Bima pulang setelah menyelesaikan kuliah empat tahun kemudian. Ia datang sebagai pemuda dewasa dengan rencana membangun perusahaan pendidikan teknologi bersama teman-temannya.
Tobias langsung menawarkan modal. Bima menolak menerima tanpa proposal dan penilaian profesional.
"Aku belajar dari kalian," katanya. "Uang keluarga harus punya aturan jelas."
Ia mempresentasikan rencana kepada panel independen yayasan. Proyeknya mendapat dana sebagian, dengan target serta laporan yang sama seperti penerima lain.
Alea bangga, tetapi kecewa ketika Bima memilih tinggal di apartemen sendiri.
"Rumah kita punya kamar kosong," katanya.
"Aku tetap pulang makan. Aku cuma mau belajar hidup sendiri."
Alea menerima setelah berusaha tidak menjadikan rasa sedih sebagai tekanan.
Sari menghadiri acara kelulusan kecil dan kini bekerja sebagai pendamping pemulihan. Deni mengelola usaha servis kendaraan. Hubungan mereka dengan Bima tidak selalu dekat, tetapi stabil.
Matias semakin tua dan memakai tongkat, namun masih mampu memarahi semua orang. Rendra serta Naya memiliki seorang anak dan sering bercanda bahwa Tobias dahulu hampir kehilangan Alea karena identitas Tara.
Pada malam keluarga, Bima bertanya apakah Alea dan Tobias akan memperbarui janji pernikahan untuk ulang tahun kedua puluh.
Tobias menyukai ide acara besar. Alea justru ingin sesuatu sederhana di taman hiburan.
Mereka belum memutuskan ketika pengelola mengabarkan bianglala baru akan berhenti beroperasi permanen. Kota akan mengubah taman menjadi ruang publik tanpa wahana besar.
Sebelum roda terakhir berhenti, mereka diberi kesempatan melakukan satu putaran pribadi bersama keluarga.
Pada malam penutupan, taman hanya dibuka untuk keluarga serta para pekerja lama. Lampu bianglala menyala tanpa keramaian pengunjung.
Alea, Tobias, Bima, Matias, Rendra, Naya, Samuel, Sari, dan Deni berkumpul di bawah wahana. Tidak semua masuk dalam satu kabin; mereka memilih beberapa kabin berdekatan.
Matias menolak naik karena dokter melarang, lalu mengeluh seolah keputusan itu miliknya sendiri. Ia menunggu di bawah bersama Sari.
Alea dan Tobias duduk bersama Bima. Ketika roda bergerak, Alea menggenggam tangan kedua lelaki yang menjadi keluarganya.
"Mama takut?" tanya Bima.
"Sedikit. Bukan karena tinggi. Karena ini terakhir kali."
Tobias mengingatkan bahwa kabin lama tetap berada di rumah asuh dan taman akan menjadi ruang publik baru. Berakhirnya wahana bukan berarti seluruh sejarah menghilang.
Di titik tertinggi, Bima mengatakan ingin melamar kekasihnya tahun depan. Alea hampir berteriak dan menanyakan seratus hal sekaligus.
"Aku baru bilang rencana, Ma. Belum besok."
Tobias tertawa lalu bertanya apakah Bima telah membicarakan keuangan, tempat tinggal, dan nilai hidup bersama.
"Papa merusak suasana romantis."
"Justru itu hal romantis jangka panjang."
Roda menyelesaikan putaran. Semua orang turun dan berfoto di depan wahana. Bima meminta satu foto hanya bertiga, lalu satu foto dengan seluruh keluarga besarnya.
Ketika lampu dimatikan, Alea menangis. Tobias tidak berkata mereka bisa membeli bianglala baru. Ia hanya berdiri di sampingnya sampai kesedihan lewat.
Keesokan hari pembongkaran dimulai. Alea tidak datang untuk menonton. Ia memilih membantu merancang taman baru yang tetap menyimpan pelat sejarah wahana tanpa mengubahnya menjadi monumen pribadi.
Setahun kemudian Bima benar-benar melamar kekasihnya, Kirana. Ia meminta pendapat keluarga, bukan izin kepemilikan.
Alea ingin mengatur acara lamaran. Bima mengingatkan bahwa Kirana menyukai hal sederhana.
"Mama hanya membantu makanan," katanya.
"Makanan itu sembilan puluh persen acara."
Tobias bertugas menjaga Alea agar tidak mengambil alih. Hasilnya tetap ada dua puluh jenis makanan untuk dua belas tamu.
Kirana menerima lamaran. Ia mengenal sejarah adopsi Bima dan tidak menganggap keluarga biologis sebagai ancaman.
Sari hadir dengan pakaian sederhana. Deni membantu mengantar Matias. Alea duduk di sisi Bima ketika diminta, tetapi tidak menuntut disebut satu-satunya ibu.
Setelah acara, Kirana bertanya kepada Alea bagaimana menjaga pernikahan.
"Jangan tanya aku seolah aku ahli," jawab Alea. "Aku pernah mengejar penjahat demi parfum dan menikahi rentenir."
Tobias memprotes sebutan rentenir dari seberang ruangan.
Alea kemudian menjawab serius bahwa pernikahan tidak dijaga dengan menahan orang, melainkan memberi ruang untuk berubah dan tetap kembali berbicara.
Bima serta Kirana mengikuti konseling pranikah. Tobias membayar hanya setelah mereka menerima bantuan tersebut sebagai hadiah, bukan syarat.
Pernikahan mereka dilaksanakan beberapa bulan kemudian di ruang publik bekas taman hiburan. Kabin baca dari rumah asuh dipinjam sebagai dekorasi atas persetujuan anak-anak.
Saat melihat Bima mengucapkan janji, Alea teringat anak tujuh tahun yang bertanya apakah mereka akan pergi jika bosan.
Ia kini berdiri sebagai pria dewasa yang mampu membangun janji sendiri tanpa takut seluruh kasih sayang akan hilang.
Kesehatan Matias menurun perlahan. Ia tidak mengalami keadaan darurat besar, tetapi tubuhnya semakin lemah dan membutuhkan bantuan sehari-hari.
Matias memilih tinggal di komunitas lansia, bukan pindah ke rumah Alea. Ia ingin mempertahankan teman serta rutinitas.
Alea menghormati, meski mengunjunginya hampir setiap hari sampai Matias mengusirnya untuk bekerja.
"Om belum mati. Jangan berjaga seperti satpam."
"Om dulu juga mengawasiku terus. Ini balas dendam."
Matias memberikan arsip keamanan Damien kepada yayasan serta koleksi foto keluarga kepada Alea. Ia juga menyerahkan kamera lama yang pertama kali dipakai Alea belajar membuat video.
"Kamera ini yang membuatmu berani bicara kepada dunia," katanya.
"Om yang membelikannya meski waktu itu kita tidak punya banyak uang."
"Karena Om tahu kamu akan membuatnya berguna."
Beberapa bulan kemudian Matias meninggal dalam tidur. Kepergiannya tenang, tetapi duka Alea sangat besar.
Ia berhenti bekerja selama dua bulan. Tobias tidak memaksanya kembali atau mencoba menghibur dengan perjalanan mahal.
Bima tinggal beberapa hari bersamanya. Sari, Deni, Rendra, dan Naya bergantian membawa makanan.
Pada pemakaman, Alea menceritakan bahwa Matias tidak hanya melindunginya dari bahaya. Ia juga orang pertama yang percaya Alea dapat membangun hidup dari kamera dan keberaniannya.
Kamera lama ditempatkan di kantor Roda Rasa dalam kotak kaca. Di bawahnya tertulis: Peralatan pertama tidak harus sempurna untuk memulai sesuatu yang besar.
Alea kembali bekerja perlahan, membawa kesedihan tanpa menjadikannya alasan berhenti hidup.
Alea mulai memikirkan pensiun dari posisi pemimpin utama Roda Rasa. Perusahaan telah memiliki tim kuat dan ia ingin lebih banyak mengajar daripada mengurus operasional.
Sebagian pemegang saham takut merek kehilangan wajah. Alea menunjuk tiga kreator baru yang selama ini dibimbingnya untuk memimpin program.
"Roda Rasa tidak boleh mati hanya karena rambut putihku tidak muncul di setiap video," katanya.
Masa transisi berlangsung satu tahun. Alea tetap memiliki saham dan peran penasihat, tetapi tidak lagi mengambil keputusan harian.
Tobias juga meninggalkan jabatan direktur utama sepenuhnya. Ia fokus pada yayasan dan menjadi anggota dewan tanpa kuasa operasional.
Untuk pertama kali sejak muda, keduanya memiliki kalender dengan banyak ruang kosong.
Mereka mencoba berkebun dan gagal. Tobias menyusun tanaman berdasarkan tinggi, sementara Alea lupa jadwal menyiram.
Bima menyarankan mereka bepergian. Alea ingin membuat vlog, tetapi Tobias meminta satu perjalanan tanpa konten.
Mereka mengunjungi kota-kota kecil tanpa jadwal produksi. Alea tetap memotret makanan, tetapi hanya untuk album pribadi.
Di salah satu pasar, seorang penjual mengenali Alea dan berterima kasih karena Roda Rasa pernah membantu usahanya. Alea menyadari karya dapat terus hidup meski penciptanya mundur dari pusat.
Sepulangnya, ia menerbitkan buku tentang perjalanan membangun bisnis kreatif. Bab pertama berjudul Sembilan Juta Rupiah dan Kesalahan Membaca Kontrak.
Tobias meminta royalti karena menjadi tokoh penting.
"Kamu sudah terlalu kaya."
"Prinsip tetap prinsip."
Mereka tertawa seperti saat pertama saling bertengkar, tetapi kini tidak ada utang yang berdiri di antara mereka.