Produser lama bernama Bastian menyangkal memerintahkan kebocoran, tetapi transfer dari perusahaan pribadinya tercatat jelas.
Alea mengajukan gugatan bersama pasien lain yang datanya juga dijual. Ia tidak menjadikan kasus hanya tentang dirinya.
Roda Rasa membuat episode mengenai keamanan data usaha kecil tanpa menyebut proses hukum yang sedang berjalan. Tobias kagum karena Alea mengubah pengalaman buruk menjadi pendidikan tanpa mengeksploitasi korban.
Bastian mencoba menawarkan penyelesaian besar dengan syarat Alea diam. Alea menolak klausul kerahasiaan, tetapi menerima mediasi terbuka yang mewajibkan perusahaan memperbaiki sistem serta meminta maaf kepada semua korban.
Kasus selesai setelah berbulan-bulan. Staf klinik dihukum, sedangkan Bastian dilarang menangani data produksi tertentu.
Tekanan membuat kondisi kesehatan Alea menurun. Ia mengalami gangguan tidur dan kehilangan nafsu makan, sesuatu yang sangat tidak biasa bagi food vlogger.
Tobias mengajak mencari bantuan profesional. Alea awalnya menolak karena menganggap dirinya hanya lelah.
"Aku tidak bilang kamu lemah," kata Tobias. "Aku hanya melihat kamu tidak menikmati hal yang paling kamu sukai."
Alea menemui psikolog dan didiagnosis mengalami kecemasan akibat tekanan publik serta ancaman masa lalu. Ia mengambil cuti satu bulan dari media.
Program tetap berjalan dipimpin tim, membuktikan Roda Rasa tidak bergantung pada wajahnya setiap saat.
Selama cuti, Alea memasak tanpa kamera. Tobias mencicipi hasilnya dan memberi nilai terlalu rendah hanya untuk menggodanya.
"Mau tidur di sofa lagi?" tanya Alea.
"Masakannya sempurna."
Mereka tertawa. Penyembuhan datang melalui hari biasa, bukan kemenangan besar.
Saat kembali bekerja, Alea membatasi komentar yang dibaca dan menyerahkan sebagian media sosial kepada tim. Ia tetap menjadi kreator tanpa memberikan seluruh dirinya kepada penonton.
Setahun setelah pemeriksaan pertama, Alea dan Tobias kembali membicarakan anak. Kali ini tanpa keluarga atau dokter di ruangan.
"Aku ingin menjadi ibu," kata Alea. "Tapi aku takut menjalani perawatan hanya karena merasa waktuku habis."
Tobias mengakui ia juga ingin anak, tetapi tidak ingin kehilangan Alea dalam obsesi memperoleh kehamilan.
Mereka berkonsultasi mengenai berbagai pilihan: mencoba secara alami, program medis, adopsi, atau hidup berdua.
Dokter menyarankan perawatan ringan terlebih dahulu. Alea menyetujuinya dengan batas enam bulan. Jika tubuh dan mentalnya terlalu terbebani, mereka akan berhenti.
Bulan pertama tidak berhasil. Bulan kedua juga. Setiap hasil negatif membuat Alea sedih, meski ia berusaha terlihat biasa.
Tobias berhenti berkata, "Bulan depan pasti berhasil," karena janji tersebut tidak dapat ia jamin. Ia belajar hanya bertanya apa yang Alea butuhkan.
Pada bulan kelima Alea meminta berhenti lebih awal. Obat membuat emosinya berubah dan pekerjaan terasa berat.
"Aku tidak sanggup menjadikan hidup kita kalender pemeriksaan," katanya.
Tobias setuju tanpa menyembunyikan kesedihannya. Mereka berduka bersama atas kemungkinan yang belum terjadi.
Beberapa bulan kemudian Matias memperkenalkan mereka kepada sebuah rumah asuh yang membutuhkan relawan promosi. Alea membuat konten dengan menjaga identitas anak-anak.
Di sana mereka bertemu Bima, anak berusia tujuh tahun yang telah beberapa kali berpindah pengasuh. Bima tidak langsung menyukai mereka dan menolak difoto.
Tobias menghormati penolakannya. Ia justru membantu memperbaiki komputer ruang belajar.
Alea dan Tobias mulai datang secara rutin tanpa rencana adopsi. Perlahan Bima menunggu kunjungan mereka, tetapi pekerja sosial memperingatkan agar keduanya tidak memberikan janji yang belum siap dipenuhi.
Suatu sore Bima bertanya, "Kalau Om dan Tante bosan, kalian juga pergi?"
Pertanyaan itu membuat Alea dan Tobias sadar kedekatan mereka sudah membawa tanggung jawab yang tidak bisa dianggap sebagai konten atau pengisi kekosongan.
Alea ingin langsung meyakinkan Bima bahwa mereka tidak akan pergi. Tobias menghentikannya dengan sentuhan ringan di lengan.
"Kami akan datang Sabtu depan," kata Tobias. "Itu janji yang bisa kami berikan sekarang."
Bima tampak kecewa, tetapi mengangguk.
Di mobil, Alea menangis. "Aku ingin membawanya pulang."
"Karena kita siap atau karena kamu tidak tahan melihatnya sedih?"
Pertanyaan Tobias menyakitkan karena tepat. Mereka berkonsultasi dengan pekerja sosial bernama Maya. Proses pengasuhan membutuhkan pemeriksaan rumah, pelatihan, serta evaluasi motivasi.
"Bima bukan obat untuk kesedihan kalian tentang kehamilan," kata Maya. "Dia anak dengan sejarah dan kebutuhan sendiri."
Mereka mengikuti pelatihan. Tobias belajar uang serta fasilitas tidak dapat mengganti kestabilan emosional. Alea belajar kasih sayang spontan tetap membutuhkan batas dan rutinitas.
Mereka terus mengunjungi Bima pada hari yang dijanjikan. Kadang Bima ramah, kadang menolak bicara untuk menguji apakah mereka tetap datang.
Pada satu Sabtu, pekerjaan Roda Rasa mengalami masalah besar. Alea hampir membatalkan kunjungan, tetapi memilih mengirim timnya menangani produksi dan tetap datang.
Bima tidak menyambut atau berterima kasih. Ia hanya meninggalkan kursi kosong di sampingnya.
Tobias duduk di kursi itu dan membantu menyusun puzzle.
Tiga bulan kemudian, Maya menawarkan program kunjungan akhir pekan di rumah mereka. Alea serta Tobias menerima setelah memastikan jadwal kerja dapat disesuaikan.
Malam pertama Bima di rumah berjalan kacau. Ia menyembunyikan makanan di bawah bantal, menolak mandi, lalu memecahkan vas ketika diminta tidur.
Alea hampir memarahinya, tetapi mengingat makanan tersembunyi mungkin berasal dari ketakutan pernah kekurangan.
Mereka tidak menghukum Bima karena vas. Mereka menetapkan bahwa benda boleh rusak, tetapi orang tidak boleh dilempar atau disakiti.
Menjelang pagi, Bima bertanya apakah ia akan dikembalikan karena nakal.
"Besok sesuai rencana kamu kembali ke rumah asuh," jawab Alea. "Bukan karena nakal. Minggu depan kami datang lagi kalau kamu mau."
Kunjungan akhir pekan berlangsung selama enam bulan. Bima mulai menyimpan pakaian di satu laci dan berhenti menyembunyikan terlalu banyak makanan.
Tobias mengajarkan komputer, sedangkan Alea mengajaknya memasak tanpa kamera. Bima membenci sayuran dan mahir menemukan alasan agar tidak memakannya.
"Om Tobias juga tidak suka wortel," katanya.
"Tapi Om tetap makan," jawab Tobias sambil memasang wajah menderita.
Maya menilai mereka siap menjadi keluarga asuh jangka panjang. Sebelum dokumen ditandatangani, ibu kandung Bima muncul dan meminta bertemu.
Namanya Sari. Ia kehilangan hak pengasuhan sementara karena masalah kecanduan dan kondisi ekonomi. Kini ia mengikuti rehabilitasi serta ingin kembali terlibat.
Alea merasa takut Sari akan mengambil Bima setelah mereka semakin dekat. Ia malu mengakui perasaan tersebut.
"Bima bukan milik kita," kata Tobias. "Kalau hubungan dengan ibunya aman, kita harus mendukung."
Pertemuan pertama didampingi Maya. Bima menolak memanggil Sari ibu dan duduk dekat pintu. Sari tidak memaksa.
"Aku datang karena ingin memperbaiki, bukan membawa kamu hari ini," katanya.
Setelah pertemuan, Bima marah kepada Alea dan Tobias karena mengizinkan Sari datang. Ia menuduh mereka ingin membuangnya.
Tobias menjelaskan keputusan pertemuan dibuat pekerja sosial dan Bima berhak menyampaikan ketidaknyamanan.
Mereka tetap menandatangani pengasuhan jangka panjang. Sari memperoleh kunjungan bertahap jika pemulihannya konsisten.
Bima pindah membawa satu tas kecil. Alea telah menyiapkan kamar berlebihan dengan tema taman hiburan. Bima meminta sebagian dekorasi dilepas karena membuatnya pusing.
Alea menurut. Kamar itu harus menjadi ruang Bima, bukan proyek kontennya.
Pada malam pertama, Bima menempelkan gambar bianglala kecil di dinding yang dibiarkan kosong. "Yang ini boleh," katanya.