Alea berangkat syuting seminggu setelah pernikahan. Tobias mengantarnya ke bandara tanpa meminta ia membatalkan.
"Kamu yakin tidak mau ikut?" tanya Alea.
"Aku punya rapat. Dan acara ini milikmu, bukan tempatku mengawasi."
Mereka sepakat menelepon setiap malam jika jadwal memungkinkan.
Hari pertama berjalan baik. Hari ketiga, Alea terlalu lelah dan tertidur sebelum menelepon. Tobias mengirim belasan pesan lalu sadar dirinya kembali panik.
Ia menghapus pesan yang belum terkirim dan hanya menulis: Beri kabar setelah bangun.
Alea menelepon pagi hari serta meminta maaf. Mereka memperbaiki aturan komunikasi agar tidak menjadikan panggilan sebagai kewajiban kaku.
Produksi mempertemukan Alea dengan chef terkenal bernama Kevin. Chemistry mereka di kamera membuat penonton menjodohkan keduanya.
Tobias cemburu, tetapi tidak meminta Kevin dikeluarkan. Ia menonton episode dan mengatakan kepada Alea bagian mana yang membuatnya tidak nyaman.
"Aku tidak tertarik kepada Kevin," kata Alea. "Tapi aku juga tidak bisa mengatur komentar orang."
Kevin sendiri menghormati pernikahan Alea dan memperkenalkan tunangannya di media.
Sebaliknya, seorang investor perempuan sering muncul bersama Tobias dalam berita. Alea merasakan kecemburuan yang sama dan belajar bertanya tanpa menuduh.
Tiga bulan pertama pernikahan dihabiskan lebih banyak berjauhan. Ketika produksi berhenti dua minggu, mereka menyadari tinggal bersama juga memerlukan penyesuaian.
Tobias mengatur lemari berdasarkan warna, sedangkan Alea meletakkan pakaian di kursi. Alea membuat konten di ruang makan saat Tobias rapat. Pertengkaran kecil muncul hampir setiap hari.
Pada suatu malam Alea berkata, "Kita lebih rukun waktu LDR."
Tobias menjawab, "Karena waktu itu aku tidak tahu kamu menyimpan tiga puluh botol saus di kulkas."
Mereka tertawa, tetapi pertanyaan tentang cara membangun rumah bersama tetap belum terjawab.
Pertengkaran tentang botol saus berlanjut sampai Tobias membuat daftar aturan rumah. Alea membaca kertas tiga halaman itu lalu mencoret hampir semuanya.
"Rumah bukan kantor."
"Kalau tidak ada sistem, kita hidup dalam kekacauan."
"Kekacauan sedikit itu manusiawi."
Mereka akhirnya menyepakati aturan sederhana: barang pribadi tidak boleh memenuhi ruang bersama, jadwal kerja harus diberitahukan, dan pekerjaan rumah dibagi tanpa menganggap Alea otomatis bertanggung jawab karena perempuan.
Tobias memilih mencuci pakaian, tetapi ia memisahkan warna dengan sangat berlebihan. Alea memasak, meski separuh kegiatannya berubah menjadi konten.
Masalah muncul ketika Tobias memindahkan perlengkapan kamera tanpa izin karena menganggap ruang makan berantakan.
"Aku kehilangan satu jam mencari baterai!" teriak Alea.
"Aku menaruhnya di kotak berlabel."
"Kotaknya ada dua belas!"
Tobias meminta maaf dan mengembalikan ruang sudut untuk studio Alea. Sebaliknya, Alea berhenti memasuki ruang kerja Tobias ketika ia sedang rapat.
Mereka juga menjadwalkan satu malam tanpa kamera dan laptop. Pada malam pertama, keduanya justru tidak tahu harus melakukan apa.
"Kita bisa menonton film," kata Alea.
"Berapa durasinya?"
"Jangan membuat agenda!"
Kehidupan bersama perlahan menemukan ritme. Namun acara televisi Alea menjadi sangat populer. Produser menawarkan musim kedua dengan jadwal lebih panjang dan hak eksklusif atas penampilannya.
Kontrak tersebut melarang Alea membuat konten kuliner pribadi selama dua tahun.
"Kalau kuterima, kanal yang kubangun sendiri bisa mati," katanya.
Tobias menawarkan tim hukumnya, tetapi Alea memilih pengacara independen agar keputusan tetap miliknya.
Produser menolak mengubah klausul. Alea harus memilih ketenaran televisi atau kebebasan mereknya sendiri.
Alea menolak kontrak eksklusif. Keputusan itu mengejutkan publik karena musim pertama sedang berada di puncak rating.
Produser menyebarkan kabar bahwa Alea sulit diatur dan meminta honor berlebihan. Beberapa merek menunda kerja sama.
Tobias ingin mengadakan konferensi pers dengan tim perusahaan. Alea menolak menjadikan kekuasaan suaminya sebagai senjata pertama.
Ia mengunggah video yang menjelaskan hak kreator atas karya tanpa menyerang produser. Ia juga menunjukkan bagian kontrak yang boleh dipublikasikan melalui pengacaranya.
Follower mendukung. Banyak kreator lain berbagi pengalaman kehilangan hak kanal setelah menerima kontrak eksklusif.
Produser akhirnya menawarkan negosiasi ulang, tetapi Alea tetap memilih membuat program independen bersama tim kecil.
Modalnya besar. Tobias menawarkan investasi, kali ini dengan proposal bisnis dan kepemilikan jelas.
"Aku tidak mau hadiah," kata Alea.
"Ini investasi. Kalau rugi, aku akan ikut rugi. Kalau untung, aku mendapat bagian sesuai kontrak bisnis."
Alea meminta Rendra serta auditor luar memeriksa proposal. Tobias tidak tersinggung.
Program baru diberi nama Roda Rasa. Konsepnya mengunjungi usaha makanan kecil dan membantu promosi tanpa mengambil hak pemilik.
Episode pertama sukses, tetapi komentar warganet menuduh Alea hanya mampu karena uang Tobias.
Alea marah dan hampir mengembalikan investasi. Matias mengingatkan bahwa menerima modal secara profesional bukan kehilangan kemandirian.
"Kamu membayar investor dengan saham dan hasil. Itu bisnis, bukan belas kasihan," katanya.
Alea belajar membedakan dukungan sehat dari ketergantungan. Tobias juga tidak mencampuri keputusan editorial meski beberapa ide menurutnya terlalu berisiko.
Enam bulan kemudian program menghasilkan keuntungan. Alea membayar dividen pertama kepada Tobias dengan transfer sembilan juta rupiah, nilai yang dahulu menjadi awal pertengkaran mereka.
"Sekarang lunas?" tanyanya.
"Kita sudah lama lunas," jawab Tobias.
Setelah dua tahun menikah, keluarga mulai bertanya tentang anak. Matias tidak pernah memaksa, tetapi kerabat Tobias menganggap penerus perusahaan harus segera ada.
Alea dan Tobias belum memutuskan. Alea menikmati kariernya, sedangkan Tobias takut menjadi ayah yang mengukur cinta melalui uang seperti Damien.
Mereka sepakat melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menentukan pilihan.
Hasil awal menunjukkan Alea memiliki kondisi yang dapat membuat kehamilan lebih sulit, meski bukan mustahil. Dokter menyarankan konsultasi lebih lanjut dan menegaskan tidak ada kewajiban buru-buru.
Alea terpukul. Ia tidak yakin ingin anak sekarang, tetapi mengetahui pilihannya mungkin terbatas membuatnya sedih.
"Tubuhku seperti menentukan sebelum aku siap," katanya.
Tobias memeluknya setelah meminta izin. "Kita tidak harus memutuskan malam ini."
Kabar tersebut bocor ketika seorang staf klinik menjual data pasien. Media menulis bahwa Alea tidak mampu memberi penerus kepada Tobias.
Tobias langsung menuntut klinik. Alea mengeluarkan pernyataan bahwa kesuburan bukan ukuran nilai perempuan dan keputusan memiliki anak bukan urusan perusahaan.
Kerabat Tobias menyarankan adopsi hanya untuk menjaga garis perusahaan. Tobias menolak keras.
"Anak bukan alat warisan. Perusahaan sudah punya sistem pemimpin profesional."
Mereka mengambil waktu jauh dari media dan pergi berlibur singkat. Di sebuah taman hiburan, Alea melihat keluarga dengan anak kecil dan menangis tanpa tahu pasti alasannya.
Tobias tidak menawarkan solusi. Ia hanya duduk di sampingnya.
Mereka memutuskan belum menjalani program kehamilan. Alea ingin memahami keinginannya sendiri lebih dahulu, terpisah dari tekanan publik.
Beberapa minggu kemudian, klinik menemukan staf pelaku kebocoran ternyata dibayar oleh produser lama yang masih ingin merusak reputasi Alea.