Kabar Bima tinggal bersama Alea dan Tobias bocor melalui seorang staf rumah asuh. Media meminta foto keluarga, sementara merek menawarkan iklan bernilai besar.
Alea menolak semuanya. Wajah serta sejarah Bima tidak akan dipakai sebagai konten.
Sebagian follower menuduh Alea menyembunyikan anak karena malu. Ia hanya menjawab bahwa anak memiliki hak atas privasi.
Staf yang membocorkan informasi diberhentikan. Rumah asuh memperbaiki sistem data dan meminta maaf kepada Bima secara langsung.
Di sekolah baru, teman-teman mengetahui Tobias adalah CEO dan meminta Bima membawakan barang mahal. Bima mengambil kartu Tobias tanpa izin untuk membeli hadiah.
Tagihan muncul dan Tobias langsung marah. Alea mengingatkan agar mereka mencari alasan sebelum menghukum.
Bima mengaku takut tidak punya teman jika tidak memberi barang. Tobias terdiam karena mengenali pola dirinya sendiri: memakai uang untuk memperoleh rasa aman.
Kartu diblokir dan Bima harus mengembalikan barang yang masih bisa dikembalikan. Ia membantu tugas rumah untuk mengganti sebagian kecil biaya, bukan bekerja melunasi jumlah yang mustahil.
"Teman yang hanya datang karena hadiah bukan teman," kata Tobias.
"Om dulu juga beli orang?" tanya Bima.
Alea tertawa keras. Tobias mengakui pernah menggunakan uang untuk membuat orang menuruti keinginannya.
"Terus Tante Alea tetap mau menikah?"
"Om belajar minta maaf dan berubah," jawab Alea. "Tapi Tante juga tidak harus bertahan kalau Om tidak berubah."
Bima mulai memahami bahwa orang dewasa di rumah itu tidak berpura-pura selalu benar.
Sari tetap konsisten dalam pemulihan. Kunjungannya bertambah menjadi dua kali sebulan. Bima masih bingung, tetapi mulai membawa gambar untuknya.
Keluarga mereka tidak terbentuk dengan menghapus ibu kandung Bima, melainkan mencari tempat aman bagi seluruh hubungan yang layak dipertahankan.
Krisis ekonomi membuat perusahaan Tobias mengalami kerugian besar. Sebuah proyek regional gagal dan dewan menuduh keputusan Tobias terlalu berisiko.
Ia diminta mengundurkan diri sementara sebagai CEO. Tobias merasa seluruh nilainya hilang bersama jabatan.
"Aku gagal menjaga perusahaan Papa," katanya.
"Perusahaan itu bukan tubuh papamu," jawab Alea. "Dan jabatan bukan seluruh dirimu."
Tobias tetap sulit menerima. Ia menghabiskan hari membaca laporan dan menjadi mudah marah di rumah.
Ketika Bima menumpahkan susu dekat laptop, Tobias membentaknya. Anak itu langsung bersembunyi di kamar dan mengemas tas kecil.
Alea menghadapi Tobias. "Kamu boleh takut kehilangan pekerjaan. Kamu tidak boleh membuat Bima takut kehilangan rumah."
Tobias menenangkan diri lalu meminta maaf kepada Bima tanpa membeli hadiah. Ia menjelaskan kemarahannya bukan kesalahan anak tersebut.
"Kalau Om marah lagi, aku bakal dikembalikan?" tanya Bima.
"Tidak. Kalau Om marah lagi, Om yang harus memperbaiki cara bicara."
Tobias mengikuti konseling dan mengambil jarak dari perusahaan. Audit menunjukkan kegagalan proyek berasal dari pemalsuan laporan direktur regional, bukan keputusan Tobias seorang. Namun ia tetap mengakui sistem pengawasannya kurang kuat.
Dewan menawarkan jabatan kembali setelah direktur tersebut dipecat. Tobias meminta struktur kepemimpinan bersama agar perusahaan tidak bergantung pada satu CEO.
Ia kembali sebagai salah satu dari dua direktur utama dengan wewenang terbagi.
Pengalaman tersebut mengubah cara Tobias melihat warisan Damien. Menjaga perusahaan tidak berarti harus duduk di kursi tertinggi selamanya.
Di rumah, Bima menempelkan kertas di pintu ruang kerja: Dilarang marah karena susu.
Tobias membingkainya dan menaruh di meja.
Setelah satu tahun pengasuhan, Maya menanyakan apakah Alea dan Tobias ingin mengajukan adopsi permanen. Keputusan itu juga harus mempertimbangkan kemajuan Sari.
Sari sudah bekerja dan memiliki tempat tinggal kecil. Ia belum dinilai siap mengasuh penuh, tetapi ingin tetap menjadi ibu bagi Bima.
Alea takut adopsi akan dianggap merebut hak Sari. Maya menjelaskan dokumen dapat mempertahankan hubungan terbuka jika semua pihak menyepakati dan aman.
Mereka bertemu Sari tanpa Bima terlebih dahulu.
"Saya tidak mau kehilangan anak saya," kata Sari.
"Kami juga tidak ingin Bima kehilangan anda," jawab Alea. "Kami ingin dia punya rumah stabil tanpa harus memilih siapa yang boleh disayang."
Sari meminta waktu. Tobias tidak menawarkan uang agar keputusan lebih mudah.
Bima juga diberi penjelasan sesuai usia. Ia mengatakan ingin tinggal bersama Alea dan Tobias, tetapi tetap bertemu Sari.
"Kalau diadopsi, aku harus memanggil kalian Mama Papa?"
"Tidak harus," kata Tobias. "Panggilan bisa kamu pilih."
Setelah beberapa pertemuan, Sari menyetujui adopsi terbuka dengan jadwal hubungan yang didampingi pekerja sosial. Keputusan itu menyakitkan baginya, tetapi ia mengakui Bima membutuhkan kestabilan yang belum mampu ia berikan.
Proses pengadilan dimulai. Media kembali mencoba mendapatkan informasi, tetapi sidang ditutup demi privasi anak.
Menjelang keputusan akhir, ayah biologis Bima yang tidak pernah terlibat muncul dan menolak memberikan persetujuan.
Ia mengaku ingin mengambil Bima, meski catatan menunjukkan dirinya menghilang sejak anak itu bayi.
Alea dan Tobias harus membuktikan bahwa adopsi bukan hanya keinginan pasangan terkenal, melainkan pilihan terbaik bagi Bima.
Ayah biologis Bima bernama Deni. Ia mengatakan dahulu pergi karena belum siap menjadi orangtua dan baru mengetahui Bima akan diadopsi melalui berita.
"Saya ingin kesempatan," katanya di depan Maya dan para pengacara.
Tobias ingin menanyakan kenapa kesempatan baru diminta setelah bertahun-tahun. Alea menahan tangannya agar pembicaraan tidak berubah menjadi serangan.
Deni harus menjalani pemeriksaan latar belakang, tes kesehatan, dan kunjungan bertahap. Ia tidak boleh langsung membawa Bima.
Bima menolak bertemu pada awalnya. Terapis membantu menjelaskan bahwa ia berhak mengatakan belum siap.
Deni mengirim surat tanpa hadiah. Ia mengakui ketidakhadirannya dan tidak meminta dipanggil ayah.
Setelah tiga minggu, Bima bersedia bertemu selama tiga puluh menit. Deni tampak gugup dan hanya membawa album foto keluarga.
"Aku mirip siapa?" tanya Bima.
"Matamu mirip nenekmu," jawab Deni.
Pertemuan berjalan tenang, tetapi setelahnya Bima marah kepada Tobias. Ia menuduh Tobias bukan ayah sungguhan.
Tobias terluka, namun memahami kemarahan itu berasal dari kebingungan.
"Benar, Om bukan ayah biologismu," katanya. "Tapi Om tetap memilih merawatmu. Kamu tidak harus memilih salah satu sekarang."
Pemeriksaan menemukan Deni memiliki pekerjaan dan rumah layak, tetapi baru enam bulan pulih dari kecanduan judi. Maya menyarankan hubungan dibangun perlahan, bukan pengasuhan langsung.
Deni menerima rekomendasi tersebut. Namun pengacaranya tetap menolak adopsi, membuat proses tertunda.
Alea kemudian menemukan Deni telah menerima uang dari sebuah tabloid untuk menceritakan konflik keluarga. Kepercayaan yang baru tumbuh kembali retak.