Bima merasa dirinya penyebab Sari kembali menggunakan zat. Ia mengingat kunjungan terakhir ketika mereka bertengkar karena Bima menolak pulang bersamanya.
"Kalau aku bilang iya, Ibu mungkin tidak sedih," katanya.
Alea menjelaskan pemulihan Sari adalah tanggung jawab orang dewasa, bukan tugas Bima.
Tobias menghubungi pusat rehabilitasi melalui Maya tanpa mengambil alih keputusan Sari. Sari memilih kembali menjalani perawatan.
Kunjungan dihentikan selama satu bulan, tetapi Bima boleh mengirim surat jika mau. Ia menulis bahwa dirinya marah dan tetap menyayangi Sari.
"Boleh dua-duanya?" tanyanya.
"Boleh," jawab Alea.
Deni juga datang untuk mendukung Bima. Ia telah bebas utang dan tetap mengikuti konseling. Hubungannya dengan anak tersebut berkembang sebagai kerabat, bukan perebutan status ayah.
Tobias merasa sedikit cemburu ketika Bima terlihat senang bersama Deni. Ia mengakui perasaan itu kepada Alea.
"Aku takut hubungan biologis mereka membuatku tidak penting."
"Kamu yang bilang cinta bukan saham yang berkurang kalau dibagi."
"Aku tahu. Ternyata teori lebih gampang."
Bima kembali bertemu Sari setelah kondisinya stabil. Pertemuan berlangsung singkat dan didampingi. Sari meminta maaf tanpa meminta Bima menghiburnya.
"Ibu sedang memperbaiki diri lagi," katanya.
Bima tidak langsung memeluk. Ia hanya menyerahkan surat yang ditulisnya.
Pengalaman itu memengaruhi konten Alea. Ia ingin membuat episode tentang pemulihan kecanduan, tetapi meminta ahli dan penyintas dewasa, bukan memakai kisah Sari atau Bima.
Episode tersebut mendapat penghargaan. Alea menerimanya atas nama tim dan menolak menjelaskan inspirasi pribadi di baliknya.
Keluarga mereka belajar bahwa menjaga privasi juga merupakan bentuk cinta.
Sebuah perusahaan media internasional menawarkan membeli mayoritas saham Roda Rasa. Nilainya cukup besar untuk membuat Alea tidak perlu bekerja lagi.
Syaratnya, perusahaan pembeli berhak menentukan konten dan menggunakan wajah Alea selama lima tahun.
Tobias mengingatkan keputusan tersebut mirip kontrak eksklusif yang dahulu ditolak. Namun kali ini Alea juga bertanggung jawab kepada puluhan pegawai dan investor.
"Kalau kujual, tim mendapat modal besar. Kalau kutolak, pertumbuhan lebih lambat," katanya.
Ia mengajak pegawai serta pemegang saham berdiskusi. Sebagian ingin menerima, sebagian takut kehilangan budaya perusahaan.
Tobias tidak menggunakan sahamnya untuk memaksakan pilihan. Ia menyatakan akan mengikuti keputusan yang dibuat melalui mekanisme resmi.
Alea menawarkan alternatif: menjual saham minoritas tanpa hak editorial. Perusahaan internasional menolak pada awalnya, lalu kembali setelah Roda Rasa memperoleh dua penghargaan baru.
Negosiasi berlangsung keras. Alea tidak lagi gadis yang membeli barang tanpa membaca rincian. Ia memeriksa setiap klausul bersama pengacara.
Kesepakatan minoritas akhirnya tercapai. Tim memperoleh modal ekspansi, sementara kendali kreatif tetap berada di Roda Rasa.
Alea membuka program pelatihan untuk kreator daerah. Ia tidak lagi harus menjadi pusat setiap produksi.
Tobias merayakan dengan memberikan pigura berisi salinan transfer dividen sembilan juta pertama.
"Kamu bilang jangan memberi hadiah mahal," katanya.
"Ini murah tapi sangat menyebalkan. Cocok untukmu."
Mereka tertawa.
Pada malam yang sama, Bima meminta izin mengganti nama belakangnya dengan gabungan nama keluarga biologis dan keluarga Tobias. Keputusan itu mengejutkan semua orang.
Bima tidak ingin menghapus nama Sari dan Deni, tetapi juga ingin menunjukkan keluarga yang membesarkannya sekarang.
"Aku boleh punya nama panjang?" tanyanya.
Pengacara menjelaskan perubahan dapat dilakukan, tetapi Bima perlu memahami bahwa nama bukan bukti tunggal hubungan.
Alea mengajak Sari serta Deni membicarakannya. Sari menangis karena takut namanya hilang. Deni lebih tenang dan mengatakan pilihan harus menjadi milik Bima.
Bima akhirnya memilih mempertahankan nama lahir sebagai nama tengah dan memakai nama keluarga Alea–Tobias di belakang. Ia tidak mengambil keputusan pada hari yang sama; konselor memberinya tiga bulan.
Setelah tiga bulan, pilihannya tetap sama. Dokumen diubah melalui pengadilan.
Tobias merasa bangga, tetapi tidak mengadakan pengumuman publik. Mereka merayakan di rumah bersama Sari, Deni, Matias, Rendra, dan Naya.
Hubungan orang-orang tersebut masih canggung. Namun Bima dapat berdiri di tengah tanpa diminta memilih siapa keluarga sebenarnya.
Pada usia tiga belas tahun, Bima mulai bertanya lebih banyak tentang masa lalu Alea dan Tobias. Ia menemukan video lama ketika Tobias menagih utang Alea dan marah karena papanya pernah bersikap begitu.
"Kenapa Mama menikah dengannya?"
Alea tidak menutupi. Ia menceritakan manipulasi, jarak, permintaan maaf, dan perubahan yang memerlukan waktu.
Tobias berkata, "Kamu tidak harus membela tindakan buruk orang hanya karena dia keluarga. Termasuk tindakan Papa."
Bima membutuhkan waktu menerima. Beberapa hari ia bersikap dingin kepada Tobias, lalu akhirnya bertanya apakah manusia benar-benar bisa berubah.
"Bisa," jawab Tobias. "Tapi orang yang disakiti tidak wajib menunggu perubahan itu."
Malam tersebut menjadi penanda baru bagi keluarga mereka. Bima tidak hanya memperoleh nama, tetapi juga kebenaran yang tidak disembunyikan demi menjaga citra orangtuanya.
Beberapa hari kemudian sebuah undangan datang dari taman hiburan. Bianglala lama akan dibongkar, dan pengelola menawarkan kabin bersejarah itu kepada Alea serta Tobias sebagai kenang-kenangan.
Alea langsung ingin membawa kabin itu pulang. Tobias mengingatkan benda tersebut terlalu besar untuk halaman mereka.
"Kita bisa jadikan studio."
"Studio berbentuk kotak besi berkarat?"
"Namanya vintage."
Bima mengusulkan kabin disumbangkan kepada rumah asuh sebagai ruang baca. Ide itu disetujui pengelola dan Maya.
Kabin direstorasi tanpa menghilangkan nomor aslinya. Tobias membiayai sebagian pekerjaan melalui yayasan secara terbuka, sedangkan Roda Rasa mengadakan penggalangan buku.
Alea menolak membuat kisah penculikan sebagai pusat kampanye. Bagi anak-anak rumah asuh, kabin tersebut harus menjadi ruang mereka, bukan monumen kisah cinta orang terkenal.
Pada hari peresmian, Bima memotong pita. Sari dan Deni hadir sebagai tamu, duduk tidak jauh dari Matias.
Tobias melihat anak-anak membaca di dalam kabin yang dahulu menjadi tempat paling menakutkan dalam hidupnya.
"Rasanya aneh," katanya.
"Tempat tidak memilih kenangan apa yang kita taruh di dalamnya," jawab Alea.
Malamnya pengelola memberikan pelat nomor kabin kepada mereka. Tobias memasangnya di ruang keluarga dekat foto pernikahan.
Peresmian juga membawa tawaran baru. Pemerintah kota ingin Roda Rasa dan yayasan mengelola festival tahunan di taman hiburan untuk mendukung usaha kecil serta rumah asuh.
Alea tertarik, tetapi festival sebesar itu dapat menyita satu tahun persiapan. Tobias menyarankan ia tidak menjadi pemimpin langsung.
"Kamu bilang aku tidak mampu?"
"Aku bilang perusahaanmu punya tim. Kamu tidak harus menjadi pusat semua hal baik."
Alea akhirnya menunjuk produser senior sebagai ketua dan hanya memimpin arah kreatif. Kemampuan melepas kendali menjadi tantangan baru setelah bertahun-tahun membangun semuanya sendiri.