Bima memasuki masa remaja dengan perubahan suasana hati yang membuat Tobias kebingungan. Anak itu tidak lagi ingin ikut setiap acara keluarga dan lebih memilih berkumpul dengan teman.
"Dulu dia takut kami pergi. Sekarang dia yang selalu pergi," keluh Tobias.
"Itu artinya dia merasa cukup aman untuk punya dunia sendiri," kata Alea.
Ketika Bima pulang terlambat tanpa memberi kabar, Tobias menerapkan hukuman terlalu berat: ponsel disita satu bulan dan seluruh kegiatan dihentikan.
Bima marah dan pergi ke rumah Matias. Alea meminta Tobias mengevaluasi apakah hukumannya berkaitan dengan kesalahan atau rasa takut kehilangan kontrol.
Tobias mendatangi Bima dan mengakui reaksinya berlebihan. Hukuman diubah menjadi pembatasan satu minggu serta kewajiban memberi kabar karena persoalannya adalah keselamatan.
Bima juga meminta maaf karena sengaja mematikan ponsel.
Masalah berikutnya muncul ketika seorang teman Bima menyebarkan cerita adopsinya. Bima berkelahi di sekolah setelah disebut anak buangan.
Alea tidak membenarkan pukulan, tetapi menolak sekolah hanya menghukum Bima tanpa menangani perundungan. Program mediasi dilakukan dan siswa penyebar informasi meminta maaf.
Bima mengikuti konseling untuk mengelola marah. Tobias bercerita bahwa dirinya dahulu juga menganggap kekerasan sebagai cara tercepat menyelesaikan ancaman.
"Tapi Papa pernah naik bianglala buat menyelamatkan Mama," kata Bima.
"Berani bukan berarti semua keputusannya pintar."
Bima tertawa untuk pertama kali sejak kejadian.
Sari mendukungnya tanpa mengambil alih peran Alea. Deni mengajaknya berolahraga. Banyak orang dewasa berada di sekeliling Bima, tetapi aturan utama tetap disusun dalam rumah Alea dan Tobias.
Keluarga terbuka ternyata membutuhkan komunikasi lebih banyak, bukan lebih sedikit.
Festival kota berlangsung meriah. Puluhan usaha kecil memperoleh tempat gratis, rumah asuh membuka pameran karya, dan bianglala baru menjadi pusat acara.
Alea berhasil tidak mengambil alih produksi. Ia hadir sebagai pembawa acara pada pembukaan lalu menyerahkan panggung kepada tim.
Di tengah festival, listrik seluruh taman padam akibat kerusakan gardu. Bianglala berhenti dengan penumpang di udara.
Kenangan lama membuat Alea panik. Tobias juga membeku sesaat ketika melihat kabin-kabin tergantung.
Tim keselamatan menjalankan prosedur. Tidak ada serangan atau sabotase, hanya kerusakan teknis. Alea membantu menenangkan pengunjung melalui pengeras suara tanpa membuat siaran langsung.
Bima berada dalam salah satu kabin bersama teman sekolahnya. Ia mengikuti petunjuk dan membantu seorang anak kecil agar tidak menangis.
Setelah listrik cadangan aktif, semua penumpang diturunkan dengan selamat.
Tobias memeluk Bima erat. "Papa hampir gila."
"Aku baik-baik saja. Aku ingat Papa bilang panik tidak boleh jadi bos."
Alea tertawa sambil menangis.
Pemeriksaan menunjukkan pengelola mengabaikan rekomendasi pemeliharaan karena mengejar anggaran festival. Tobias ingin menutup wahana permanen, tetapi Alea meminta proses independen.
Festival dilanjutkan tanpa bianglala. Pengelola bertanggung jawab dan mengganti sistem pemeliharaan.
Kejadian itu menunjukkan kemajuan mereka. Dahulu rasa takut membuat Tobias mengambil alih dan Alea bertindak tanpa rencana. Kini keduanya mengikuti prosedur, mempercayai tim, dan tetap hadir.
Di akhir festival, Bima menerima penghargaan kecil karena membantu penumpang lain. Ia menolak wajahnya diunggah dan panitia menghormatinya.
Roda Rasa mengundang Alea membuat seri khusus di Seoul, tempat perjalanan hidupnya bersinggungan pertama kali dengan Tobias.
Tobias dan Bima ikut selama liburan sekolah. Matias memilih tinggal karena tidak ingin menempuh penerbangan panjang setelah operasi.
Di Gangnam, Alea mencari gerai parfum tempat barangnya dahulu pecah. Toko tersebut masih ada, meski desainnya berubah.
"Jadi semua ini dimulai karena Mama mengejar orang bersenjata demi parfum?" tanya Bima.
"Parfumnya mahal," jawab Alea.
Tobias membeli satu botol yang sama. Alea menolak ketika melihat harganya, tetapi Tobias mengatakan itu hadiah ulang tahun yang sudah mereka sepakati.
"Kalau begitu boleh. Tapi jangan beli seluruh rak."
Mereka mengunjungi jalan sempit tempat Alea dahulu membantu Tobias. Keduanya menyadari betapa cerobohnya keputusan mereka waktu itu.
"Aku tidak akan membiarkan Bima melakukan hal yang sama," kata Tobias.
"Aku juga. Taekwondo bukan izin mengejar pisau."
Seri Korea sukses tanpa mengeksploitasi cerita lama. Alea menampilkan kuliner serta usaha kecil, sedangkan kisah pertemuan mereka hanya disampaikan singkat.
Pada malam terakhir mereka menaiki bianglala di tepi sungai. Bima memilih kabin sendiri bersama tim produksi, memberi Alea dan Tobias waktu berdua.
Di puncak, Tobias bertanya apakah hidup Alea sesuai harapan gadis dua puluh tiga tahun yang ditemuinya dahulu.
"Lebih berantakan," jawab Alea. "Tapi lebih penuh."
Tobias mengatakan dirinya dulu takut hubungan menjadi kelemahan. Kini ia tahu orang yang dicintainya justru mengajarkan kapan harus meminta bantuan.
Mereka berciuman saat kota menyala di bawah, bukan sebagai akhir, melainkan satu lingkaran yang kembali ke titik awal dengan orang-orang yang telah berubah.
Sepulang dari Korea, Tobias menerima surat dari Sophia. Masa hukumannya masih panjang, tetapi ia mengikuti program rehabilitasi dan ingin meminta maaf.
Surat itu tidak meminta pengurangan hukuman. Sophia mengakui kecemburuan, keterlibatan ibunya, dan keputusan menculik Alea.
"Apa kamu mau menjawab?" tanya Alea.
"Aku tidak tahu."
Tobias membawa surat tersebut ke konselor. Ia menyadari selama ini masih membayangkan Sophia sebagai pusat masa lalunya, meski perempuan itu tidak lagi memiliki kuasa atas hidupnya.
Alea memilih tidak membaca seluruh surat. Permintaan maaf Sophia kepada Tobias bukan miliknya, sedangkan luka penculikan Alea memiliki jalur sendiri.
Sophia kemudian menulis surat terpisah kepada Alea. Alea membaca sekali lalu menyimpannya.
"Aku belum memaafkan," katanya. "Tapi aku tidak lagi bangun dengan takut dia datang."
Tobias menjawab singkat bahwa ia menerima pengakuan Sophia, tetapi tidak menginginkan hubungan atau kunjungan. Ia tidak mengatakan memaafkan hanya agar terlihat mulia.
Helena tidak pernah mengirim permintaan maaf. Ia tetap menyalahkan Damien hingga meninggal karena sakit di dalam penjara beberapa tahun kemudian.
Kabar kematiannya membuat Tobias merasa lega dan bersalah sekaligus. Alea mengingatkan tidak ada emosi yang wajib muncul saat orang yang menyakiti meninggal.
Mereka mengunjungi makam Damien dan menceritakan perjalanan ke Korea. Samuel bergabung melalui panggilan video dari Australia.
Sebelum pulang, Tobias meletakkan satu botol parfum kecil di dekat makam.
"Papa tidak akan mengerti leluconnya," kata Alea.
"Aku yang mengerti. Itu cukup."
Beberapa hari kemudian Bima mengumumkan ingin kuliah di luar negeri. Alea langsung panik, sedangkan Tobias justru terlihat terlalu tenang.
Kini giliran mereka belajar membiarkan anak yang dahulu takut ditinggalkan memilih pergi untuk membangun hidupnya sendiri.