akan berhenti.
Bulan pertama tidak berhasil. Bulan kedua juga. Setiap hasil negatif membuat Alea sedih, meski ia berusaha terlihat biasa.
Tobias berhenti berkata, "Bulan depan pasti berhasil," karena janji tersebut tidak dapat ia jamin. Ia belajar hanya bertanya apa yang Alea butuhkan.
Pada bulan kelima Alea meminta berhenti lebih awal. Obat membuat emosinya berubah dan pekerjaan terasa berat.
"Aku tidak sanggup menjadikan hidup kita kalender pemeriksaan," katanya.
Tobias setuju tanpa menyembunyikan kesedihannya. Mereka berduka bersama atas kemungkinan yang belum terjadi.
Beberapa bulan kemudian Matias memperkenalkan mereka kepada sebuah rumah asuh yang membutuhkan relawan promosi. Alea membuat konten dengan menjaga identitas anak-anak.
Di sana mereka bertemu Bima, anak berusia tujuh tahun yang telah beberapa kali berpindah pengasuh. Bima tidak langsung menyukai mereka dan menolak difoto.
Tobias menghormati penolakannya. Ia justru membantu memperbaiki komputer ruang belajar.
Alea dan Tobias mulai datang secara rutin tanpa rencana adopsi. Perlahan Bima menunggu kunjungan mereka, tetapi pekerja sosial memperingatkan agar keduanya tidak memberikan janji yang belum siap dipenuhi.
Suatu sore Bima bertanya, "Kalau Om dan Tante bosan, kalian juga pergi?"
Pertanyaan itu membuat Alea dan Tobias sadar kedekatan mereka sudah membawa tanggung jawab yang tidak bisa dianggap sebagai konten atau pengisi kekosongan.