Setahun kemudian Bima benar-benar melamar kekasihnya, Kirana. Ia meminta pendapat keluarga, bukan izin kepemilikan.
Alea ingin mengatur acara lamaran. Bima mengingatkan bahwa Kirana menyukai hal sederhana.
"Mama hanya membantu makanan," katanya.
"Makanan itu sembilan puluh persen acara."
Tobias bertugas menjaga Alea agar tidak mengambil alih. Hasilnya tetap ada dua puluh jenis makanan untuk dua belas tamu.
Kirana menerima lamaran. Ia mengenal sejarah adopsi Bima dan tidak menganggap keluarga biologis sebagai ancaman.
Sari hadir dengan pakaian sederhana. Deni membantu mengantar Matias. Alea duduk di sisi Bima ketika diminta, tetapi tidak menuntut disebut satu-satunya ibu.
Setelah acara, Kirana bertanya kepada Alea bagaimana menjaga pernikahan.
"Jangan tanya aku seolah aku ahli," jawab Alea. "Aku pernah mengejar penjahat demi parfum dan menikahi rentenir."
Tobias memprotes sebutan rentenir dari seberang ruangan.
Alea kemudian menjawab serius bahwa pernikahan tidak dijaga dengan menahan orang, melainkan memberi ruang untuk berubah dan tetap kembali berbicara.
Bima serta Kirana mengikuti konseling pranikah. Tobias membayar hanya setelah mereka menerima bantuan tersebut sebagai hadiah, bukan syarat.
Pernikahan mereka dilaksanakan beberapa bulan kemudian di ruang publik bekas taman hiburan. Kabin baca dari rumah asuh dipinjam sebagai dekorasi atas persetujuan anak-anak.
Saat melihat Bima mengucapkan janji, Alea teringat anak tujuh tahun yang bertanya apakah mereka akan pergi jika bosan.
Ia kini berdiri sebagai pria dewasa yang mampu membangun janji sendiri tanpa takut seluruh kasih sayang akan hilang.
Kesehatan Matias menurun perlahan. Ia tidak mengalami keadaan darurat besar, tetapi tubuhnya semakin lemah dan membutuhkan bantuan sehari-hari.
Matias memilih tinggal di komunitas lansia, bukan pindah ke rumah Alea. Ia ingin mempertahankan teman serta rutinitas.
Alea menghormati, meski mengunjunginya hampir setiap hari sampai Matias mengusirnya untuk bekerja.
"Om belum mati. Jangan berjaga seperti satpam."
"Om dulu juga mengawasiku terus. Ini balas dendam."
Matias memberikan arsip keamanan Damien kepada yayasan serta koleksi foto keluarga kepada Alea. Ia juga menyerahkan kamera lama yang pertama kali dipakai Alea belajar membuat video.
"Kamera ini yang membuatmu berani bicara kepada dunia," katanya.
"Om yang membelikannya meski waktu itu kita tidak punya banyak uang."
"Karena Om tahu kamu akan membuatnya berguna."
Beberapa bulan kemudian Matias meninggal dalam tidur. Kepergiannya tenang, tetapi duka Alea sangat besar.
Ia berhenti bekerja selama dua bulan. Tobias tidak memaksanya kembali atau mencoba menghibur dengan perjalanan mahal.
Bima tinggal beberapa hari bersamanya. Sari, Deni, Rendra, dan Naya bergantian membawa makanan.
Pada pemakaman, Alea menceritakan bahwa Matias tidak hanya melindunginya dari bahaya. Ia juga orang pertama yang percaya Alea dapat membangun hidup dari kamera dan keberaniannya.
Kamera lama ditempatkan di kantor Roda Rasa dalam kotak kaca. Di bawahnya tertulis: Peralatan pertama tidak harus sempurna untuk memulai sesuatu yang besar.
Alea kembali bekerja perlahan, membawa kesedihan tanpa menjadikannya alasan berhenti hidup.
Alea mulai memikirkan pensiun dari posisi pemimpin utama Roda Rasa. Perusahaan telah memiliki tim kuat dan ia ingin lebih banyak mengajar daripada mengurus operasional.
Sebagian pemegang saham takut merek kehilangan wajah. Alea menunjuk tiga kreator baru yang selama ini dibimbingnya untuk memimpin program.
"Roda Rasa tidak boleh mati hanya karena rambut putihku tidak muncul di setiap video," katanya.
Masa transisi berlangsung satu tahun. Alea tetap memiliki saham dan peran penasihat, tetapi tidak lagi mengambil keputusan harian.
Tobias juga meninggalkan jabatan direktur utama sepenuhnya. Ia fokus pada yayasan dan menjadi anggota dewan tanpa kuasa operasional.
Untuk pertama kali sejak muda, keduanya memiliki kalender dengan banyak ruang kosong.
Mereka mencoba berkebun dan gagal. Tobias menyusun tanaman berdasarkan tinggi, sementara Alea lupa jadwal menyiram.
Bima menyarankan mereka bepergian. Alea ingin membuat vlog, tetapi Tobias meminta satu perjalanan tanpa konten.
Mereka mengunjungi kota-kota kecil tanpa jadwal produksi. Alea tetap memotret makanan, tetapi hanya untuk album pribadi.
Di salah satu pasar, seorang penjual mengenali Alea dan berterima kasih karena Roda Rasa pernah membantu usahanya. Alea menyadari karya dapat terus hidup meski penciptanya mundur dari pusat.
Sepulangnya, ia menerbitkan buku tentang perjalanan membangun bisnis kreatif. Bab pertama berjudul Sembilan Juta Rupiah dan Kesalahan Membaca Kontrak.
Tobias meminta royalti karena menjadi tokoh penting.
"Kamu sudah terlalu kaya."
"Prinsip tetap prinsip."
Mereka tertawa seperti saat pertama saling bertengkar, tetapi kini tidak ada utang yang berdiri di antara mereka.
Pada ulang tahun pernikahan kedua puluh lima, Tobias mengajak Alea berjalan di ruang publik bekas taman hiburan. Pelat bianglala masih terpasang di dekat taman baca.
Rambut Alea tetap putih seperti dahulu, tetapi kini ia tidak perlu menutupinya dengan penjelasan kepada siapa pun. Tobias memiliki lebih banyak uban dan masih memeriksa harga sebelum membeli sesuatu.
Mereka duduk di bangku menghadap tempat wahana pernah berdiri.
"Apa kamu merindukan bianglalanya?" tanya Tobias.
"Kadang. Tapi kalau tetap ada selamanya, mungkin kita tidak belajar melepas."
Bima serta Kirana datang membawa putri kecil mereka. Alea langsung berdiri dan memeluk cucunya, lalu dimarahi karena memberikan permen sebelum makan.
Sari dan Deni tetap hadir dalam kehidupan Bima. Samuel mengunjungi Indonesia setiap dua tahun. Rendra serta Naya masih menjadi sahabat dekat, dan identitas Tara kini menjadi lelucon keluarga yang tidak pernah dibiarkan mati.
Mereka mengadakan makan malam sederhana di taman. Tidak ada pembaruan janji resmi. Alea serta Tobias hanya membaca kembali surat lama tentang pilihan hidup bersama.
Tobias bertanya, "Kalau roda hidup kita berputar sekali lagi, kamu masih mau bertemu aku?"
"Aku akan tetap menuntut ganti rugi parfum."
"Itu bukan jawaban."
"Aku akan bertemu kamu. Tapi kali ini aku minta kontrak kerja yang adil dari awal."
Tobias menggenggam tangannya.
Malam hampir selesai ketika pengelola taman memberi tahu bahwa sebuah bianglala portabel akan dipasang selama festival bulan depan. Mereka menawarkan Alea serta Tobias menjadi penumpang pertama.
Kesempatan itu terasa seperti undangan untuk melakukan satu putaran terakhir—bukan karena mereka takut roda berhenti, melainkan karena kini mereka tahu setiap putaran memang memiliki akhir.