Festival dibuka pada sore yang cerah. Bianglala portabel itu lebih kecil daripada wahana lama, tetapi lampunya berwarna-warni dan terlihat hangat.
Alea serta Tobias datang bersama seluruh keluarga. Bima menawarkan menemani, namun Tobias mengatakan putaran pertama adalah kencan mereka.
"Setelah dua puluh lima tahun masih kencan?" tanya cucu mereka.
"Justru karena sudah lama, kami harus tetap kencan," jawab Alea.
Kabin bergerak perlahan. Tobias memeriksa pintu dua kali, membuat Alea tertawa.
"Kamu masih takut?"
"Aku percaya petugas, tapi memeriksa tidak merugikan."
Di atas, mereka melihat ruang publik, taman baca, serta keluarga yang menunggu di bawah.
Tobias mengeluarkan koin sembilan juta rupiah yang dibuat khusus sebagai lelucon peringatan utang lama.
"Ini hadiah murahan atau mahal?" tanya Alea.
"Nilainya emosional. Biaya pembuatannya tidak perlu kamu tahu."
Alea menyimpannya sambil tersenyum.
Mereka tidak membuat janji baru. Tobias hanya meminta maaf sekali lagi atas cara hubungan mereka dimulai. Alea menjawab bahwa ia tidak melupakan, tetapi masa lalu tersebut tidak lagi mengikat.
Saat kabin turun, listrik sempat berkedip. Keduanya saling pandang lalu tertawa, bukan panik.
"Kalau berhenti, kita sudah ahli terjebak di atas," kata Alea.
Bianglala terus bergerak dan membawa mereka kembali ke tanah.
Keluarga menyambut dengan tepuk tangan. Bima membawa kue, sedangkan Rendra mengenakan kaus bertuliskan Tara Fans Nomor Satu.
Alea memukul lengannya dengan tas. "Kak Rendra tidak pernah kapok!"
Malam itu dipenuhi tawa. Putaran pertama bukan akhir, hanya perayaan bahwa mereka telah berkali-kali turun dari ketinggian dan tetap memilih berjalan bersama.
Buku Alea tentang perjalanan bisnis menjadi populer. Penerbit meminta edisi baru dengan bab khusus mengenai Tobias.
Tobias ingin menyunting bagiannya sendiri. Alea menolak karena takut ia menghapus semua hal memalukan.
"Aku berhak membela reputasi."
"Reputasimu sudah rusak sejak mengirim undangan rapat untuk kencan."
Mereka sepakat Tobias boleh menambahkan catatan kaki. Hasilnya justru lebih lucu karena setiap pembelaan memperlihatkan betapa kaku dirinya dahulu.
Bima membaca naskah dan meminta bagian tentang adopsinya dipotong. Alea langsung menyetujuinya. Kisah Bima bukan alat untuk menjual buku orangtuanya.
Edisi baru berfokus pada pilihan Alea serta Tobias sendiri. Penjualan buku digunakan membiayai pelatihan kreator dan keamanan data anak asuh.
Dalam sebuah acara, pembaca bertanya apakah Alea percaya semua orang manipulatif pantas mendapat kesempatan kedua.
"Tidak," jawabnya. "Orang yang disakiti tidak wajib menunggu. Tobias berubah karena dia memilih bertanggung jawab, bukan karena aku harus menyelamatkannya."
Tobias mendengar dari barisan depan dan mengangguk. Ia tidak membutuhkan cerita yang menjadikannya pahlawan romantis.
Seusai acara, seorang gadis muda memberi Alea parfum dengan botol mirip yang pecah di Seoul.
"Karena itu awal cerita anda," katanya.
Alea menerima satu botol dan menolak hadiah lain yang terlalu mahal.
Di rumah, botol tersebut diletakkan dekat kamera lama Matias. Dua benda itu mewakili keberanian yang dahulu sering bercampur kecerobohan.
Tobias berkata, "Kalau parfummu tidak pecah, kita mungkin tidak bertemu."
"Kalau kamu tidak lari sambil menabrakku, parfumnya juga tidak pecah."
Perdebatan lama kembali dimulai dan berakhir dengan tawa.
Tahun-tahun berikutnya membuat nama Alea dan Tobias tidak lagi sering muncul di berita. Kreator baru menggantikan wajah Alea, sedangkan pemimpin baru menjalankan perusahaan Tobias.
Awalnya Alea merasa kehilangan ketika orang tidak mengenalinya di restoran. Kemudian ia menikmati makan tanpa diminta foto sebelum suapan pertama.
Tobias juga belajar tidak memeriksa harga saham setiap pagi. Ia mengajar tata kelola bisnis di yayasan dan terkenal sebagai dosen tamu yang terlalu banyak memberi tabel.
Bima serta Kirana memiliki anak kedua. Sari menjadi nenek yang suka membawakan makanan, sedangkan Deni mengajari cucu-cucunya memperbaiki sepeda.
Samuel pindah lebih dekat ke Indonesia setelah pensiun. Hubungannya dengan Tobias tidak pernah menjadi kedekatan sempurna, tetapi mereka rutin bertemu dan tidak lagi merasa sebagai orang asing.
Rendra akhirnya mengaku masih menyimpan salah satu pigura foto Alea yang dibelinya sebagai Tara. Naya memajangnya di ruang tamu untuk mempermalukannya.
"Aku ingin membakarnya," kata Alea.
"Itu bukti sejarah," jawab Naya.
Keluarga mereka bertumbuh tanpa selalu berada di depan kamera. Alea menyadari warisan terbesar bukan jumlah penonton, melainkan sistem yang membuat orang lain dapat berkarya setelah ia pergi.
Suatu pagi kesehatan Tobias menurun. Dokter menemukan gangguan jantungnya berkembang dan memerlukan operasi.
Alea takut seperti saat Matias dahulu dirawat. Kali ini ia tidak memasang pengawasan berlebihan. Ia bertanya apa yang Tobias butuhkan dan membiarkannya ikut mengambil keputusan.
Operasi berhasil. Saat sadar, Tobias berkata, "Tagihan rumah sakit pasti mahal."
Alea menangis sambil tertawa. "Kamu hampir mati dan masih memikirkan uang."
"Beberapa hal tidak berubah."
Pemulihan Tobias berjalan lambat. Ia memakai tongkat sementara dan harus membatasi perjalanan.
Alea membaca untuknya, meski sering berhenti karena Tobias mengoreksi angka dalam buku. Mereka lebih banyak duduk di taman dan melihat cucu bermain.
Dokter mengatakan kondisi Tobias dapat dikendalikan, tetapi usia membuat setiap tahun terasa semakin berharga.
"Aku dulu ingin memastikan semua hal bertahan selamanya," kata Tobias. "Perusahaan, uang, hubungan."
"Sekarang?"
"Sekarang aku tahu kita hanya dipinjami hari."
Alea tidak menyukai kata dipinjami karena terdengar seperti utang.
"Kalau begitu siapa penagihnya?"
"Waktu. Dan bunganya mahal."
Mereka tertawa.
Tobias menyusun arsip keluarga, tetapi kali ini tidak hanya berisi laporan. Ia memasukkan foto, resep, surat, serta rekaman suara Matias dan Damien.
Bima membantu membuat salinan digital dengan izin semua orang. Bagian pribadi diberi batas akses agar sejarah tidak berubah menjadi konsumsi publik.
Alea merekam satu video terakhir untuk kanal pribadinya. Ia tidak mengumumkan perpisahan dramatis, hanya mengatakan ingin menikmati hidup tanpa selalu memegang kamera.
"Kalau suatu hari aku kangen, aku mungkin kembali," katanya. "Tapi untuk sekarang, makananku mau kunikmati sebelum dingin."
Video tersebut mendapat jutaan komentar. Alea membaca beberapa, lalu mematikan notifikasi.
Malamnya ia dan Tobias makan mi yang terlalu pedas. Tobias masih bersikeras tidak kepedasan meski matanya berair.
Hari itu biasa dan karena itu terasa berharga.
Pada suatu sore, Alea dan Tobias kembali ke taman. Bianglala portabel telah lama pergi. Yang tersisa hanya pelat logam, taman baca, dan gambar roda besar pada lantai.
Mereka berjalan pelan sambil bergandengan tangan. Tobias lebih mudah lelah, sehingga mereka berhenti di bangku.
"Kalau hidup benar-benar seperti bianglala, apa kita sedang turun?" tanya Alea.
"Mungkin. Tapi turun bukan selalu buruk. Tanpa turun, penumpang tidak bisa pulang."
Bima datang bersama keluarga membawa piknik. Rendra dan Naya menyusul. Samuel, Sari, serta Deni juga hadir. Tidak ada seorang pun berdiri di luar lingkaran hanya karena hubungan mereka sulit diberi nama sederhana.
Cucu Alea berlari membawa kamera lama Matias yang telah diperbaiki.
"Nenek, ajari aku bikin video!"
Alea menerima kamera itu dan menunjukkan cara membingkai gambar. Ia tidak mengarahkan anak tersebut menjadi penerus. Ia hanya membagikan keterampilan dan membiarkan pilihan tumbuh sendiri.
Mereka membuat satu foto keluarga di atas gambar roda. Tobias berdiri di samping Alea, tidak di tengah.
Setelah semua orang pulang, Alea dan Tobias tetap duduk sampai lampu taman menyala.
"Terima kasih sudah menabrakku," kata Alea.
"Terima kasih sudah menagih parfum."
"Terima kasih sudah berhenti menjadi rentenir."
"Bagian itu merusak suasana."
Alea tertawa dan menyandarkan kepala ke bahunya.
Mereka telah berada di bawah, naik menuju puncak, berhenti karena ketakutan, lalu turun untuk memulai putaran lain. Tidak semua pemandangan indah. Ada kehilangan, pengkhianatan, jarak, dan hari-hari ketika cinta terasa seperti pekerjaan berat.
Namun roda tidak pernah meminta penumpangnya tinggal di puncak selamanya. Keindahannya justru berasal dari gerak—dari keberanian naik, menerima perubahan, dan kembali menyentuh tanah.
Tobias menggenggam tangan Alea.
"Kalau ada putaran lain?"
"Aku ikut," jawab Alea. "Tapi kamu yang bayar tiketnya."
Mereka tertawa bersama ketika malam turun.
Di tempat bianglala pernah berdiri, kisah mereka tidak berakhir sebagai dongeng sempurna. Kisah itu menjadi lingkaran penuh: dua manusia keras kepala yang belajar bahwa cinta bukan utang, perlindungan bukan kepemilikan, dan keluarga tidak ditentukan oleh satu nama.
Roda terakhir telah berhenti.
Mereka sudah sampai di rumah.
TAMAT